bc

Angelika (Tiga Ketukan Kematian)

book_age18+
77
FOLLOW
1K
READ
adventure
billionaire
dark
goodgirl
student
drama
tragedy
mystery
ghost
horror
like
intro-logo
Blurb

Kecelakaan yang dia alami hingga merenggut nyawa orangtuanya membuat Alika bisa melihat makhluk halus di sekitarnya. Awalnya ia hanya bisa merasakan keberadaan makhluk tidak kasat mata itu sebelum pada akhirnya bisa melihat serta berkomunikasi.

Bak kutukan, jika Angelika mendengar tiga ketukan di mana saja ia berada maka akan ada kematian yang menghampiri orang-orang di sekitar tempat itu.

chap-preview
Free preview
1
Malam ini keheningan kembali melanda kota, hiruk pikuk glamornya kehidupan siang benar-benar tidak dapat disentuh oleh gelap gulitanya malam. Di sebuah daerah di kota itu, beberapa orang sudah mulai berkeliling untuk menjaga keamanan lingkungan. Ada kopi yang sudah diseduh di dalam teko dan ada juga teh serta cemilan lain untuk menemani para penjaga malam yang terus bergadang hingga pagi. Mereka bergantian berjalan dan menjaga pos keamanan agar tidak terlalu melelahkan. Saat semua orang tidur dengan nyenyak mereka dengan senang hati menjaga desa itu tanpa pamrih karena untuk kedamaian semua orang dan juga anggota keluarga mereka juga. "Toni giliran kelompok kau sekarang," ujar Pak Hardi yang baru saja kembali dengan kelompoknya. Setiap kelompok terdiri dari empat orang dan mereka akan jalan menelusuri desa hingga ke sudut paling gelap sekalipun untuk memeriksa keadaan adakah kesalahan atau kejanggalan yang terjadi. Toni yang dipanggil oleh Pak Hardi langsung berdiri dengan tiga orang temannya. Mereka mengikat sarung yang tadi digunakan sebagai penghalau dingin ke bahu kanan mereka dan turun ke pinggul kiri. Toni berjalan dengan pentungan dan senter di masing-masing tangan anggotanya yang lain. Mereka berjalan menyusuri jalan dan bahkan dengan hati-hati memeriksa setiap rumah warga takut akan kecolongan. Di sebuah rumah, seorang gadis remaja tengah meringkuk di atas tempat tidur karena hawa dingin yang entah datang dari mana, padahal pendingin ruangan tidak dihidupkan oleh si gadis tapi tetap saja hawa dingin itu begitu kentara. Beruntung gadis remaja itu tidak suka tidur terlalu gelap hingga ia menghidupkan lampu tidur untuk menerangi kamar. Selimut tebal yang digunakan gadis itu bahkan tidak bisa menghalau rasa dingin yang masuk ke tulang. Si gadis remaja terbangun dan mulai duduk sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah mencoba mencari tahu dari mana dingin itu berasal. Pintu kamar masih terkunci dengan baik, jendela tidak terbuka dan loteng kamar juga tidak bocor lalu darimana dingin itu berasal. Mungkin karena merasa semua itu hanya pengaruh cuaca si gadis kembali berbaring dengan selimut dinaikkan hingga ke lehernya. Saat ia akan memejamkan mata, jendela kamarnya di ketuk dari luar sebanyak tiga kali setelah itu kembali diam seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sana. Gadis remaja itu mengernyit heran dan mencoba melihat jam yang ada di atas meja, ia melihat jarum di sana menunjukkan pukul dua dini hari. "Kucing kali ya," tebaknya secara asal dan kembali memejamkan mata seolah tidak terganggu. Sekali lagi jendela diketuk tiga kali lagi dengan suara renyah seolah bisikan bisa terdengar dari luar tapi suara itu tidak begitu jelas. Kain jendela yang berwarna biru muda tidak bisa memperlihatkan siapa yang berdiri di luar dan berbuat jahil seperti itu. "Jangan pergi dua hari lagi," ucap suara itu lembut seperti bisikan. Gadis remaja itu mengerutkan kening dengan perasaan aneh menyerang hatinya. Kenapa orang di luar itu bisa tahu kalau dia dan keluarganya akan pergi dua hari lagi ke luar kota. Dia dengan hati-hati turun dari tempat tidur dan melangkah ke jendela dan secara cepat menarik kain yang menutupi jendela agar bisa melihat siapa orang yang jahil itu. Akan tetapi di sana tidak ada orang lain, apalagi lampu di luar rumah begitu terang, sehingga kalau ada orang berdiri di sana maka akan kelihatan secara langsung. "Siapa?" tanya gadis remaja itu heran sekaligus bingung. 'Masa hantu sih? Lagian kalau hantu apa untungnya coba ngasih tahu aku." Gadis remaja itu benar-benar bingung dan tidak tahu harus mempercayai semua itu atau tidak. Ia kembali menutup kain jendela dan kembali berbaring di ranjang dengan nyaman. Setelah itu tidak ada lagi gangguan aneh sampai pagi menjelang. Seolah tidak pernah terjadi gadis itu melupakan kejadian tadi malam dengan cepat. Seperti biasa, gadis cantik itu mulai membersihkan dirinya dan memakai pakaian sekolah dengan rapi. Rok biru kotak-kotak dengan baju putih ditutupi cardigan biru itu sangat cocok dengan dirinya, apalagi mata hitam cerah miliknya tampak bersinar terang saat dengan anggun ia merapikan rambut panjangnya ke belakang. Setelah itu ia mengumpulkan semua rambut agar bisa disatukan dan diikat tinggi, ada beberapa anak rambut yang sengaja tidak dia ikat karena terlalu pendek. Setelah itu ia menyambar tas sekolah yang ia letakkan di atas meja belajar sebelum turun ke lantai bawah. "Sarapan dulu Alika," sapa seorang wanita paruh baya dengan senyuman lembut. Gadis cantik yang bernama Alika itu mengangguk penuh semangat. "Mbak Yuni tolong letakkan tas sekolahku di mobil dong, please!" pintanya dengan wajah memelas dan mata berair seolah takut ditolak. "Oke Non! Sekalian saya juga mau memanggil Mang Ujang untuk membersihkan halaman belakang." Yuni mengulurkan tangan dan mengambil tas itu dari tangan Alika. Alika tersenyum manis sebelum kemudian berjalan dengan santai menuju ke ruang makan. Ruang makan di rumah Alika sangat luas dengan dekorasi mahal yang tersusun rapi kiri dan kanan sedangkan meja makan terletak di tengah ruangan dengan bahan-bahan untuk kursi meja terbuat dari kayu berkualitas bagus dan tinggi. Di kursi kepala ayah Alika sudah duduk dengan tangan sedang membuka koran dengan lebar sibuk melihat berita terbaru hari ini. Di sebelah kanan Alika ada ibunya, wanita yang tadi menyuruh Alika untuk sarapan. "Pagi Ayah! Pagi Ibuku yang cantik!" sapa Alika lembut sembari memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan Ayah dan Ibunya. "Hanya Ibumu saja yang cantik? Apakah Ayah tidak terlihat tampan hari ini?" Seolah merajuk, pria tampan itu terlihat cemberut. Koran yang tadi beliau baca sekarang telah diletakkan di atas meja dengan lipatan acak secara sembarangan. Wajah tampannya tidak jauh berubah meski usia muda sudah tidak lagi beliau miliki. Alika tersenyum melihat tingkah ayahnya yang kekanak-kanakan. Sungguh jika menyangkut pujian dan ciuman selamat pagi keduanya pasti akan berebut dan akan saling melempar sindiran. "Pagi Ayahku yang tampan!" Akhirnya Alika memberikan pujian yang sama untuk ke-duanya. Ibu Alika terlihat cemberut dan tidak senang, bibir merah ibunya terlihat maju dengan mata memutar malas. Cibiran lembut tanpa tertahan terlihat jelas di sana. "Jangan iri atas pujian putriku, ayo makan Sayang! Ayah yang akan mengantarmu ke sekolah hari ini." Ayah Alika membalik piring saji dan mulai mengambil beberapa hidangan di atas meja untuk sarapan sendiri. Sesekali ia akan mengambilkan beberapa lauk pauk untuk Alika hingga membuat istrinya, ibu Alika cemburu karena tidak diperhatikan seperti Alika. "Hem Renald, apakah hanya putriku saja yang akan kau perhatikan? Apa aku tidak layak lagi di mata tuamu itu ha?" Ibu Alika mencoba terlihat galak marah. Akan tetapi tindakan sederhana yang ia ambil malah membuat Alika dan Renald, suaminya tertawa. "Sayangku berapa umurmu hingga perlu perawatan dariku? Alika kita masih kecil hingga harus makan makanan yang bergizi. Kalau kau tidak boleh memakan daging ini nanti kau kolesterol atau bisa jadi berat badanmu akan bertambah." Renald menggoda istrinya. Alika yang mendengar kata-kata ayahnya hanya bisa memutar mata malas. Kapan ke-dua orangtua ini bisa berhenti saling menggoda di depan matanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook