Pukul empat sore.
Langit mulai mendung.
Nathan baru saja menyelesaikan rapat panjang di kantornya. Di ruang kerja CEO yang luas itu, sang sekretaris berdiri sambil membawa tablet.
"Pak Nathan."
"Hm."
"Direktur perusahaan Arta Textile meminta pertemuan hari ini."
Nathan masih fokus membaca dokumen di tangannya.
"Besok saja."
"Beliau bilang urgen, Pak."
Nathan menghela napas panjang. Rasanya lelah sekali. Seharian ini dia bekerja tanpa henti.
"Jam berapa?"
"Jam lima sore."
Nathan menutup map dokumen itu perlahan.
"Baik, saya akan datang."
"Apakah saya panggilkan supir?"
"Tidak usah."
Sekretaris langsung mengangkat kepala, sedikit terkejut.
"Pak?"
"Saya bawa mobil sendiri."
"Tapi Pak, cuaca di luar sedang buruk sekali."
Nathan berdiri, mengambil kunci mobil yang ada di meja.
"Saya bisa menyetir sendiri."
"Tapi Pak—"
Nathan melirik sekilas. Seketika sekretaris terdiam dan berhenti bicara.
"Baik, Pak."
Nathan pun berjalan keluar ruangan.
Di sisi lain kota, tepatnya di tempat kerja Alena—Lunaria Wear—suasana tetap sibuk dan kacau seperti biasa.
Yola sedang berbicara dengan nada tinggi kepada petugas kurir yang datang. Eka sibuk berkemas barang pesanan. Sedangkan Alena baru saja kembali setelah mengantar beberapa pesanan menggunakan motor operasional kantor.
Rico keluar dari ruangan belakang sambil membawa daftar pesanan.
"Len."
"Hm?" jawab Alena singkat sambil meletakkan barang bawaan.
"Ini ada tiga paket lagi yang harus dikirim."
Alena menerima paket itu dengan sigap.
"Siap, Pak."
"Capek?" tanya Rico memperhatikan wajah gadis itu yang tampak lelah.
"Sedikit saja."
"Katanya sedikit tapi mukanya sudah pucat begitu."
Alena tertawa kecil.
"Masih kuat kok, Pak."
Rico mengangguk mengerti.
"Nanti kalau hujan sudah turun deras, langsung pulang saja ya. Sisa pengiriman bisa ditunda besok."
"Siap, Pak."
Alena mengenakan jas hujan tipis yang tersimpan di jok motor, lalu kembali melaju membelah jalanan kota.
Di sisi kota yang lain, Nathan sedang menyetir sendiri. Tangannya memegang setir dengan tegas, pandangan matanya lurus ke depan. Namun pikirannya... sama sekali tidak fokus ke jalan. Entah kenapa, di tengah kesibukan dan kepenatan pikirannya, dia malah terus-terusan teringat pada Alena.
Cewek aneh... batinnya. Selalu sibuk naik motor, bekerja keras sampai lupa waktu, diam-diam menyumbangkan bantuan ke panti asuhan, dan entah bagaimana caranya selalu berhasil membuat saya merasa bersalah.
Nathan mendecakkan lidah kesal sendiri.
"Kenapa sih gue terus-terusan mikirin dia..."
Tiba-tiba—
BRAKKK!
Badan mobil terasa sedikit menghentak.
Nathan langsung mengernyitkan dahi.
"Apa lagi ini?"
Ia segera menginjak rem. Tapi tidak ada respon apa-apa.
Wajah Nathan langsung menegang.
"Remnya kenapa?!"
Ia mencoba menginjaknya lagi, lebih kuat. Tetap tidak berfungsi. Mobil malah terus melaju makin cepat.
Jantung Nathan langsung berdegup kencang dan keras.
"Brengsek..." geramnya tertahan.
Ia memutar setir sekuat tenaga, berusaha mengendalikan arah kendaraan. Menginjak rem berkali-kali. Tetap gagal sama sekali. Mobil mulai bergerak tak terkendali.
Jalanan di sekitar itu mulai sepi. Langit semakin gelap dan suram. Nathan berusaha sekuat tenaga menurunkan kecepatan, namun sudah terlambat.
BRAAAAAAKKKK!!
Mobil menghantam keras ke tepi trotoar. Kaca jendela pecah berantakan. Kantung udara keluar dengan cepat. Kepala Nathan membentur keras kemudi. Darah segar langsung mengalir turun dari pelipisnya. Pandangannya menjadi kabur sekali, semakin lama semakin gelap. Dan beberapa detik kemudian... kesadaran itu hilang sepenuhnya.
Langit akhirnya pecah. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi seluruh jalanan. Tempat itu sepi sekali. Tidak ada kendaraan yang lewat, tidak ada orang yang terlihat. Mobil Nathan terhenti diam dalam kondisi rusak parah di pinggir jalan. Dan pemiliknya... terbaring tak sadarkan diri di dalamnya.
Lima belas menit berlalu.
Motor Alena melaju pelan karena hujan sudah turun sangat deras.
"Ya ampun, makin lebat saja..." gumamnya pelan.
Ia memperlambat laju kendaraannya. Tiba-tiba pandangannya menangkap sesuatu yang mencurigakan di pinggir jalan—sebuah mobil hitam yang menabrak keras ke trotoar.
"Kecelakaan?!"
Alena langsung mengerem dan berhenti di sisi jalan. Diparkirkan motornya dengan cepat, lalu ia turun. Air hujan langsung membasahi sebagian besar tubuhnya.
"Ya Allah..."
Ia berlari mendekati mobil itu. Begitu melihat wajah pengemudi di balik kaca yang pecah, ia langsung tertegun dan membeku di tempat.
"Nathan?!"
Pria itu sama sekali tidak bergerak. Ada darah yang terlihat mengering di pelipisnya. Wajahnya pucat pasi.
Alena langsung panik luar biasa. Ia mengetuk kaca mobil.
"Pak!"
Tidak ada jawaban.
"Pak Nathan!"
Tetap diam dan tak bergerak.
Tangannya gemetar hebat saat mengambil ponsel dari saku baju. Langsung menekan nomor darurat ambulans.
"Halo! Tolong kirim ambulans segera!"
"Ambulans darurat, silakan bicara."
"Ada kecelakaan parah di sini!"
"Di lokasi mana, Bu?"
Alena buru-buru menjelaskan alamat dan tempat kejadian sejelas mungkin.
"Korban tidak sadarkan diri, ada luka di kepala!"
"Baik, tim kami segera berangkat ke lokasi."
"Tolong cepat sekali datangnya ya!"
Telepon ditutup. Alena kembali mendekat ke arah mobil. Hujan makin turun deras sekali, membasahi segalanya.
"Pak..." bisiknya pelan.
Jujur saja, Alena sering sekali kesal, marah, dan tidak suka dengan sikap dingin serta sombong pria itu. Tapi melihat kondisi Nathan yang terbaring lemah dan berdarah begini... hatinya tetap terasa tidak tenang dan tidak tega.
"Ayo bangun, Pak... jangan diam saja begini..."
Nathan tetap diam tak merespon.
Tak lama kemudian, suara sirene terdengar mendekat. Ambulans akhirnya datang. Petugas medis turun dengan cepat.
"Korban di mana?"
"Di sini! Di mobil ini!" tunjuk Alena.
Nathan segera diperiksa dengan cepat.
"Tekanan darah turun drastis."
"Segera angkat ke tandu!"
Brankar dikeluarkan. Nathan dipindahkan dan dibawa masuk ke dalam ambulans. Salah satu petugas menoleh ke Alena yang berdiri basah kuyup di sana.
"Apakah Anda keluarga pasien?"
"Hah? Eh..."
"Apakah Anda mau ikut ke rumah sakit?"
Tanpa berpikir panjang, Alena langsung mengangguk refleks.
"Iya... saya ikut."
Padahal sebenarnya dia bukan siapa-siapanya. Tapi masa dia harus meninggalkan pria itu sendirian di sini? Akhirnya Alena ikut masuk ke dalam ambulans.
Di rumah sakit, suasana langsung sibuk dan padat. Nathan segera dibawa masuk ke ruang tindakan gawat darurat. Alena berdiri menunggu di depan pintu ruangan itu dengan kondisi tubuh yang masih basah kuyup keringat dan air hujan.
Seorang perawat mendekat.
"Keluarga pasien?"
Alena terdiam sejenak, bingung menjawab.
"Eee... iya, saya yang menemani."
"Baik, administrasi pendaftaran dan deposit harus segera diselesaikan, Bu."
Alena melirik sekilas ke arah pintu ruang tindakan yang masih tertutup rapat. Lalu menghela napas panjang.
"Baik, saya urus sekarang."
Ia menerima kartu pendaftaran dari perawat itu. Saat melihat jumlah nominal deposit yang tertulis di sana, mata perawat itu sedikit membelalak terkejut.
"Baik, Nona. Terima kasih."
Alena hanya tersenyum tipis.
"Yang penting pasien segera ditangani dengan baik, itu saja."
Satu jam berlalu menunggu dengan cemas. Akhirnya dokter keluar dari ruangan itu.
"Pasien selamat, kondisinya mulai stabil."
Alena langsung merasa lega luar biasa, dadanya terasa plong.
"Syukurlah... terima kasih, Dokter."
"Namun ada benturan cukup keras di kepala. Kami sudah menangani dan menjahit lukanya."
"Kapan kira-kira beliau sadar kembali?"
"Bisa saja malam ini, atau mungkin baru besok pagi."
Alena mengangguk paham. Dokter pun pergi.
Tak lama kemudian perawat datang kembali.
"Pasien akan segera dipindahkan ke kamar rawat VIP."
Alena hanya mengangguk kecil. Ia tahu betul, kamar itu yang paling baik dan termahal di rumah sakit ini—pilihan yang ia tentukan sendiri tadi saat mengurus administrasi.
Tak lama setelah itu, Alena baru sadar betapa berantakan dan basahnya dirinya sendiri. Rambut lepek, baju lengket, sepatu penuh air lumpur. Untungnya tadi ia menyimpan satu setel baju cadangan di dalam tas yang ada di jok motor. Ia segera masuk ke kamar mandi yang tersedia di ruang tunggu, berganti pakaian menjadi pakaian yang jauh lebih nyaman: sebuah sweater longgar dan celana kain panjang berwarna gelap.
Ketika ia kembali keluar dan masuk ke kamar rawat VIP, Nathan masih terbaring tertidur pulas. Wajahnya kini terlihat lebih tenang, meski ada perban putih yang melilit di bagian kepalanya.
Alena menarik kursi, lalu duduk di sisi ranjang pasien. Menghela napas panjang yang berat.
"Hari ini... aneh banget kejadiannya," gumamnya pelan sendirian.
Tiba-tiba perutnya berbunyi keras.
Kruuk...
Alena langsung menepuk pelan perutnya sendiri sambil tersenyum malu.
"Iya iya, aku tahu... lapar banget ternyata."
Beberapa menit kemudian, pesanan makanan yang dipesannya datang. Nasi ayam geprek lengkap dengan sambal dan es teh manis. Alena langsung memakannya dengan lahap karena memang sudah sangat lapar seharian bekerja.
"Mmm... enak banget rasanya..." gumamnya di sela-sela kunyahan. Ia menunjuk ke arah Nathan dengan sendoknya.
"Pak Nathan rugi banget nih... gepreknya enak sekali lho."
Suasana hening sejenak.
"Tapi sayang sekali Bapak pingsan, jadi nggak bisa makan," tambahnya lagi sambil tertawa kecil sendiri.
Setelah merasa kenyang, ia bersandar santai di kursi. Matanya menatap wajah pria yang sedang tidur itu. Saat tidur begini, wajah CEO yang dingin itu terlihat sangat berbeda. Tidak galak, tidak dingin, tidak menyebalkan sama sekali. Malah terlihat sangat lelah... sangat sekali lelahnya.
Tanpa sadar Alena bergumam sangat pelan, hampir berbisik:
"Cepat sembuh ya, Pak..."
Suasana kamar itu hening sekali. Hanya terdengar suara dengung halus dari pendingin ruangan. Alena melirik jam dinding. Sudah sangat larut malam. Tubuhnya terasa berat sekali. Hari ini ia bekerja seharian, mengantar pesanan, kehujanan, mengurus kecelakaan, mengurus rumah sakit, dan sekarang harus menjaga pasien sendirian. Matanya mulai berat dan sulit untuk tetap terbuka.
"Cuma istirahat sebentar saja... lima menit saja..." bisiknya pelan.
Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di kamar VIP itu. Awalnya hanya berniat istirahat sebentar. Tapi lima menit itu berubah menjadi tidur yang nyenyak dan lelap. Alena pun tertidur pulas di sana.
Di atas ranjang rumah sakit itu, Nathan masih belum sadarkan diri. Namun perlahan... jari-jari tangannya bergerak sedikit sekali. Sebuah tanda yang jelas, bahwa sebentar lagi... dia akan bangun dan menemukan seseorang yang paling tidak ia duga, sedang tertidur lelap di sampingnya.