Cahaya matahari masuk perlahan dari balik jendela kamar VIP rumah sakit. Suasana sangat tenang. Hanya suara dengung AC dan bunyi pelan dari alat pemantau pasien yang terdengar mengisi ruangan itu.
Nathan mengerutkan kening. Kepalanya terasa berat sekali, seolah tertimpa sesuatu yang besar. Perlahan namun pasti, matanya mulai terbuka. Pandangannya masih agak kabur di awal. Yang terlihat hanyalah langit-langit berwarna putih, bau khas obat-obatan yang menyengat, dan selang infus yang menancap di tangannya.
Rumah sakit...
Ingatan Nathan langsung berputar cepat kembali ke kejadian kemarin sore: rem mobil yang tiba-tiba blong, hantaman keras ke trotoar, lalu kegelapan total. Tangannya bergerak pelan menyentuh perban tebal yang melilit di kepalanya.
"Akh..." erangnya tertahan. Rasa sakit itu masih terasa nyata.
Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar dari sudut ruangan.
"Akhirnya bangun juga, Pak."
Nathan segera menoleh ke arah sumber suara. Di dekat jendela, Alena sedang duduk santai. Di meja kecil di depannya terhidang satu piring pecal lengkap dengan tempe goreng, bakwan, dan segelas teh hangat yang masih beruap.
Nathan hanya diam terpaku selama beberapa detik, menatap gadis itu tak percaya.
Alena mengangkat tangan sedikit memberi salam. "Pagi, Pak."
Nathan masih menatapnya lekat-lekat dengan tatapan bingung. "Kamu...?"
"Iya, saya," jawab Alena santai. Ia mengambil satu buah bakwan. "Kaget ya melihat saya ada di sini?"
Nathan mengerutkan kening makin dalam. "Kamu ngapain ada di sini?"
Alena malah tidak langsung menjawab, ia justru menggigit bakwan itu dengan tenang. "Kemarin sore saya yang menemukan Bapak tergeletak tak sadarkan diri di dalam mobil pasca kecelakaan, Pak. Ingat nggak? Waktu itu hujan deras sekali."
Nathan terdiam sejenak berusaha mengingat-ingat. Ia memperhatikan wajah gadis itu. Masih sama seperti yang biasa ia lihat: penampilan sederhana, tidak ada riasan tebal, tidak memakai pakaian mahal, namun entah mengapa... selalu terlihat enak dan nyaman untuk dipandang.
"Syukurlah kalau Bapak sudah sadar," ucap Alena sambil tersenyum tipis.
Nathan menatapnya cukup lama, lalu bertanya dengan nada pelan namun serius. "Kenapa kamu menyelamatkan saya?"
Alena yang sedang menyesap teh hangat langsung berhenti bergerak. "Hah?"
"Kenapa kamu menolong saya?" ulang Nathan sekali lagi dengan pandangan yang tak beralih sedikit pun.
Di dalam hati, Alena langsung mengomel kesal: Dasar aneh... bukannya bilang terima kasih dulu malah bertanya begitu. Dasar CEO yang pikirannya rumit.
Nathan masih menunggu jawaban dengan sabar.
Alena akhirnya menghela napas panjang. "Karena Bapak itu manusia, Pak. Bukan pohon atau batu."
Suasana hening sejenak. Nathan diam saja.
Alena melanjutkan ucapannya dengan nada datar. "Kalau saya melihat orang lain mengalami kecelakaan atau kesulitan di jalan, pasti saya akan bantu kok. Siapa saja itu orangnya."
Melihat Nathan masih diam dan belum berbicara apa-apa, Alena menunjuk gelas air putih yang ada di dekat tangan pria itu. "Ini, Pak. Minum dulu biar tenggorokannya tidak kering."
Nathan sedikit mengangkat alisnya.
"Minum saja, Pak," ulang Alena lembut.
Nathan pun menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Terima kasih," ucapnya pelan.
Alena langsung sedikit melototkan matanya. "Nah, gitu dong. Baru benar kalau begitu."
Nathan hampir saja tersenyum mendengar reaksi polos itu, namun ia berusaha menahannya mati-matian. Ia meminum air itu perlahan-lahan. Luka lebam dan bekas benturan di wajahnya masih terlihat jelas. Biasanya pria ini selalu tampil sempurna, rapi, dan berwibawa. Sekarang justru terlihat berantakan dan rapuh.
Alena memperhatikan wajah itu sekilas. "Masih terasa sakit sekali ya, Pak?"
"Sedikit saja," jawab Nathan singkat.
"Bilangnya sedikit, tapi mukanya menyeringai begitu tuh," celetuk Alena.
Nathan menghela napas berat. "Kepala rasanya seperti baru saja ditabrak truk besar."
Alena tertawa kecil. "Ya memang benar Bapak baru saja mengalami kecelakaan tabrakan, Pak."
Nathan menatap gadis itu sekilas. "Urusan di rumah sakit ini... yang mengurusnya kamu?"
"Hm, iya benar," jawab Alena santai sambil mengangguk.
"Biaya perawatan dan kamarnya?"
"Sudah selesai semua, Pak."
Nathan terdiam sejenak. "Sudah dibayar lunas?"
"Sudah, Pak."
Nathan mengerutkan kening makin bingung. "Kamu yang membayarnya?"
"Iya, saya yang bayar dulu."
Nathan makin merasa heran. Gadis ini benar-benar aneh. Kemarin saja ia masih terlihat sibuk bekerja di kantor kecil, naik motor, dan terlihat hidup sederhana. Tapi hari ini bisa dengan mudah membayar biaya rawat inap lengkap dengan kamar VIP yang harganya pasti mahal sekali.
Alena buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Nanti kalau Bapak sudah sehat dan pulang, tinggal ganti saja uangnya ke saya. Nggak usah khawatir."
Nathan masih menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Benar-benar aneh dan sulit dimengerti.
Tiba-tiba Nathan berbicara dengan nada rendah namun tegas. "Tolong rahasiakan kejadian kecelakaan saya ini dari siapa pun."
"Hah?"
Nathan membuang pandangannya ke arah jendela kaca. "Dan tolong bersikaplah seolah-olah saya sudah meninggal dunia."
Alena hampir tersedak teh yang baru saja diminumnya. "PAK?! Bapak bicara apa sih?!"
Nathan tetap tenang dan datar. "Saya bicara serius, Alena."
"Masak sih? Mana ada orang yang minta dikabarkan sudah meninggal padahal masih hidup begini?"
Nathan menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. "Kalau pihak kantor atau orang-orang di luar sana tahu saya ada di sini... pasti semuanya akan berdatangan."
"Terus memangnya kenapa kalau mereka datang?"
"Bukan cuma satu dua orang. Seluruh jajaran pimpinan, staf, rekan bisnis, dan kerabat akan datang berbondong-bondong. Ribet dan melelahkan sekali," jelas Nathan.
Alena mengangguk kecil. Masuk akal juga. Dia sadar betul siapa Nathan sebenarnya: seorang CEO besar dan terpandang. Kalau sampai tersebar berita dia dirawat di sini, pasti akan ramai sekali.
"Saya butuh ketenangan dan waktu istirahat yang tenang beberapa hari ini saja," lanjut Nathan.
Alena menghela napas pasrah. "Baiklah, Pak. Saya janji akan diam saja dan tidak memberi tahu siapa pun."
Nathan menatapnya tajam. "Kamu setuju begitu saja? Langsung percaya begitu saja?"
Alena mengangkat kedua bahunya santai. "Karena Bapak sedang sakit dan butuh istirahat yang tenang, Pak. Saya mengerti kok."
Nathan terdiam. Jawaban yang begitu sederhana itu, namun entah mengapa rasanya membuat dadanya terasa hangat dan sedikit terenyuh.
Alena berdiri perlahan dari kursinya. "Kalau begitu rencananya nanti setelah Bapak pulih sedikit, Bapak mau langsung pulang ke rumah atau kantor?"
Nathan terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak."
"Hah? Maksudnya bagaimana?" Alena langsung bingung setengah mati.
Nathan kembali menatap langit-langit ruangan. "Kalau saya pulang ke rumah atau kantor, pasti mereka akan langsung mencari dan menemukan saya dengan cepat."
"Ya memang benar begitu, Pak..."
Nathan memotong pembicaraan itu. "Saya belum mau ditemukan oleh siapa pun untuk sementara waktu ini."
Alena makin bingung tak mengerti arah pembicaraan ini. "Terus... Bapak mau ke mana?"
Nathan terdiam beberapa detik, seolah sedang memantapkan hati. Lalu dengan suara yang rendah namun sangat serius, ia mengucapkan:
"Alena... bolehkah saya menumpang tinggal di rumahmu untuk sementara waktu?"
"Hah?!!" Alena terkejut luar biasa sampai hampir melompat dari tempatnya berdiri.
Wajah Nathan terlihat sangat serius, sama sekali tidak bercanda. "Saya tidak sedang bercanda, Alena."
Alena sampai menepuk jidatnya sendiri karena kaget. "Pak... masa sih? Bapak itu CEO besar, kok malah mau numpang di rumah pegawai biasa yang kerja di toko daring seperti saya? Itu kan tidak masuk akal sama sekali."
"Sekarang ada kejadiannya," jawab Nathan santai tanpa beban.
Alena menatapnya tak percaya. "Bapak benar-benar serius dengan permintaan itu?"
"Sangat serius," jawab Nathan tegas.
"Tapi kan..."
Nathan memotong lagi. "Akan jauh lebih baik kalau kita segera keluar dari rumah sakit ini. Daripada harus berhari-hari di sini yang justru semakin memudahkan orang-orang untuk melacak dan menemukan keberadaan saya."
Alena terdiam mendengar alasan itu. Benar juga kata Nathan. Rumah sakit besar begini pasti akan mudah dilacak. Tapi... tetap saja rasanya aneh sekali. Membawa bos besar yang galak dan kaku ke rumahnya? Rasanya seperti awal mula datangnya masalah besar yang tak berkesudahan.
Nathan menatapnya menunggu jawaban. "Bagaimana keputusanmu?"
Alena memejamkan matanya sejenak, berusaha menenangkan diri dan berpikir jernih. Lalu ia menghela napas panjang dan berat.
"Ya sudah... Pak..."
Nathan menunggu dengan pandangan berharap.
"Bapak boleh ikut dan tinggal di rumah saya untuk sementara waktu," jawab Alena pasrah.
Seketika itu juga, sorot mata Nathan berubah. Untuk pertama kalinya sejak sadar dari pingsan, wajahnya terlihat sedikit lebih lega dan tenang.
Alena menunjuk dirinya sendiri sambil memperingatkan. "Tapi ingat ya, Pak... jangan sampai menyesal nanti."
Nathan sedikit mengangkat alisnya. "Kenapa harus menyesal?"
"Karena rumah saya itu sederhana sekali, jauh dari mewah, dan tidak seindah tempat tinggal Bapak," jelas Alena. Di dalam hati ia tertawa kecil: Padahal yang saya maksud rumah itu adalah apartemen mewah saya, tapi biarlah Bapak Nathan tidak tahu dulu.
"Tidak masalah bagi saya," jawab Nathan singkat.
Alena akhirnya mengangguk mantap. "Baiklah kalau begitu. Saya akan urus segala administrasi kepulangan Bapak sekarang juga."
Nathan hanya diam, menatap punggung gadis itu yang berjalan keluar ruangan. Entah mengapa... untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup sendiri dan sendirian, hatinya merasakan sesuatu yang berbeda. Ia merasa tidak lagi sendirian. Sebuah perasaan yang sangat asing dan baru baginya. Namun anehnya... Nathan sama sekali tidak merasa benci atau terganggu dengan perasaan itu.