Chapter 13

1071 Words
Diam-diam pesonamu menggodaku yang sudah diam. Tapi, aku tak menolak. Aku bahkan menanti setiap pikatmu. *** Pukul sebelas siang, Elard, Azka dan Elle datang menjemput Sasi. Mereka hanya berpamitan kepada Agatha dan Adora, karena Alden dan Mahesa sudah di kantor. Koper-koper milik Sasi sudah dimasukkan ke dalam mobil, yang memang dipersiapkan untuk mengangkut barang-barang bawaan mereka. Seorang sopir kemudian menghampiri Elard dan berpamitan untuk jalan lebih dulu. Elard, Sasi, Elle, dan Azka kemudian masuk ke dalam mobil berikutnya. Azka yang menyetir, Elle di sebelahnya, sedangkan Elard dan Sasi duduk di belakang. Kekakuan terjadi di dalam mobil. Elle mengeluarkan tablet dari dalam tas jinjingnya. Dia mulai membaca tabel-tabel. Elard tak beda jauh. Ia membaca berkas kerja yang sengaja dibawa. Sesekali ia bertanya ini itu pada Elle. Saat ada sela, Azka akan mengajak Sasi bicara. Tak ada kecanggungan antara Azka dan Sasi, walaupun keduanya jarang bertemu. Wajar saja sebenarnya jika keduanya terlihat akrab. Azka dan Sasi adalah teman sekolah saat SMP dan SMA, bahkan keduanya hampir selalu sekelas. Awalnya Azka memanggil Sasi tanpa embel-embel 'Teteh', ini karena usia keduanya sama. Namun, sejak Sasi resmi menjadi tunangan Elard, Azka diwajibkan Vero untuk memanggil calon kakak iparnya itu dengan tambahan 'Teteh'. "Teh, entar di bandung ada reuni kecil lho, ikut yuk," ajak Azka. "Kok tahu ada reuni? Emangnya kita ada teman di Bandung?" tanya Sasi keheranan. "Hahaha..., kamu kuper, sih." "Ehem." Elard berdeham dengan masih fokus pada berkas dihadapannya, membuat Azka menghentikan tawanya. "Ups." Azka melirik ke arah Elard melalui kaca spion dalam, kemudian melirik Sasi yang disambut dengan senyum geli dari Sasi. "Ehemnya niat amat, Pak?" goda Azka. Tak ada reaksi dari Elard, membuar Sasi geleng-geleng kepala. Lelaki dingin. Harusnya tinggal di kutub, ujar Sasi dalam hati. "Ikut ya, Teh?" tanya Azka ke Sasi. "Kita ada teman di Bandung?" ulang Sasi. "Ada. Beberapa udah tinggal di Bandung." "Memangnya, siapa aja yang datang, Azka?" "Sementara yang fix datang, ada Felix, Andro, Andrew, hmmm..., sama siapa tuh, yang agak tonggos tapi jago merayu? Duh, siapa? Ingat gak, Teh?"    "Nggg..., apa Brian, yah," jawab Sasi ragu. "Nah iya, betul. Teteh ingatannya tajam, ya. Atau..., jangan-jangan...," "Apa?" tanya Sasi bingung. "Pernah digoda si tonggos, ya?" Tawa Azka meleda. Ia membayangkan Brian menggoda Sasi yang pendiam. "Fokus," tukas Elard, membuat Azka lagi-lagi menghentikan tawanya dengan melipat bibir ke dalam. Begitu juga Sasi. "Bagaimana kabarnya?" tanya Sasi setelah tawanya reda. "Siapa? Brian?" "Iya." "Dia baru saja cerai dan kali ini, katanya mau bawa pasangan barunya. Ckckck..., pakai ilmu apa coba? Saya, satu aja, susah dapatnya." Azka melirik ke arah Elle yang duduk di sebelah. Sayangnya yang lagi diperhatikan justru masih sibuk dengan pekerjaannya. "Hehehe..., masak, sih? Di infotainment, kayaknya kamu dekat sana sini, deh." "Aduh, Teh. Itu namanya gosip. Dibikin buat nyeneng-nyenengin handai taulan." "Oh ya? Tapi, andaikan iya, juga gak papa, 'kan?" ujar Sasi santai, sedang Azka malah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Yah..., apa-apa juga sih." Kembali Azka melirik Elle yang ternyata juga sedang menoleh ke arahnya. "Apa-apa bagaimana?" Sasi yang tidak melihat apa yang terjadi di kursi depan, bertanya dengan lugu. "Yah, pokoknya apa-apalah. Nanti aja ceritanya. Bahaya kalau omong di sini. Ada yang diem-diem mencari tahu," goda Azka sembari melemparkan senyuman manis ke arah Elle. Yang diberi senyum melengos dan kembali fokus pada tabletnya. "Siapa?" "Aduh, Teteh. Ntar aja di Bandung. Jadi gimana reuni? Ikut, ya?" "Mmm... tapi semuanya cowok," jawab Sasi ragu. "Halah tenang. Mereka pada bawa pasangan kok, jadi ada ceweknya hehehe...." "Duh..., tapi, saya kan gak begitu kenal mereka, nanti malah gak nyambung." "Tenang atuh, Teh. Kan ada saya. Atau, Teteh join club alumni aja, buat ngobrol-ngobrol dulu, ntar saya yang invite. Apa username-nya, Teh?" "Username apa?" tanya Sasi lugu. "Username di aplikasi chat-mu lah, Teh." "Aplikasi chat apa? SMS?" "Kok SMS," tanya Azka yang mulai bingung. "Saya hanya tahu SMS," jawab Sasi biasa saja, tetapi efeknya sungguh tak terduga bagi yang lain.  