Rahasia

1252 Words
Nathan duduk perlahan di kursi roda yang dipinjamkan Alena dari rumah sakit. Wajahnya masih tampak sangat pucat, memar di pelipis kirinya masih terlihat jelas, dan perban putih masih melilit rapi di sekitar kepalanya. Alena mendorong kursi roda itu pelan-pelan menuju area parkiran rumah sakit. "Pelan-pelan ya, Pak, hati-hati," ucapnya lembut. Nathan hanya mengangguk kecil. "Hm." Sesampainya di parkiran, pandangan Nathan tertuju pada sebuah motor matic berwarna putih yang terparkir rapi di sana. Ia mengangkat sebelah alisnya tak percaya. "...Kita naik ini?" Alena mengangguk polos. "Iya, Pak." Nathan menatap motor itu cukup lama, lalu menoleh ke arah Alena. "Lalu saya?" "Ya Bapak dibonceng saja di belakang." Nathan menghela napas panjang. "Seumur hidup saya belum pernah sekali pun dibonceng naik motor." Alena langsung tertawa renyah. "Berarti hari ini jadi pengalaman pertama yang berkesan buat Bapak kan?" Nathan menatapnya dengan wajah datar. "Kamu sepertinya senang sekali melihat saya dalam posisi begini." "Iya dong," jawab Alena jujur. "Bukannya setiap hari bisa lihat CEO yang biasanya jutek dan kaku harus naik motor dibonceng orang lain." Nathan menggeleng pelan. "Kamu memang gadis yang aneh." Alena tersenyum lalu mengambil helm cadangan dari dalam bagasi motornya. Ia menyodorkannya kepada Nathan. "Nih, Pak, pakai ini dulu ya." Nathan menerima helm itu dengan ragu. Saat ia membaliknya, terlihat gambar karakter kartun lucu di bagian belakangnya. Ia terdiam sejenak menatap helm itu. Alena langsung menahan tawanya. "Maaf ya Pak, helm cadangan saya cuma ada itu satu-satunya." Nathan akhirnya tetap memakai helm itu dengan pasrah. "Kalau sampai ada orang yang memotret saya dalam keadaan begini..." "Saya yang akan suruh mereka hapus foto itu," potong Alena cepat. Nathan mengangguk puas. "Bagus kalau begitu." Beberapa menit kemudian, motor mulai melaju perlahan meninggalkan halaman rumah sakit. Nathan duduk sangat kaku di jok belakang, tangannya bahkan tidak tahu harus diletakkan atau berpegangan di mana. Alena sesekali melirik lewat kaca spion. "Pak, pegang saja ke pinggang saya kalau takut jatuh," saran Alena pelan. Nathan diam sejenak. "Tidak perlu." Tak lama kemudian motor melewati jalan yang permukaannya agak rusak dan berlubang. Bruuk! Badan Nathan terguncang hebat dan hampir kehilangan keseimbangan. Secara refleks tangannya langsung meraih dan memegang ujung jaket yang dipakai Alena. Alena tertawa kecil melihat itu. "Tuh kan, katanya nggak perlu pegang." "Saya memang tidak terbiasa dengan hal seperti ini," jawab Nathan sedikit canggung. "Gak apa-apa kok Pak, santai saja." Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam. Angin sore bertiup lembut menerpa wajah mereka. Nathan memperhatikan jalanan, gedung, dan orang-orang yang lewat dari balik kaca helmnya. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah menikmati perjalanan sesederhana ini—tanpa mobil mewah, tanpa sopir pribadi, tanpa pengawal yang berjalan di sekelilingnya. Entah kenapa, rasanya justru jauh lebih tenang daripada biasanya. Empat puluh menit berlalu, motor akhirnya memasuki kawasan perumahan apartemen yang sangat elit. Nathan melihat ke kanan dan ke kiri, melihat deretan gedung pencakar langit yang berdiri megah serta petugas keamanan yang berjaga rapi di setiap titik masuk. Ia mulai mengernyitkan dahi. "Kita tidak salah jalan?" tanyanya ragu. Alena menggeleng mantap. "Enggak kok Pak, ini jalannya benar." Motor terus melaju hingga akhirnya berhenti tepat di depan lobi sebuah apartemen premium yang sangat terkenal di kota itu. Nathan kembali menatap papan nama gedung itu. Ia sangat mengenal tempat ini—harga satu unit di sini sangat mahal, bahkan termasuk salah satu yang termahal di kota. Ia menatap Alena tak percaya. "Kamu tinggal di sini?" "Iya, Pak." Nathan benar-benar bingung. Bukankah gadis ini hanya pegawai biasa di toko daring? Mengendarai motor sederhana, berpakaian apa adanya, tapi tinggal di apartemen semewah ini? Alena turun dari motor lebih dulu. "Bapak tunggu sebentar ya di sini." "Kamu mau ke mana?" "Saya mau pinjam kursi roda dulu sama petugas apartemen." Nathan hanya mengangguk pasrah. Tak lama kemudian Alena kembali bersama seorang petugas yang mendorong kursi roda. "Pelan-pelan ya Pak, hati-hati," ucap Alena saat membantu Nathan pindah ke kursi roda. "Sebenarnya saya masih kuat berjalan sendiri," protes Nathan pelan. "Bisa sih Pak," jawab Alena santai sambil membenarkan posisi duduknya. "Tapi kata dokter kan Bapak harus istirahat dan jangan banyak bergerak dulu." Nathan akhirnya tidak berani menolak lagi. "Terima kasih ya," ucap Alena kepada petugas itu. "Sama-sama, Nona Alena," jawab petugas itu dengan nada sangat hormat, seolah ia sudah sangat lama mengenal Alena. Hal itu semakin membuat Nathan penasaran. Mereka masuk ke dalam lift pribadi yang luas, dan tak lama kemudian pintu lift terbuka di lantai tertinggi. Koridor yang hening dan mewah langsung menyambut mereka. Alena mengarahkan kursi roda ke salah satu pintu, lalu menempelkan jarinya di sensor sidik jari. Bip... Klik. Pintu terbuka perlahan. Nathan langsung terpaku di tempat. Ruangan di dalamnya sangat luas, dengan desain interior modern yang elegan, tertata rapi dan sangat bersih. Dari jendela kaca besar di ruang tengah, pemandangan seluruh kota terlihat sangat jelas dari ketinggian. Nathan perlahan menoleh ke arah Alena. "Bukannya tadi kamu bilang rumahmu itu sederhana?" Alena tersenyum kecil. "Iya benar, Pak." Nathan mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Ini kamu sebut sederhana?" "Iya," jawab Alena tenang. "Kalau dibandingkan dengan rumah keluarga Bapak yang saya tahu, menurut saya tempat ini masih terasa sangat sederhana sekali." Nathan terdiam mendengar jawaban itu. Secara logika memang benar, kediaman keluarganya jauh lebih besar dan megah dari ini. Namun tetap saja, apartemen ini bukanlah tempat tinggal yang biasa dimiliki oleh pegawai toko pada umumnya. Alena tersenyum hangat sambil mendorong kursi roda masuk ke dalam. "Sekali lagi, selamat datang di tempat saya, Pak." Nathan hanya mengangguk pelan. "Terima kasih banyak, Alena." Alena langsung mendorongnya menuju sebuah kamar tamu yang luas. Begitu pintu dibuka, Nathan melihat kamar itu sudah disiapkan dengan sangat rapi. Seprai berwarna putih terlihat baru dipasang, handuk bersih terlipat rapi di atas meja, dan perlengkapan mandi masih tersegel sempurna. "Ini kamar untuk Bapak ya," kata Alena. "Semua perlengkapan di sini baru dan kondisinya masih steril, Pak." Nathan melihat sekeliling ruangan. "Kamu menyiapkan semua ini khusus untuk saya?" "Iya," akui Alena. "Tadi malam saya minta petugas kebersihan mengganti semuanya dengan yang baru." Nathan menatap wajah Alena lekat-lekat. Ia benar-benar semakin tidak mengerti siapa gadis yang telah menolongnya ini. Alena mengambil segelas air putih lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Pak..." "Hm?" "Ponsel Bapak, kondisinya masih selamat?" Nathan merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan ponselnya. "Layar kaca belakangnya retak sedikit." "Masih bisa menyala dan dipakai?" Nathan menekan tombol daya. Untungnya layar menyala normal. "Bisa." Alena menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu." Suasana hening sejenak. Nathan menatap Alena dengan wajah yang tiba-tiba berubah serius. "Alena." "Iya, Pak?" "Ada satu hal penting yang ingin saya minta tolong kepadamu." "Silakan, Pak, katakan saja." "Tolong rahasiakan keberadaan saya di sini untuk sementara waktu. Jangan sampai ada satu pun orang yang tahu kalau saya sedang tinggal di apartemen ini," ucap Nathan dengan nada berat. "Baik, Pak," jawab Alena tenang. "Kalau perlu..." Nathan berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tegas. "Semua rekaman CCTV di lobi, lift, atau mana pun yang memperlihatkan saya masuk ke gedung ini, tolong minta dihapus semua." Alena tidak langsung bertanya, tidak terlihat kaget, dan tidak terlihat penasaran dengan alasan di balik permintaan itu. Ia hanya mengangguk pelan. "Baik, Pak, akan saya urus." Justru Nathan yang kini tampak bingung. "Kamu... kamu tidak ingin bertanya kenapa saya melakukan ini semua?" Alena tersenyum tipis. "Kalau Bapak belum menceritakan alasannya sekarang, berarti memang belum saatnya saya tahu. Saya percaya Bapak punya alasan yang kuat." Nathan menatapnya cukup lama. Jawaban itu terdengar sangat sederhana, tapi entah kenapa terasa begitu menenangkan. Selama ini orang-orang di sekelilingnya selalu ingin tahu segala urusan pribadinya, selalu bertanya ini-itu, bahkan sering ikut campur tanpa diminta. Tapi Alena... gadis ini hanya menjawab singkat, "Baik, Pak", lalu memilih untuk menjaga kepercayaan itu tanpa syarat apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD