EMPRESS: 6. Get Along
Bintang yang gemerlap dan bulan yang mulai bergulir turun menemani Vizena yang tidak bisa terpejam sepanjang malam. Batinnya khawatir tentang peperangan yang belum bisa dipastikan. Mengingat bagaimana Gard tampak gusar saat memberi laporan pada Leoxard, dirinya yakin bahwa peperangan kali ini tidak lah mudah.
Luxorth memang terkenal unggul dalam bidang militer diantara lima negara. Tidak ada yang berani terang-terangan menantang Luxorth berperang kecuali Narth. Alasannya pun untuk memperebutkan jalur utara, yang mana jalur itu merupakan jalur sutera yang di miliki oleh Luxorth. Jalur tersebut berada di pinggir perbatasan.
Bahkan Sholaire yang negara kuat tidak pernah secara langsung memantik peperangan. Kerajaan itu lebih suka perdamaian. Terakhir kali ketika peperangan antara Luxorth dan Narth pecah, Sholaire hanya menonton dan tidak memberikan bala bantuan kepada Narth.
Bukan rahasia lagi, jika Narth merupakan sekutu dari Sholaire karena Ratu terdahulu adalah Bibi dari Raja Sholaire. Sedangkan negara lainnya, Arkteir, dan Thymur Tidak pernah terlibat dalam peperangan selama beberapa dekade.
"Tuan Puteri," Suara Ariah mengusik kegundahan hati Vizena, "sudah larut sekali, sebaiknya anda beristirahat." Tutur Ariah.
"Apakah kakak dan Gard akan pergi berperang?" Pertanyaan itu lebih tepatnya ia tanyakan pada dirinya sendiri. Tapi ia sendiri tidak mengetahui jawabannya. Hanya saja, jika melihat reaksi Leoxard, mungkin mereka tidak akan tinggal diam karena Narth sudah melampaui batasnya.
"Peperangan kali ini sepertinya sangat sengit, seandainya aku bisa membantu mereka."
"Yang Mulia, jangan berpikir macam-macam. saya yakin, Yang Mulia Leoxard dan Tuan Gard akan kembali dengan selamat dan membawa kemenangan." Ariah mencoba menghibur Vizena. Akan tetapi, batin Vizena tetap tidak tenang.
••
Sekuat tenaga Vizena berlari setelah menuruni kereta kudanya. Ia pergi ke gerbang istana, menjelang fajar seseorang dari istana memberitahu Vizena bahwa pagi ini iring-iringan pasukan akan diberangkatkan. Mendengarnya, Vizena langsung pergi dengan terburu-buru. Ia ingin mengantarkan suami dan kakaknya yang akan pergi berperang.
Beruntung sekali, iring-iringan itu belum berangkat. Mereka sedang bersiap di gerbang utama. Vizena melihat sosok kakaknya yang sedang mengatur pasukan. Segera ia menghampiri kakaknya.
"Kakak!" Panggil Vizena.
Leoxard menoleh, senyumnya merekah ketika melihat adiknya berjalan mendekat padanya.
"Apa kau berlari kemari?" Tanya Leoxard yang khawatir melihat Vizena terengah-engah.
"Iya," Vizena mengangguk. "Aku ingin mengantarkanmu dan juga Gard," Imbuhnya.
"Aku tahu, karena itu aku menunda keberangkatan, kemarilah!" Loexard memeluk adiknya itu dengan hangat. "Jaga dirimu baik-baik, saat aku pulang nanti kau harus jadi wanita dewasa, jangan suka merengek, kau mengerti?" Ujar Leoxard sembari menepuk-nepuk kepala Vizena dengan penuh kasih sayang.
"Kakak juga harus menjaga diri, jangan biarkan musuh mengalahkanmu! Berjanjilah kembali dengan utuh!" Mendengarnya Leoxard terkekeh.
"Tentu saja! Aku akan pulang dengan selamat!"
Vizena melonggarkan pelukannya dan menyadari bahwa Leoxard mengenakan pakaian yang dia jahit khusus untuk kakaknya itu.
"Kakak memakainya?"
"Tentu saja, pakaian ini adalah jimat keberuntunganku. Dengan ini, aku akan merasa bahwa kau disampingku dan memberiku semangat." Vizena tersenyum sangat lebar.
"Kakak, apa kau melihat Gard?" Tanya Vizena.
"Dia ada di kamp, sebentar lagi mungkin akan- Ah itu dia!" Ujar Leoxard sembari memandangi kearah belakang Vizena. Seketika Vizena pun berbalik dengan senyum yang masih merekah diwajahnya, namun senyum itu hilang ketika melihat sosok anggun yang berjalan disamping Gard.
"Kenapa dia bersama Gard?" Gumam Leoxard. Untuk sesaat ia melirik kearah adiknya yang berwajah muram. "Ahh, mungkin mereka kebetulan bertemu. Lagipula Jovach juga akan turut serta dalam peperangan ini, itu sebabnya Eyster kemari."
Ketika mengetahui ada Vizena di samping Leoxard, tatapan mata Gard tidak bisa fokus. Entah mengapa tiap kali ia melihat Vizena, ada sesuatu perasaan aneh terbangun dalam dirinya.
"Aku kemari untuk mengantarkanmu," Kata Vizena pada Gard yang bahkan tidak memandangi wajahnya. Vizena memakluminya, dia selalu berpikir tidak ada orang yang sanggup menatap wajahnya yang mengerikan meski sudah mengenakan topeng.
"Terimakasih, anda seharusnya beristirahat dirumah." Ujar Gard datar.
"Kebetulan sekali adik disini, kau pasti kemari untuk mengantarkan suamimu ya?" Tanya Eyster dengan suaranya yang begitu merdu.
"Iya kakak, apa kau disini juga untuk mengantarkan kakak Jovach? Dimana dia?"
Eyster tertawa lirih mendengarnya. Melihat Eyster tertawa dengan anggun sungguh mengusik benak Vizena. Gadis itu dalam keadaan apapun akan tetap cantik, selain itu, setiap kali melihat Eyster berada disamping Gard, ia merasa mereka begitu serasi.
"Tentu saja, aku kemari untuk mengantarkan kekasihku dan adikku." Katanya.
"Kekasih?" Leoxard dan Vizena bertanya dengan bersamaan. Eyster kembali tertawa lirih, kali ini sembari menutupi bibirnya.
"Ahh, tidak seharusnya aku memberitahu kalian. Jangan pikirkan, itu bukan hal penting." Ungkapnya.
"Yang Mulia, hamba akan mempersiapkan pasukan." Tiba-tiba Gard menyela, ia terlihat tidak nyaman.
"Aku sudah melakukannya, lebih baik kau berbincang dengan Vizena."
Gard tampak ragu, kemudian ia mencoba memandang Vizena. Sayangnya, pandangan Gard hanya bisa menatap telinga Vizena. Sementara yang lain pergi meninggalkan pasangan suami isteri tersebut.
"Aku menunggumu semalaman, kupikir kau akan pulang kerumah." Ujar Vizena.
"Banyak yang harus saya urus," Suara Gard seperti biasanya. Dingin dan kaku, Vizena memakluminya.
"Jaga dirimu baik-baik, dan kembalilah dengan selamat."
"Mm," Gard bergumam tidak jelas sembari mengangguk. "Jika Anda sudah selesai, sebaiknya saya pergi membantu Yang Mulia Putera Mahkota."
"Ah ya pergilah, bantu kakakku."
Setelah persiapan pasukan dirasa sudah cukup. Dipimpin oleh Leoxard iring-iringan itu berangkat, mereka segera meninggalkan istana, melewati gerbang utama untuk memberi bala bantuan kepada pasukan yang sedang berperang kali ini.
Vizena terus menatap kepergian iring-iringan itu, ia tidak sendiri disampingnya berdiri Eyster yang juga mengantarkan kepergian Jovach. Setelah semua iring-iringan itu keluar dari istana, Vizena beranjak untuk pergi dan kembali ke rumahnya. Tapi Eyster menahannya dengan sebuah kalimat yang cukup mengusik ketenangan hati Vizena.
"Rupanya adik sangat mencintai Gard," kata Eyster.
"Semua isteri di dunia ini pasti mencintai suami mereka, begitu pula denganku, kakak." Balas Vizena sembari membalikkan badan agar bisa berhadapan dengan Eyster.
"Tapi sampai sekarang, adik belum ada tanda-tanda kehamilan?"
Vizena terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Bagaimana dirinya bisa hamil, Gard sama sekali tidak pernah menyentuhnya bahkan meski hanya seujung kukunya. Untuk pertama dan terakhir kalinya, Gard menggenggam tangannya adalah ketika mereka mengucapkan janji di Kuil Suci dihadapan pendeta agung dan seluruh rakyat Luxorth. Setelah itu, Gard seolah menganggapnya hanya sebagai pajangan usang.
"Seorang isteri yang tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya bagaikan api lilin diruang terbuka."
Vizena hanya menanggapinya dengan seulas senyumannya yang dipaksakan agar tampak sangat tulus. Padahal dalam hatinya serasa bagaikan di tusuk dengan jarum kecil, berdarah dan meninggalkan sebuah lubang hampa.
?????
"Tidak!" Suara Zaviest sangat tegas dan tak terbantahkan. Dalam sidang paginya ia sudah dibuat kesal oleh ulah para menterinya supaya mengirimkan bala bantuan ke medan perang.
Setelah beberapa hari merenungkan keputusan apa yang akan dibuatnya, dan mendapatkan kabar hasil peperangan setiap waktunya, Zaviest memutuskan untuk tidak membantu Narth dalam keadaan apapun. Bukan tanpa alasan ia tidak ingin bergabung dengan Narth.
Pertama, Narth sudah melanggar aturan peperangan, pihak Narth menggunakan sumber daya pasukan sihir yang diperolehnya secara ilegal. Para penyihir itu adalah penyihir dari lembah hitam, menggunakan sihir hitam tidak diperbolehkan dalam peraturan perang Daratan Lima Negara.
Kedua, Sholaire tidak mendapatkan keuntungan apapun dalam perang ini. Mereka hanya akan lebih dirugikan jika mengirimkan bala bantuan.
Ketiga, tidak pernah sejarahnya Sholaire bermusuhan dengan Luxorth sampai menimbulkan peperangan. Mereka selalu menggunakan jalan damai untuk menyelesaikan pertikaian.
"Yang Mulia, jika kita tidak mengirimkan bantuan, hamba takut jika kita tidak bisa bekerja sama lagi dengan Narth." Seorang menteri berbicara. Tiba-tiba saja Zaviest tertawa dengan sangat kencang mendengarnya, membuat semua orang tampak kebingungan.
"Ah, sudahlah kita akhiri saja sidang pagi ini," Zaviest berhenti tertawa, kemudian ia beranjak pergi meninggalkan singgasananya dan membuat semua orang semakin heran.
Meski sudah dua puluh tahun melayani Zaviest sebagai raja, mereka masih belum terbiasa dengan perilaku Zaviest yang suka seenaknya sendiri. Mereka selalu mengabaikan sikap Zaviest karena menganggap bahwa raja mereka adalah yang terhebat dan pasti memiliki pertimbangan yang matang disetiap keputusannya.
Sementara semua pejabat masih membicarakan perang diperbatasan Tiga Negara, Zaviest sedang menikmati pemandangan seluruh istananya di paviliun kerajaan. Ia ditemani oleh Feiry yang sedang tidak ditugaskan menjadi mata-mata dan Dranis yang selalu setia berada disamping Zaviest.
Sepanjang mata Zaviest memandang, hanya terdapat hamparan seluruh istananya, mulai dari barat, yang mana adalah biasanya digunakan sebagai kediaman selir, lalu utara istana janda raja, dan timur istana para pangeran tinggal.
"Dranis, apakah ada berita tentang peperangan?" Tanya Zaviest. Seketika kening Dranis pun berkerut, belum lama setelah sidang usai tapi Zaviest malah menanyakan pada Dranis.
"Mohon ampun, Yang Mulia. Akan tetapi semua hal sudah dibahas dalam persidangan."
Tidak ada jawaban dari Zaviest, sesaat kemudian ia beranjak. Ia berjalan menyusuri jalan setapak dari paviliun kerajaan, Dranis dengan setia menemani Zaviest. Sudah seperti kebiasaan bagi Zaviest selalu memperhatikan detail bangunan istana selagi ia berjalan.
"Dranis, kurasa kolam itu harus dibersihkan, minta pelayan untuk segera membersihkannya." Pinta Zaviest.
"Baik Yang Mulia,"
Lalu ketika melewati taman kerajaan, Zaviest berhenti lagi untuk mengamati satu persatu bunga yang sedang mekar dengan indahnya. Akan tetapi, kerutan didahinya tak pernah bisa disembunyikan.
"Mengapa tidak ada yang membersihkan dedaunan kering dibawah tanaman itu?"
"Mohon ampun, Yang Mulia, akan saya minta pelayan segera membersihkannya."
"Dedaunan kering memang sangat menggangu keindahan bunga yang mekar ini," Sebuah suara merdu menginterupsi kegiatan Zaviest. Ia segera menoleh dan melihat sosok gadis yang tidak asing baginya sedang memberi hormat padanya, Yaesha. "Yaesha memberi hormat kepada Yang Mulia Raja." Katanya dengan tulus.
"Berdirilah, tidak perlu formalitas seperti itu." Kata Zaviest dengan suara yanh dalam. Yaesha menegakkan tubuhnya, ia tersenyum dengan manis dihadapan Zaviest. Ia merasa sangat beruntung bisa bertemu lagi dengan Raja. "Ada keperluan apa hingga, Nona Yaesha harus datang ke Istana?" Tanya Zaviest.
"Ibu Suri Agung memerintahkan untuk menghadap, mungkin saya telah melakukan kesalahan." Katanya dengan gusar. Zaviest tersenyum samar, bukan kesalahan, batinnya. Ibundanya memanggil gadis itu dengan maksud lain. Rupanya sang ibu telah bergerak cepat.
"Ahhh rupanya Ibuku? Kebetulan sekali aku belum mengunjunginya beberapa hari ini, kalau begitu mengapa kita tidak pergi kesana bersama?"
Mata Yaesha berbinar dengan sangat cerah. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Raja akan berbaik hati mengajaknya pergi bersama.
"Baiklah, Yang Mulia." Yaesha begitu senang.
"Jika kau pergi denganku, pasti hukuman yang akan diberikan Ibu Suri tidak akan berat." Kata Zaviest berbohong. Sementara Yeasha memalingkan wajahnya yang memerah menahan malu.
Yaesha sendiri tidak yakin, kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Akan tetapi saat mendapatkan surat dari Ibu Suri, ia tak bisa tidur semalaman dan terus memikirkan apa sebenarnya yang diinginkan Ibu Suri.
"Istana ini begitu indah, Yang Mulia." Ujar Yaesha sembari memandangi setiap sudut istana yang ia lewati. Ini adalah kedua kalinya ia pergi ke Istana, pengalaman pertamanya bukan kenangan yang indah untuk dikenang, namun kedatangannya kedua kali cukup beruntung.
"Ini tidak seberapa, tunggu sampai kau melihat Istana Ibu Suri Agung." Kata Zaviest.
"Rasanya pasti menyenangkan bisa tinggal di tempat seindah ini." Ujar Yaesha sembari menyunggingkan seulas senyumannya yang cantik.
Zaviest tertawa kecil. Tidak ada yang lebih tahu rasanya kecuali Zaviest yang tinggal di Istana sejak lahir. Banyak hal yang harus dipatuhi, peraturan yang mengikat, Zaviest bahkan tidak sempat memikirkan betapa indahnya istana itu, karena setiap hari melihatnya.
"Kau seringlah berkunjung, jika menurutmu Istana sangat indah." Ujad Zaviest.
"Bolehkah, Yang Mulia? Saya hanya rakyat biasa."
"Jika kau menyukainya,"
"Tentu!" Seru Yaesha dengan mata yang berbinar.
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya mereka sampai ke Istana Ibu Suri. Seperti yang dikatakan oleh Zaviest, istana milik Ibu Suri sangatlah indah. Warna dindingnya di d******i oleh warna putih, namun setiap ukiran semua pilar dan yang lainnya berwarna turqoise, membuat Istana itu tampak menawan dan elegan.
"Sangat Indah," decak Yaesha, sembari mengikuti Zaviest yang berjalan mendahuluinya.
Mereka kembali menyusuri lorong, Zaviest bertanya kepada seorang pelayan dimana Ibunya. Setelah itu ia berjalan kearah paviliun yang terletak disamping ruangan utama. Paviliun itu, dibangun oleh mendiang raja untuk Ibu Suri, tempat yang sangat nyaman untuk bersantai.
Tampak Ibu Suri tengah membuat lukisan dengan khidmat sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Zaviest dan Yaesha. Ketika Yaesha hendak memberi salam, Zaviest menahannya dan meminta Yaesha untuk diam. Zaviest tidak ingin merusak kesenangan Ibunya, ia tahu jika Ibunya sedang melukis, suasana hati ibunya pasti sedang sangat baik.
"Apa yang harus ibu kabulkan jika kau tidak mengganggu ibu seperti ini?" Suara Ibu suri begitu lembut mengalun. Tawa Zeviest menggema, kemudian ia menghampiri Ibunya dan memeluknya dari belakang.
"Tidak, aku sedang tidak memiliki permintaan apapun." Kata Zaviest. Ibu Suri tersenyum, ia kemudian berbalik dengan niat untuk memandang wajah putera sulungnya itu. Ketika ia berbalik, ia pun mendapati pemandangan lain selain wajah tampan Zaviest. Ada sosok cantik dengan gaun berwarna cokelat yang memberikan salam terhadapnya.
"Mimpi apa aku semalam, sampai-sampai mendapat keberuntungan sebesar ini," decaknya. "Bangunlah, Nona," pinta Ibu Suri dan Yaesha pun menegakkan tubuhnya dan tersenyum dengan senyuman paling indah yang ia miliki.
"Rupanya rumor yang beredar itu benar," Kata Ibu Suri sembari mendekat pada Yaesha lalu mempersilahkannya untuk duduk. Zaviest agak terkejut melihat sikap ibunya. Tidak biasanya Ibu Suri begitu baik dengan seseorang apalagi dengan orang yang baru dikenal. Tapi, Ibu Suri tampaknya sangat menyukai Yaesha. Entah ini pertanda buruk atau baik, Zaviest tidak bisa menerka pikiran ibunya.
"Lihatlah betapa cantiknya dirimu, sayang sekali kecantikan ini harus dipermalukan didepan umum," Ibu Suri sengaja menyindir Zaviest yang baru saja akan menyeruput minuman yang baru saja disajikan. Dengan tenang, Zaviest tetap meminumnya dan melirik ibunya dari balik cangkirnya. Bukan kejutan lagi jika ibunya memiliki lidah yang tajam.
"Tidak Ibu Suri, tidak ada yang mempermalukan hamba," Ujar Yaesha dengan suara rendah. Hal itu tak luput dari perhatian Zaviest. Gadis dihadapannya itu cukup pintar berperilaku.
"Sebagai Raja, bukankah Yang Mulia harus membayar hutang?" Kini Ibu Suri menembak tepat pada sasaran.
"Ibunda benar sekali," balas Zaviest, ia menyunggingkan senyumnya yang mirip dengan seringaian, akan tetapi wajahnya tetap terlihat tampan, "Nona Yaesha, kejadian yang lalu adalah kesalahanku, semoga Nona tidak menyimpannya didalam hati." Ujar Zaviest dengan ketulusan yang ia latih selama bertahun-tahun.
"Hamba tidak berani, Yang Mulia." Kata Yaesha, "menjadi teman dansa Yang Mulia adalah kehormatan untuk hamba." Ujarnya lagi dengan suara yang merdu.
Ibu Suri tersenyum memerhatikan betapa sopan dan penuh etikanya gadis yang ada dihadapannya. Sesekali ia melirik kearah Zaviest, lalu kearah Yaesha kembali. Mereka tampak serasi satu dengan lainnya.
"Sebaiknya Yang Mulia mengajak Nona Yaesha untuk berkeliling istana," usul Ibu Suri.
"Tentu, berjalan mengelilingi istana itu lebih baik daripada membaca laporan yang menjengkelkan itu." Kata Zaviest, ia kemudian berdiri lalu mendekat pada tempat duduk Yaesha dan mengulurkan tangannya.
Wajah cantik Yaesha memerah, ini kedua kalinya Raja mengulurkan tangan padanya. Pada awal pertemuan mereka, Yaesha mengira bahwa Zaviest adalah pria dingin yang kasar, tapi sekarang Raja yang ada dihadapannya itu adalah pria yang baik dan lembut.
"Pergilah," Kata Ibu Suri, setelah itu Yaesha baru berani meraih tangan Zaviest.
Sementara Raja berjalan dengan Yaesha, dari tempat duduknya Ibu Suri mengamati dengan senyuman yang tak pudar. Ada harapan yang timbul dihati Ibu Suri.
::Bersambung