Angin laut berhembus menusuk wajah, sementara matahari perlahan merunduk ke garis cakrawala. Wildan duduk paling depan, sorot mata tajamnya tertuju ke arah pulau yang mulai terlihat samar di kejauhan. "Apakah... pulau kecil itu..." tanyanya pada Tono. "Ya.. disanalah mereka bertemu. Biasanya transaksi berlangsung hanya sebentar, tidak lebih dari tiga puluh menit." Wildan hanya mengangguk. Di kepalanya, pertanyaan-pertanyaan liar berputar: "Kenapa hanya bertiga? Kenapa tak ada back up? Apa benar misi sederhana, namun rahasia. Mengandalkan seorang informan yang tampak meyakinkan, tapi justru membingungkan." Dalam hati, ia berjanji, "Apapun yang terjadi, aku harus pastikan semuanya selamat. Aku tak akan biarkan siapa pun jadi korban kalau semua ini jebakan." Perahu terus melaju menembus