Azka terbatuk-batuk dan menatap Sasi keheranan dari kaca spion dalam. Elle seketika menoleh ke bangku belakang di mana Sasi duduk. Sedangkan Elard melepaskan fokusnya dari berkas kerjaan dan menatap Sasi dengan pandangan aneh. Sasi merasakan aura yang salah, di mana semua menatap dirinya dengan pandangan yang tidak dimengerti Sasi. Ia mulai gelisah dan jari-jemarinya saling meremas. "Anu..., kenapa?" Sasi bertanya lirih. "Serius? Kamu hanya berkomunikasi teks dengan SMS?" tanya Elle dan Sasi hanya mengangguk lemah. "Mana sini lihat ponselmu," pinta Elle. "Untuk apa?" Sasi benar-benar tidak nyaman. "Saya bantu instal aplikasinya kalau memang tidak punya." Elle mengulurkan tangannya. "Aplikasi chat-lah. Apalagi?" Sasikirana merogoh tas kecilnya dan menyerahkan ponsel miliknya ke Elle. "Ini?" Elle tak langsung menerima ponsel Sasi. Ia justru melongo keheranan. Elard tak memberikan reaksi gerak apa-apa, tetapi matanya sempat melotot menatap ponsel milik Sasi. Mulai heboh adalah Azka karena ia fokus menyetir, maka Azka tak bisa benar-benar melihat ponsel Sasi. "Apa? Kenapa?" tanya Azka menuntut jawaban. Elle mengambil ponsel dari tangan Sasi dan menunjukkan ke Azka. "He? Ini?" Rasa heran Azka tak bisa disembunyikan. "Ini bukan ponsel pintar. Ini bukan handphone. Apanya yang bisa diinstal?" Elle membolak-balik ponsel lama Sasi. Itu bukan ponsel yang benar-benar jadul. Bahkan itu masih adalah ponsel yang canggih juga mahal, untuk di jamannya. Namun, tetap saja itu bukan ponsel pintar yang umum dipakai. Ponsel model milik Sasi, biasanya dipakai oleh anak-anak atau lansia. Ucapan Elle dan reaksi Azka hanya membuat Sasi tersudut. Sempat ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu lugu. Entah kenapa, Azka perlahan menepikan mobilnya. Diambilnya ponsel Sasi dari tangan Elle. Setelah menekan beberapa tombol, Azka tersenyum dan menoleh ke belakang. "Teh. Di ponsel ini ada Facebook." "Serius?" Elle mengambil ponsel Sasi dari tangan Azka. "Teteh belum pernah bikin akunnya, ya?" tanya Azka. "Iya." "Koneksi internentnya cuma EDGE. Masih bisa jalan?" tanya Elle penasaran. "Bisa.Walau lelet, sih. Teh, nanti di Bandung, kita bikin akun untuk facebooknya, ya," ujar Azka yang mencoba menghibur Sasi. Diam-diam Elard melirik wajah Sasi yang memerah dan menunduk. Kedua jemari yang saling menggenggam erat hingga terlihat buku-buku jarinya yang memutih pucat, tak lepas dari amatan Elard. "Jalan! Di belakang banyak kendaraan," tegur Elard untuk Azka. Segera Azka kembali melajukan mobilnya. "Elle, kembalikan punya Sasi." Elard menatap Elle tajam, karena dilihatnya keengganan Elle. Dengan berat hati, Elle mengembalikan ponsel Sasi. "Pilihanmu nyentrik, Teh. Keren," sahut Azka. Sasi menatap pantulan Azka melalui kaca spion dan dibalas Azka dengan kedipan manis. Sasi menunduk menatap ponsel jadul di tangannya. Air mata merebak di mata Sasi yang segera dihapusnya, perlahan Sasi menyandarkan kepalanya ke jendela, dan ia memejamkan mata. Sasi bukannya tak sanggup membeli ponsel canggih. Setiap bulan, selalu ada sejumlah dana yang masuk ke dalam rekeningnya, yang jumlahnya pun cukup untuk membeli ponsel jenis smartphone terbaru. Namun, masalahnya adalah Sasi merasa tidak memerlukan smartphone. Ia tak menyangka, ternyata pilihannya justru membuatnya tampak seperti manusia purba. Sasi malu, sedih dan ia tak ingin membuka mata yang kemudian membuat Sasi tertidur, lelap bersama galau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD