7. Missed?

2532 Words
EMPRESS: 7. Missed? Lutut Vizena begitu lemas, ia seolah tak sanggup lagi berdiri. Matanya menatap kosong pada lantai berdebu, sedangkan tangisnya tertahan. Tangannya terkepal, dan hatinya bergejolak penuh emosi. Berita yang dia dengar setelah tiga bulan penantiannya membuat dunianya seolah terbalik dan runtuh. "Tuan Puteri," Ariah pun duduk berjongkok disamping Vizena, ia memeluk Vizena yang tampak linglung. "Semua itu pasti bohong kan Ariah?" Tanya Vizena dengan suara serak. Ariah tidak tahu harus menjawab apa. Dengan tiba-tiba Vizena bangkit, ia menjinjing rok gaunnya lalu berlari dengan kencang, Ariah segera menyusulnya. Air mata mulai keluar dari pelupuk mata Vizena, ia berusaha untuk tidak memerpacayai semua berita ketika mendengar kabar dari medan perang hari ini. Disaat Vizena tengah sibuk melatih kemampuannya memasak yang masih jauh dari kata lezat itu, seorang penjaga kepercayaan Vizena datang. Memberi kabar bahwa pasukan Narth sudah mundur dengan negosiasi, akan tetapi ada kabar buruk yang mengikuti kabar gembira itu. Putera Mahkota Luxorth menghilang ditengah medan perang. Terakhir kali seorang pasukan yang melihatnya mengatakan bahwa Putera Mahkota saat itu terluka begitu parah, setelah itu dia menghilang. Semua pasukan telah dikerahkan untuk mencari keberadaannya, tapi jejak Putera Mahkota seolah hilang ditelan bumi. Kabar tersebut bagaikan petir yang menyambar kepala Vizena di siang hari yang cerah dan berbunga saat itu. Ia tak bisa mempercayai bahwa kakaknya menghilang dengan kemungkinan tewas dalam peperangan. Selama perjalanan ke Istana, tangan Vizena gemetar dengan kuat. Airmata yang tumpah berusaha ia tahan sekuat mungkin supaya tidak jatuh malah berhamburan lebih deras dan membuatnya terisak. Dia harus mengonfirmasi berita itu pada ayahnya. Hanya dengan mendengar langsung dari ayahnya, ia bisa percaya kebenaran kabar tersebut. Setelah kereta kudanya berhenti, Vizena langsung turun. Langkahnya terseok tapi ia tak berhenti, ia terus berlari dengan kencang sembari menjinjing gaunnya, Vizena tak peduli lagi dengan penampilannya, bahkan orang-orang yang memperhatikannya sangat tidak dipedulikannya. Tujuannya adalah istana Kaisar tempat ayahnya tinggal. Nafas Vizena terengah-engah ketika ia telah sampai di depan gerbang istana Kaisar. Dua pengawal istana menatapnya dengan keheranan. "Tuan Puteri, Kaisar sedang tidak berada di kediamannya." Kata Seorang pengawal yang mendekati Vizena untuk membantunya. "Dimana, dimana ayahanda?" Tanyanya dengan nafas yang tersengal-sengal. Pengawal itu menatap temannya, "Maaf Tuan Puteri, kami tidak tahu dimana Yang Mulia Kaisar berada saat ini." Kata pengawal tersebut. Vizena menegakkan tubuhnya kemudian menghela nafasnya. Ia berfikir kemanakah ayahnya di saat seperti ini lalu berjalan pergi untuk mencari keberadaan ayahnya. Dalam benaknya hanya ada satu tempat yang akan dituju ayahnya disaat genting yang seperti ini. Aula Istana! Vizena mengambil langkah cepat lagi, ia berlari lebih kencang kali ini untuk pergi ke Aula istana. Setiba disana, Vizena dihadanh oleh beberapa pengawal. "Aku ingin bertemu ayahku!" Teriaknya. "Tuan Puteri, sedang berlangsung sidang darurat di dalam aula. Mohon Tuan Puteri menunggu." Kata seorang pengawal. Vizena mengalah, ia tahu jelas peraturan di Istana. Seorang puteri dilarang mengikuti atau hadir dalam persidangan istana. Pada akhirnya, Vizena mundur selangkah, kembali ia menghela nafasnya. Batinnya sama sekali tidak tenang, pikirannya begitu cemas membayangkan jika Leoxars menderita di tengah medan pertempuran. Sebuah ide tiba-tiba saja muncul dibenak Vizena. Bukan Puteri Vizena namanya jika ia tidak memiliki seribu cara. Ia teringat saat kecil ketika bermain dengan beberapa temannya dan sering bersembunyi disalah satu bagian Aula Istana. Ada sebuah pintu rahasia disamping Aula tersebut, yang langsung mengarahkannya kepada Aula Istana tanpa diketahui siapapun. Vizena kemudian berjalan pergi dari pintu depan Aula itu. Ia pergi kesamping Aula dan mencari letak pintunya. Dengan perasaan gusar ia terus mencari, dan berharap ia mendapatkan sesuatu. "Ketemu!" Serunya, menyadari suaranya begitu keras ia pun menoleh kekanan dan kekiri memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Setelah yakin bahwa tidak seorang pun melihat, Vizena kemudian membuka pintu rahasia tersebut. Dengan perlahan-lahan ia masuk, karena pintu tersebut terhubung dengan lorong sempit, tubuh Vizena yang tidak lagi anak-anak cukup kesulitan. Tapi, karena tubuhnya Vizena tidak besar maka ia cukup untuk memasuki lorong sempit tersebut. "Yang Mulia, posisi Putera Mahkota tidak bisa dibiarkan kosong!" Suara ini cukup dikenal oleh Vizena. Itu adalah Menteri pertahanan, Louth Meridiam, Ayah mertuanya. "Tuan Louth!" Hardik seorang pria tua dengan suara serak. Vizena sangat mengenalnya, ia adalah Theriaz, Kakeknya dari pihak Ibu sekaligus perdana menteri Luxorth. "Kita belum menemukan kepastian tentang keadaan Putera Mahkota, dan Kau bicara tentang penggantinya?" Terdengar sekali Theriaz sangat emosi. Bagaimana pun juga Leoxard adalah cucu lelakinya yang sebentar lagi akan menggantikan kaisar, tetapi sekarang malah menghilang di medan perang. "Perdana menteri seharusnya menyadari, banyak yang mengakatan bahwa Putera Mahkota terluka parah, kemungkinannya kecil dirinya masih selamat." Louth masih bersikeras. Jelas sekali dia ingin menguasai posisi putera mahkota yang sedang kosong. Akan tetapi, siapa? Kaisar Mouszac hanya memiliki satu putera sah, yaitu Loexard. Tidak mungkin jika Louth akan mengajukan Gard sebagai Putera mahkota. "Cukup! Hentikan semuanya!" suara Kaisar begitu keras dan menggelegar, hingga semut yang berjalan pun berhenti karena ketakutan. Semua pejabat pun langsung hening. "Aku sudah memerintahkan pasukan khusus untuk mencari keberadaan Putera Mahkota Leoxard, kita akan tunggu hasilnya." Akhirnya Vizena merasa lega mengetahui ayahnya tidak menyerah dengan keadaan yang terjadi. Seandainya saja, Kaisar mengungumkan kematian kakaknya, entah apa yang akan dilakukan oleh Vizena. ???? Feiry terlihat begitu senang ketika mendapatkan camilan yang diberikan oleh Zaviest padanya. Ia memakannya dengan lahap, sedangkan tuannya sedang membaca dokumen istana dengan sangat fokus. Terlaku fokus sampai tidak menyadari kedatangan Moscha dan Tarda. "Salam, Yang Mulia Raja," Moscha dan Tarda memberikan salam. Akan tetapi Zaviest masih fokus pada dokumen yang dia baca, bahkan semakin lama ia membaca keningnya semakin berkerut. Sang Raja larut dalam dokumen yang dia baca. "Yang Mulia, Pangeran Ketiga dan Pangeran Kelima memberi salam kepada Anda." Bisik Dranis, barulah Zaviest kembali pada kenyataan. Ia menutup dokumennya dan melihat kedua adiknya sedang berdiri dihadapannya. Alis Zaviest terangkat, kedatangan kedua adiknya itu pasti ada sesuatu. "Tidak perlu formalitas, duduklah." Ujar Zaviest. "Ini masih pagi, dan kalian sudah datang kemari, aku yakin bukan ingin menantangku dengan permainan kan?" Moscha dan Tarda sering mengganggu Zaviest untuk memainkan permainan. Banyak hal, mulai dari permainan papan catur atau pun kartu, dan Raja mereka selalu saja kalah dan akan kehilangan beberapa harta kecilnya. "Bisa jadi seperti itu," Ujar Moscha sembari tersenyum jenaka. Zaviest tahu, senyum itu memiliki sejuta makna. Sementara Tarda mencuri makanan Feiry dan membuat burung itu memberengut. "Jadi apa? Sebentar lagi persidangan pagi jadi kita mainkan setelah persidangan saja." Ujar Zaviest. "Bukan, bukan permainan yang seperti itu kakak!" Balas Moscha, "Tarda, jelaskan pada kakak!" Zaviest semakin heran. Tidak biasanya Moscha meminta orang lain untuk menjelaskan sesuatu padanya. "Sebentar lagi musim dingin, bagaimana jika kita mengadakan perburuan terbuka? Sudah lama kita tidak melakukannya, Yang Mulia." Jelas Tarda sembari memasukkan camilan untuk Feiry ke mulutnya. "Jika kau memakannya lalu apa yang akan dimakan oleh Feiry?!" Kata Zaviest yang membuat Tarda malu kemudian menyeringai kearahnya. "Minta pelayan buatkan camilan untuk Pangeran Ketiga, Dranis." "Lalu kakak, bagaimana tentang perburuannya?" Tanya Moscha. "Sebenarnya kenapa tiba-tiba sekali? Kita sudah tidak melaksanakannya hampir tiga tahun." Selidik Zaviest. Entah apa yang direncanakan oleh dua adiknya itu. Perburuan terbuka tidak dilaksanakan lagi atas perintah Ibu Suri. Karena saat perburuan itu, Raja kembali dengan terluka parah jadi mereka tidak mengadakan perburuan lagi. "Karena itu, ini adalah saatnya!" Seru Moscha. Tampak jelas ia yang paling antusias dalam perburuan ini. "Bagaimana?" Desak Moscha. "Akan kubicarakan dengan Ibunda," Ujar Zaviest. "Justru ini adalah permintaan Ibunda," Tarda tidak sengaja mengungkapkan sesuatu yang seharusnya dia tutupi. Moscha langsung menatapnya dengan tajam, dan Zaviest pun menyadari sesuatu. "Ibunda?" "Kakak jangan salah paham, Ibunda berniat baik." Ujar Tarda. Zaviest tahu itu dengan jelas, Ibundanya selalu memiliki berbagai macam cara untuk mencapai tujuannya. Perburuan terbuka ini, bisa diikuti oleh siapapun, wanita atau pun pria. Jadi, menurut Zaviest pasti Ibunda mengira dengan cara ini bisa mendekatkan Zaviest dengan Puteri Menteri Keuangan, Yaesha. Setelah Tarda mendapatkan camilannya, mereka bertiga pergi ke ruang persidangan istana. Sudah berkumpul menteri dan pejabat istana disana. Zaviest berjalan dengan gagahnya melewati para menteri dan pejabat yang memberi hormat padanya. Kemudian ia duduk di singgasananya, mengamati satu persatu menteri, pejabat dan pangeran. Seorang pejabat maju kedepan, ia membungkuk untuk memberikan hormat kepada Zaviest, lalu memberikan laporan terkait dengan bencana banjir yang baru saja dialami oleh Kota Beghoria. "Kirim bantuan segera ke Kota Beghoria, ambil ransum dari gudang Istana Raja dan kirimkan kepada mereka. Bebaskan pajak kota mereka sampai bencana tersebut teratasi." Kata Zaviest lagi. "Menteri Pembangunan!" Seseorang yang terpanggil itu kemudian maju kedepan, ia memberikan hormat lalu menunggu perintah Zaviest. "Pergi Ke Kota Beghoria, pastikan semua kanal dan pompa air berfungsi dengan baik. Aku ingin menerima laporannya dalam tujuh hari!" "Hamba melaksanakan perintah Yang Mulia." Kata Menteri Pembangunan lalu kembali ketempatnya. Setelah itu mereka membahas mengenai beberapa masalah yang terjadi. Perdagangan dengan negara lain mulai terhambat karena peperangan yang terjadi di Perbatasan Tiga Negara yang merupakan jalur sutera. Itu sebabnya, pemasukan negara pun sedikit berkurang. "Menteri Keuangan, bagaimana pendapatmu?" Tanya Zaviest. Menteri Keuangan pun maju, ia memberikan hormat pada Zaviest lalu mulai menjawab. "Peperangan sudah berakhir Yang Mulia, akan tetapi jalur sutera masih ditutup oleh Negeri Luxorth karena Putera Mahkota mereka yang menghilang, kemudian dengan bencana di Beghoria, hamba takut jika Kerajaan akan mengalami krisis, jadi hamba mengusulkan untuk menambah pajak rakyat." Alis Zaviest langsung terangkat, ia melihat seisi ruangan yang sepertinya setuju dengan usul menteri keuangan tersebut. "Omong Kosong! Menaikkan pajak rakyat sama dengan mencekik mereka." Suara Zaviest begitu keras. "Ampun yang mulia, pendapatan kita dari pajak memang cukup besar. Lebih baik untuk memanfaatkannya." Hanya helaan nafas yang keluar dari hidung Zaviest. "Dengarkan aku Menteri Keuangan, aku tahu kau memiliki daftar hutang setiap pejabat di Negara Ini. Mereka yang berhutang belum mengembalikan pinjamannya, bukankah begitu?" Seisi ruangan dibuat heran, mereka tidak menyangka jika Raja akan mengetahuinya. "Jadi, Aku akan meminta seseorang mengambil alih tugas ini untuk mengambil kembali uang kerajaan yang mereka pinjam. Selain itu, pajak pejabat, menteri, dan seluruh bangsawan di setiap sudut kerajaan akan aku tingkatkan lima persen dari sebelumnya." Ucap Zaviest. "Yang Mulia!" Semua menteri dan pejabat tidak sepakat dengan kenaikan pajak tersebut. "Keputusanku sudah bulat," ujar Zaviest dengan suara pelan. "Kalian para bangsawan lebih kaya dari rakyat biasa, tidak perlu merengek." Ketika semuanya hening lalu pangeran kelima, Moscha maju kedepan. Ia memberi hormat pada kakaknya, kemudian mulai berbicara. "Yang Mulia, Sebentar lagi adalah musim dingin, bagaimana jika kita mengadakan perburuan terbuka?" Zaviest menatapnya dengan tajam, "kau tidak dengar apa yang baru saja dikatakan oleh pejabat tentang kota Beghoria?" Nyali Moscha pun langsung menciut, ia langsung bersujud dan meminta maaf pada Zaviest. "Daripada berburu hewan, bagaimana jika kau berburu para pejabat yang berhutang?" Bukan sesuatu yang diharapkan oleh Moscha. Ia hanya ingin tugas ringan, tapi malah diberi tugas seberat itu oleh Kakaknya. Dia yakin, Zaviest pasti sedang mengejeknya sekarang. "Yang Mulia, hamba hanya suka bermain-main, jika aku datang ke rumah mereka, saat aku menginjak pintu rumah mereka maka aku hanya akan ditertawakan." Ujar Moscha. Terdengar tawa kecil dari tempat para pangeran yang lain berada. Bahkan Zaviest yang sedari tadi begitu tegang pun menyunggingkan senyumnya. "Baiklah, Pangeran Kedua, Vein akan membantumu dalam hal ini." Balas Zaviest, "Sekertaris Negara, umumkan semua yang aku katakan hari ini," Persidangan pagi itu pun telah selesai. Zaviest bergegas pergi ke kediamannya. Mendengar perkataan Menteri Keuangan tentang kondisi hasil peperangan antara Luxorth dan juga Narth membuat Zaviest teringat akan sesuatu. Sesampainya di kediaman pribadinya, Zaviest pun kemudian langsung memanggil Feiry. Tak butuh waktu lama burung dengan bulu perak itu muncul, ia mengepakkan sayapnya pertanda siap menerima perintah dari Tuannya. "Hari ini pergilah ke Barat, Cari tahu tentang gadis itu." Bisik Zaviest. Begitu senangnya hingga Feiry langsung mengepakkan sayapnya untuk segera pergi menunaikan tugasnya. "Apa kabarnya dia, sudah lama aku tidak mengirim Feiry kesana." Gumam Zaviest yang masih menatap kepergian Feiry. ????? Seluruh istana menjadi riuh, penjaga dan pelayan berlalu-lalang dengan terburu-buru. Begitu juga dengan Ariah yang sudah mengelilingi istana hampir sepuluh kali akan tetapi ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Vizena. Sejak sore hari, Vizena dikabarkan hilang. Mendengar laporan tersebut, Kaisar Mouszac langsung memerintahkan seluruh penjaga istana dan pelayan untuk mencari Vizena. Sudah berjam-jam mereka mencari disemua sudut istana, bahkan sampai dikediaman selir, juga kediaman Suaminya, tapi Vizena tidak ditemukan dimanapun. "Tuan Puteri, Anda dimana?" Gumam Ariah yang sangat gelisah. Dirinya sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Vizena. Setelah pencarian beberapa lama, semua kepala penjaga dipanggil oleh Kaisar Mouszac untuk menemuinya. Kemudian diperintahkan