Nao yang tak menyadari ada panah es yang meleset ke arahnya dengan kecepatan tinggi hanya pasrah saat panah es itu menggores pundak dan pahanya.
Nao meringis kesakitan saat itu juga.
Dua anak lelaki yang menyerang Nao pun tertawa terbahak-bahak lalu keluar dari persembunyiannya. Dua anak lelaki itu menghampiri Nao yang sedang memegang pundaknya yang terluka.
“Kalian ...” dua anak lelaki itu adalah anak-anak yang ingin menyerangnya saat awal masuk sekolah.
“Kenapa kalian melakukan ini padaku? apa salahku pada kalian?” tanya Nao sendu. Ia tak tahu mengapa mereka menyakitinya. Padahal ia tak pernah melakukan apa-apa.
“Apa salah ku?” salah satu dari mereka mengejek dengan mengulang kalimat yang di ucapkan Nao barusan.
“Dengar yah. Aku sangat tidak suka ada anak yang masuk ke Academic melalui orang dalam. Kau pikir kami tidak tahu? Kau telah melakukan kecurangan. Seharusnya kau tidak lolos pada tes masuk. Hanya saja seseorang telah membantumu.”
“Apa maksudmu?” tanya Nao bingung. Ia tak mengerti apa yang dikatakan pada kedua orang yang ada di hadapannya.
“Masih saja tak ingin mengaku.” Keduanya pun geram dengan pertanyaan Nao. Salah satu dari mereka mengangkat tangan kembali ingin menyerang Nao. Tapi salah satu dari mereka mencegahnya dan membisiskkan sesuatu. Setelah itu keduanya pun tersenyum menyeringai.
“Kali ini kau selamat dari kami berdua. Tapi, kita lihat saja besok. Entah bagaimana nasibmu.” Keduanya pun meninggalkan Nao yang menatap punggung mereka sedih.
Tanpa Nao sadari. Sedari tadi, Ken memperhatikannya. Saat kedua anak lelaki yang mengganggu Nao pergi barulah Ken berjalan mendekat.
“Ken ...” lirih Nao. Ken menatap Nao dan Nao pun tersenyum. “Sepertinya dia ingin membantuku berdiri,” batinnya.
Nao pun tersenyum pada Ken dan mengulurkan tangannya berharap Ken akan menggapai tangannya dan membantunya berdiri.
Tapi, dalam hitungan detik kemudian, senyumnya pun pudar saat Ken tiba-tiba saja berlalu di hadapannya. Tanpa memperdulikannya yang kesulitan berdiri akibat luka gores yang ada di paha dan pundaknya. Nao meringis pelan saat ia mencoba untuk berdiri. Dengan langkah tertatih anak lelaki yang berumur sepuluh tahun itu pun berusaha untuk melanjutkan perjalannya untuk kembali ke rumah. Tak memperdulikan darahnya yang menetes-netes di tanah.
Tak lama kemudian. Akhirnya Nao pun tiba di rumahnya. Sang ibu yang melihat luka gores pada tubuh anaknya seketika panik. “Nao ... apa yang terjadi pada tubuhmu? Siapa yang melakukan ini padamu, Nak.”
Nao berusaha tersenyum setidaknya ada ibu yang selalu menghewatikannya. “Aku tidak apa-apa, Ma. Aku hanya terjatuh tadi.”
“Bohong! Itu tidak mungkin. Luka ini tak seperti kau telah terjatuh,” ujar sang ibu.
“Siapa yang melakukan ini padamu? Cepat katakan Nao. Biar ibu yang memberi mereka pelajaran.” Sang ibu terlihat marah.
“Tenanglah, Ma. Aku tidak apa-apa. mereka tidak sengaja melukaiku. Tadi anak-anak itu sedang latihan dan tak sengaja aku lewat di depan mereka. Jadi akhirnya aku pun terkena serangan mereka,” jelas Nao yang berusaha menenangkan ibunya.
“Aku kira kau diganggu olah anak-anak nakal di sekolahmu.” Nao pun bernapas lega saat ibunya sudah kembali tenang.
“Sini aku obati lukamu.” Wanita paruh baya itu pun menuntun anaknya untuk duduk di sebuah kursi. Lalu dengan teletan sang ibu mengobati luka gores yang ada pada tubuh Nao dengan sangat hati-hati.
Diam-diam dari balik kamar sekali lagi Ken mengintip dan cemburu melihat perhatian yang di berikan ibunya pada Nao, sangat berbeda perlakuan ibunya pada dirinya.
***
Hari kedua, Nao pun berangkat ke sekolah sedang wajah ceria seorang diri Karena Ken telah berangkat pagi-pagi sekali meninggalkannya. “Ma! Aku berangkat dulu, yah!” pekik Nao kencang lalu melambaikan tangannya pada sang ibu.
“Iya. belajar yang sungguh-sungguh yah, Nak!” balas sang ibu.
Setelah itu, Nao pun berlari menuju sekolahnya karena sebentar lagi gerbang sekolahnya akan ditutup. Untungnya jarak antara rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh. Jadi dalam beberapa menit ia sudah bisa melihat sekolahnya.
“Gawat! Gerbangnya sudah mau ditutup,” batin Nao. Saat melihat gerbang itu akan segera ditutup.
“Tunggu!” teriak Nao kencang sambil berlalri seribu langkah. Dan ...
“Syukurlah ...” batinnya. Ia pun bernapas lega saat kedua kakinya kini berada di balik gerbang. Ia berhasil masuk sebelum gerbang ditutup.
Sang penjaga gerbang pun menatap Nao kesal. “Lain kali jangan terlambat.”
“Iya, Pak. Terima kasih ....” setelah itu Nao pun berjalan meninggalkan sang penjaga gerbang dan masuk ke sekolahnya.
***
Nao berjalan tanpa beban sama sekali menuju kelasnya. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat menyadari beberapa pasang mana kini menatapnya sambil berbisik-bisik. Saat Nao menatap mereka. Para siswa itu pun mengalihkan pandnagan mereka.
“Kenapa mereka menatapku?” tanya Nao dalah hati. Namun, walau begitu Nao tetap melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.
Hal yang sama terjadi saat Nao tiba di kelasnya. Semua mata tertuju padanya. “Kenapa kalian menatapku?” tanya Nao pelan. Tapi, tak ada yang menjawab. Buru-buru mereka mengalihkan pandangannya.
“Ada apa sih,” batinnya. Semuanya menatapnya. Tapi saat bertanya mereka malah mengalihkan padangan dan tak ingin menjawab. Hal ini jelas membuat Nao bingung.
Tak lama kemudian, seorang guru pun masuk ke kelas mereka. Nao segera duduk di tematnya. Proses pembelajaran pun berlangsung dengan tenang. Walau sesekali beberapa pasang mata menatap Nao.
Jam pelajaran pertama dan kedua pun telah selesai. Kini saatnya istirahat. Para siswa pun keluar tak terkecuali Nao yang ikut keluar. Ia ingin pergi makan di kantin. Perutnya sudah berbunyi sedari tadi.
Setibanya di kantin. Semua mata lagi-lagi tertuju padanya. Mulai dari siswa kelas satu hingga kelas enam pun menatapnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Sebuah pertanyaan sedari tadi pagi terlintas pada pikirannya. Tapi, hingga sekarang ia masih belum menemukan jawaban apapun.
Nao memeperhatikan sekitarnya untuk mencari tempat yang kosong. “Itu dia,” batinnya saat ia menemukan tenpat yang cocok dengannya.
Salah satu dari para siswa itu pun tersenyum menyeringai. “Mound,” sebuah mantar sihir terucap pada bibir anak itu.
Sebuah gundukan tanah tiba-tiba menucuat keluar. Nao meringis kesakitan saat itu terjatuh akibat gundukan tanah yang tiba-tiba keluar.
Sekilas Nao mendengar beberapa orang menertawakannya. Tapi, saat Nao berbalik dan ingin melihat siapa yang menertawainya. Semua siswa tak ingin menatapnya dan kembali fokus pada makanan mereka.
“Apa hanya perasaanku saja yah,” batinnya.
Setelah memesan makanan Nao duduk di tempatnya. Nao makan dengan sangat lahap dan tak memperdulikan beberapa pasang mata yang sesekali menatapnya dan kadang juga ia mendengar beberapa dari mereka berbisik-bisik tentangnya.
***
“Perutku sangat sakit,” batinnya sehabis memakan semua makannya. Sambil memegang perutnya Nao berlari keluar dari kantin menuju kamar mandi terdekat. Beberapa siswa diam-diam mengikuti Nao dari belakang.
Saat Nao menuntaskan urusannya pada kamar mandi. Beberapa siswa yang mengikutinya tadi menyeringai saat salah satu dari mereka mengucapkan sebuah mantra sihir. “Water splash.”
Nao pun berteriak sangat keras hingga membehana saat air tiba-tiba mengguyurnya membuat semua pakaiannya basah.
Beberapa siswa yang mendengar suara teriakan Nao pun tertawa cekekikan lalu cepat-cepat meninggalkan tempatnya sebelum Nao melihat mereka.
“Siapa di luar!” teriak Nao. Anak lelaki itu segera memeperbaiki bajunya dan keluar.
“Di mana mereka.” Nao memperhatikan sekelilingnya ke kiri dan ke kanan. Namun, ia tak menemukan satu pun siswa yang ada di sekitarnya.
***
Nao kembali ke kesalnya dengan tubuh basah. Air menetes-netes di lantai kelas saat Nao berjalan masuk.
“Ada apa dengan bajumu?” tanya Ken yang kebetulan sedari tadi membaca buku di dalam kelas. “Seseorang mengerjaiku,” ujar Nao.
Anak lelaki itu pun mengambil tasnya dan keluar dari kelas. “Apa kau ingin pulang?” tanya Ken.
“Iya. Aku akan pulang. Aku tidak mungkin belajar dalam ke adaan seperti ini.” Setelah itu Nao pun berlalu pergi meninggalkan sekolahnya.
Setelah Nao pergi. Beberapa siswa pun masuk ke kelasnya. “Aku dengan anak kelas tiga kembali mengerjai Nao.”
“Iya. Aku juga melihatnya. Aku sedikit kasihan pada Nao. Semua siswa kelas satu hingga kelas enam semuanya terlihat tak menyukai Nao.”
“Mungkin karena anak itu tak punya kekuatan jadi tak ada yang ingin berteman dengannya. Selain itu, sekolah kita kan sekolah khusus ilmu sihir. Sedangkan Nao dia hanyalah manusia biasa. Ia tak cocok sekolah di sini.”
Diam-diam Ken tersenyum mendengar percakapan teman-temannya. Dengan begitu Nao tak lama lagi akan keluar. Jika para seniornya selalu mengerjai Nao bisa di pastikan anak itu tak lama lagi akan keluar dengan sendirinya.
“Aku tak sabar menunggu hari itu. Hari di mana Nao keluar dari Academic ini.”