3. Berdebat

739 Words
Amanda keluar dari kamar sambil merentangkan kedua tangan ke atas lalu menutup mulut yang sedang menguap. "Hoaaam." Melangkah menuju dapur sambil mengikat rambut panjangnya. Aldin yang juga keluar kamar di waktu yang bersamaan, hanya menggeleng pelan melihat bagaimana tingkah gadis yang berstatus sebagai istrinya itu. Menyusul kemudian. Amanda menoleh saat menyadari kedatangan orang lain. Mengisi gelas dengan air putih sambil memperhatikan. "Perasaan ini masih pagi. Udah rapi aja," komentarnya sambil membawa gelas yang kini telah diisi dengan air. Duduk di kursi makan lalu minum hingga isi gelas itu tandas tak bersisa. "Daripada kamu, masih acak-acakan," balas Aldin, menyindir sambil melirik sekilas. "Masih jam enam pagi kali, Pak. Masih banyak waktu. Berangkat jam tujuh juga masih sempat absen," sahut Amanda dengan santai. "Dasar malas," cibir Aldin sambil duduk di kursi makan lalu mengambil sepotong roti dan mengolesinya dengan selai kacang. "Bangin pagi. Sudah rapi pula tapi sarapannya cuma roti," sindir Amanda sambil terkekeh. Aldin abai. Mengunyah sarapannya dengan santai seakan hanya ada ia sendiri di sana. "Bapak berangkat duluan aja. Nanti saya berangkat sendiri," kata Amanda sambil bangkit dari kursinya. "Gak ada juga yang berencana berangkat bareng sama kamu," sahut Aldin dengan nada dingin, tanpa menoleh. Dengan acuh tak acuh ia memasukkan potongan terakhir rotinya ke dalam mulut lalu beranjak begitu saja, melewati sang gadis. Amanda menatap tidak percaya dengan mulut menganga. Reaksi yang benar-benar diluar dugaan. Dengan kesal mengepalkan tangan sambil menjerit tertahan. Menghentakkan kaki kemudian berlalu pergi ke kamar untuk bersiap-siap. *** "Selamat pagi, Pak Shaka." Amanda berdiri saat melihat atasan sekaligus kakak iparnya berjalan menghampiri. "Pagi, Man." Shaka berdiri di depan meja sekretarisnya itu. "Manda, ke ruangan saya sekarang. Beritahu su ... maksud saya beritahu Aldin juga." "Baik, Pak, " angguk Amanda. Shaka berlalu menuju ruangannya. "Eh, Fadli! Fadli! Sini!" Amanda memanggil seorang office boy yang kebetulan melintas di dekatnya. "Iya, Bu?" sahut pemuda bernama Fadli itu. "Tolong ke ruangan Pak Aldin. Bilang ditunggu Pak Shaka di ruangan," pinta Amanda, enggan bertemu pria itu lagi. Sudah cukup di rumah. "Baik, Bu." Fadli berlalu, menuruti perintah. Amanda pergi lebih dahulu, masuk ruangan CEO setelah mengetuk pintu. Shaka mengernyit. "Mana Aldin?" tanyanya sambil mempersilahkan Amanda untuk duduk di sofa ruangan. "Nyusul," jawab Amanda seraya duduk di kursi panjang. Shaka hanya mengangguk. Mendaratkan diri di kursi single, tepat saat pintu ruangan terbuka. "Selamat pagi, Pak," sapa Aldin sambil berjalan mendekat. "Pagi. Duduk." Shaka mengangguk. Aldin mengangguk, duduk di kursi yang sama dengan wanita yang baru ia nikahi meski karena sebuah kejadian tak terduga. Amanda melirik sekilas, bergeser sedikit menjauh dari pria yang kini telah menjadi suaminya. Aldin menyadari hal itu. Hanya melirik sekilas dengan skor mata. "Kalian sudah tahu kan kenapa saya panggil?'' Dua jawaban berbeda Shaka dapatkan. Jika Aldin mengangguk, Amanda justru menggeleng hingga ia menjadi pusat perhatian dua pria yang ada di ruangan itu. "Apa?" Amanda menatap berganti atasan dan suami. "Pak Shaka memang belum sampaikan apa-apa 'kan?'' sahutnya dengan tatapan polos. "Kalian pasti tahu peraturan di kantor ini. Tidak dibenarkan memiliki hubungan antar karyawan. Jadi siapa di antara kalian yang akan pindah? Saya akan pindahkan kalian ke kantor cabang. Kebetulan di cabang sedang ada posisi yang kosong. Saya bisa transfer salah satu dari kalia ke sana tapi kalian tetap harus membuat proposal. Atau ... mungkin ada yang mau resign?" kata Shaka. Aldin dan Amanda saling menunjuk satu sama lain. Shaka menatap mereka bergantian. "Apa kalian belum membicarakan soal ini?" Keduanya menggeleng. "Baiklah. Kalau kalian belim memutuskan, saya kasih kalian waktu sampai besok,'' putus Shaka, "saya harus memberlakukan peraturan yang sama meskipun kalian berdua orang terdekat saya." "Baik, Pak." Aldin mengangguk tanda mengerti. "Udah, Bapak aja yang pindah. Yang kosong di cabang posisi pimpinan. Bapak bisa jadi pimpinan cabang nanti," ujar Amanda sambil menatap pria di sampingnya. Aldin menoleh. "Di cabang juga ada posisi sekretaris yang kosong. Kamu bisa pindak ke sana,'' balasnya. "Saya gak mau!" Amanda menolak mentah-mentah. "Saya juga tidak mau!" balas Aldin lagi. "Bapak ngalah dong. Kantor ini lebih dekat dari rumah Bapak. Saya jadi gak terlalu jauh di jalan." "Saya pun butuh kantor yang tidak jauh dari rumah." Aldin tidak mau kalah, tak peduli juga pada tatapan kesal wanita itu. "Kalau gak mau pindah, kamu bisa resign. Tinggal di rumah, jadi ibu rumah tangga," imbuhnya kemudian. "Enggak. Saya mau ngapain bengong di rumah? Gak mau! Saya mau tetap kerja di sini!" Amanda dengan tegas menolak. Sementara Shaka, bergantian menatap pasangan suami istri baru itu dengan heran, apa yang terjadi? Panggilan mereka saja masih kaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD