Bagaimana berlari dari cinta? Jika sudah waktunya bertemu, mau lari ke ujung dunia pun akan sia-sia. Pertemuan tetap akan terjadi.
***
Terdengar ketukan halus dari pintu kamar Mahesa. "Kak..., saya masuk, ya?" tanya Sasikirana dari balik pintu dan tanpa menunggu jawaban dari Mahesa, Sasi membuka pintu kamar. Betapa terkejutnya Sasi melihat Mahesa yang masih bertelanjang d**a.
"Aduh, Kak. Ayo, dong. Nanti malah terlambat, loh!" seru Sasikirana ke arah Mahesa yang masih sibuk memilih-milih kemeja dari dalam lemari gantung. Sasi tak pernah canggung dengan keadaan Mahesa yang tanpa pakaian. Sejak ia bahkan belum bisa bicara, hidupnya selalu bersama Mahesa.
"Hmm..., pake baju apa, nih?" tanya Mahesa setengah bergumam.
Sasikirana segera menghampiri Mahesa dan mulai ikut-ikutan melihat ke dalam lemari. Kemudian Sasi mengambil kaos, blazer dan celana denim.
"Pake ini aja. Ini kan bukan acara resmi. Kok, pake bingung, hehehe.... Buruan, ya. Sasi tunggu di depan." Kemudian Sasi meninggalkan Mahesa sendirian di kamar.
Mahesa menatap pakaian yang dipilih Sasi. Itu adalah pilihan pertamanya sejak semalam, yang kemudian diabaikannya. Entah mengapa dirinya ingin tampil sesempurna mungkin di hadapan Kamania dan Raffael. Dia hanya tak ingin mengecewakan keduanya, walaupun ibu dan anak itu bukanlah miliknya.
Dengan menghela napas, Mahesa mengenakan pakaiannya. Sesudahnya ia bercermin.
'Well..., siapa saya? Untuk apa saya harus berlebihan? Andai saja..., arghhh....' Cepat-cepat Mahesa merapikan dirinya dan segera keluar menyusul Sasikirana.
***
Acara ulang tahun bersama anak-anak yatim piatu di sebuah panti asuhan, akhirnya selesai. Raffael terlihat sangat gembira. Banyak yang sebaya dengannya dan mengajaknya bermain. Sedangkan yang sedikit lebih besar, suka menggoda Raffael yang memang menggemaskan.
Kulit seputih s**u, bibir kecil dengan warna jingga alami, rambut lurus berwarna coklat yang dibelah pinggir dan diminyaki, sungguh membuat Raffael terlihat seperti boneka mainan anak-anak. Semua terpikat akan sosok bocah tiga tahun itu.
Namun, bagi Kamania, penampakan yang paling membekas di hati dan memikatnya tak berkesudahan adalah kedekatan Mahesa dan Raffael. Keduanya benar-benar berperan dengan sangat sempurna sebagai ayah dan anak. Keduanya bahkan memakai pakaian yang mirip, padahal tidak ada kesepakatan, bahkan belahan rambut pun sama. Antara miris dan bahagia, Kamania tetap menikmatinya.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Raffael berceloteh. Menyebutkan nama si A, si B, dan masih banyak lagi, dengan begitu bersemangat. Raffael terus menempel pada Mahesa.
Kamania trenyuh menatapnya. Raffael tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Sejak bayi, selalu ada Mahesa yang siap ada bagi Raffael dan dirinya. Tidak selalu ada, tetapi pasti ada saat dibutuhkan. Kehadiran Mahesa sangat dirindukan, tidak hanya bagi Raffael, juga bagi Kamania.
"Jadi, maunya makan di mana?" tanya Sasikirana dengan gemas, membuyarkan lamunan Kamania. Sasi sudah menjulurkan kepalanya dari kursi belakang dan melotot pada Raffael yang malah tertawa geli melihat ekspresi Sasi.
"Ada apa?" tanya Kamania.
"Ini loh, Raffael pingin makan di sini, di sana, di mana-mana, jadinya kan pucing," jawab Sasi sembari memperagakan tangannya ke kanan dan ke kiri. Kembali gelak tawa hadir di antara mereka.
Pada akhirnya diputuskanlah makan di salah satu mal terbesar di Jakarta dan itu adalah mal milik keluarga Blenda. Sasikirana sempat menyuarakan keengganannya, tapi pada akhirnya Sasi pasrah dengan keputusan suara terbanyak.
Sepanjang perjalanan dan sesampainya di tujuan, tak hentinya Sasi berdoa dalam hati agar tidak bertemu dengan Adelard Blenda. Sasi semakin gelisah ketika Raffael menuntut untuk bermain dulu di arena bermain, yang lagi-lagi membuat Sasi terpaksa manut suara terbanyak.
Semoga Elard gak ada. Duh..,. jangan ada, dong. Ya Tuhan..,. beri kesibukan yang melimpah untuk Elard agar dia terus berada di kursi empuknya, di kantor pusat. Semoga dia gak ke sini..,. semoga, doa Sasi dalam hati.
Berkali-kali Sasi memutar badannya atau kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengawasi pintu lift dan juga tangga eskalator. Walaupun konyol, tetapi Sasi memilih untuk bersikap mawas diri. Niatnya adalah saat terlihat penampakan Elard, maka dirinya bisa langsung lari bersembunyi.
Saat Sasi sibuk mengawasi eskalator, tiba-tiba ia merasakan aura hangat dari arah belakang. Jantung Sasi berdegup kencang dan bulu-bulu halus di tangannya meremang. Perlahan, ia memutar tubuhnya. Seketia Sasi terlonjak kaget dan wajahnya menjadi tegang.
Elard sudah berdiri di hadapan Sasikirana. Ia menatap Sasi dengan tatapan yang tajam, tepat ke dalam mata Sasi. Hampir tidak ada jarak di antara keduanya dan itu artinya tidak mungkin bagi Sasikirana untuk berlari, apalagi sembunyi seperti niatan semula.
Sasi membeku, sedangkan Elard terpaku menatap Sasi. Keduanya seperti terkena sihir rambut Medusa. Elard tidak pernah melihat Sasi dengan pakaian casual. Sasi mengenakan kaos berbahan chifon longgar, dengan bawahan denim yang pas di tubuhnya. Terlihat manis dan menggemaskan di mata Elard.
Selama ini, kemunculan Sasi selalu sangat feminim dan elegan. Tidak pernah satu kali pun, dirinya melihat Sasi dengan penampilan yang semanis itu. Wajar saja Elard tak pernah melihat penampilan Sasi sesantai hari ini, karena mereka bertemu hanya jika ada acara keluarga atau ada pertemuan resmi.
"Ehem..., Pak Elard," bisik Tristan. Membuyarkan kebekuan manis antara Sasi dan Elard.
"Hmmm...," sahut Elard, tanpa melepaskan tatapannya dari Sasi. Seolah Elard takut, jika ia sekali saja berkedip, maka Sasi akan menghilang.
Ya Tuhan..., Ya Tuhan..,. bagaimana ini, Tuhan? Kenapa dia harus melotot? Apa Elard masih dendam karena kejadian kemarin? Apa dia masih mau ngomel-ngomel? Duh, kemarin aku kenapa, sih? Ayo Sasi..., ayo Sasi..,. arghhhh..., apanya yang ayo, sih? Sasi ribut sendiri di dalam hati, ia mengepalkan kedua tangannya, berharap ada kekuatan bagi dirinya sendiri. Tatapannya tak pernah bisa lepas dari Elard. Entah kenapa dirinya justru menatap Elard, padahal sesungguhnya ia ketakutan.
"Hai Elard, wah...wah, kamu sedang ada di sini rupanya." Terdengar suara Mahesa di sisi Sasi, yang membuat Sasi sangat bersyukur. Mahesa mengulurkan tangannya dan disambut dengan sopan oleh Elard.
"Tentu saya ada di sini. Ini masih milik Blenda, 'kan?" jawaban Elard membuat Sasi muak. Sasi tidak suka gaya Elard yang sombong setiap kali bicara dengan Mahesa. Namun, Mahesa justru tertawa, menganggap itu adalah bagian dari lelucon.
"Tampaknya kamu memiliki banyak waktu luang, ya." Pernyataan Elard yang tertuju ke Sasi, terdengar seolah sedang mencibir.
Refleks, Sasi menempel ke Mahesa dan segera memegang lengan kanan Mahesa. Mahesa yang menyadari sikap Sasi, menatap Sasi dengan tersenyum, dan membelai tangan Sasi untuk menenangkannya.
Pemandangan itu membuat Elard gerah, dia melotot ke arah Sasi yang sialnya, itu malah membuat Sasi semakin menempel ke Mahesa. "Kalian hanya berdua?" tanya Elard kemudian.
"Tidak, kok. Itu ada Kamania dan Raffael." Mahesa menunjuk ke arah ibu dan anak yang sedang asyik bermain, tapi kemudian Kamania menatap ke arah mereka dan melambaikan tangannya. Terlihat Kamania menggerakkan tangan serta membuka mulut, memberi isyarat akan berhenti dan waktunya makan. Mahesa menjawab dengan anggukan kepala.
"Kami mau makan. Gimana kalau kamu ikut bergabung bersama kami?" tawar Mahesa.
Sasi terkejut mendengarnya, serta-merta ia tak menyukai ide itu. Ia menarik blazer Mahesa dan melotot ke arahnya. Sasi memberikan gelengan lemah ke Mahesa sebagai tanda penolakan. Tapi, Mahesa justru memberikan kerlingan jenaka, membuat Sasi geram.
Elard bukan tak melihat reaksi tidak suka Sasi. Penolakan Sasi membuat Elard gemas bercampur kesal. Dirinya tidak suka ditolak, apalagi oleh tunangannya sendiri.
"Apa saya ada agenda lagi?" tanya Elard yang ditujukan pada Tristan.
"Tidak ada, Pak. Silakan kalau Pak Elard akan makan siang dengan Bu Sasi. Saya akan kembali ke pusat dengan tim," jawab Tristan yang tersenyum geli melihat reaksi Sasi. Terlihat sekali tatapan Sasi memohon Tristan menggeret bosnya kembali ke kantor.
Setelah memberikan anggukan hormat, Tristan dan tim berjalan kembali ke arah lift. Sasi melihat ada senyum di wajah Elard. Senyum yang jahat, juga mengintimidasi.
"Hai, Elard. Apa kabarnya?" sapa Kamania yang kini hadir di antara mereka. Sasi sudah tidak bisa lagi memegang lengan Mahesa, karena Mahesa langsung menggendong Raffael.
"Kabar baik, terima kasih, Kamania. Oh ya, apa kita bisa menuju restoran sekarang? Bukankah kalian mau makan?"
"Hmmm..., Raffael tadi minta pasta dan cake juga ice cream, ya kan, bee man?" sahut Mahesa sembari menatap Raffael.
"Saya tahu restoran terbaik, yang menyajikan pasta terlezat dan tentunya ada ice cream terenak, ayo," ajak Elard yang kemudian menghampiri Sasi. Sedikit memaksa, Elard menggenggam jemari Sasikirana.
***