Hilang Untuk Ada

808 Words
"Sama atasan Jelita, Ma." Sarah tutup mulut dengan kedua tangan, saking tak percayanya. Anak gadis yang dia tahu masih polos ini, bahkan sampai sekarang belum juga tambatkan hatinya pada pria manapun, ternyata bisa alami hal diluar dugaan seperti ini. "Tapi kenapa, Jelita? Kenapa kamu jual dirimu, hah? Apa hanya demi jabatan tinggi dan kekayaan, kamu sampai rela melakukan itu? Jawab Mama, Jelita!" Tangis kekecewaan Sarah pecah. Pundak Jelita dipegang dan digoyang-goyangkan untuk meluapkannya. "Memang mama nggak bisa kasih kamu kelebihan harta, tapi apa peninggalan almarhum papamu tidak buatmu puas, sampai kamu silau mata begini, hah?!" desak Sarah, agar Jelita tak hanya menangis, tapi segera berikan jawaban. "Cepat katakan!" "Ini bukan maunya Jelita, Mama," ungkap Jelita dengan sesenggukan. "Tapi kecelakaan," lanjutnya, sekuat tenaga menceritakan apa yang terjadi di malam pertemuannya dengan Wira, sampai pada kesepakatan sepihak yang dengan terpaksa Jelita setujui. Ingin Sarah berteriak, menganggap semua tak adil bagi putrinya ini, tapi apa daya, bila mengambil jalur hukum, sudah tahu akan prosesnya yang lama, belum lagi rasa malu yang seringkali justru diderita oleh pihak korban. "Ya sudah, kalau memang semua sudah terjadi. Mama nggak akan nyalahin kamu. Paling tidak, atasanmu itu sudah bersedia tanggung jawab, kalau kita melawan, kita pasti tetap jadi pihak yang kalah," sadar Sarah akan wajah hukum di negara ini. "Maafin Jelita, Ma. Sudah nggak bisa jaga kehormatan, dan sekarang nggak bisa sesali." Sarah tuntun Jelita duduk di tepi tempat tidur, lalu mengelus-elus rambutnya. "Sebenarnya, mama ingin marah, tapi semua sudah terjadi, kita nggak bisa ingkari. Jadi sekarang, kita hadapi ini bersama-sama. Mama akan ikut kemana kamu pergi, lalu kita urus anak tidak berdosa ini berdua, ya." "Kalau misalkan...atasan Jelita hanya janji saja, dan akhirnya nelantarin kami berdua, bagaimana Ma? Itu yang selalu jadi ketakutanku," ungkap Jelita semakin sesenggukan. "Mungkin ini sudah takdirmu. Apapun nanti yang terjadi, anak ini nggak boleh terlantar. Mungkin dia akan kehilangan figur seorang ayah, tapi dia tidak boleh kehilangan kasih sayang ibunya. Mama yakin, semua kejadian pasti ada hikmahnya, jalani secara ikhlas saja, karena Tuhan maha tahu kalau kamu mampu jalani ini semua." Batin ibu mana yang akan sanggup bila harus paksakan diri kuatkan putrinya, walau sebenarnya dirinya juga tak sepenuhnya sanggup. Hanya karena besarnya cinta Sarah pada Jelitalah yang akhirnya membuat keduanya bisa saling menguatkan. Saat esok hari, keduanya telah bersiap, sebuah panggilan dari Wira sungguh mengagetkan Jelita. "Mobil jemputan sudah di depan rumahmu. Apartemen yang akan kamu tempati juga sudah disiapkan. Semua hal disini juga sudah teratasi. Untuk sementara, semua aman, jadi sekarang sebaiknya kamu bergegas." "Baik, Pak," sahut Jelita lirih. Semalam, memang mereka berkomunikasi, tapi hanya sebatas tanya jawab dengan kalimat formal. Jelitapun masih memposisikan dirinya sebagai bawahan yang hanya akan tunduk pada perintah atasan, yaitu Wira. "Hati-hati. Selamat pagi." "Pagi," balasan dan kata terakhir, komunikasi antara keduanya, karena sampai di tempat yang dituju, Wira tak lagi menghubungi. "Jelita. Apa kamu memang nggak boleh bekerja lagi? Kalau anak ini sudah lahir, bagaimana dengan nasibmu? Apa kamu sudah bicarakan ini dengan Pak Wira? Dan apa kamu sudah memikirkannya juga?" pemikiran Sarah, saat sudah selesai dengan segala barang pindahan. "Belum," jawaban jujur Jelita. "Aku masih belum berani telpon Pak Wira langsung, Ma. Takuutt banget. Orangnya dingin dan...dan..." Jelita tak sanggup teruskan mendeskripsikan sosok Wira, bila penggambaran itu akan mengingatkannya akan kejadian dimalam itu, dimana setiap deru napas dan tiap sentuhan Wira pada tubuhnya, masih menyisakan kenangan pahit, namun juga tak bisa terlupakan begitu saja. Sarah merasakan apa yang sedang dirasakan Jelita, sebuah pelukan ia berikan untuk menenangkan. "Pikirkan saja anak dalam kandunganmu. Kamu harus kuat demi dia, ya." Dalam dekapan ibunya ini, Jelita hapus air mata untuk menjadi pembenaran ucapannya. Jelita tak mau terus larut pada kesedihan yang dapat segala harapan besarnya pada bayinya nanti, dengan atau tanpa seorang Wira Pratama. Suara bel berbunyi setelahnya, Jelita dan Sarah saling bertatapan dengan ekspresi bingung. "Siapa ya, Ma? Kan barusan, pihak pengelola gedung sama bagian bersih-bersih sudah kesini." Jelita masih belum beranjak dari tempat duduknya. "Entahlah. Mungkin ada yang ketinggalan buat jelaskan, kali." Sarah memutuskan membuka pintu, untuk membunuh rasa penasaran. "Tunggu..." ujarnya, mengintip dulu dari lubang pintu, baru kemudian membukanya. "Siapa ya, Pak?" Sarah telusuri secara kilat penampilan pria tampan berpostur tinggi dengan memakai setelan kemeja tanpa dasi, beserta jas yang menunjukkan sebuah status tinggi. "Jelita. Saya ingin bertemu dengannya," ungkap pria tersebut dengan ekspresi dingin. "Kalau boleh tahu, anda siapa ya?" Sejak mengetahui keadaan Jelita, Sarah jadi lebih bersikap overprotektif. "Siapa Ma?" Suara lembut Jelita dari dalam. Sembari melangkah mendekat, Jelita menguncir rambutnya menjadi satu, lalu rapikan poni depannya. Wajah polos tanpa make up, berbeda dengan apa yang dia tunjukkan bila sedang bekerja, jadi semakin terlihat lebih jelas terpancar, hingga membuat pria yang masih berdiri didepan pintu itu membeku, terpesona. Begitu juga Jelita, ia juga membeku untuk beberapa detik, karena masih begitu kelu bibir ini berucap sebuah nama yang akhirnya dia ucapkan, hanya demi memberitahukan pada ibunya. "Pak Wira...anda kesini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD