5

1341 Words
Buku itu menceritakan tentang bagaimana dan kenapa mereka bisa merasakan itu. Ada berbagai faktor yang menyebabkan seseorang bisa melihat dan merasakan makhluk halus di sekitar mereka. Alika tenggelam dalam buku itu sampai tidak tahu kalau guru untuk mata pelajaran selanjutnya telah memasuki kelas. "Keluarkan tugas kemarin!" perintahnya setelah memasuki kelas. Ia menatap satu-persatu murid di kelas, Alika yang tersadar buru-buru mengeluarkan tugasnya dari dalam tas. Bahkan Alika tidak sadar kalau semua murid di kelas telah datang kecuali Anita dan teman-temannya. "Oh, kemana Anita, Rini, Arimbi dan Yola?" tanya guru itu saat ia tidak menemukan Anita. "Tadi mereka ke kantin, kalau tidak salah dari kantin mereka menuju ke kamar mandi, Bu!" jawab salah satu teman sekolah Alika. Kebetulan dia beriringan jalan bersama Anita dan yang lain. Guru itu mengangguk, ia berjalan ke setiap meja untuk memeriksa tugas setiap murid. Saat sampai didekat Alika guru itu berhenti sejenak, ia memindai seisi kelas lagi dan dengan bingung melihat Alika. Tanda tanya tercetak jelas di wajahnya saat Alika yang biasanya duduk di depan tiba-tiba saja berpindah tempat ke belakang. "Kenapa kamu ke belakang? Kursi di depan kosong bukan?" tanya guru heran. Sebab ia mendengar kalau kursi yang ditempati Alika adalah kursi angker dan penghuninya suka menganggu. Alika tersenyum namun tidak mengeluarkan jawaban, sebab Alika tidak ingin masalahnya diketahui oleh guru dan sampai ke telinga kepala sekolah yang merupakan teman ibunya. "Kursinya diberi sesuatu oleh seseorang, Bu! Alika tidak nyaman dan memilih duduk di belakang karena merasa lebih aman." Della yang menjawab. Sebagai teman masa kecil Alika, Della sangat hafal tindak tanduk Alika. Malas berbicara, hanya akan menjawab melalui tindakan, jika ia mengatakan a maka sesuatu akan terus a dia tidak akan mengubah apa yang dipikirkannya sama sekali. "Begitu ternyata, tapi setahu Ibu bangku ini ...." Guru wanita itu terlihat ragu, raut cemas di wajahnya tidak bisa disembunyikan sama sekali. Alika tersenyum, ia sangat tahu dengan apa yang ada di kepala gurunya hanya dengan raut wajah itu, "tidak apa-apa, Bu! Tidak perlu khawatir sama sekali, sejak tadi saya tidak diganggu ataupun terganggu kok, Bu!" jawab Alika santai. Alika membuka buku tugasnya, ia memperlihatkan tugas yang telah selesai ia kerjakan. Melihat Alika tidak cemas atau mengalami sesuatu, guru itu berlalu pergi menuju ke depan kelas hendak mengajar. Saat ia ingin menulis sesuatu di papan tulis, Anita masuk dengan wajah ketakutan diikuti teman-teman dekatnya. Baju Anita basah, kotor sekaligus tidak pada tempatnya. Ada beberapa kancing baju yang terbuka, rok yang Anita kenakan juga tidak dikenakan dengan baik. "Bu, tolong kami! Dia, hantu itu, dia menganggu kami. Padahal yang duduk di tempatnya adalah Alika, kenapa kami yang ia ganggu?" Anita berbicara ngawur. Ia menunjuk ke luar pintu, wajah Anita dan teman-temannya pucat seolah seluruh darah di tubuhnya telah dikuras habis. Tubuh Anita gemetar, Alika di sisi lain mencoba menyembunyikan tawanya. Ia memegang perutnya berusaha menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak. "Kenapa kalian yang diganggu? Apa kalian yang mengerjai Alika hingga pindah ke bangku kosong itu?" tanya guru wanita itu tidak senang. Angelika di sisi lain telah terbang ke tempat Alika duduk, ia berdiri di belakang Alika seolah seperti penjaga yang akan maju jika tuannya diganggu. Alika kesusahan menahan tawa, ia mengacungkan jari telunjuk untuk mendapatkan perhatian agar bisa ke toilet. "Ya Alika kenapa?" tanya guru wanita itu pada Alika. Melihat wajah Alika memerah guru itu khawatir, ia hendak melangkah ke arah Alika tetapi dihentikan oleh gerakan tangan Alika. "Izinkan saya ke toilet, Bu Wati! Perut saya sakit sekali, saya sudah tidak tahan lagi." Alika menggunakan alasan paling masuk akal agar tidak dicurigai. Wati mengangguk, Alika yang telah mendapat izin langsung berlari ke luar kelas secepat yang ia bisa agar sampai di toilet tanpa melepaskan tawa di jalan. Terburu-buru, Alika membuka pintu toilet sebelum kemudian tertawa keras di dalam sana. Beruntung, toilet sepi hingga tidak ada yang akan melihat Alika dengan tatapan aneh. "Hahahaha, apa yang kau lakukan padanya Angelika? Kau lihat tampilan Anita tadi, dia seperti ayam yang dimandikan secara tiba-tiba ke dalam kolam. Kau benar-benar nakal!" tawa Alika tidak terbendung. Ia memegang perutnya menahan agar tidak sakit karena tertawa. Angelika yang mengikuti Alika berputar-putar di toilet itu sebelum berkata secara sembarangan, "aku hanya menakut-nakuti mereka saja seperti hantu lainnya. Aku terbang di atas kepala mereka, membuka pintu dan membanting barang yang ada di sekitar mereka. Kebetulan mereka berniat mengerjai anak lain daripada dia berhasil lebih baik aku yang melakukan padanya terlebih dahulu." Alika semakin tertawa saat mendengar penuturan Angelika, hantu wanita yang mengikuti Alika ini memang layak disebut hantu paling jahil dan kejam. "Hahahaha ... bagus, kerjamu sangat bagus. Aku suka dengan caramu mengerjakan apa yang aku inginkan." Alika akhirnya berhasil menghentikan tawanya setelah lama mencoba. Setelah merapikan baju, Alika menyesuaikan wajahnya ketika keluar dari toilet sekolah. Wajah cantiknya seperti biasa kembali tanpa ada perubahan warna serta yang lainnya. Tidak ada Alika yang menahan tawa ataupun Alika tadi dengan wajah memerah. Alika berhasil sampai di kelas, ia memasuki kelas dengan santai. Matanya melihat ke arah Anita duduk yang ternyata telah kosong, tidak ada jejak kalau Anita duduk di sana yang menandakan kalau Anita langsung pulang setelah ia pergi tadi. Sekolah tetap berlanjut, ketika bel pulang berbunyi siswa merapikan buku-buku dan perlengkapan sekolah lainnya bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing. Alika sama seperti siswa lainnya, ia merapikan buku pelajarannya sembari mendengarkan diskusi antara para siswa yang masih tertinggal di kelas. "Bukankah menurutmu ini aneh? Biasanya hantu itu hanya akan menganggu orang yang duduk di sana bukan orang yang menyebabkan masalah. Aku rasa ini karma yang pantas diterima oleh Anita, aku berharap dia bisa berubah setelah mengalami semua masalah ini." Siswa lain saling berbisik. Mereka tidak sadar kalau percakapan ringan mereka sampai di telinga Alika, tapi bagi Alika itu bukan masalah. Terserah orang lain ingin berbicara apa asal jangan menganggu dirinya secara langsung. "Iya, anehnya Alika malah enggak mengalami masalah apapun. Sejak tadi dia santai saja, tidak ada ketakutan ataupun perubahan lain yang terlihat di wajahnya. Aku iri padanya," ujar siswa lain. Alika yang telah selesai merapikan bukunya meninggalkan kelas, melewati kerumunan dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Alika menemukan keberadaan Della di depan kelas seperti tengah menunggu dirinya. "Ayo pulang! Kau ini, biasanya paling pintar membalas kejahatan kenapa sekarang malah terlihat lemah? Aku rasa ada masalah di dalam otakmu itu," ejek Della dengan kalimat keras. Alika yang diceramahi oleh Della hanya mampu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukan tidak ingin membalas, aku hanya ingin sekolah dengan damai. Masa SMP akan segera berakhir, aku ingin meninggalkan kesan baik pada teman-teman yang belum tentu bisa bertemu lagi." Jawaban yang Alika berikan membuat Della memutar mata malas, Della tahu kalau Alika hanya tidak ingin membuat keributan yang bisa menyebabkan identitas miliknya terbongkar. Ke-duanya sampai di gerbang sekolah menaiki mobil keluarga Della agar pulang ke rumah dengan selamat. "Lik, bisa enggak sih kamu membatalkan jalan-jalan keluarga yang akan terjadi dua hari lagi? Aku merasa sesuatu akan terjadi, ada perasaan tidak nyaman di sini." Della menunjuk pada hatinya. Alika menatap sahabatnya itu dengan raut wajah heran, apa yang Della katakan hampir sama dengan apa yang Angelika ucapkan padanya. Alika ingin menghentikan semua itu, tapi dia tidak bisa mencegah kepergian orangtuanya. Mengubah takdir dapat merusak tatanan yang akan dilewati selanjutnya. "Aku sudah bicara pada Ayah dan Ibu, tapi mereka tidak bisa menunda semuanya. Mereka bilang jarang mendapatkan kesempatan, makanya kalau ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya." Alika menjawab apa adanya sesuai pembicaraan yang telah ia lakukan. "Aku berharap kau berhati-hati saja, jika ada keanehan segera berhenti di keramaian agar menghindari bencana yang akan terjadi," pesan Della. Alika mengangguk, jika memang ada hal buruk yang akan terjadi pada mereka lebih baik menjalaninya secara bersama agar tidak ada penyesalan di dalam hatinya. Alika hanya berharap ia bisa bersama kedua orangtua yang terus mencintai dirinya tanpa meminta balasan itu. Alika diantar oleh Della sampai ke rumahnya dengan selamat, Alika memasuki kamar mengganti pakaian sekolah dengan baju rumah yang nyaman. Setelah itu ia berbaring di tempat tidur dengan pandangan mata mengarah ke langit-langit kamar. Alika memikirkan semuanya secara teliti tapi tidak bisa memutuskan apa yang akan menimpa dirinya hingga orang terdekatnya bahkan bisa merasakan hal buruk dalam perjalanan kali ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD