7. Gosip Hot

737 Words
"Ibu? Ibu ngapain di sini?" tanya Amanda. "Kenapa? Memang ibu gak boleh datang ke sini? Anak dan kedua menantu ibu juga ada di sini? Kenapa kamu sendiri? Mana suam—" Amanda segera menutup mulut ibunya, melihat ke sekitar memastikan tidak ada yang mendengar celotehan ibu. "Sssttt ... Ibu ... jangan sampai ada yang tau kalau aku udah nikah," bisiknya kemudian. Ratih menepis tangan sang anak. "Kenapa? Kamu sengaja biar kamu bisa tetap berhubungan dengan si jerami itu? Manda, pamali. Kamu udah punya suam—" Amanda lagi-lagi menutup mulut ibunya. "Ibu ... jangan suka suudzon sama anak sendiri. Aku masih mau kerja. Dan di sini sesama karyawan gak boleh ada yang punya hubungan. Kalau mereka tahu aku dan Pak Aldin udah nikah, salah satu dari kami harus keluar," bisik Amanda. "Ya kamu yang keluar. Jadi ibu rumah tangga aja." Ratih menghempaskan tangan anaknya. Amanda memutar bola mata. "Aku masih mau kerja. Ibu ngapain sih di sini?" "Ibu!" Pasangan ibu dan anak itu menoleh. "Ibu di sini? Kenapa gak bilang." Shaka menghampiri ibu mertua, mengecup punggung tangannya. Begitu juga dengan Aldin. "Ibu sendiri?" "Iya. Ibu tadinya mau ke rumah Nak Aldin. Tapi belum tahu alamatnya. Nanya anak itu malah gak diangkat teleponnya. Makanya ibu datang ke sini." Ratih menyikut pelan lengan putrinya. "Aku gak tau ibu telpon. Lagi banyak kerjaan, gak sempat periksa handphone,'' kilah Amanda yang sejak tadi menyimpan ponsel di dalam tas dalam mode hening. "Oh iya. Maaf, Bu. Saya lupa kasih alamat rumah ke ibu." Aldin mengeluarkan dompet, memberikan kartu nama yang berisi alamat rumah. "Ibu boleh datang kapanpun ibu mau. Atau bisa telepon saya, nanti saya yang jemput Ibu." "Gak usah repot-repot. Nanti ibu datang sendiri," jawab Ratih. Amanda menggeleng pelan. "Ikut saya," ujarnya sambil menarik tangan suami, menjauh dari ibu dan kakak ipar. Aldin hanya pasrah. Hingga mereke berhenti beberapa langkah kemudian. Amanda mengamati sekitar, memastikan tidak ada orang di dekat mereka. "Bapak kenapa kasih alamat rumah bapak ke ibu saya?" "Memangnya kenapa?" Aldin bertanya balik. "Aduh, Pak ... Bapak itu kalau punya otak ya dipakai dong. Kalau Nanti ibu saya tiba-tiba datang ke rumah gimana? Ketahuan dong kalau kita pisah kamar." Aldin mendorong pelan kening gadis di depannya dengan telunjuk. "Yang gak pakai otak itu kamu. Ibu akan curiga kalau saya gak kasih." Amanda cemberut. "Terus gimana kalau ibu saya nanti datang ke rumah Bapak." "Kita lihat nanti," jawab Aldin sambil beranjak. Amanda menganga, ingin berteriak memaki tetapi jelas itu tidak mungkin. "Dasar cowok stress!" "Manda! Ayo!" Amanda menghampiri. "Kita makan siang sama-sama," kata Ratih. "Gak bisa, Bu. Aku udah janji sama teman-teman mau makan siang bareng di kantin. Ibu kalau mau, makan aja sana sama dua mantu ibu ini." Amanda berlalu. "Dasar anak nakal!" gerutu Ratih tetapi tidak melarang. Tahu hal itu akan percuma. Amanda berjelan cepat menuju kantin yang lokasinya masih berada di area kantor. "Maaf, Kia, Weni, aku telat," ujarnya sambil duduk di kursi kosong tempat dua temannya berada. "Kita maklumi lah. Namanya juga sekretaris CEO. Sibuknya gak ketulungan," sahut, Kia— salah satu dari dua gadis itu. "Pak Shaka juga, biarpun ke adik ipar tapi gak ngasih kelonggaran dikit mah gitu," sambar Weni. "Itu namanya profesional,'' balas Amanda. "Iya deh si paling profesional. Sampai-sampai mau makan siang aja telat." "Eh, aku telat bukan karena itu. Tapi karena hal lain." "Apa?" "Ada deh." "Ish, kamu nih. Paling suka bikin orang penasaran." Amanda hanya tertawa menanggapi. "Ini buat aku?" tanyanya sambil menarik piring makan lebih dekat. "Iya. Sengaja kita pesenin biar pas kamu datang gak harus nunggu lagi. Kamu kan sibuk." "Nyindir," delik Amanda yang hanya ditanggapi dengan tawa riang oleh kedua gadis itu. "Eh, aku punya gosip terbaru. Masih hangat.'' Kia mencondongkan tubuh di atas meja, berbisik. "Gosip apaan?" tanya Amanda. Ini yanyia suka. Bisa melepas penat sambil mendengarkan berbagai cerita yang beredar di sekitar kantor. "Pokoknya ini berita paling hot,'' sahut Kia. "Iya apaan, Markonah! Bikin penasata aja," kesal Weni yang sudah tidak sabar. "Pokoknya ini gosip hot banget. press from the oven." "Buruan ngomong, Kia! Aku Jambak nik kalau enggak," semprot Weni. Kia tertawa kencang melihat temannya begitu penasaran. "Dia mah kebiasaan banget. Suka sengaja bikin penasaran," delik Amanda sambil membuka tutup botol kemasan air mineral lalu meminumnya "Oke-oke. Aku kasih tahu." Kia semakin menurunkan suaranya. "Dengar-dengar nih ... Pak Aldin udah nikah. Ada yang lihat." Amanda langsung menyemburkan air minum dalam mulut hingga mengenai Kia. "MANDA!" teriak Kia yang wajahnya basah kuyup. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD