Antara Fitnah dan Luka

1067 Words

Wildan kini sadar sepenuhnya, ia tidak hanya dikhianati, tetapi sudah dijebak ke dalam sarang macan. Dan pertanyaannya, apakah malam itu akan menjadi malam terakhirnya. Malam itu laut begitu tenang, hanya suara ombak kecil yang terdengar menghempas sisi kapal. Di ruang sempit yang diterangi cahaya lampu redup, Wildan duduk terikat, tubuhnya lelah, namun pikirannya melayang jauh. Bayangan wajah istri tercinta - Wulandari datang dengan begiitu jelas - mata teduh yang pagi tadi penuh kegelisahan saat melepasnya pergi. Kata-kata terakhir Wulan menggema di telinga. "HARI INI PERASAANKU BERBEDA, MAS WILDAN." Wildan menghela napas panjang, air mata menetes tanpa ia sadari. Putranya, yang baru berusia enam bulan - tertawa nyaring memandangnya ketika bermain bersama di waktu senggang, tangis kec

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD