Terlihat seorang lelaki paruh baya yang kini berjalan di sekitar hutan sambil membawa s*****a. Lelaki itu terus berjalan hingga ia masuk lebih dalam ke hutan.
“Di mana monster itu,” batinnya. Ia sengaja masuk ke hutan ini karena mendengar ada monster yang berkeliaran di hutan dekat desa mereka. Untuk keamanan desa ia harus membunuh monster itu sebelum melukai orang-orang yang ada di desa.
Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan yang sangat kencang dalam hutan. Tanpa membuang waktu lelaki paruh baya itu pun segera melesat masuk untuk melihat suara apa yang ia dengar barusan.
“Tolong!” Teriakan itu semakin jelas terdengar di dalam hutan.
“Gawat aku harus cepat,” batin lelaki paruh baya itu sambil mempercepat langkahnya.
“Nao!” pekinya keras saat samar-samar ia melihat seorang anak lelaki yang sangat ia kenal kini berlari kencang ke arahnya dengan wajah penuh air mata dan penuh ketakutan.
Di belakan Nao. Terlihat seekor monster yang sangat besar kini mengejar Nao. Kedua mata monster itu berwarna merah tentu saja membuat siapa yang melihat monster itu pasti akan ketakutan.
“Ice arrow.” Lelaki paruh baya itu mengucap sebuah mantra sihir. Lalu tiba-tiba sebuah panah es keluar dari telapak tangannya. Lelaki itu pun membidik anak panah esnya ke arah monster yang ada di belakan Nao lalu dalam hitungan ke tiga. Panah itu pun meleyang dengan kecepatan tinggi ke arah Nao dan monster tersebut.
“s**l!” Pekinya kesal saat penahnya melesat dan mengenai sebuah pohon besar.
Sekali lagi lelaki paruh baya itu mengucapkan sebuah mantra sihir dan mengeluarkan panah esnya. Namun, lagi-lagi panah itu tak mengenai sasaran.
“Nao!” pekik lelaki paruh baya itu semakin cemas melihat Nao yang tiba-tiba saja jatuh ke tanah mungkin karena tersandung oleh sebuah batu. Seketika monster itu juga berhenti dan menatap Nao seakan ingin memakannya secara hidup-hidup.
“Tolong jangan sakiti aku ... dagingku tidak enak ... kay akan sakit perut saat menyantapku,” racau Nao sambil sesekali melempar monster tersebut dengan batu kerikil yang dapat ia capai dengan tangannya. Tak hanya itu Nao juga mencoba untuk memundurkan tubuhnya setiap kali monster tersebut melangkah ke arahnya.
Lelaki paruh baya itu mencoba memfokuskan bidikannya. “Kali ini aku tidak boleh meleset lagi. Aku harus mengenai monster itu,” batinnya. Kali ini ia menggunakan panah api. Dua kali ia menggunakan panah es dan keduanya meleset. Jadi ia mengubah panahnya menjadi panah api. Kali saja rencananya berhasil.
“Satu ...” lelaki paruh baya itu mulai menghitung. Sambil memperhatikan monster tersebut yang kini bersiap-siap menyerang Nao.
“Dua ... “ kuku-kuku tajam monster itu terangkat ke langit dan bersiap-siap menebas Nao yang ada di hadapannya.
Kedua mata Nao sepontan tertutup dan tangan kanannya ia angkat dan menutupi wajahnya bemaksud ingin melindungi wajahnya dari serangan monster tersebut.
“Tig ...” dan dalam hitungan ke tiga jari-jari lelaki paruh baya itu pun melepaskan panah apinya. “Aku mohon. Tertancaplah tepat di jantung monster itu,” batinnya melihat panah apinya meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah monster tersebut.
Panah api itu berhasil tertancap tepat di jantung monster tersebut sebelum kuku-kuku tajam itu mengenai tubuh kecil Nao. Lelaki paruh baya itu tersenyum senang dan berjalan mendekati Nao yang kini masih ketakutan.
“Nao ...” lirih lelaki paru baya itu. Nao membalikkan tubuhnya. Wajahnya sangat pucat pasih dan kedua matanya sudah sangat bengkak akibat menangis sejak tadi.
“Guru ...” lirihnya melihat lelaki yang sangat ia kenal kini mendekat ke arahnya.
Nao berusaha bangkit. Dengan langkah tertatih ia juga berjalan mendekati gurunya walau kakinya sakit. Dan saat itulah keduanya berpelukan erat.
Nao pun menangis sangat kencang dipelukan gurunya. Meluapkan segala ketakutannya.
“Sudah ... sudah ... tidak apa-apa. Sekarang aku sudah ada di sini. Jadi jangan takut lagi ... Kau tak perlu takut lagi.” Lelaki paruh baya itu yang ternyata adalah guru Nao yang bernama Reonald memeluk sambil menepuk-nepuk punggung Nao berusaha menenangkannya.
Ia sangat bersyukur. Untungnya ia tepat waktu menyelamatkan Nao. Jika tidak ... ia tak tahu apa yang akan terjadi pada Nao. Dan yang menjadi pertanyaannya mengapa Nao bisa ada di hutan ini. Bukankah seharusnya Nao berada di rumahnya.
“Na_”
“Terima kasih ... “ Baru saja lelaki itu ingin menanyai Nao mengapa ia bisa ada di hutan ini. Anak lelaki itu lebih dulu mengucapkan kalimat Terima kasih dengan nada lirih dan tak lama kemudiam lelaki itu merasakan tubuh Nao semakin berat.
“Nao,” kata lelaki itu pelan. Tapi, tak ada jawaban.
Akhirnya, karena tak ada jawaban jadi lelaki itu segera memperbaiki posisi Nao. Dan betapa paniknya ia saat mendapati anak lelaki itu kini tak sadarkan diri dalam pelukannya.
“Nao!” pekiknya panik sambil menguncang-guncangkan tubuh anak lelaki yang tak sadarkan itu.
***
“Nao ke mana ... kenapa ia belum kembali juga ... aku mencemaskannya ... aku takut terjadi sesuatu padanya ...” racau seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menangis dalam pelukan suaminya. Sedangkan Ken sedari tadi hanya duduk diam tanpa ekspresi sama sekali. Sama sekali ia tak merasa cemas dengan Nao. Bahkan ia berharap Nao menghilang sehingga ia bisa lebih dekat dengan orang tua angkatnya. Adanya Nao dalam keluarganya membuat Ken merasa terasingkan. Ibunya hanya memikirkan Nao ke timbang dirinya.
“Kita tunggu sebenatar lagi. Aku yakin Nao pasti di temukan.” Lelaki paruh baya yang merupakan suami wanita itu mencoba menenangkan suaminya. Sedari tadi ia juga sangat mencemaskan anaknya Nao. Tapi, ia mencoba untuk tenang. Setidaknya ada dia yang mencoba menenangkan istrinya. Masalah akan menjadi besar jika keduanya sama-sama panik.
Tadi sore mereka juga sudah menghubungi para guru mencari anaknya. Tapi, satu pun tak ada yang melihat. Ia sempat menghubungi guru privat anaknya Reonald. Tapi, lelaki itu tak bisa dihubungi. Lelaki itu juga tak ada di rumahnya sehingga wanita itu semakin panik karena tak tahu harus mencari ke mana lagi anaknya.
Tak lama kemudian. Terdengar suara ketukan pada pintu rumah mereka. Segera sang suami melepas pelukannya dan melangkah menuju pintu. Lelaki itu mencoba tersenyum saat mendapati beberpa orang kini berdiri di hadapannya.
“Bagaimana? Apa kalian melihat anakku?” tanyanya penuh harap. Tadi ia telah memberitahukan para warga tentang ke hilangan anak mereka. Berharap beberapa warga bersedia membantu mereka mencari Nao. Dan untungnya, sebagian dari mereka bersedia membantu.
“Maafkan kami. kami telah mencarinya ke Academic dan kami tak menemukannya. Bahkan kami juga telah menghubungi beberapa teman sekelasnya. Tapi, tak ada satu pun dari mereka yang melihat Nao.”
Penjelasan dua orang yang di hadapannya membuat sang istri menjadi semakin cemas. “Nao ke mana ... kau di mana, Nak,” wajah wanita itu semakin ucat pasih saking cemasnya.
“Sayang ...” pekik suaminya spontan saat tiba-tiba sang istri tak bisa mempertahankan posisinya dan hampir saja terjatu di lantai. Untungnya sang suami dengan cepat menamgkap tubuh lemah istrinya.
“Nao ke mana.” Masih dalam pelukan suaminya. Wanita paruh baya itu menangis histeris. Ia tak bisa menerima jika anaknya menghilang. Nao adalah anak angkatnya yang paling ia sayangi. Walau Nao bukan anak kandungnya, tapi Nao sudah ia enggap sebagai darah dagingnya sendiri. Semua orang tua pasti akan sedih jika kehilangan anak yang paling disayangi.
“Tenanglah, sayang. Aku yakin Nao tidak akan kenapa-napa di luar sana. Aku yakin Nao pasti akan kembali.” Sang suami pun segera menggendong istrinya dan membaringkannya di kursi sambil berusaha menenangkannya.
Dua orang yang sedari tadi berdiri di depan pintu itu segera undur diri untuk kembali ke rumah mereka. Karena hari semakin malam dan keduanya juga butuh istirahat setelah berkeliling sekolah mencari Nao.
Sang suami pun kembali mengahampiri istrinya yang mulai tertidur. Walau sesekali wanita itu menangis dalam tidurnya dan sesekali ia mengingau dan menggumamkan nama anaknya.
Sang suami tak bisa tidur akibat mencemaskan istri dan anaknya. Tangan kanannya memegang tangan istrinya dan tangan kirinya mengelus-elus rambut wanita paruh baya itu untuk menenangkannya.
***
Matahari mulai menampakkan cahayanya. Suami istri itu masih setia berada di ruang tamu menunggu anaknya kembali. Sang suami masih setia mengelus pelan rambut istrinya. Semalam ia tak bisa tidur karena mencemaskan istrinya yang mulai demam akibat terlalu stres memikirkan Nao.
Hingga terdengar sebuah ketukan pintu pada rumahnya. Suara ketukan itu membangunkan sang istri. Tapi, kedua mata wanita itu masih terlalu berat untuk terbuka.
Sang suami segera meninggalkan istrinya dan membuka pintu. Dan saat itu lah senyum merekah di wajahnya melihat siapa yang ada di depan pintunya. “Nao!” pekinya senang. Mendengar nama Nao membuat kedua mata yang tadinya berat terbuka seketika terbuka dengan cepat.
“Nao ...” lirihnya. Lalu bangkit dari posisinya.
Wanita paruh baya itu berjalan cepat menuju pintu. Air mata wanita itu kembali jatuh saat melihat anaknya kini telah kembali. Ia melihat anaknya kini tak sadarkan diri dalam gendongan seorang lelaki yang merupakan guru privat Nao.
“Apa yang terjadi pada anakku?” tanya.
“Sebaiknya kita membaringkannya di dalam dulu. Nanti aku akan menjelaskannya.”
Mereka pun segera masuk ke dalam kamar Nao. Di dalam kamar itu terlihat Ken yang masih tertidur pulas menjadi terusik akibat suara ribut dalam kamarnya.
“Ada apa sih ribut-ribut ...” gumamnya pelan. Anak lelaki itu segera bangun dan mengucek kedua matanya. Saat itu lah ia melihat dua orang tuanya dan lelaki paruh baya yang diketahuinya sebagai guru Nao yang bernama Reonald kini sedang membaringkan Nao.
“Ada apa dengannya?” tanya Ken dengan suara serak khas anak yang baru bangun tidur. Tapi, pertanyaannya tak ada yang menjawab. Tak ada yang memperdulikannya. Semuanya malah memperhatikan Nao bukan dia.
Ken menghela napas. Ini sudah biasa baginya. Dengan wajah kesal Ken berjalan mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi. Lebih baik ia mandi dulu dari pada ia tetap berada di kamarnya yang tak ada yang memperhatikannya.