Tangis Kekecewaan

804 Words
Jelita hanya bisa mengangguk, menuruti apa yang Wira putuskan, seperti biasanya. Jelita paham benar bagaimana karakter Wira, paling tidak, Wira sudah mengetahui kehamilannya ini, pikirnya. "Oh ya, kamu tahu bagaimana reputasiku, jadi aku akan masukkan satu klausula kesepakatan baru untukmu." Jelita mengangkat wajahnya takut-takut. Kesepakatan pertama saja sudah terasa berat baginya, apakah akan ditambah Wira dengan sebuah beban derita lagi? "A apa itu, Pak?" tanya Jelita gugup, seraya tautkan kedua tangan seumpamanya sebuah doa, berharap dia sanggup untuk kedua kalinya. "Selama proses kehamilanmu, aku akan berikan surat tugas kerja di cabang perusahaan di Bekasi, dan kamu tinggal di salah satu aset propertyku disana. Mengerti, kan maksudku?" "Mengerti, Pak." Anggukan kedua bagi Jelita adalah sama saja menyetujui akan penghilangan keberadaannya sementara waktu hanya untuk sebuah reputasi. Namun apa daya, lagi-lagi ia tidak punya pilihan lain. "Sekarang keluar, dan pulanglah. Segera lakukan janji dengan dokter kandungan rumah sakit terbaik yang ada di Bekasi, karena surat tugasmu akan berlaku segera esok hari, tapi kamu jangan kasih tahu siapapun tentang keberadaanmu nanti, sampai satu tahun kamu kembali kesini." Jelita tundukkan kepala sebelum keluar ruangan. Tatapan tajam Wira ketika setiap kalimat perintah keluar dari bibirnya, jadi ketakutan tersendiri buatnya. "Ta, Pak Wira ngomong apa sama lo?" tanya Vani penasaran, segera berlari kecil saat mengetahui sahabatnya ini sudah duduk dimeja kerjanya. "Mulai besok gue mau dimutasi," jawab Jelita singkat. "Astaga! Kemana? Secepat ini?" Vani terngaga setengah tak percaya. "Entahlah. Suratnya sudah ada, tapi cabang perusahaan mana aku belum tahu." Jelita tak sekalipun membalas tatapan Vani, karena sebenarnya tak sanggup berbohong. "Aku harus pulang, buat siapin semua." "Ta tapi...secepat ini? Urgent banget butuh pegawai pindahan ya?" cecar Vani, mengikuti langkah cepat Jelita yang semakin kikuk. "Jelita tunggu!" tahan Vani kemudian. "Gue harus cepat pulang, Van. Ngobrolnya lewat chat saja deh," pinta Jelita memelas. "Wajahmu pucat banget, Ta. Lo dipindahi, bukan karena buat kesalahan, kan? Atau ada hal buruk terjadi sewaktu lo didalam tadi? Pak Wira marahin lo? Atau apa? Cerita dikit lha, Ta. Gue jadi khawatir, tahu!" "Gue nggak apa-apa. Cuma tadi belum sarapan saja. Lo jangan berlebihan deh, nanti lanjut lagi setelah gue sampe rumah ya." Jelita buru-buru, tak dihiraukan lagi segala rengekan Vani selanjutnya, karena ada yang tertahan namun baru dia curahkan ketika sudah berada didalam kamar seorang diri. "Tega!" Satu kata tertahan yang kini baru bisa Jelita luapkan dalam kesendirian dan tangis sendunya. "Kenapa dia perlakukan aku seperti ini? Padahal anak dalam kandunganku ini benih yang dia tanam paksa padaku," pedihnya tangis Jelita dalam sesenggukan penuh perih. "Jelita? Kamu sudah pulang, nak?" Panggilan dari luar yang segera mengagetkan Jelita. "Mama?" Jelita paksakan diri menghapus segala tangisnya secepat mungkin. "Buka, Sayang." Permintaan bernada panik dari ibunya, segera dituruti Jelita, yang segera membuang tisu ke dalam tong sampah kamarnya. "Mama sudah pulang? Memang nggak ada pesenan?" tanya Jelita, paksakan diri bersikap wajar. "Mama yang harusnya tanya ke kamu, kok jam segini sudah pulang? Ada hal buruk terjadi ya?" feeling seorang ibu hadir disini. "Nggak ada apa-apa, Ma. Aku diharuskan pulang, karena besok harus pindah tugas ke cabang lain." "Mendadak?" tanya sang ibu bernama Sarah. "Iya. Lha Mama juga kok sudah pulang?" tanya balik Jelita. "Hari ini nggak banyak kerjaan, sudah mama kerjain, anak-anak tinggal lanjutin terus kirim ke customer. Badan mama lagi nggak enak juga, nggak tahu pengen cepet pulang aja, eh tahunya, kamu juga sudah dirumah." Jelita berikan senyuman, tapi masih tak berani menatap ibunya. "Jelita mau tinggalin mama, mungkin setahun, dan kemungkinan nggak balik dulu ke Jakarta sampai waktu penugasan selesai." Sarah membeku, walaupun putrinya ini berbicara memunggunginya, tapi naluri ibu bisa rasakan, ada hal buruk menimpa anak semata wayangnya ini. "Jelita," panggilnya kemudian. "Iya?" sahut Jelita, seraya lanjutkan membereskan pakaian yang akan dimasukkan ke dalam koper. "Mama nggak suka kalau anak mama bohong!" Hentakan suara Sarah, sontak membuat Jelita terdiam, terlebih saat ibunya ini membalikkan tubuhnya, dan ia tak bisa menolaknya. "Apa yang sudah terjadi? Kamu sakit Jelita. Wajahmu pucat sekali," kekhawatiran Sarah. "Ini mama, Sayang. Kamu nggak pernah seperti ini." Jelita tak bisa lagi menahan tangis, tapi kemudian berlari kecil melewati Sarah untuk ke kamar mandi, menumpahkan apa yang beberapa hari ini jadi kebiasaan barunya. "Apa kamu masuk angin? AC kamarmu terlalu dingin mungkin," simpul Sarah, tapi ditanggapi gelengan Jelita. "Apa salah makan? Mama perhatikan akhir-akhir ini kamu nggak terlalu nafsu makan." Sarah terus berusaha mencari jawaban, seraya memijit-mijit pelan daerah tengkuk sampai pundak Jelita. Jelita berbalik, lalu secara tiba-tiba memeluk Sarah. Tangisannya semakin pecah, berbicarapun dalam sesenggukan tertahan. "Mama...maafin Jelita," mohonnya. "Kenapa? Ngapain minta maaf?" Sarah jauhkan tubuh Jelita, lalu usap air mata dan juga rambutnya. "Cerita sama Mama, Sayang. Kalaupun masalahmu berat, kita hadapi berdua, ya." Tangis Jelita semakin dalam, tentu saja bayangan mendiang sang ayah jadi pikirannya sekarang. "Mama janji, nggak akan marah, kan?" tanyanya terlebih dulu. "Nggak, asal kamu jujur sama Mama. Katakan saja," balas Sarah tak sabar. "Jelita...hamil." "Apa?! Sama siapa?!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD