Memang tidak salah apa yang dikatakan Alika daripada hukuman penjara yang bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan. Angelika mengangguk paham meski apa yang ia lakukan tidak terlihat oleh Alika.
Alika kembali menurunkan buku yang ia baca, sedikit kekejaman melayang di mata indahnya sebelum menghilang dengan cepat seolah hal itu tidaklah pernah ada. Alika saat ini sudah kembali pada Alika yang manis, penurut dan Alika yang mudah diganggu.
Sosok Alika seperti ini adalah Alika yang mudah ditindas dan mudah disakiti namun tidak bisa disentuh oleh orang lain. Alika sibuk dengan buku pelajaran di depannya dan mengabaikan pandangan aneh dari orang-orang di sekitarnya.
"Aku menunggu dia dijatuhkan oleh kursi angker itu," bisik-bisik nakal terdengar sayup-sayup sampai ke telinga Alika.
"Iya, dia pasti akan mengalami kesialan seperti yang dialami anak lainnya." Siswa lain juga ikut berbicara.
Pandangan mereka terlihat mengiba, apalagi Alika adalah sosok cantik sekaligus baik hati jadi yang lain tidak tega melihatnya disakiti.
Alika bertingkah tidak peduli dengan diskusi itu.
"Bantu aku menyampaikan pada hantu penghuni kursi kosong ini untuk mengganggu kelompok Anita itu. Aku ingin dia mengalami kesialan selama seminggu ke depan, lebih tepatnya aku ingin dia diganggu sampai Anita meminta maaf padaku." Alika berbisik ringan.
Alika sangat yakin bisikan lembutnya dapat didengar oleh Angelika dan itu akan disampaikan pada setan kecil pengganggu itu. Alika merasakan damai saat ia merasa hawa panas terbang dari sisinya menjauh dan menuju ke arah Anita yang tengah sibuk tertawa bersama kelompok usil miliknya.
Alika tidak pernah menyimpan dendam di dalam hati namun dia juga tidak mentolerir kejahatan yang terjadi di depan matanya. Kadang menurut Alika meski kita menutup telinga dari kejadian yang ada tapi kita tidak sepenuhnya bisa menutup hati.
Alika akan mengabaikan masalah yang belum ia ketahui tapi akan membantu jika hal itu tampak jelas di depan matanya. Anita yang tengah duduk bercengkrama dengan teman-temannya merasakan kursi yang ia duduki ditarik ke belakang.
Ketakutan tercetak jelas di wajah Anita sebab satu kakinya di tahan di tempat awal. Ia tidak bisa bergerak mengikuti kursinya yang kali ini ditarik ke samping. Anita jatuh terjungkal ke belakang saat kursi miliknya berhasil ditarik oleh hantu penghuni kelas itu.
Alika tersenyum kecil saat melihat Anita jatuh dengan cara yang menyedihkan. Bukankah Anita selalu suka melihat seseorang ditertawakan maka selama seminggu ini Alika akan membuat Anita ditertawakan.
Alika menikmati momen-momen memalukan yang terjadi pada Anita selama proses belajar mengajar di kelas, Anita menggosok leher bagian belakangnya ketika hawa dingin bertiup kencang di sekitarnya. Anita memperhatikan sekeliling kelas melihat apakah ada orang lain yang mengalami kejadian aneh seperti dirinya.
Wajah Anita semakin masam saat dirinya seorang saja yang mengalami keanehan ini, saat Anita melihat pada Alika yang seharusnya dikerjai oleh hantu itu tenang-tenang saja hawa dingin itu merembes ke dalam hatinya. Matanya bertemu dengan mata Alika di mana Alika menampilkan senyum menakutkan membuat Anita langsung mengalihkan pandangan.
Bel istirahat berbunyi, suasana damai semenjak tadi langsung berubah menjadi hiruk-pikuk balai, beberapa berhamburan berlari ke luar kelas mencari tempat makan. Beberapa siswa membuka buku mengerjakan tugas nanti dan hanya beberapa yang duduk membuka kotak bekal yang mereka bawa.
"Eh, kalian ngerasain hal aneh enggak sih? Kayak ada yang niup telinga kalian atau ada sesuatu mengganggu kalian gitu?" Anita menghentikan langkahnya saat mereka telah menjauh dari kelas.
Mereka saat ini berjalan beriringan ke kantin mencari makan sekaligus mencari mangsa untuk dijadikan bahan tertawaan. Ke-tiga teman Anita mengangguk sedikit sembari berbisik, mereka mengatakan hal yang sama seperti Anita bicarakan.
"Jangan-jangan hantu itu marah sama kita lagi, dia marah karena kita membiarkan orang lain duduk di sana. Kalian kan tahu kalau Alika itu berbeda, mungkin saja hantu itu tidak mau mengganggu dirinya." Rini, teman Anita yang lain menakut-nakuti yang lain.
Memang benar kejadian hari ini sangat aneh sebab biasanya yang mengalami kejadian seperti itu hanya orang yang duduk di kursi angker itu. Anita terlihat berpikir mencoba mencari tahu bagaimana hal seperti ini bisa terjadi. Mereka melanjutkan langkah menuju kantin karena tidak ingin terlambat hingga tidak mendapatkan makanan yang diinginkan.
Alika di sisi lain menolak ajakan yang lain untuk ke kantin, ia ingin menanyakan sesuatu pada hantu sekolah itu dan tempat yang tepat adalah perpustakaan sekolah.
"Katakan pada hantu itu untuk mengikuti diriku ke perpustakaan, di sana sepi jadi aman bagi kita berbicara di sana. Ada buku juga yang ingin kucari," ajak Alika ringan pada Angelika.
Alika berdiri, merapikan meja yang ia gunakan tadi sebelum pergi tanpa tergesa-gesa sama sekali sebab perpustakaan tidak jauh dari kelasnya. Alika berjalan santai seorang diri, mata siswa lain melihat Alika dengan kekaguman.
Mereka iri karena Alika berani melawan Alika, mereka kesal karena Alika tidak diganggu oleh penghuni kursi itu. Angelika di sisi lain terbang diikuti oleh hantu berdarah itu, wajah hantu itu diliputi harapan seolah Alika adalah penyelamat dirinya agar bisa pergi dari dunia ini.
Alika memasuki perpustakaan, ia melihat kiri dan kanan mencari keberadaan buku yang ia butuhkan ketika telah masuk. Setelah menemukan rak buku ia melangkah ke sana, Alika akan memeriksa setiap buku yang tersusun di sana agar cepat menemukan apa yang ia cari.
"Jadi siapa orang yang mencelakainya?" tanya Alika pada Angelika saat Alika merasakan hawa familiar milik Angelika di sisinya.
Angelika menoleh pada hantu di sampingnya meminta jawaban, Angelika sebenarnya malas melihat hantu itu karena wajahnya yang buruk rupa. "Bisakah kau mengubah wajahmu menjadi normal? Aku jijik melihatmu seperti ini," ejek Angelika.
Hantu itu cemberut, bibirnya maju beberapa senti ke depan kesal karena ucapan frontal Angelika. "Anak ketua yayasan sekolah beserta teman-temannya dan juga pacarnya. Dia marah, dia menuduhku merayu kakak kelas kami untuk mengatakan kejahatannya. Padahal aku sama sekali tidak terlibat," keluhnya pada Angelika.
Ia mengubah bentuk wajahnya menjadi normal hingga Angelika merasa nyaman dan tidak terganggu ketika menoleh ke arah dirinya. Angelika menyampaikan apa yang dikatakan hantu itu pada Alika.
"Jadi anak ketua yayasan sekolah yang berbuat, dia memang beringas sih! Kejam, jahat dan tanpa hati. Sudah banyak kasus kejahatan yang melibatkan dirinya, bagaimana kalau begini saja. Kau datang ke kediamannya nanti, kau ganggu dia dengan cara-cara aneh. Intinya kau buat dia mengalami tekanan batin hingga mau mengakui semua kesalahan yang diperbuatnya di suatu tempat dan aku akan merekam semua itu agar bisa dilaporkan ke pihak berwajib." Alika berbisik pelan.
Dia merasa yakin apa yang diucapkannya bisa didengar oleh hantu itu. "Kau buat dia dan semua orang yang terlibat setengah gila. Nanti di penjara kau buat dia semaki menderita hingga akhirnya dia bisa dirawat rumah sakit jiwa. Aku kurang percaya dengan hukum karena yang kaya akan berkuasa jika punya uang dan tahta." Lanjut Alika lagi saat ide buruk itu bergegas ke otaknya.
Hantu itu mengangguk pada Angelika seolah paham maksud dari kata-kata yang Ingin Alika sampaikan padanya. "Kalau aku pergi siapa yang akan membantumu mengerjai anak-anak nakal itu? Aku benci mereka," ujar hantu itu saat ingin menjauh.
Alika mengerakkan tangan seolah tidak peduli, "ada Angelika di sini, dia lebih baik darimu dalam mengerjai orang lain." Alika berbicara asal membuat Angelika geram sekaligus kesal.
Hantu itu menghilang meninggalkan hawa milik Angelika saja di sana. Setelah itu Alika melanjutkan pencariannya dan berhasil menemukan buku yang ia cari. Alika mendaftarkan buku itu ke dalam daftar pinjaman buku miliknya dan ke luar dari perpustakaan.
"Kau tidak makan?" Della muncul di depan Alika saat Alika akan memasuki kelas.
Alika menggelengkan kepala sebagai jawaban, dia melihat ke arah Della yang sedang memegang makanan di kantong kresek di tangannya.
"Kenapa? Kau bisa terkena penyakit kalau tidak makan dengan benar, Ibuku bilang kalau di masa pertumbuhan seperti ini kita harus makan dengan benar jika tidak maka pertumbuhan kita akan terganggu." Della membawa kantong itu ke dalam kelas.
Alika juga memasuki kelas, ia mengeluarkan permen dari dalam kantong roknya dan memakan permen itu santai. Della yang melihat itu memutar mata jengah, ia tidak suka permen berbanding terbalik dengan Alika yang sangat menyukai benda manis itu.
"Permen lagi? Gigimu akan cepat bolong jika kau terus memakan permen seperti itu, tidak bergizi hanya manisan yang menyebabkan banyak penyakit." Della duduk di kursinya melihat ke arah Alika yang terus berjalan ke kursi barunya.
"Hehehe ... aku membutuhkan permen dan manisan untuk terus berpikir," jawab Alika mengangkat bahu.
Coklat, manisan dan sebagai macamnya memang dibutuhkan Alika untuk berpikir. Semenjak mengalami penculikan ketika berumur tiga tahun Alika memang mengambil berbagai kursus agar bisa menjadi kuat.
Namanya juga disembunyikan di daftar keluarga untuk alasan keamanan dirinya. Maklum saja, sebagai pengusaha kaya dan sukses orangtua Alika memiliki musuh di mana-mana. Penculikan yang Alika alami adalah salah satu kelalaian pengasuhnya.
"Kau selalu memakai alasan itu, setidaknya kau harus mengimbangi semua itu dengan makanan sehat lainnya mengerti!" Della menceramahi Alika.
Setelah melihat tanggapan Alika yang begitu patuh dan penurut Della membalik tubuhnya agar bisa makan. Della dan Alika adalah teman masa kecil, di mana Alika sekolah Della akan menyusul juga. Sayang Della tidak tahu kalau Alika bisa merasakan makhluk halus semenjak kecil.
Alika membaca buku yang ia dapatkan di perpustakaan, buku itu adalah pengalaman tentang orang-orang yang bisa merasakan makhluk halus sama seperti dirinya.