Aku hanya mengangguk, mengiakan saja apa yang dikatakan oleh Pak Parno itu. Sebenarnya, belum paham juga nanti ke kantor itu mau apa dan mengapa harus ke sana. Mulai kapan pun, diri ini belum tahu. Entah, mengapa keempat pria dewasa itu tampak bahagia. Bahagia melihat kebingunganku hari ini. "Oh, ya, Pak. Tadi aku diminta menghadap Pak Agus sama Bu Rista." Aku mengatakannya pada Pak Agus yang hari ini wajahnya sangat datar. "Ya, karena ada Pak Parno makanya saya titip pesan pada Bu Rista," jawab Pak Agus dengan nada sedikit ketus. Selalu saja ketus ketika mengatakan hal ini. "Oh, syukurlah. Jadi bukan karena Nana mengerjakan PR di sekolah 'kan?" Aku justru keceplosan mengatakan apa yang terjadi tadi sesaat sebelum datang ke kantor guru ini. Mulut ini selalu saja tidak bisa dikendalika

