Alika menuju ke kelasnya dan mengabaikan makhluk halus yang terus saja mengganggu dengan kehadirannya, Alika tidak ingin fokusnya menjadi kacau dengan kedatangan makhluk halus nakal ini.
"Namaku Angelika," ujar makhluk halus itu memperkenalkan diri.
Angelika terus terbang di sekeliling Alika menyebarkan rasa aneh kemanapun dia pergi. Alika benar-benar tidak habis pikir dengan reaksi tubuhnya yang begitu sensitif terhadap hawa makhluk halus.
Alika terus diam hingga sampai ke depan pintu ruang kelasnya yang tertutup.
"Diam," bisik Alika pada Angelika.
Alika memperhatikan sekeliling saat hawa dingin tiba-tiba merambat ke dalam tubuhnya. Rasa familiar yang selalu mengingatkan ia untuk berhati-hati memasuki kelas terasa begitu nyata.
"Mereka mengerjaiku lagi, apa mereka tidak pernah jera ha?" Alika berbicara dengan nada kesal.
Matanya mengungkapkan cemoohan dan juga kekesalan. Setiap pagi Alika akan dikerjai oleh sekelompok anak nakal di kelasnya. Kali ini Alika benar-benar merasa muak.
Alika mendorong pintu keras sebelum kembali mundur beberapa langkah ke samping. Dan suara benda jatuh dari atas pintu terdengar sekaligus bunyi cipratan air ikut menyusul kemudian.
Setelah semuanya tenang Alika melangkah masuk dan berjalan santai ke dalam ruang kelas. Alika memilih kursi bagian belakang kali ini berbeda dengan tempat duduknya sehari-hari di depan bagian nomor dua dari kiri.
Bagian kursi yang diduduki Alika adalah kursi kosong yang tidak berani ditempati oleh anak-anak sekolah itu sejak dulu.
"Kau!"
Seorang gadis dengan rambut tergerai menunjuk wajah Alika dengan pandangan tidak senang, dia ingin marah tapi tidak jadi saat melihat tatapan tajam Alika ditambah hawa dingin yang dikirim Alika padanya.
"Lika pindah! Jangan duduk di sana kau bisa celaka nanti, kau tidak ingin seperti anak lainnya kan?" Teman Alika melangkah ke arahnya mencoba membujuk Alika pindah ke tempat lain.
"Celaka? Kau jangan takut Della! Hari ini yang akan mengalami petaka adalah orang yang memaksaku duduk di sini." Alika berbicara dengan santai.
"Apa yang kau banggakan Anita? Kekayaan ayahmu? Atau kemurahan hatimu untuk tidur dengan lelaki yang mau membantu keluargamu?" Alika kembali meludahkan beberapa kata secara santai.
Tangan Alika memindahkan posisi tas yang tadinya ia letakkan di bahu ke meja tulis di depannya. Alika yang seperti ini bukanlah Alika yang selalu diam saat dirinya diganggu.
Rasa takut memasuki hati Anita saat melihat tatapan dan senyuman sinis yang tercetak di bibir Alika. Anita merasakan bulu halus di lehernya berdiri dan rasa dingin mulai menjalar dari kakinya hingga ke wajahnya.
Tanpa sadar Anita menggosok leher putih mulusnya sebelum tangan itu beranjak memegang wajahnya yang langsung memucat.
"Kau bicara omong kosong," tolak Anita dengan keras setelah ia sadar.
Alika tersenyum mencemooh kali ini sembari mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya. Alika yang seperti ini benar-benar membuat teman sekelasnya merasa takut.
"Bohong atau kebenaran hanya kau yang tahu, oh satu hal lagi. Bersiaplah menerima ketidakberuntungan hari ini. Aku pastikan kau akan memohon padaku dalam waktu dua kali 24 jam." Alika membuka buku pelajarannya dan mulai membaca.
Anak-anak di kelas yang sering menjadi korban Anita berteriak senang di dalam hati. Selama ini mereka selalu merasa dianiaya tanpa ada yang membela mereka. Anita tidak pandang bulu dalam membully orang lain, mau kaya atau miskin Anita akan melakukan apa saja terhadap orang yang tidak ia sukai.
Apalagi jika Anita merasa terancam maka ia akan melakukan upaya maksimal untuk menghancurkan orang itu. Alika merasakan seseorang berbisik padanya meminta tolong dengan suara nyaris seperti hembusan angin.
Alika bertindak tidak peduli sebelum ia merasakan hembusan dingin seolah mengusir suara mengganggu itu dari dekatnya.
"Dia meminta tolong," ujar Angelika dengan suara jelas.
Alika mengangkat buku yang tadinya berada di meja menjadi agar lebih tinggi hingga menutupi wajahnya sebelum melihat sekeliling.
"Minta tolong apa? Apa hantu penunggu kursi kosong ini?" tanya Alika penasaran berbisik sangat pelan takut didengar orang lain.
Angelika yang terbang melayang di sekitar Alika melihat ke arah hantu wanita yang memakai seragam sekolah di sampingnya. Wajah hantu ini rusak parah seolah-olah ia mengalami suatu kecelakaan atau mungkin mengalami siksaan yang begitu berat.
"Iya, dia memang hantu bangku kosong ini. Namun, ada yang aneh pada dirinya. Wajahnya rusak dan ada banyak darah di tubuhnya seolah-olah ia mengalami kecelakaan atau penyiksaan yang sangat berat." Angelika menjawab dengan ragu-ragu.
Sungguh, Angelika yang sudah menjadi hantu sejak lama saja takut melihat keadaan gadis SMP yang ada didekatnya itu. Apalagi dengan air mata bercampur darah yang ia keluarkan semakin membuat Angelika ingin menjauh darinya.
Alika mengernyit mendengar apa yang diucapkan oleh Angelika, Alika mencoba mengingat kata-kata yang pernah diucapkan anak-anak di sekolah ini tentang kematian gadis SMP itu dan tiba-tiba sesuatu aneh dan berbanding terbalik kondisi sekarang membuat Alika merasakan curiga.
"Aneh, bukankah orang-orang di sekolah ini mengatakan kalau dia meninggal tenggelam dan langsung dikuburkan saat mayatnya ditemukan. Lalu bagaimana bisa dia muncul dengan keadaan seperti itu?" Alika benar-benar heran.
Hantu bangku kosong itu berteriak tidak senang saat mendengar apa yang diucapkan Alika pada Angela. Dia terbang melayang-layang di udara melampiaskan amarah yang dia rasakan di dalam hati.
"Bohong itu bohong, mereka memaksa Ayah dan Ibu untuk diam padahal mereka yang membunuhku, mereka yang melakukan ini semua padaku. Mereka memaksaku dengan kekerasan fisik, merusak wajahku, menusuk tubuhku untuk membunuhku baru kemudian melempar tubuhku ke danau itu."
Hantu bangku kosong itu melolong dengan sedih, wajah marahnya begitu menyeramkan. Luka menganga yang ada di wajah kanannya seperti diukir oleh pisau secara keseluruhan. Banyak lubang menakutkan di sana, lehernya tidak luput, ada luka-luka besar di sana seolah seseorang sedang mengukir karya seni yang indah namun menakutkan.
"Dia bilang itu bohong, dia bilang orangtuanya dipaksa dan diancam." Angelika menjelaskan.
Angelika menggerakkan tangannya membuat hantu anak SMP itu berhenti melayang di udara. Angelika awalnya takut melihat keadaan menyeramkan si hantu namun mengingat hidupnya lebih lama dari hantu SMP itu keberanian Angelika kembali meningkat.
"Diamlah, kau terbang ke sana kemari pun tidak ada gunanya. Apa dengan kau seperti itu orang-orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal?" tanya Angelika dengan nada sarkastik.
"Tapi aku ingin balas dendam, aku ingin mereka masuk penjara dan meminta maaf pada orangtuaku. Aku tahu aku salah di sini karena mempercayai orang yang seharusnya tidak pantas kuberi kepercayaan."
Hantu itu menjawab dengan nada penuh kesedihan, rasa tertekan yang kuat di dalam suaranya juga menyebabkan Angelika merasa kurang nyaman. Seolah penderitaan yang dialami hantu kecil di depannya dapat dia lihat dan ia alami sendiri.
"Bunuh saja mereka! Belum tentu di penjara mereka mendapatkan hukuman seperti yang kau inginkan." Angelika membalas dengan nada santai.
Ucapan Angelika membuat hantu itu menggeleng dengan wajah dipenuhi air mata dan darah.
"Jika aku membunuh itu sama saja aku seperti mereka tidak punya hati. Aku memang mengganggu orang-orang yang duduk di kursi ini itu karena aku masih ingin belajar. Aku ingin lulus dari sekolah ini dan membuat orangtuaku bangga atas prestasi yang aku miliki." Hantu SMP itu merajuk.
Jelas terlihat kalau ia masih seorang remaja tanggung yang belum mengerti dengan kejamnya kehidupan meski ia telah dibunuh dan tidak lagi melihat dunia. Hantu SMP itu menangis lagi saat pikirannya berkelana pada kejadian buruk yang menimpa dirinya.
Angelika benar-benar merasa risih dengan tangisan menakutkan dari anak SMP di depannya. Merasa tidak tahan Angelika melambaikan tangannya dan hantu SMP itu menghilang dari hadapannya.
"Aku sudah menyuruhnya balas dendam tapi dia tidak mau, apa dia pikir orang yang telah bebas dari hukuman bisa dimasukkan ke dalam penjara dan menderita. Mimpi indah miliknya harus segera dibangunkan," ejek Angelika yang bisa didengar oleh Alika.
"Tidak semua orang ingin membalas dendam dengan cara yang sama, terkadang memberikan tekanan batin lebih bagus daripada adegan berdarah yang sama. Kau tahu menghancurkan lawan dengan tekanan batin lebih menguntungkan hingga dia lambat laun akan mengakui semua kesalahannya dengan sendiri." Alika memberikan komentar.