oleh kaisar untuk memperluas pencarian mereka sampai keluar Istana, ke semua tempat yang mungkin di datangi oleh Vizena. "Ariah," Panggil Kaisar, gadis pelayan itu pun mendekat. Kaisar melihat bahwa Ariah sudah terlalu lelah mencari Vizena sepanjang malam. "Kembalilah ke kediaman Gard, tunggu kabar disana. Atau kau bisa mencarinya lagi disana." "Tapi Yang Mulia, hamba takut jika sesuatu terjada pada Tuan Puteri." Kekhawatiran Ariah begitu besar. Kehilangan Vizena terakhir kali dipasar sudah membuatnya hampir mati karena terlalu banyak bersedih dan menyesal. Jika sesuatu yang buruk terjadi lagi, entah ia masih bisa hidup atau tidak. "Dia adalah puteriku, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya." Kaisar berusaha menenangkan Ariah meski dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya. Karena terakhir kali Vizena menghilang, gadis itu ditemukan dalam kondisi buruk. "Aku yakin sebentar lagi, Jenderal Gard akan pulang. Dia akan membantu," "Baiklah, Yang Mulia." Ariah sama sekali tidak yakin bahwa Gard akan peduli pada Vizena. Pria itu sangat dingin pada Tuan Puterinya. Ariah mematuhi perintah Kaisar, ia pun segera kembali ke kediaman Gard. Siapa yang menyangka saat Ariah telah kembali, rupanya Tuan Rumah sudah kembali dari medan perang. Bahkan tampaknya sudah membersihkan dirinya karena pakaiannya yang sudah berganti. Tidak berpikir lagi, Ariah langsung berlari menuju Gard di teras. "Tuan, anda sudah kembali?" Gard hanya mengangguk, ia sama sekali tidak menanyakan keberadaan Vizena. "Tuan, apakah Tuan sudah mengetahui bahwa Tuan Puteri menghilang?" Meski hanya sedikit, Ariah berharap bahwa Gard akan tergerak hatinya. "Aku sudah mendengarnya," jawabnya datar. "Anda tidak mencarinya? Kami sudah mencari Tuan Puteri ke setiap sudut istana, tetapi tidak satu pun dari kami yang menemukannya." kata Ariah dengan gelisah. "Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat, tidak perlu risau," ucapan Gard begitu dingin sampai Ariah dibuat merinding dibuatnya. Bagaimana ada suami yang begitu dingin pada isterinya, bahkan tidak khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada isterinya. Sudah tidak tahan lagi Ariah ingin melampiaskan semua kekesalannya pada Gard yang tidak pernah menghargai keberadaan Vizena. "Sedikit saja, mengapa Tuan tidak menaruh perhatian pada Tuan Puteri. Dia begitu mencintai Anda, tapi mengapa anda sangat dingin padanya? Apa salah Tuan Puteri sebenarnya?" Semua kata-kata itu meluncur bersamaan dengan tangis Ariah yang yang pecah. Untuk sejenak, Gard terdiam mendengarkan kalimat itu sampai seseorang tiba-tiba menerobos pintu masuk rumah itu. "Maaf, Saya tidak tahu jika Tuan Gard sudah berada di rumah." Dia adalah penjaga istana. "Ada apa begitu buru-buru datang kemari?" Tanya Gard. "Lapor Tuan, penjaga Istana telah menemukan Tuan Puteri, tapi," penjaga itu tampak ragu untuk mengatakannya, sehingga Ariah yang tidak sabar pun beranjak maju. "Katakan, apa yang terjadi dengan Tuan Puteri?" Tanya Ariah. "Kami menemukannya di ruang rahasia Aula Istana karena seekor burung berbulu perak, Tuan Puteri tidak sadarkan diri, sekarang sedang dirawat oleh dokter Istana di kediaman Puteri." Jelas si penjaga itu. Tanpa berpikir dua kali, Ariah langsung saja berlari. Ia ingin memastikan sendiri keadaan Vizena. Sementara Gard mematung ditempatnya sambil mengepalkan kedua telapak tangan di sisi tubuhnya. Ada peperangan dalam batinnya, satu sisi dirinya ingin berlari seperti halnya Ariah yang langsung berlari ketika mendengar penjelasan si penjaga itu. Namun, sisi lain dirinya memaksanya untuk tetap tinggal di kediamannya. ::Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD