"Ini ... foto siapa?" tanya seorang wanita cantik berkerudung putih yang senada dengan gaun panjang, pada pria yang kini berada satu ruangan bersamanya. Di sebuah ruang keluarga yang nyaman dan bersih juga tertata dengan rapi.
"Kamu bisa pakai kamar lain untuk kamu gunakan kecuali yang itu," tunjuk sang pria ke arah pintu salah satu kamar. "Dan ingat, Amanda. Ada peraturan yang sudah kita sepakati." Suara dingin pria itu. Tak berniat menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.
Gadis cantik bernama Amanda dengan bulu mata panjang dan lentik itu memutar bola mata. "Saya tau. Bapak gak perlu cerewet. Saya masih muda, belum pikun." Sambil menatap sebal pria itu.
"Bagus." Sang pria berlalu kemudian.
"Tunggu , Pak Aldin."
Pria bernama Aldin Pranata itu menghentikan langkah. "Apa lagi?" tanyanya tanpa berbalik.
"Ini Bapak gak bawain koper saya gitu? Saya kan tamu, Pak."
"Bawa saja sendiri. Kamu kan masih muda," sahut Aldin sambil kembali melangkah.
Amanda mengepalkan tangan seolah ingin memukul pria itu. "Dasar nyebelin. Kulkas seratus pintu. Kutub es aja kalah," gerutunya sambil menyeret koper besar. "Aku pakai kamar ini aja lah. Biar kalau ada apa-apa aku gampang gedor kamar Pak Aldin kalau ada apa-apa," putusnya sambil membuka pintu kamar yang posisinya tepat di sebelah kamar utama.
Amanda menyeret koper hingga ke samping tempat tidur. Sejenak berdiri sambil mengedarkan pandangan. Melangkah menuju pintu yang tertutup oleh gorden tipis berwarna putih. Lalu membukanya. Tersenyum saat melihat hamparan luas taman yang dipenuhi dengan tanaman hias.
"Sejuknya udaranya." Menutup mata sambil menghirup udara segar dan membuangnya perlahan.
Amanda kemudian membuka mata. Senyum masih menghiasi wajah. Ia tidak menyangka ada taman di samping rumah. Dari depan sama sekali tidak tampak. Kepalanya kemudian tergerak untuk menoleh ke kanan. Tersenyum lebar sambil melambaikan tangan saat melihat sang empunya rumah ada di sana.
"Halo, Pak. Saya pakai kamar ini gak apa-apa kan?" cengirnya. Balkon dua kamar itu ternyata berdampingan.
Aldin hanya menatap sekilas lalu mengalihkan pandangan pada taman di depannya. Tak ada kata terucap.
"Saya baru tau ada taman di sini, Pak. Dari depan sama sekali gak kelihatan loh," komentar Amanda.
Aldin diam. Sesaat kemudian ia pergi begitu saja, masuk ke dalam kamarnya tanpa memberi tanggapan.
Amanda melotot dengan mulut sedikit terbuka, menatap tidak percaya. "Apa dia mendadak tuli dan bisu?" cibirnya.
***
Amanda keluar dari kamar. Sejenak diam sambil menoleh ke pintu kamar sebelah yang kebetulan penghuninya juga keluar bersamaan dengannya. Membuang muka lalu beranjak.
"Amanda tunggu!"
Gadis itu berhenti lalu berbalik. "Apa?" tanyanya dengan malas.
Aldin menghampiri, berdiri di depan wanita muda itu. Memindainya dari ujung kepala hingga bawah kaki. "Peraturan lain, tidak boleh pakai baju kurang bahan di rumah ini."
Amanda melihat pada tubuhnya sendiri. Kurang bahan? Apa yang kurang bahan? Ia hanya mengenakan home dress berbahan kaos tanpa lengan dengan panjang selutut. Dengan sengaja ia menaikkan rok hingga sedikit pahanya terlihat. "Kalau segini boleh?"
"Amanda! Jaga sikap kamu! Ini rumah saya!"
"Terus kenapa? Bapak mau usir saya? Oke, saya gak masalah. Saya dengan senang hati keluar dari sini." Amanda melangkah. Tetapi tangannya di tahan.
"Terserah kamu!" ujar Aldin sambil menatap dingin wanita yang beberapa tahun lebih muda darinya itu.
"Bagus kalau gitu. Saya sih lebih baik keluar dari sini. Tinggal di kontrakan atau apartemen," sahut Amanda, menantang sorot mata sang pria.
"Maksud saya, terserah kamu mau pakai apa. Sekalipun kamu mau pakai baju anak-anak, saya tidak akan tergoda." Aldin tidak ingin wanita itu pergi dari rumahnya karena nanti ia yang akan repot sendiri dan sudah pasti semua akan menjadi masalah yang bisa menyita waktu.
Amanda menepis tangan besar yang masih mencengkram lengannya. "Gak usah kepedean. Siapa juga yang mau godain Bapak."
"Bagus. Ingat! Kita hanya menikah kontrak. Itu juga karena insiden yang disebabkan kesalahan kamu. Kalau sejak awal kamu ngikutin perindah saya, semua gak akan jadi seperti ini!"
Amanda menatap keki pada pria yang berlalu kembali ke kamar itu. "Enak aja nyalahin aku terus. Dia sendiri yang salah," gerutunya.
Netra kemudian tertuju pada foto yang tertempel di dinding ruang tengah itu. Berjalan mendekat. Menatap gambar wanita muda dan cantik dengan senyum manis tersebut. "Ini sebenarnya siapa sih? Kenapa fotonya yang segede gaban dipajang di sini?"