bc

Oops! CEO KU Salah Menilai

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
fated
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Semua orang mengira Alena hanyalah gadis sederhana yang bekerja di perusahaan kecil penjual baju online dengan kantor sempit di pinggir kota. Berpenampilan biasa, hemat, dan sering diremehkan, tak ada yang tahu kalau sebenarnya ia sengaja menyamar dan menyembunyikan identitasnya sebagai anak orang kaya. Hidupnya berubah saat tanpa sengaja bertemu dengan Nathan, CEO dingin dan perfeksionis dari perusahaan fashion besar yang awalnya meremehkan tempat kerja Alena. Namun, di balik kesederhanaan gadis itu, Nathan justru menemukan ketulusan yang tak pernah ia lihat sebelumnya—hingga tanpa sadar, sang CEO mulai jatuh cinta pada gadis yang selama ini salah ia nilai. Tapi bagaimana jika suatu hari Nathan mengetahui bahwa “gadis miskin” yang ia sukai ternyata menyimpan rahasia besar?

chap-preview
Free preview
Diremehkan
Pagi itu suasana kantor kecil Lunaria Wear sudah seperti kapal mau tenggelam. Bunyi notifikasi pesanan masuk terus menerus dari tiga laptop berbeda. Kardus menumpuk sampai hampir menutupi rak display baju. Plastik packing berserakan. Mesin print resi berbunyi nyaring tanpa henti. Untung saja AC yang sempat rusak dua hari lalu akhirnya hidup lagi meski kadang masih bunyi “krek… krek…” “YA AMPUNN! Seratus dua puluh paket belum dipick up?!” teriak Yola sambil memegangi kepala. “Jangan teriak dekat kuping gue, Ya. Dari tadi gue udah migrain,” balas Eka yang lagi sibuk melipat cardigan. Pintu kaca kantor terbuka pelan. Alena masuk sambil membawa tote bag warna cream dan es kopi di tangan. Outfit-nya sederhana—kaos polos cream lengan panjang, jeans biru muda, sneakers putih. Rambut hitam panjangnya diikat rendah rapi dengan beberapa helai jatuh di sisi wajah. Simple. Tapi tetap cantik. Dan itu yang kadang bikin beberapa orang di kantor kesal sendiri. “Pagi,” ucap Alena sambil tersenyum kecil. Yola melirik dari atas sampai bawah. “Enak ya hidup lo. Datang tinggal cantik doang.” Alena cuma ketawa kecil lalu menaruh tasnya. “Kalau cantik aja bisa bikin order selesai, sini aku berdiri aja seharian.” Eka mendengus kecil. “Bercanda mulu. Sana packing. uda numpuk ini.” Alena langsung duduk di lantai dekat tumpukan kardus dan mulai melipat dress satu per satu dengan teliti. Tangannya cepat dan pekerjaan nya terlihat rapi. Bahkan lipatan baju Alena selalu paling bagus. Yola sebenarnya iri. Alena gak pernah dandan heboh, tapi tetap keliatan bersih dan mahal. Padahal dia cuma pegawai biasa di kantor online shop kecil seperti mereka. Kadang itu bikin kesel. “Len,” panggil Eka tiba-tiba. “Hm?” balas nya “Lo serius gak sih kerja di sini terus? Cantik kayak lo mah gampang cari cowok kaya.” Alena tersenyum tipis tanpa mengangkat kepala. “Terus kenapa harus cari?” “Ya biar hidup enak.” ucap Eka “Sekarang juga aku makan tiap hari.” balas Alena simple Yola langsung nyaut. “Tapi kan sederhana banget hidup lo.” Alena malah ketawa pelan. “Sederhana gak selalu sengsara yol.” Belum sempat mereka lanjut ngobrol, suara pintu ruangan bos terbuka keras. “SEMUA KUMPUL!” Rico keluar sambil membawa ponsel dan wajah panik. Cowok umur tiga puluhan itu langsung bikin semua pegawai berhenti kerja. “Ada apa lagi, Pak?” tanya Eka lemas. Rico menunjuk semua orang satu-satu. “Dengerin gue baik-baik. Hari ini ada perusahaan besar mau datang.” Kaget dong semua. “HAH?!” Yola langsung berdiri. “Perusahaan apa?” tanya Yola lagi. Rico menarik napas panjang. “Arsenio Group.” Detik itu suasana kantor langsung beku. Alena yang tadinya melipat baju sampai berhenti. Eka melotot. “Yang brand fashion luxury itu?!” “Iya!” balas Alena “Yang CEO-nya galak banget itu?” tanya Eka lagi. “IYA!” balas pak Rico Yola langsung panik sendiri. “Pak… kantor kita kayak kapal pecah gini…” Rico hampir jambak rambut sendiri. “Itu dia masalahnya!” Semua langsung heboh “Cepet angkat kardus!” “Ya ampun plastik dimana-mana!” “Laptop siapa itu belum dicharge?!” “EKA JANGAN MAKAN CIMOL DULU!” Kantor kecil itu langsung berubah heboh. Alena berdiri lalu mulai membereskan meja tanpa banyak bicara. Rico menunjuk dia cepat. “Alena, tolong cek display sample baju!” “Oke, Pak.” “Yola sama Eka bersihin ruang meeting kecil!” “Pak itu bukan ruang meeting, itu gudang,” protes Yola. “Pokoknya jadiin meeting room!” Alena sampai geli sendiri lihat Rico panik setengah mati. Satu jam kemudian kantor jauh lebih rapi. Meski tetap kecil. Dinding putih sederhana. Meja seadanya. Rak baju minimalis. Dan ruangan meeting yang sebenarnya cuma meja bundar kecil dengan dispenser di sudut. Suara mobil berhenti terdengar dari luar. Semua langsung diam. Yola buru-buru membetulkan rambut. Eka merapikan kerah baju. Rico mengusap keringat. “Ya Allah semoga kerja sama jadi…” Pintu kaca terbuka. Dua pria masuk lebih dulu dengan pakaian formal. Lalu… Nathan Arsenio masuk di belakang mereka. Tinggi. Jas hitam mahal. Wajah dingin. Tatapan tajam. Auranya langsung bikin ruangan kecil itu terasa makin sempit. Yola sampai berbisik pelan. "Gila… asli ganteng banget…” Nathan melihat sekeliling tanpa ekspresi. Tatapannya jatuh pada tumpukan kardus di pojok yang belum sempat dipindahkan. Lalu ke kabel printer yang masih berantakan. Lalu ke ruangan kecil itu. Rahangnya mengeras tipis. “Ini kantor utamanya?” Rico langsung tersenyum gugup. “Haha… iya Pak Nathan. Memang sederhana tapi—” “Tidak terlihat seperti perusahaan yang siap kerja sama besar.” Kalimat itu langsung bikin suasana canggung. Eka menunduk. Yola langsung diam. Rico tersenyum paksa. Nathan berjalan pelan sambil melihat rak display. Tangannya mengambil salah satu sample blouse. “Packaging kurang rapi.” Anak buahnya langsung mencatat. Nathan melirik meja kerja. “Manajemen stok manual?” “I-iya untuk sementara…” Nathan mengembalikan blouse itu dengan tatapan datar. “Perusahaan sekecil ini bahkan gak bisa kelihatan profesional?” Deg. Kalimat itu nusuk banget. Rico langsung pucat. Yola menunduk malu. Eka menggigit bibir. Alena yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya bertemu Nathan. "Maaf, Pak.” Nathan menoleh pelan. “Kantor kecil bukan berarti kerja kami kecil.” Sunyi. Yola langsung melotot kecil. Eka hampir batuk. Rico makin pucat. Sedangkan Nathan Tatapannya berubah dingin. Dia gak suka dibantah. Apalagi oleh pegawai biasa. Nathan melangkah mendekat. “Nama kamu?” “Alena.” Balas nya “Dan kamu merasa perusahaan ini sudah profesional?” Nada suaranya Tajam. Alena tetap berdiri tenang meski semua orang mulai panik sendiri. “Kami memang masih berkembang, Pak. Tapi semua order pelanggan selalu selesai tepat waktu.” Nathan tersenyum tipis. Sinis. “Dengan kondisi seperti ini?” Alena menahan kesal. “Kalau Bapak datang saat jam sibuk, tentu kantor kami tidak akan seperti showroom hotel bintang lima.” Eka langsung nutup muka pakai map. Mati mereka. Nathan menatap Alena beberapa detik. "Cantik dan Terlalu tenang." batinnya Dan itu malah bikin dia makin terganggu. Biasanya orang langsung gugup kalau bicara dengannya. Tapi cewek ini malah berani menyindir balik. Nathan memasukkan tangan ke saku celana. “Menarik.” Alena diam. Nathan berjalan melewati dia lalu berkata tanpa menoleh, “Saya harap kemampuan kerja Anda sebesar keberanian bicara Anda.” Yola langsung melirik Alena panik begitu Nathan menjauh. “LEN! Lo berani banget!” Alena menghembuskan napas pelan. “Aku cuma jawab.” “Itu CEO, bukan abang paket!” Rico hampir stres sendiri. “Ya Tuhan Alena…” Belum selesai mereka panik, Nathan tiba-tiba berhenti di depan meja packing. Matanya melihat beberapa paket yang belum tertutup rapi. “Ini quality control siapa?” Semua langsung saling lihat. Alena mengangkat tangan kecil. “Saya.” Nathan mengambil salah satu paket. “Lipatan tidak simetris.” Alena menahan napas. Nathan bahkan memperhatikan hal sekecil itu? Nathan menatapnya lagi. “Kalau customer premium menerima ini, mereka akan kecewa.” Alena berjalan mendekat lalu mengambil paket itu pelan. Jari mereka sempat bersentuhan sedikit. Nathan refleks menatap wajah Alena. Dekat begini… Cewek itu ternyata lebih cantik dari yang dia kira. Dan matanya Tenang sekali. Alena membuka ulang paket itu lalu melipat blouse dengan cepat dan rapi. “Kalau seperti ini?” Nathan memperhatikan tanpa bicara. Rapih. Sangat rapi malah. Salah satu staff Nathan sampai melirik kagum. Nathan berdehem kecil. “Lumayan.” Yola hampir pengen lempar selotip. Lumayan dari mana?! Itu udah rapi banget! Tiba-tiba printer resi di belakang berbunyi keras dan bikin semua orang kaget. Brak! Yola tidak sengaja menyenggol gelas kopi di meja. Alena refleks menangkap gelas itu Tapi tubuhnya malah sedikit menabrak Nathan. Cairan kopi tumpah. Byur. Mengenai jas hitam mahal Nathan. Semua membeku. Yola langsung pucat. “Ya Ampun…” Eka menutup mulut. Rico hampir copot nyawa. Sedangkan Nathan… Diam. Dia menunduk pelan melihat noda kopi di jasnya. Lalu menatap Alena perlahan. Tatapan dingin itu sukses bikin satu kantor susah bernapas. “Maaf ” ucap Alena cepat. Nathan memotong. “Ini jas custom.” Suaranya rendah dan Bahaya. Alena menelan ludah pelan tapi tetap berusaha tenang. “Saya benar-benar gak sengaja.” Nathan tertawa kecil tanpa humor. “Tentu.” Rico langsung maju panik. “Pak Nathan nanti kami ganti rugi—” Nathan mengangkat tangan tanda diam. Tatapannya tetap ke Alena. Dan entah kenapa… Dia malah semakin kesal karena cewek ini masih bisa menatap matanya dengan tenang. Tidak menangis, Tidak gemetar ,Tidak memohon. Aneh. “Lain kali,” ucap Nathan dingin, “kalau bekerja, fokus.” Alena menggenggam jarinya pelan dan Kesal. Dia juga korban tadi. Tapi tetap berusaha sopan. “Baik, Pak.” Nathan menatapnya beberapa detik lagi sebelum akhirnya berbalik pergi. Auranya masih dingin. Pintu kaca tertutup. Dan detik berikutnya “ALENAAAA!” Yola langsung histeris kecil. “Lo nyiram CEO?!” Eka duduk lemas. “Fix kerja sama gagal…” Rico memegangi d**a. “Sumpah tadi gue lihat malaikat…”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
723.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
959.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.2K
bc

Not just, the Beta

read
342.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook