Chapter 4

1639 Words
Jangan menangis lagi. Jadikanlah aku temanmu. Tidak banyak yang kubantu, tapi aku ada untukmu, teman. *** Di luar hotel, Sasi celingukan mencari-cari sopirnya. Sampai kemudian Sasi teringat, jika tadi dirinya diantar Kamania. Sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang. Terbersit untuk Sasi masuk ke dalam taksi tersebut. Namun, ia kemudian memilih jalan ke depan hotel. Sasi butuh waktu untuk menenangkan diri. Angin senja terasa sejuk dan dia berharap kekesalannya bisa berlalu bersama angin. Dia melangkah santai menuju halte. Kecantikannya yang menawan, pakaian berkelas, langkah yang anggun, membuat kagum orang-orang yang lalu-lalang di trotoar. Sasi terlihat tidak tepat berada di keramaian sore. Sasi tak menyadari jika ia menjadi pusat perhatian. Matanya tertuju pada wanita yang tadi dilihatnya memberontak di pelataran hotel. Ada ruang kosong di sebelah si wanita, Sasi mempercepat langkahnya, dan duduk di sebelah si wanita. Rasa penasaran mendorong Sasi untuk menyapa. Ada nama Elard tadi disebut dan Sasi ingin tahu ada apa. "Hai." Wanita itu terkejut dengan sapaan Sasi. Terlihat sekali dia menjadi kikuk. Sejak ia di usir sampai ke gerbang dan masih dalam pengawasan, tak ada siapa pun menyapanya. Penampilan Sasi yang elegan, membuat si wanita mengernyit. Dalam hatinya bertanya-tanya, benarkah ia disapa dan untuk apa? Dirinya tak merasa kenal. Sasi yang memahami kebingungan si wanita, mulai memperkenalkan diri. "Nama saya Sasi. Tadi saya melihatmu dibawa ke luar." Tampak ketidaksukaan dari wajah si wanita. "Kamu siapa?" tanyanya ketus. "Sasi." "Bukan..., bukan namamu. Kamu wartawan?" "Oh bukan. Saya bukan wartawan." "Trus?" Kini ganti Sasi yang kebingungan. Tak mungkin baginya mengaku-ngaku sebagai tunangan Adelard Blenda, karena Sasi sedikitnya khawatir akan jadi sasaran kemarahan si wanita. Padahal tujuannya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Seorang teman," jawab Sasi kemudian. "Teman? Hahaha..., bukan teman yang saya butuhkan saat ini," sengitnya. Walaupun tertawa, tetapi air mata mengalir di pipinya yang pucat. Tubuhnya lunglai bersandar pada pilar halte. Dia menangis sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Refleks, Sasi membelai lembut lengan si wanita. "Saat itu saya mendapat giliran malam. Ibu pemilik kontrakan menelepon dan bilang, kalau Rosa..., adik saya pingsan dengan darah keluar dari hidungnya. Tanpa pikir panjang, saya lari pulang. Jadwal cuci darahnya sudah telat delapan hari. Anak itu selalu terlihat baik-baik saja. Tapi...." Wanita itu tak melanjutkan kalimatnya, ia justru menangis lagi. "Apa Rosa baik-baik saja?" "Dia masih berada di ruang intensif. Belum selesai urusan Rosa, pemilik kontrakan meminta biaya sewa. Tadinya, saya mau pinjam kantor. Tapi, saya dipecat tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan. Kenapa ujian begini bertubi-tubi." Tangisan si wanita semakin menderu. Dengan iba, Sasi merangkul wanita tersebut. "Siapa namamu" "Diana." "Sabarlah, Diana. Kamu jangan begini. Kamu harus kuat demi Rosa. Pasti masih ada jalan keluar." Setelah mengucapkan itu, Sasi seperti ingat sesuatu. Sasi kemudian mengaduk-ngaduk isi tas dan sebentuk senyum manis terurai di wajanya. Ia menemukan apa yang dicari. Amplop tebal berwarna coklat tua. Amplop itu berisi uang Kamania, yang dititipkan padanya untuk menggaji karyawan di butik. Kamania pasti memahami jika Sasi cerita alasannya. Lagi pula tak sulit untuk Sasi menggantinya. "Di, terimalah ini." Sasi menyodorkan amplop cokelat itu ke Diana. "Apa ini?" tanya Diana kebingungan. "Sedikit bantuan. Tidak banyak, tapi saya harap bisa meringankan bebanmu." "Tapi...." Diana bergantian menatap amplop dan Sasi. Keraguan terlihat jelas di wajahnya. Sasi adalah orang asing, bagaimana bisa semudah itu memberikan bantuan? Diana menatap amplop cokelat itu dengan perasaan campur aduk. Dia tak bodoh untuk segera tahu kalau isi amplop itu adalah uang. Melihat tebalnya, pasti jumlahnya tak sedikit. "Bu Sasi." Sapaan untuk Sasi membuat kedua wanita itu terlonjak kaget. Keduanya sama-sama menatap sosok pria yang sudah berdiri menjulang di hadapan mereka. "Tristan," jawab Sasi lirih. Perlahan ia mengedarkan pandangan. Dilihatnya mobil Elard, sudah menepi tepat di depan halte. Seketika Sasi merinding. Entah bagaimana, Sasi dapat merasakan tatapan Elard dari dalam mobil yang berkaca sangat gelap. Sulit melihat orang di dalam jika dari luar, tetapi mudah orang di dalam mobil melihat keluar. "Mari, Bu. Sebaiknya cepat." Ada penekanan pada kata 'cepat', seolah itu peringatan untuk Sasi. Sasi mengambil jemari Diana dan menyerahkan amplopnya. "Terimalah, Di. Saya berdoa semoga masalahmu segera selesai. Kamu harus tabah dan kuat, ya. Semoga Rosa segera sembuh." Sasi kemudian mengikuti Tristan menuju mobil, meninggalkan Diana yang masih bengong sendiri. Ketika pintu dibuka Tristan, Sasi melihat Adelard yang berkutat dengan berkas di tangan. Penuh keengganan Sasi masuk. Mobil maju perlahan, ketika kemudian terdengar bunyi gedoran dari sisi jendela kaca Elard. Membuat semuanya terkejut, kecuali Elard yang dengan dinginnya masih membaca berkas. Sasi melongo menyadari sosok yang menggedor-gedor jendela mobil adalah Diana. "Pak! Pak Elard! Saya mohon, Pak. Jangan pecat saya sekarang. Atau... setidaknya sampai saya mendapatkan pekerjaan baru. Pak! Pak...!" jerit Diana. Seolah Diana hanyalah lalat yang menempel sejenak, mobil tetap melaju tenang, menyisakan teriakan Diana yang menuntut keadilannya. Sasi menatap Elard tak mengerti. Elard begitu tak acuh, seolah-olah dunianya tak terusik. Sasi menggeleng-gelengkan kepala kesal dan kemudian duduk bersandar,  menatap ke jalan yang padat lalu lintasnya. "Lain kali, jangan banyak bicara dengan perusuh." Tiba-tiba Elard bicara setelah tercipta keheningan yang begitu lama. "Dan, gak perlu kamu cari perhatian dengan melakukan kegiatan amal di pinggir jalan. Toh, kamu gak lagi berpolitik." "Perusuh? Cari perhatian?" tanya Sasi antara bingung dan tak percaya dengan cara bicara Elard yang santai tapi nyelekit. "Kalau mau cari popularitas sebagai bidadari, kamu kan bisa pergi ke badan-badan amal dan panggil wartawan sekalian," lanjut Elard tanpa memedulikan pertanyaan Sasi.  "Perusuh? Cari perhatian? Popularitas? Maksudnya apa?" Tanpa di duga, Sasi berani bertanya dengan nada yang tidak biasa. Terdengar ketidaksukaan dari nadanya yang tinggi. Sampai-sampai Elard harus menatap Sasi. "Lalu tadi apa? Mustahil kamu tidak tahu jika dia itu perusuh yang sengaja membuat kacau hotel. Begitu lamanya kamu duduk dan begitu khidmatnya kamu mendengarkan dia bicara, tentunya kamu tahu, dia adalah orang yang harus kamu jauhi," ujar Elard kesal "Dari mula, kamu sudah perhatikan saya bicara? Terus kenapa tidak kamu cegah saya? Kenapa nungguin saya bicara?" Dash! Kurang lebih begitulah bunyi batu yang menghantam benak Elard. Pertayaan terakhir dari Sasi, membuat Elard berada pada posisi memalukan. Dirinya diibaratkan sebagai seorang penguntit yang hanya memata-matai dan itu memalukan. Geram, Elard menatap tajam Sasi tepat ke matanya dan suatu keajaiban yang tak pernah terjadi sebelumnya, Sasi juga menatap marah, tepat ke mata Elard. Selama ini Sasi selalu menunduk, kikuk, dan tak banyak bicara apalagi menantang. Kali ini berbeda dan itu mengejutkan Adelard Blenda. Matanya madu, cantik. Mata Elard membelalak mendengar pernyataan manis yang keluar dari hatinya sendiri. Semua menjadi tidak konsisten. Segera Elard memalingkan wajah dan menatap berkas-berkas yang sebenarnya sudah lelah dibaca naik turun. Sikap Elard membuat Sasi meradang. Pengabaian Elard atas setiap tanyanya, mengingatkan Sasi akan semua pengabaian Elard terhadap dirinya selama ini. Hari ini, semuanya sudah memuncak, Sasi sudah tak peduli lagi akan akibatnya, dan ia memilih bicara saja. "Yang kamu sebut perusuh itu, adalah seorang wanita yang menjadi kepala rumah tangga. Yang kehidupannya kamu rampas dengan cara tidak adil. Dan kamu..., hanya karena duduk di nirwana, lalu dengan gampangnya menendang seseorang keluar dari tumpuan hidupnya," ucap Sasi dengan sengit. "Kalau, kamu gak tau apa-apa, jangan banyak bicara. Itu akan membuatmu terlihat dungu." Tanpa bisa ditahan, lagi-lagi Elard menatap mata Sasi. Mata Sasi yang marah terlihat makin berbinar. Kali ini Elard benar-benar terjebak, tak sedikit pun ada keinginan dirinya untuk melepaskan indahnya mata Sasi. Walaupun isi kepalanya terus meraung agar kembali saja menatap berkas perjanjian bisnis, tubuh Elard bergeming. "Dungu? Saya dungu? Dan kamu...,Yang Mulia, apakah kamu tahu kenapa Diana sampai dipecat, ha?" "Tentu saja. Dia sudah melanggar peraturan perusahaan. Dia menghilang, tidak hanya lima atau sepuluh menit. Tapi hampir empat jam. Tahu kamu?" "Ha...ha...ha...," Sasi tertawa aneh yang memberi kesan dirinya sedang mengejek. "Kamu memang tidak tahu apa-apa. Sebagai pemimpin, harusnya kamu benar-benar tahu pokok suatu masalah dan bisa menyelesaikannya dengan cara yang manusiawi," lanjut Sasi. "Manusiawi? Kamu pikir pekerjaan saya sama dengan badan amal, ha? Di sini ada hak dan kewajiban yang diatur dengan jelas. Dan siapa pun yang melanggar peraturan, maka tidak ada hak di perusahaan saya. Jelas kamu?" Elard bicara dengan nada tinggi dan tepat saat itu, mobil berhenti di depan gerbang rumah Sasi. "Cih..., karena pakaian dan semua yang menempel di dirimu adalah barang berharga, maka seharusnya hati dan sisi kemanusiaanmu sama dengan yang kamu pakai." Segera Sasi keluar dari dalam mobil dan dibantingnya pintu mobil. Semua terkejut dengan cara Sasi menutup pintu, begitu juga Sasi. "Sasi kenapa?" Terdengar suara di dekat gerbang. Cepat Sasi menoleh ke arah asal suara dan Sasi tersenyum lebar. "Kak Mahes!" Sasi bergegas menghampiri pria yang tadi menyapa, kemudian dipeluknya erat pria tersebut. "Kak Mahesa, kapan datang? Sasi kangen, Kak." Pria bernama Mahesa, memeluk Sasi dan mengelus kepala Sasi dengan lembut. Adegan itu masih dilihat Elard dari dalam mobil dengan perasaan yang tidak menentu. Elard sering melihat kedekatan dan kemanjaan Sasi ke Mahesa. Akan tetapi, ini pertama kalinya ada perasaan aneh menyelip di hati Elard, dan Elard tak menyukai perubahan suasana hatinya. Mereka bukanlah saudara kandung, tetapi seperti ayah dan kakeknya, Mahesa adalah juga orang kepercayaan keluarga Geofrey. Yang Elard tahu, ayah Mahesa sudah meninggal akibat kecelakaan ketika Mahesa masih sekolah, kemudian Mahesa masuk dan dibesarkan di lingkungan keluarga Geofrey. "Hai, Mahes," sapa Elard, yang entah kenapa dia keluar dari mobil. Selama ini setelah menurunkan Sasi, maka Elard cukup membuka kaca mobil dan menganggukkan kepala dengan sopan ke arah Mahesa. Hari ini berbeda, membuat Mahesa dan Sasi terkejut, ditambah lagi Elard menghampiri keduanya dan mengulurkan tangan. Mahesa sempat bingung, ini tidak biasanya, tetapi dengan sopan Mahesa menyalami Elard. "Apa kabar, Elard? Saya dengar, proyek pembangunan resort di Bali sudah mau selesai." "Begitulah. Sejauh ini, semua berjalan sesuai rencana. Bagaimana dengan proyek di Batam?" "Hehehe..., belum ada kendala berarti, masih baik-baik saja. Apa kamu mau mampir?" tawar Mahesa. "Tidak. Lain kali. Baiklah, saya pulang dulu, kapan-kapan kita bicara," pamit Elard. Elard melihat tangan Sasi yang bergelayut manja pada lengan Mahesa, juga ada senyum yang merekah manis. Sialnya, mata indah Sasi justru menatap Elard dengan tidak peduli dan Elard menjadi kesal sekaligus marah. Apa yang terpampang, harusnya adalah hal yang lumrah bagi Elard, tapi tidak hari ini. Semuanya membuat kacau perasaan Elard. Dengan sewot, Elard kembali masuk ke dalam mobil dan membanting pintu saat menutupnya. "Kalian kenapa?" tanya Mahesa keheranan sendiri. "Gak kenapa-kenapa kok. Dia aja yang aneh. Yuk ah, masuk. Ada oleh-oleh buat Sasi, 'kan?" Ditariknya tangan Mahesa dengan manja masuk ke dalam rumah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD