Perkenalan Dua Hati

1031 Words
Lampu neon berkedip-kedip di langit-langit klub malam, memantulkan warna merah dan biru di wajah para pengunjung. Musik berdentum, menggetarkan hati, bercampur aroma minuman keras dan parfum mahal. Di sudut VIP, Escobar duduk di sofa kulit hitam, jasnya rapi meski suasana santai. Di sebelahnya, seorang wanita cantik bergaun merah, bibirnya sexy dengan mata yang bercahaya_ Melly. Mereka tampak mesra. Sesekali Escobar mengelus pelan pipi Melly yang halus. Melly tersipu. "Kapan dia datang, Escobar. Kau katakan dia petarungmu yang hebat." Escobar membelai rambut Melly. "Sebentar lagi, tapi kau jangan sampai jauh cinta jika melihatnya." "Kau adalah segalanya Escobar, aku tidak akan jatuh ke lelaki manapun selain dirimu," balas Melly dengan lirikan genit. Beberapa menit kemudian. Andy melangkah masuk, tubuh atletisnya menyita perhatian. Escobar bangkit, menyambutnya dengan senyum lebar. "Hai, Andy! Petarung terhebat dan kebanggaanku. Besok malam, semua mata akan melihatmu di arena." Andy langsung duduk sambil menatap sekilas ke arah Melly: "Aku berjanji tidak akan mengecewakan Anda, Tuan Escobar. Besok aku akan berikan yang terbaik." Escobar menepuk bahu Andy dengan bangga, lalu menoleh ke wanita di sampingnya: "Kenalkan, dia Melly... bidadariku yang paling cantik." Melly berdiri, mengulurkan tangan. Sentuhan jari mereka hangat, dan di balik senyum ramah, ada kilatan tak terucap di mata Melly. "Kau lebih tampan dari yang kukira. Escobar selalu memujimu. Dia bilang kau adalah petarung yang hebat." Andy membalas dengan senyum tipis: "Tuan Escobar terlalu berlebihan memujiku. Tapi dia benar mengatakan tentang dirimu Nona Melly, bahkan kau lebih cantik dari yang ku dengar." Escobar tertawa, menganggapnya hanya basa-basi biasa. Tapi tatapan Andy dan Melly bertemu sedikit lebih lama dari seharusnya. Di tengah dentuman musik, keduanya seperti merasakan denyut yang sama--rasa ingin tahu bercampur ketertarikan yang tak mereka duga. Percakapan malam itu mengalir ringan, membicarakan pertarungan, lawan-lawan, dan dunia bawah tanah. Namun di sela tawa, setiap lirikan Melly dan Andy adalah percakapan sunyi yang tak diucapkan dengan kata. Bagi Escobar, malam itu hanyalah pertemuan biasa menjelang pertandingan Andy. Tapi, bagi Andy dan Melly, malam itu adalah awal dari sesuatu yang tak seharusnya dimulai - sebuah simpati yang perlahan berubah menjadi godaan berbahaya. ***** Lampu-lampu sorot menembus kabut tipis di arena pertarungan bebas malam itu. Riuh teriakan penonton bergema, bercampur dentuman musik pembuka yang mengguncang panggung. Aroma keringat, adrenalin, dan minuman keras menyatu di udara panas yang penuh gairah. Di tribun VVIP, Escobar duduk tegap dengan setelan mahalnya, menatap serius ke arena pertarungan dengan tatapan puas. Di sampingnya, Melly--bergaun hitam elegan, bibir merah merekah, mata tajam - tampak memperhatikan Andy yang sedang melakukan pemanasan di sisi ring. Beberapa saat sebelum gong pembuka, tatapan Andy bertemu dengan Melly. Sekilas saja, namun cukup untuk mengirimkan percikan aneh yang merambat di hati keduanya. Senyum tipis di bibir Melly terasa seperti bisikan tanpa suara, membuat jantung Andy berdetak lebih cepat. Escobar sibuk menyapa tamu di sebelahnya, tak menyadari momen sesaat dari keduanya. Gong berbunyi--pertarungan dimulai. Yang menjadi lawan Andy malam itu, bukan sembarang petarung. Namanya Lamhot, pria bertubuh kekar dari Sumatra Utara, rekor bertarung tak terkalahkan--sama dengan Andy. Di kenal dengan pukulan mautnya yang pernah membuat lawan pingsan hanya dalam dua menit. Riuh sorakan penonton langsung memanas. Lamhot maju agresif, melancarkan jab kiri cepat. Andy menghindar, membalas dengan LOW KICK keras ke betis lawan. Suara benturan keras terdengar, namun Lamhot hanya menyeringai, seolah mengejek dan mengatakan: "Hanya itu saja yang kau andalkan?" Pertarungan berlangsung dalam tempo cepat. Lamhot menyerbu, mencoba meraih Andy ke posisi CLINCH dan melayangkan lutut ke arah perutnya. Andy berhasil memblokir, lalu memutar tubuh, mengunci lengan lawan dan mencoba menjatuhkannya. Tapi Lamhot sangat kuat--terlalu kuat. Ia mendorong balik, membuat Andy mundur beberapa langkah. Sorakan semakin memekakkan telinga. Penonton berdiri, berteriak memanggil nama jagoan masing-masing. Escobar di tribun menggenggam gelasnya erat, Melly di sebelahnya hanya memandang Andy, matanya tak lepas dari setiap gerakan pria itu. Lamhot mencoba melakukan serangan kombinasi - hook kanan, uppercut kiri--memaksa Andy bertahan di sudut ring. Napas Andy mulai berat, tapi matanya tetap fokus. Dengan timing sempurna, ia menunduk menghindari UPPERCUT, lalu melepaskan pukulan lurus ke dagu Lamhot. Kepala Lamhot terangkat, tubuhnya sedikit goyah, tapi ia belum kalah. Lamhot masih berdiri, tatapan matanya tajam seperti serigala lapar. Sorakan semakin gila. "Habisi dia, Andy!" teriakan terdengar dari sisi penonton. Lamhot dengan amarah yang menggebu, menyerang lagi dengan pukulan dan tendangan beruntun. Andy dengan cekatan menangkis, menghindar gesit, menunggu celah. Lalu momen itu datang - saat Lamhot keasikan menyerang, sisi kiri pertahanan tubuhnya terbuka, Andy melepaskan tendangan memutar ke arah rusuk. Suara dentuman keras membuat penonton serentak berseru. Lamhot terhuyung, dan Andy tak menyia-nyiakan momen berharga itu. Ia menghujani lawan dengan pukulan cepat dan terukur--tak henti, Andy terus mencecar bagian tubuh Lamhot - satu,dua, tiga, dan di akhiri dengan tendangan memutar tepat menghantam kepala Lamhot. BUKKK!! Lamhot terjatuh dan tersungkur. Wasit segera memisahkan, tapi Lamhot masih berusaha bangkit. Matanya buram, langkahnya goyah. Gong belum berbunyi, Andy tahu ia harus mengakhiri ini. Ia maju, memamfaatkan kondisi fisik Lamhot yang melemah dan pertahanan yang terbuka. Andy menyerang cepat dan tepat, ia mengunci leher Lamhot dalam tekhnik GUILLOTINE CHOKE. Penonton menahan napas. Beberapa detik terasa seperti selamanya - dan akhirnya, Lamhot menepuk lantai, tak sanggup melawan dan menyerah. Gong berbunyi. Arena meledak dalam sorakan gemuruh penonton. Andy berdiri tegak, napas terengah, keringat mengalir di wajahnya. Wasit mengangkat tangannya tinggi sebagai tanda pemenang. Dari tribun terdengar teriakan: "Andy Wong!!" Di tribun VVIP, Escobar bangkit dan bertepuk tangan, wajahnya berseri. "Luar biasa, jagoanku, Andy!" teriaknya bangga. Melly ikut berdiri, tapi tatapannya bukan pada kemenangan, melainkan pada sosok Andy di tengah ring. Ada kilatan kagum yang bercampur sesuatu yang lebih berbahaya - ketertarikan dan pesona yang mulai tumbuh. Di tengah gegap gempita penonton, Andy sempat melirik ke arah tribun VVIP. Tatapan mereka bertemu kembali, tapi kali ini lebih lama, lebih dalam. Dan di balik semua gemuruh sorakan dari penonton, keduanya tahu - pertarungan malam ini hanyalah awal dari permainan yang lebih rumit, yang tidak akan bisa dimenangkan hanya dengan pukulan atau tendangan. Sorak sorai penonton malam itu masih terngiang di telinga Andy. Ia berdiri di tengah ring, tangannya diangkat tinggi sebagai juara tak terkalahkan sepanjang karirnya kala itu. Sorot kamera, kilatan lampu, dan tepukan tangan menggema diseluruh arena. Tapi di antara semua itu, hanya satu tatapan yang terus menancap di pikirannya - tatapan Melly dari tribun VVIP. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD