"Enggak. Gak mungkin dia marah. Untuk apa?" Sahut Amanda. Lalu mengambil air minum yang hanya tersisa satu teguk dan meminumnya. "Iya juga ya. Gak mungkin dia marah. Kecuali kalau kamu istrinya." 'Uhuk! Uhuk! Uhuk!' Amanda kembali tersedak minuman. Seraya terbatuk-batuk, ia melihat suami pergi. Matanya terus mengikuti ke mana pria itu melangkah. "Minum!" Jeremy menyodorkan gelas berisi air putih yang beberapa saat lalu ia pesan dari pramusaji. Amanda melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Aku harus balik ke kantor. Takut telat. Aku duluan," ujarnya sambil beranjak. Tetapi beberapa langkah kemudian ia berbalik. "Makasih traktirannya." Jeremy hanya bisa menatap kepergian wanita itu tanpa sempat mencegah. "Katanya ada yang mau diomongin. Tapi malah pergi," gumamnya. *** Am

