That Creepy Man

1598 Words
"...na" "...fhana!" "Stefhana!" Aku tersentak begitu temanku memanggil namaku setengah membentak. Pada detik berikutnya, aku sadar jika empat pasang mata teman-temanku tertuju padaku dan oh, es krimku mencair! "Kenapa sih, Stef? Sakit perut?" tanya Steven, salah satu temanku yang kini berbagi meja denganku. Aku berusaha menjawabnya selagi membersihkan lumeran es krim yang mengotori jariku. "Ah, enggak. Melamun saja." jawabku asal. "Kupikir awalnya kamu melihat cowok ganteng di sana, ternyata sampai cowok itu pergi, kamu tetep lihat ke sana." timpa Eli sambil kembali memasukan sesendok penuh kuah bakso ke dalam mulutnya. "Iya, mana kosong gitu tatapannya. Kupikir kesurupan." tambah Raniya dengan raut khawatir. Temanku ini memang sedikit penakut dan sensitif dengan hal gaib. Aku tertawa renyah sebagai jawaban. Kesurupan? Hantu? Tidak. Kurasa yang menatapku tadi masih manusia. Walaupun orang itu memberikan efek merinding yang sama hebatnya dengan hantu. Ah, tahu apa. Aku tidak pernah melihat hantu. Sekilas aku melirik dari balik bahuku ke arah meja dimana pria tadi sempat duduk dan ternyata meja itu sudah kosong. Aneh. Padahal, aku merasa sangat diperhatikan sejak tadi dari arah sana. Aku kembali menatap es krimku dan menyantapnya sebelum mencair lagi. Ketiga temanku, Steven, Raniya dan Eli sudah kembali bergurau satu sama lain dengan tidak memperhatikanku lagi. Kini hanya Kevin yang masih terus menatapku dengan tatapan yang sama seperti saat aku melamun tadi. "Kev?" panggilku. Kevin sedikit tersentak. Terlihat dari matanya yang sedikit terbelalak dan tatapannya yang kembali cerah. "Ah, iya?" "Ada apa?" tanyaku. "Enggak, habisnya kamu melamun tadi. Kupikir sakit." elaknya gugup. "'Kan sudah kubilang aku gak kenapa-kenapa?" balasku santai. "Ehem, Vin. Kelihatan amat. Hahaha." ejek Steven tiba-tiba. Ternyata mereka sadar obrolan kami. "Apaan, sih." elak Kevin. Aku melihat semburat merah tipis melintasi pipinya. Eh, atau aku salah lihat? "Buruan, Kev. Jangan diliatin aja!" Raniya kini yang mengejek. Sedangkan Eli, temanku itu justru membuang muka dengan tidak acuh. Aku juga memilih diam, tidak mempedulikan. Iya, aku mengerti maksud mereka. Aku juga tahu Kevin menyukaiku. Tapi sungguh, berada dalam sebuah hubungan romantis bukanlah minat atau bakatku. Aku memalingkan pandangan, tidak ingin terlibat dan membahas ini lebih jauh. Aku tahu Kevin sudah menyukaiku sejak semester satu, tapi sampai saat ini tidak juga menyatakan perasaannya. Tidak, aku tidak menunggunya. Aku justru tidak ingin dia melakukan itu. Berteman seperti ini sudah sangat nyaman. Jika aku menolak, kemungkinan dia tidak mau lagi bergabung dengan kami sangat besar. Aku pun sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Kembali aku menatap langit menunggu mereka selesai mengejek Kevin. Aku tidak mempedulikan tatapan minta tolong dari Kevin untuk membelanya. Aku tidak mau mereka semakin meledek kami, jadi sebaiknya tidak kuladeni. Seharusnya Kevin juga seperti itu supaya mereka tidak makin jadi. Drrtt.. Drrttt.. Getar smartphoneku menyadarkan aku kembali. Pesan masuk dari Mami tertera disana. "Stef, jangan lupa kontrol ke Dentist." pesan itu berkata. Seketika gigi geraham belakangku berdenyut nyeri. Uh. Aku baru ingat lagi jika musuh terbesarku saat ini adalah gigiku sendiri. Dokter bilang gigiku ada tumbuh mendorong gigi yang lain dan harus segera dioperasi. Jika tidak, sakitnya bisa tidak tertahankan. Untuk itu aku harus periksa beberapa kali sebelum hari H operasi. "Teman-teman, aku pamit ya." salamku pada mereka sambil berdiri. Kini semua mata teman-temanku tertuju padaku. "Kok cepat? Masih ada kelas?" tanya Raniya. "Aku mau ke Dokter Gigi. Hari ini jadwal kontrolku." balasku singkat. Raniya justru tertawa mendengar ucapanku. "Ahahah. Oh iya, aku ingat beberapa waktu lalu ada yang telepon aku tengah malam sambil menangis karena sakit gigi dan gak bisa tidur padahal sudah mengantuk." ceplos Raniya. Wajahku merah padam. "Iiih, kok diceritakan sih? Aaah, maluuu!" rengekku, setelah mendapat tawa dari teman-temanku. "Makanya cepat sembuh." celetuk Steven. "Iya ini makanya mau ke Dokter. Bagaimana, sih. Sudahlah, aku pergi dulu." tutupku sebelum melenggang pergi. Kudengar samar mereka masih mendadahiku tetapi aku tidak ingin membuang waktu lebih lama. Segera kupesan ojek online menuju Rumah Sakit. * "Loh?" Mataku terbelalak mendapati puing-puing bangunan menggantikan posisi Poliklinik Gigi yang seharusnya berada. Aku yakin sekali, minggu lalu tempatnya masih di sini. "Mbak, mau ke Poli Gigi?" tanya seorang perawat lewat yang mendapatiku melamun. Kehadirannya cukup menyadarkanku kalau aku masih di Rumah Sakit yang sama dengan tempat biasa aku kontrol. "Iya, di sini 'kan harusnya?" tanyaku polos. Perawat itu sedikit tertawa. "Sedang renovasi, mbak. Sementara Poli Gigi di pindah ke bagian barat Rumah Sakit. Dekat Poli Bedah." jelas perawat itu. Seketika aku terdiam. Tidak ada yang salah dengan ucapannya, tetapi sungguh, tiba-tiba sekujur punggungku terasa dingin. "Poli Bedah?" tanyaku memastikan sekali lagi. "Iya, dari sini naik satu lantai lagi lalu lurus saja ke bagian barat. Nanti ada papan penunjuknya." jawab perawat itu ramah. Benar, kok. Tidak ada yang aneh dengan penjelasannya. Lagi pula renovasi itu hal yang wajar. Tapi, kenapa, ya? Kenapa aku merasa segugup dan setakut ini? Apa yang kutakutkan? "Oh begitu, terima kasih ya." tutupku. Tidak kusadari alisku sudah bertaut. Aku melangkah lagi menuju lift dengan langkah yang sangat pelan. Bahkan di setiap langkahnya pun penuh keraguan. Ini semakin aneh, aku merasa seperti bukan diriku sendiri. Ah, aku kenapa sih? Kenapa aku takut pada hal yang belum jelas? Lagi pula aku akan lebih menyesal jika tidak kontrol hari ini. Bisa-bisa aku menangis semalaman karena sakit gigi. Aku menyingkirkan segala awan keraguan di kepalaku. Benar, aku akan lebih menyesal tidak melakukan hal yang pasti hanya karena hal yang tidak jelas. Pasti tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Langkahku terus menuju Poli Gigi. Setelah mengikuti beberapa petunjuk arah yang pasang di setiap sudut, akhirnya hanya tinggal belok, aku akan sampai. Namun ketika mataku baru saja mengintip yang di balik tembok ini, sosok yang lebih besar dariku menabrak hidungku. Ia menghantamku lumayan keras, sepertinya sedang buru-buru. Wajahku sampai sakit dibuatnya. "Aduh!" pekikku sambil memegangi hidungku. "Ah, maaf!" seru pria yang menabrakku itu. Suaranya terpendam. Saat aku mengintip lagi, ternyata dia memakai masker medis. Namun, bukan itu yang menjadi pusat perhatianku. Tatapannya yang di balik kacamata tipis itu, rasanya belum lama aku menerimanya. Persis seperti orang yang menatapku tajam tadi saat di kantin. Belum lagi sentuhan tangannya yang ingin menolongku agar aku berdiri kembali. Reflek, aku menghindari tangannya. "Enggak apa-apa!" seruku, mengelak tangannya kemudian terengah. Sungguh. Aku kenapa sih? Pria itu diam. Meski aku tidak berani menatap wajahnya, aku tahu dia memperhatikanku. Aku bisa mengansumsikannya dari tubuh tegapnya yang tidak bergerak sedikit pun dari depanku untuk beberapa saat. "Stefhana..?" Tiba-tiba aku mendengar suara lirihan seorang pria memanggilku. Dan suara itu, aku yakin berasal darinya. Segera aku menoleh padanya, kebingungan. Aku yakin aku tidak pakai papan nama atau apapun di tubuhku. Apa aku salah dengar? Dia menyebut namaku? "Hah?" "Ah, maaf. Saya buru-buru. Maaf menabrak kamu. Kamu pasien Poli Bedah?" tanyanya gelisah. Kini sikap tubuhnya yang dingin dan tenang itu lenyap. "Bukan, aku mau ke Poli Gigi. Tunggu, tadi kamu sebut namaku, ya?" balasku. Tanpa sadar aku menahan tangannya agar dia tidak cepat pergi. Aku cukup kacau dibuatnya. Sudah sedari tadi aku paranoid, lalu mendapat tatapannya, dan kini samar kudengar namaku disebutnya. Harusnya ada penjelasan untuk semua ini. Namun pria itu justru kembali diam, tidak lagi gelisah. Matanya kini menatap tanganku yang berada di lengannya. Kurasakan lengan di balik fabrik bajunya itu cukup keras. Selaras dengan tubuh bidangnya. Tapi tatapannya, ah, apa dia tidak suka disentuh orang asing? "Maaf!" seruku, sambil menarik tanganku dari sana. "Aku cuma agak penasaran karena rasanya tadi seperti ada yang panggil namaku." lanjutku. "Saya tidak panggil siapa-siapa." balasnya. Aku membeku. "Memangnya nama kamu siapa?" tanyanya. Kepalanya sedikit dimiringkan, terlihat di balik masker itu dia seperti tersenyum, smiling eyesnya menunjukan hal itu. Tapi hal itu sama sekali tidak terasa ramah. Aku justru takut dibuatnya. "A-aku... Ah, maaf! Aku juga buru-buru!" balasku segera. Tidak bisa, firasatku justru semakin tidak enak berlama-lama dengannya. Sebagian dari diriku bahkan memohon agar aku tidak memberitahukan namaku padanya. Ini tidak pernah terjadi pada orang asing sebelumnya. "Oh?" responnya begitu aku hendak melewatinya. "Permisi!" Kulihat dia tidak menghindari aku yang mau jalan. Tidak, dia justru dengan sengaja hendak menghadangku. Aku tidak peduli. Aku tetap akan berlalu bahkan jika harus menabraknya lagi. Dan benar. Bahu kami bersenggolan keras. Kuyakin sekali aku sudah menghindar pada jarak yang tidak mungkin kami bersentuhan. Tapi jika begini, aku tidak ragu lagi dia memang ingin menghadangku. Creepy! Aku segera membuka pintu Poli Gigi begitu aku mencapainya. Tidak peduli aku yang terengah, dan seisi poli melihatku dengan tatapan aneh. Aku justru mulai merasa lega setelah meninggalkannya. Dan sampai pintu itu tertutup, kulihat sosok dengan jas putih itu masih berdiri disana, menatapku. Padahal, dia tadi bilang jika dia sedang buru-buru. * "Ooh, poli gigi... Ahaha." Adrian terkekeh. Adrian mulai mencurigakan. Bukan karena dia menjadi satu-satunya sosok yang masih berkeliaran saat jam buka Poliklinik sudah selesai, melainkan dirinya yang seenaknya masuk ke dalam ruang Poli yang bukan bagiannya. Dengan lihai, ia mulai mengecek beberapa tumpukan kertas disana. "Tidak kusangka, takdir justru mendekatkan kita. Sepertinya untuk beberapa minggu ke depan aku tidak perlu mengikutimu sampai ke kampus." lirihannya menggema di ruangan sepi. "Hmmm. Mari kita lihat. Dokumen milik Stefhana ... ah ini dia." Adrian menarik salah satu map hijau dengan logo Rumah Sakit. Stefhana Genesis, nama itu tertera di bagian bawahnya. Adrian kemudian membuka map itu dan mencari apa yang kira-kira ia bisa dapat. Biodata Stefhana berikut dengan riwayat penyakitnya tertulis lengkap di sana. Mata Adrian yang terlapis lensa tipis itu seketika lincah membaca semuanya. "Ketemu! Oh, ini alamat rumahnya..." Adrian mengambil smartphone dari saku kirinya dan segera memotret seluruh informasi yang tertera pada berkas milik Stefhana. Selesai, Adrian menutup kembali map tersebut dan menaruhnya kembali. Pria itu menyisir rambutnya ke belakang dengan jari hingga wajah tampannya sempurna terekspos. Matanya menerawang, tersirat sedikit sedih, dan diikuti oleh helaan napas ringan. "Aaah, kasihan kamu, Stef. Sebentar lagi kamu mati. Sayang sekali, padahal kamu lumayan cantik."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD