Kini Reonald dan kedua orang tua Nao berada di ruang tamu. Ketiganya sedang berdiskusi setalah memberikan perawatan pertama pada Nao. Luka yang ada pada tubuh Nao juga sudah diberi obat.
Wajah ketiganya terlihat sangat serius.”Semalam aku tak sengaja menemukan Nao di hutan yang sangat berbahaya itu. Saat itu, dia hampir saja diserang oleh monster dan untungnya aku bisa menyelamatkannya tepat waktu. Jika tidak ... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah itu.” Mendengar kata monster membuat dua sejoli itu semakin sedih dan takut. Tak bisa ia bayangkan apa yang akan terjadi jika Reonald tak ada hutan itu.
“Aku tidak tahu kenapa Nao bisa ada di hutan itu. Padahal anak-anak telah di beritahukan untuk tidak mendekati hutan tersebut.”
“Iya. Kami juga sudah memperingati Nao dan Ken untuk tidak bermain di dalam hutan. Nao adalah anak yang penurut. Aku yakin Nao tak mungkin ke sana jika ada yang memaksanya untuk masuk ke dalam hutan.”
"Untuk lebih jelasnya sebaiknya kita tunggu Nao bangun. Setalah itu kita menanyainya tentang apa yang telah terjadi dan mengapa dia bisa berada di hutan itu.
“Dan ... selain masalah ini. Aku juga ingin mebahas sesuatu yang sangat penting.”
“Bahas tentang apa?”
“Bagini ... menurut pendapatku mungkin alangkah baiknya jika Nao dikeluakan.”
“Apa!” pekik keduanya kaget.
Pekikan kerasa dari kedua orang tuanya membuat Ken yang sedang berpakaiannya menjadi penasarang. Diam-diam anak itu mendekati pintu kamarnya. Kebetulan kamarnya dan ruang tamu saling berhadapan. Jadi ia bisa mendengar percakapan kedua orang tuanya dan Reonald.
“Ini hanyalah pendapatku seorang. Aku curiga Nao dibully oleh teman-temannya di sekolah. Tak hanya itu. aku juga menduga bahwa kejadian ini bisa jadi kerjaan dari para anak-anak yang tak menyukai Nao.“
Mendengar percakapan dua orang taunya membuat Ken yang sedari tadi menguping menyeringai sambil menatap Nao yang masih tak sadarkan diri. “Sepertinya Nao tak lama lagi keluar dari Academic,” batinnya.
***
Beberapa jam kemudian. Akhirnya Nao pun sadar dari pinsannya. Sang ibu yang sedari tadi menjaga Nao tersenyum senang melihat dua bola mata anaknya kini terbuka.
“Nao ...” lirihnya. Segera wanita paruh baya itu pun memeluk sang anaknya dengan penuh syukur.
“Akhirnya kau sadar Nak. Ibu sangat mencemaskanmu.”
“Aku tidak apa-apa, Ma,” jawab Nao pelan.
Nao pun memperhatikan sekelilingnya. Kini ia berada di kamarnya bersama sang ibu. “Ma. Pak Reonald di mana?” tanya Nao. Karena seingatnya sebelum ia tak sadarkan diri. Ia berada dipelukan gurunya. Gurunya lah yang telah menyelamatkannya dari monster yang akan membunuhnya.
“Dia sudah pulang, Nak. Baru saja dia pergi.”
"Oh."
“Istirahatlah kembali. Ibu akan menyiapkan makan malam untukmu.” Nao mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.
Sang ibu pun meninggalkan Nao. Kini Nao seorang diri di kamarnya. Sekilas ia menatap ranjang milik Ken. “Dia kemana?” batinnya bertanya-tanya. Tapi karena dia tak menemukan jawaban. Akhinya ia untuk menutup matanya berencana untuk tidur.
Namun, baru beberapa menit bola mata itu kembali terbuka. Ia tak bisa tertidur. Mungkin karena seharian ia tak sadarkan diri. Jadi ia mulai lelah untuk tertidur.
Nao mendudukkan tubuhnya. Ia menatap langit yang mulai gelap melalui jendela kamarnya yang ada di sisi kananya. Kembali ia mengingat insiden yang hampir merenggut nyawanya.
“Mungkin kah mereka tak sengaja meninggalkanku yah,” batinnya. Nao tak ingin berburuk sangka tentang dua teman barunya. Barang kali, saat keduanya bersembunyi keduanya tidak ingat jika mereka sedang bermain dan melupakan Nao.
Satu jam lamanya. Nao berpikir keras untuk menyakinkan hatinya bahwa teman barunya itu tak sengaja meninggalkannya. Walau ia sedikit sedih tapi ia tak ingin gara-gara kejadian ini keduanya membenci dan menjauhinya. Jadi Nao memutuskan untuk tetap percaya pada dua teman barunya.
Tak lama kemudian. Ibunya masuk ke kamarnya dan menyuruhnya untuk keluar karena makan telah tersedia. Kebetulan Nao juga sangat lapar.
Setibanya di ruang makan lagi-lagi ia tak melihat Ken. Sejak ia sadar ia tak melihat saudaranya. “Ken mana, Ma?” tanya Nao. Yang ada di ruang makan itu hanya ada Nao dan kedua orang tua angkatnya.
“Ibu juga tidak tahu.”
“Biar aku yang mencarinya.” Lelaki paruh baya yang berstatus sebagai sang kepala keluarga itu pun berdiri. Lalu berjalan menjauhi Nao dan istrinya untuk mencari anaknya yang lain.
Saat ayahnya pergi Nao hanya diam. “Kenapa hanya diam. ayo makan.”
“Tapi, Ma. Ken masih belum kembali. Sebaiknya kita menunggunya saja.”
Wanita itu tersenyum mendengar jawaban anaknya yang sungguh bijak. “Tidak apa-apa Nao. Kau makan saja. kau kan lagi sakit. Ken palingan sedang bermain dengan teman-temannya.”
Akhirnya Nao pun segera makan bersama dengan sang ibu. Tak menunggu ayah dan saudaranya. Mungkin lebih baik kedua makan saja. Biarlah saudaranya nanti makan bersama sang ayah.
***
Tak jauh dari rumah Nao. Seorang anak kecil bernama Ken kini sedang duduk seorang diri menatap sungai. Sambil sesekali ia melempar batu ke sungai tersebut. “Nao ... Nao ... dan Nao. Semua yang ada di pikiran mereka hanya ada Nao. Kenapa sih mereka lebih memikirkan Nao ketimbang aku. aku kan juga anak mereka bukan Nao saja ...” racau Ken menumpahkan segala kekesalan, kesedihan dan kemarahannya pada angin sore.
“Aku membenci Nao!” terikanya membahana pada angin malam.
Seorang lelaki paruh baya yang kebetulan berjalan menuju ke arahnya tersenyum mendengar teriakan anaknya. “Ken ...”
Suara lelaki paruh baya itu mengagetkan Ken. Ia membalikkan tubuhnya dengan canggung. “Apa ayah mendengar teriakanku tadi. Apa ia mendengar semua keluh kesahku,” batinnya yang sedikit malu.
Saat sang ayah semakin dekat dengannya Ken hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia sangat malu pada lelaki yang ada di hadapannya. “Apa ayah mendengar semuanya ...”lirih Ken.
Sang ayah tersenyum dan meletakkan tangan kirinya di pundak Ken lalu menuntun anaknya untuk duduk di rumput sambil menatap sungai.
“Ayah tahu. Kau sangat sedih dan cemburu pada Nao. Tapi, walau bagaimana pun Nao itu saudaramu. Kau tidak boleh membencinya.”
“Tapi, Nao ...”
“Aku tahu. Ibu lebih sayang pada Nao. Tapi, itu semua bukan berarti ibu lebih sayang Nao dari pada kamu. Ibu menyanyangi kalian berdua. Hanya saja. Nao membutuhkan perhatian yang lebih. Kau tahu sendirikan. Nao sejak kecil tidak punya teman. Ia lemah dan tak bisa menggunakan sihir. Karena itu ibu lebih memperhatikan Nao. Kau jangan cemburu pada Nao.” Lelaki itu menjeda perkataannya sejenak.
“Kau mungkin cemburu pada Nao. Tapi, asal kau tahu. Nao lebih cemburu dan iri padamu.”
Ken menatap ayahnya. “Kenapa bisa begitu? Bukankah Nao mendapatkan kasih sayang lebih dari ibu.”
“Nao memang mendapatkan kasih sayang lebih dari ibu. Tapi, Nao tidak mempunyai teman sepertimu. Nao juga tak punya kekuatan sepertimu. Tak ada yang ingin berteman dengan Nao karena dia hanyalah manusia biasa. Coba kau bayangkan bagaimana jika seandainya kau menjadi Nao. Apa kau senang? Apa kau bisa tersenyum dan melewati hari-harimu dengan penuh bahagia?”
Ken menunddukan kepalanya. Apa yang dikataka ayahnya ada benarnya. Nao pasti lebih menderita ketimbang dirinya.
Sang ayah mengelus rambut anaknya. “Pikrikan baik-baik. Jangan hal kecil seperti ini membuat hubungan kalian tak bisa akur. Cobalah untuk saling melindungi saling membantu. Cobalah untuk membangun ikatan persaudaraan yang erat pada Nao.”
“Tapi ...” lirih Ken. Membangun hubungan yang baik pada Nao membuatnya agak gensi dan sedikit memalukan baginya.
Lagi-lagi lelaki paruh baya itu mengelus rambut Ken.” Sudahlah jangan sedih lagi. Ayo kita kembali. Aku yakin ibu dan Nao pasti telah menunggumu.”
Sang ayah pun mengandeng tangan Ken untuk kembali ke rumah.
***
Dan sesuai dugaan. Ibu dan Nao menunggu mereka di ruang makan. walau keduanya sudah makan sejak tadi. Tapi, mereka tetap menunggu sang ayah dan Ken untuk kembali. Saat keduanya makan pun Nao dan ibunya tetap menemani mereka.
Setelah makan malam. Nao kembali ke kamarya. Ia menatap langit malam yang sangat indah yang penuh dengan bintang di tambah malam ini adalah malam purnama menambah keindahannya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Nao menatap Ken yang baru saja masuk hanya dengan memakai handuk kecil di pinggangnya. Khas anak-anak yang baru saja mandi.
Kedua mata mereka saling bertemu. Tapi, buru-buru Ken melepas pandangannya. Keduanya terlihat sangat canggung. Apa lagi setelah apa yang di katakan ayahnya.
Setelah memakai baju. Ken pun berbaring di kasunya membelakangi Nao yang menatapnya sejenak lalu memabringkan tubuhnya. Keduanya saling membelakangi.
“Apa benar Nao juga cemburu padaku?” batin Ken sebelum akhirnya ia tertidur pulas.
***
Esok harinya. Pagi-pagi sekali Nao dan Ken bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. “Waktunya sarapan!” teriak sang ibu di ruang makan.
“Iya. Ma!” teriak keduanya serentak.
Setelah keduanya siap. Barulah Nao dan Ken keluar menuju ruang makan. Di sana ibu dan ayahnya telah menunggu. Tak hanya itu di atas meja sudah tersedia berbagai macam hidangan telah tersedia dan tertata rapi.
Nao pun mulai sarapan bersama keluarganya. “Mengenai kejadian kemarin. Ibu ingin bertanya sebenarnya apa yang kau lakukan di hutan itu?” tanya sang ibu. Seketika Nao gugup bukan main. Haruskah ia mengatakan jika dua teman barunya yang membawanya ke hutan dan meninggalkannya? Tapi jika ia mengatakan yang sebenarnya. Ia takut ibunya melapor pada Academic dan membuat dua teman barunya malah membencinya. Padahal sangat susah untuk mencari teman.
“Itu ... aku tak sengaja tersesat hingga berada di hutan itu ...” jawab Nao berbohong sambil menggaruk tengkuknya canggung.
“Jangan membohongi ibu, Nao. Aku tahu kau sedang berbohong dan menutupi sesuatu.” Perkataan ibunya membuat Nao semakin tegang. Ia mulai bingung apa yang harus ia katakan dan membuat ibunya percaya padanya.
“Kemarin aku melihatnya bermain dengan teman barunya,” ujar Ken tiba-tiba membuat Nao semakin tegang. Anak lelaki itu menatap Ken menuntut penjelasan. Tapi yang ditatap malah menatapnya kembali sambi menyeringai.
“Mati aku ...”