5. Flashback: Pernikahan

842 Words
Aldin gegas membuang pandangan saat menyadari Amanda melihat ke arahnya. "Nak Aldin!'' Sang pemilik nama menoleh. "Iya, Bu?" "Orangtua Nak Aldin belum datang?" tanya ibu Amanda. "Gak bisa datang ya, Pak? Alhamdulillah. Kita gak jadi nikan dong," sambar Amanda sebelum sang pria menjawab. "Kata siapa gak jadi? Sekalipun orang tua Nak Aldin gak datang, kalian bisa tetap menikah. Yang penting ada ayah kamu," balas Ratih. Amanda menatap ibu dengan sebal. "Ibu itu ibu yang paling aneh di dunia tau gak? Cuma ibu yang seneng anaknya dinikahkan karena digerebek warga dan dituduh macam-macam. Apa jangan-jangan Ibu lebih percaya sama orang-orang yang nuduh aku itu ketimbang anaknya sendiri," tudingnya kemudian. "Ibu percaya. Nak Aldin tidak mungkin macam-macam. Meski jarang ketemu, tapi ibu tau Nak Aldin laki-laki yang baik. Kalau enggak, gak mungkin dia jadi orang kepercayaan kakak ipar kamu." "Kalau ibu percaya, kenapa ini gak bantu aku ngomong sama orang sini, Bu? Ibu malah setuju aku dinikahkan," protes Amanda. "Sudah ibu bilang, ibu lebih setuju kamu nikah sama Nak Aldin daripada sama si jerami itu." Amanda berdecak sebal. "Cuma ibu orang tua yang ssnang anaknya dinikahkan karena digerebek warga," sinisnya. "Gak apa-apa. Kalau gak gitu kamu juga belun tentu mau nikah secepatnya." "Ibu cuma mikirin perasaan Ibu. Gak mikirin perasaan anaknya. Aku ini sebenarnya anak kandung Ibu bukan sih? Atau jangan-jangan aku ini anak pungut." "Terserah kamu mau bilang apa." Amanda mengerucutkan bibir. Satu-satunya yang bisa membantu gagalkan pernikahan tidak diharapkan ini adalah ibunya. Ayah, semua terserah ibu. Apa pun yang dilakukan ibu, ayah pasti mendukung. Sedangkan Aldin, ah pria itu tidak banyak usahanya untuk membatalkan pernikahan. Tidak bisa diharapkan. Amanda Beringsut mendekati ibu. "Bu, gimana kalau Pak Aldin ternyata udah punya pasangan? Aku nanti dicap pelakor. Ibu mau anaknya yang cantik jelita ini dicap sebagai perebut laki orang?" Ratih berpikir sejenak lalu mengalihkan tatapan pada sang pemuda. "Apa Nak Aldin punya calon istri?" Pria muda itu diam. "Tidak ada." Itu bukan suara Aldin. Tetapi suara seorang wanita yang berasal dari pintu rumah itu hingga membuat semua orang menoleh. Wanita yang tak lagi muda tetapi masih tampak cantik dan anggun itu tersenyum sambil melangkahkan kaki, masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Aldin gegas berdiri, mendekati wanita paruh tersenbut. Mencium punggung tangan lalu mendaratkan kecupan di puncak kepalanya. "Maaf," ujarnya kemudian. Amanda dan Ratih hanya menatap. Meski belum diberitahu, mereka sudah bisa menduga siapa wanita yang baru saja tuna itu. "Kenapa minta maaf, Sayang?" "Maaf udah bikin mama dan papa datang ke sini." Wanita itu tersenyum, tanpa kata menyentuh bahu putranya. "Itu pasti mamanya Pak Aldin. Kelihatannya baik, enggak cerewet kayak ibu aku,'' gumam Amanda. Ratih yang ada di samping, tentu saja bisa mendengar. Menyikut lengan putrinya sambil melirik. "Ibu cerewet karena kamunya yang bandel,'' bisiknya. Amanda hanya bercedak sebal sambil mengerucutkan bibir. Jika orang tua Aldin sudah datang, pupuslah sudah harapannya. Eh, tetapi, sepertinya ia punya ide lain. Tersenyum senang. "Ini pasti Amanda. Adiknya iparnya Nak Shaka?'' Suara itu membuyarkan lamuman Amanda. Gegas berdiri lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Iya, Tante. Saya Amanda. Dan ini ibu saya." Sekaligus memperkenalkan ibunya. Ratih yang juga sudah berdiri, memperkenalkan diri sambil berjabat tangan. "Saya Ratih." "Saya Sofia, mamanya Aldin," balas wanita itu. "Semua sudah berkumpul. Bagaimana kalau kita—" "Maaf, Pak RT. Saya boleh bicara sebentar aja sama mamanya Pak Aldin?'' potong Amanda, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. "Kamu mau apa?" bisik Ratih. Amanda abail. "Tante, bisa bicara sebentar?" Sofia mengangguk. Amanda mengajak Sofia masuk ke bagian dalam ruma. ''Gak apa-apa ya, Tante, kita bicaranya di depan kamar mandi," cengir Amanda. Sofia tersenyum. "Gak apa-apa, Sayang. Kamu mau bicara apa, Nak?" Amanda diam. Ia jadi tidak enak hati karena sikap baik wanita itu. Tetapi tidak bisa, apa pun caranya ia harus batalkan pernikahan konyol ini. "Maaf, Tante. Tante yakin mau nikahin anak Tante sama saya?" Sofia mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa?'' "Saya itu gak sebaik yang Tante pikirkan. Ibu saya aja bilang kalau saya ini bandel. Saya itu suka melawan orangtua, hampir setiap hari bertengkar kasa ibu. Saya suka bentak-bentak ibu saya. Saya gak bisa masak, Tante. Nanti anak Tante malarat gara-gara saya boros, beli makanan di luar terus karena gak bisa masak. Mana saya itu suka banget jajan, Tante. Jajan saya juga banyak loh. Kasian nanti anak Tante jatuh miskin gara-gara punya istri kayak saya,'' celoteh Amanda, menceritakan kekurangan sendiri. Sofia tersenyum lembut, meraih tangan Amanda dan menggenggamnya erat. "Kamu gak usah khawatir, apa pun yang terjadi ke depannya nanti, Aldin orang yang bertanggung jawab. Kamu gak usah takut akan kesusahan nanti." Amanda tersenyum canggung. Bukan itu maksudnya. "Sudah, ayo. Orang-orang udah pada nunggu. Kalian harus segera menikah." Menuntun tangan Amanda untuk kembali ke depan. "Ta—tapi, Tan—" Amanda tak sempat menyelesaikan ucapan karena ibunda Aldin sudah membawanya kembali ke ruang tamu di mana orang-orang sudah menunggu. "Tante, saya orangna malas loh, tukang rebahan," bisik Amanda. Pokoknya berusaha terus sampai titik darrah penghabisan. "Sudah. Ayo duduk!" sahut Sofia, tidak perduli. Lalu mengeluarkan kotak beludru berwarna merah. "Ini mas kawinnya." Setelan berbagai cara yang Amanda lakukan, ia tetap tak bisa menghindari pernikahan tanpa rencana itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD