Bayangan Sahabat

1207 Words

Wildan tersenyum tipis, mengingat momen yang tidak akan pernah ia lupakan. Suaranya melunak, seolah kembali ke masa lalu. "Semua orang khawatir, Wulan..." katanya pelan sambil menatap wajah istrinya. "Jaka langsung dilarikan ke rumah sakit dengan tubuh penuh darah. Kami.... semua rekan, keluarga korban, pejabat tinggi, bahkan para konglomerat yang diselamatkannya ikut menunggu di luar ruang operasi. Rasanya malam itu begitu panjang dan melelahkan, seolah... setiap detik menjadi doa." Wulan mendekat, duduk di samping suaminya. "Selanjutnya... bagaimana, Mas?" Wildan menarik napas panjang, matanya menerawang. "Tuhan masih membantunya. Meski kondisinya kritis, para dokter berhasil menghentikan pendarahan. Tiga butir peluru berhasil dikeluarkan dari tubuhnya. Setelah berjam-jam yang menegan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD