bc

Hug Me, My Sweetie

book_age16+
5
FOLLOW
1K
READ
sex
boss
drama
sweet
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Percintaan antara Reno dan Rayna tidak mendapat restu dari orangtua. Selain itu, Reno pun sudah bertunangan dengan Clara dan Rayna adalah gadis miskin dan yatim piatu.

Terkuak rahasia tentang jati diri Rayna yang diungkap oleh Alex, kakak kandung Clara yang juga mencintainya.

Setelah mengetahui semua tentang jati diri Rayna, orangtua Reno menyesal telah menghalangi cinta mereka. Namun faktanya Reno telah menikah dengan Clara.

Rayna yang mengandung anak Reno, menolak menikah dengan Alex. Ia harus berjuang sendirian merawat bayinya. Ternyata orangtua Reno menginginkan bayi Rayna. Bagaimana nasib Rayna?

chap-preview
Free preview
Pertemuan Tak Terduga
Dua ekor burung dara terbang bebas di depan rumah seorang gadis berambut panjang dan lurus. Gadis itu asyik mengamati gerak gerik dua burung yang tengah bercengkerama layaknya dua manusia yang sedang pacaran. “Rayna!” Gadis bernama Rayna itu menoleh pelan ke arah sumber suara. Rupanya sang Ibu telah berdiri di depan pintu, tak jauh dari tempatnya berdiri. “Ya, Ibu,” jawab Rayna sopan dan pelan. “Sarapan dulu, Nak. Ibu sudah buatkan nasi goreng Jawa kesukaanmu. Supaya kamu semangat mencari kerja.” Wanita paruh baya itu selalu pengertian terhadap putri tunggalnya. Ya, kasih sayang Bu Lastri – ibu Rayna – telah mampu membuat anak perempuan semata wayang itu menjadi gadis super baik, cantik, dan lemah lembut. Rayna tersenyum. “Baiklah, kita sarapan bersama-sama ya, Bu.” ..... Selesai sarapan, Rayna kembali ke kamarnya. Mengambil berkas dan CV yang akan ia berikan pada perusahaan yang dia lamar. Kriiiing! Ponselnya berbunyi. Mengagetkan sang empunya yang tengah fokus memeriksa kembali berkas dan CV miliknya. Klik! “Ya, halo...” “Na, kamu di mana, sih? Katanya kita mau melamar di perusahaan Reygold Corp.” Suara lantang seorang teman yang ada di ujung telepon membuat Rayna harus menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga. “I, iya. Aku baru aja selesai sarapan. Sebentar lagi berangkat. Kamu di mana, Sof?” tanya Rayna balik, seraya memasukkan kembali berkas-berkasnya ke dalam map berwarna coklat. “Aku tunggu di restoran Jepang dekat kantor perusahaan itu, ya? Jangan lama-lama, Na!” “Baiklah, baiklah... Aku usahakan cepet, ya.” ..... Rayna hanya membutuhkan waktu sepuluh menit perjalanan menggunakan ojek online untuk sampai di kantor perusahaan asing Reygold Corp. Letaknya memang bukan di tengah kota, maka dari itu jarak dengan rumah kecilnya hanya sekitar 15 kilometer. Sesampainya di depan kantor itu, Rayna tidak langsung masuk ke dalam. Ia dan Sofi sudah janjian ketemu di restoran Jepang, sebelah kantor itu. Ya, Rayna saat ini masih sibuk mencari pekerjaan demi mencukupi kebutuhan dirinya dan ibunya. Ke sana kemari, dari pagi sampai sore, tak ada lowongan sama sekali. “Aku tidak boleh putus asa.” Rayna mengusap peluh di keningnya. Ada satu perusahaan yang belum ia datangi. “Tinggal perusahaan besar ini yang belum aku datangi.” Keraguan sempat menghampiri gadis berbalut setelan celana panjang dan blazer dengan warna senada. Rayna celingukan kanan-kiri. Kenapa dia sama sekali tidak melihat Sofi dari tadi. Tuuut! Tuuut! Rayna menghubungi Sofi, berharap gadis menyebalkan itu segera menjawab teleponnya. “Di mana kamu, Sofi?” lirih Rayna yang mulai bosan menunggu Sofi di pinggir jalan. Dia tidak mungkin masuk ke restoran hanya untuk menemui Sofi. Jadi, Ryana memutuskan menunggu Sofi di pinggir jalan, diantara kantor perusahaan itu dengan restoran Jepang. “Kau di mana, Rayna?” Terdengsr suara Sofi di ujung telepon. Tak menjawab, Rayna justru mengelus dada, lega. Akhirnya Sofi menjawab teleponnya. “Aku di pinggir jalan, di depan restoran. Keluarlah, cepat!” “Baiklah,” jawab Sofi singkat. Hanya perlu menunggu dua menit, Rayna dapat melihat sosok teman yang ia tunggu-tunggu. Sofi, gadis sebaya yang selalu baik pada Rayna dan tidak pernah mengeluh sedikit pun saat berteman dengan Rayna, kini ia mengenakan rok selutut warna hitam, kemeja putih dan blazer warna hitam dengan model simpel. Sofi melongo melihat penampilan Rayna yang mengenakan setelan kerja dengan warna yang sama, warna hitam. “Kenapa kamu memakai setelan warna hitam?” tanya Rayna rada kesal. “Hei, aku duluan yang memakai setelan ini. Aku menunggumu datang, kan? Jadi, kamu yang ikut-ikutan. Oh my God, Rayna!” Sofi menepuk dahi pelan. “Kalau memakai pakaian dengan warna sama, kita terlihat seperti anak sekolah. Pakai seragam, cuma bedanya aku pakai celana dan kamu pakai rok.” Rayna merasa ciut melihat pakaian mereka berdua yang samaan. “Terus bagaimana? Pulang ganti baju? Ih, itu tidak akan terjadi. Hari makin siang. Takutnya lowongan ditutup hari ini, kan?” Rayna terdiam. Apapun yang dikatakan oleh Sofi memang benar. Jika salah satu dari mereka harus pulang ganti pakaian akan memakan waktu lama. Lowongannya juga segera ditutup. “Ya sudah, kita masuk saja. Toh, kita hanya mengumpulkan berkas ini, kan? Tidak akan banyak yang melihat kita.” Kepercayaan diri Rayna kembali. Ia berjalan memasuki halaman kantor perusahaan asing Reygold Corp. dengan semangat. Dua orang gadis yang berasal dari keluarga sederhana berjalan pelan menyusuri lobi kantor dan berhenti di depan meja resepsionis. “Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis ramah. Rayna memandang Sofi. Ia ragu untuk mengajukan berkas lamarannya di perusahaan besar itu. “Ayo,” lirih Sofi, memberi isyarat pada Rayna untuk menjawab pertanyaan resepsionis wanita yang tanpak ramah itu. “I, iya. Mm... Begini. Kami ingin mengajukan berkas lamaran.” Rayna agak gugup. “Oh begitu. Baiklah. Berkasnya bisa kalian berikan kepada saya saja. Nanti akan saya serahkan pada atasan.” Rayna dan Sofi memberikan berkas mereka pada resepsionis yang memakai nametag Sarah. “Terimakasih,” ucap Rayna pelan. ..... Masih di dalam lobi kantor, Rayna dan Sofi berbincang sebentar. Rayna merasa tidak yakin kalau dirinya akan diterima bekerja di tempat itu. “Pak Reno!” Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki paruh baya memanggil nama seseorang. Laki-laki itu berjalan setengah lari agar dapat mengejar rombongan pimpinan perusahaan yang akan pergi keluar kantor untuk rapat eksternal dengan investor. Rayna dan Sofi menghentikan langkah mereka. Mengantisipasi jika nanti mereka tetap berjalan maka akan bertabrakan dengan laki-laki itu. Pandangan Rayna tertuju pada sosok pemuda tinggi dengan setelan jas dan celana panjang warna abu-abu, berjalan paling depan dengan langkah yang tergesa-gesa. “Astaga, bapak itu mengejar rombongan yang dipimpin seorang pemuda?” tanya Sofi lirih. “Seharusnya pemuda itu berhenti menunggu bapak itu, kan?” “Sst! Diam! Mungkin saja jabatan pemuda itu lebih tinggi. Jadi, dia merasa harus lebih dihormati. Mana ada pimpinan menunggu bawahan?” lirih Rayna setengah berbisik. Sofi mengangguk pelan. “Benar juga,” sahutnya lirih. Rayna masih melempar pandang ke arah pemuda yang kemungkinan besar adalah pimpinan perusahaan itu. Ia mengerutkan dahi, merasa pernah melihat pemuda itu sebelumnya. “Sepertinya aku pernah melihat orang itu. Tapi di mana, ya?” gumam Rayna. “Siapa?” tanya Sofi penasaran. “Pemuda itu.” Kini Rayna dapat melihat wajah pemuda itu dari samping. “Oh, iya. Aku ingat.” "Ingat apa?" tanya Sofi lagi. Rayna tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan memandang lekat pada pemuda yang berpenampilan paling menarik itu. ..... Bersambung

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Golden Lycans

read
44.3K
bc

My Biker Stepbrother, My Ruin

read
24.2K
bc

The Rejected Mate

read
1.9M
bc

Hate Should Be A Hockey Term

read
2.8K
bc

Winter's Mate: Fated on Ice

read
7.8K
bc

Made To Be Broken - The Boston Hawks Hockey Series

read
177.0K
bc

Varsity Bad Boy Series

read
225.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook