Rey membawa Jingga ke rumah baru mereka yang dia bangun dua bulan lalu. Rumah dengan gaya minimalis dua lantai yang dia buat tanpa sepengetahuan sang istri. Mereka dalam perjalanan setelah menghabiskan dua hari waktu berdua di hotel pasca penikahan. Rey mengajak istrinya tinggal di rumah agar bisa mewujudkan keinginan Jingga untuk bisa berkebun. “Sebenarnya kita mau ke mana sih, Mas?” Jingga yang tidak tahu tujuan mereka, melirik sekitar. “Ntar juga tau.” Berdecak. “Sok misterius deh.” Rey terkekeh, tapi tidak mengatakan apapun lagi sampai mobilnya masuk ke halaman sebuah rumah yang dua bulan ini dia pantau sendiri pembangunannya. “Ayok,” ajaknya menghampiri Jingga ke pintu samping kemudian menuntun istrinya menuju teras. Mengetuk beberapa kali sebelum pintu terbuka menampilkan seluru

