Setelah mengurus administrasi Bara kembali ke ruangan namun Rey sudah tidak ada di sana sehingga dia harus menemani Jingga untuk dipindah ke ruang perawatan. Gadis itu sudah sadar sejak beberapa menit lalu. Duduk di kursi ruang tunggu Bara menunggu suster mempersiapkan pemindahan istri Rey itu. “Jingga .... ” Bara tercenung. “Loh, kok?” gumamnya saat melihat gadis itu didorong menggunakan brankar oleh suster menuju ruang perawatan. “Ini mimpi bukan sih?” Pria itu menatap nanar brankar yang makin menjauh. Detik berikutnya jantung Bara berdegup sangat kencang. Tanpa sadar matanya berair. Bukan hanya karena melihat wajah Jingga yang penuh lebam yang membuat hatinya terasa teriris namun juga karena fakta yang mengejutkan dia dapati. Jingga, wanita yang saat ini didorong suster di depannya,

