Aku masih terdiam lama mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Fajar tentang Bimo. Benarkah? Atau diri ini yang memang kurang peka? Sampai Bimo menyukai Dewi pun tidak tahu. Mulut ini mengatup rapat, hingga membuat lupa tujuan membeli segelas es jeruk. "Na, udahlah. Biarin aja mereka. Ga usah diurusin, bikin capek pikiran," kata Fajar sambil menyendokkan suapan terakhir nasi miliknya. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan kantin. Ingin menuju ke kelas sayangnya malas. Kaki ini justru menuju ke arah perpustakaan. Sungguh di luar dugaan. Biasanya, tempat yang paling malas aku kunjungi adalah perpustakaan. Sebab, isinya adalah buku-buku yang harus dibaca semua. "Nana, tumben ke mari?" tanya salah satu petugas sambil tersenyum lebar. Mbak Tyas--petugas perpustakaan heran melihatku.

