Langkah kaki Kaisar Mouszac menghentak ke lantai tiap kali ia melangkah dengan mondar-mandir sejak pagi hari. Gelisah, itulah yang kini dirasakan oleh Kaisar Mouszac. Hari ini dirinya harus mengumumkan bahwa kasus p*********n pada perburuan itu untuk segera di investigasi. Hari itu dirinya terlalu kesal sehingga setelah pengakuan Eyster ia pergi meninggalkan perkemahan dan kembali ke istana tanpa memberikan perintah apapun.
Desakan dan tekanan dari beberapa pihak menuntut dirinya untuk menindaklanjuti kasus ini. Dia akan melakukannya itu pasti, setiap kejahatan yang dilakukan di tanah Luxorth harus mendapatkan balasannya.
Tetapi,
Mendengar ucapan Eyster, dirinya begitu gelisah. Semua bukti mengarah pada Puterinya. Jika investigasi dilakukan dan memang benar semua bukti terarah pada Vizena, maka rencana awalnya akan menjadi berantakan. Selain itu, dengan bersalahnya Vizena kemungkinan terjadinya pecah perang sangat besar.
"Kaisar, semua orang sudah berkumpul di aula istana." Pelayan Kaisar Mouszac mengingatkan. Langkahnya berhenti, ia menghela nafasnya. Dalam hati, berharap bahwa semua hal ini tidak ada kaitannya dengan Vizena.
Seorang pelayan membantu Kaisar mengenakan Jubah Kekaisarannya yang berwarna jingga dengan sulaman dari benang emas sepanjang tepian jubah dan hiasan ditengahnya. Meski usianya tak lagi muda, Kaisar terlihat gagah dan tampan. Sebelum melangkah, ia membuang nafas, meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan menghadapi semua masalah ini dengan baik.
Semua delegasi, menteri dan pejabat telah memenuhi ruang aula istana berbaris di samping kanan dan kiri. Kaisar Mouszac yang begitu berwibawa berdiri di depan singgasananya memperhatikan tiap-tiap orang yang hadir. Ada sedikit kerutan ketika ia tidak melihat sosok Vizena disana.
'Kemana perginya anak itu? Disaat genting seperti ini malah tidak muncul' batin Kaisar Mouszac dalam hatinya.
Baru saja kaisar meletakkan tubuhnya duduk diatas singgasana, seseorang dari dalam barisan keluar kemudian berlutut dihadapannya memberi hormat. Sekali lihat saja, semua orang yang ada di dalam ruangan mengetahui bahwa orang itu berasal dari Narth. Pakaian sutera yang sewarna dengan gading, kulit mereka yang kecokelatan, merupakan ciri fisik dari penduduk Narth.
"Hormat saya pada Yang Mulia Kaisar Mouszac," katanya dengan posisi masih berlutut dengan satu kaki. "Puteri kami, terluka akibat mengikuti perburuan yang diselenggarakan oleh Kerajaan Luxorth, kami menuntut keadilan untuk menghukum penjahat itu."
Sesaat setelah itu, seorang berpakaian hitam dan biru melangkah ke tengah. Ia memberi salam pada Kaisar, itu adalah Louth Meridiam. Menteri Pertahanan Luxorth.
"Hormat kepada Yang Mulia, benar apa yang dikatakan oleh pihak Narth, kita harus segera menangkap penjahat itu."
Brak
Kaisar menggebrak pegangan singgasananya dan menatap tajam ke arah Louth Meridiam.
"Kau mengatakan seperti itu, apakah sudah tahu siapa dalangnya?" Tanya Kaisar yang menahan amarahnya. Saat ini ia sedang berperan sebagai seorang Kaisar, ia harus mengutamakan kepentingan negara diatas segalanya dan menahan emosinya sebagai seorang ayah.
"Lapor pada Yang Mulia, pihak Narth memiliki bukti penting tentang penyerang itu." Jawab Louth.
"Ini adalah buktinya," Utusan dari Narth itu menunjukkan sebuah anak panah. Seorang pelayan kaisar mengambil anak panah tersebut kemudian memberikannya pada Kaisar.
"Anak panah itu di buat khusus untuk keluarga kerajaan, hanya Anda, Mendiang Putera Mahkota, dan Puteri Vizena yang memilikinya." Mendengar ucapan Louth, seisi ruangan bergemuruh. Mereka tak percaya bahwa pelakunya adalah salah satu dari keluarga kerajaan.
"Jadi kau pikir aku akan melukai utusan dari Narth? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Menteri Pertahanan?" Suara Kaisar menggema dan membuat semua orang terdiam.
Louth Meridiam membenturkan lututnya dan bersujud dihadapan Kaisar, "Hamba tidak berani, Yang Mulia."
"Lalu apa maksudmu?!"
"Hanya ada satu orang yang dari keluarga kerajaan yang mengikuti perburuan itu."
Semua orang berspekulasi dan berbisik sehingga seluruh ruangan kembali ramai.
"Bagaimana bisa seorang yang tidak bisa menggunakan busur akan memanah orang lain, Ayah mertua?" Suara Vizena memecah keramaian. Semua orang memandang ke arah pintu masuk. Disana Vizena berdiri dibantu okeh Ariah dan seorang pengawal. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan tubuhnya sangat lemah.
"Jika anda tidak bisa menggunakan busur, mengapa menerima tantangan itu? Anda sudah merencanakan semua ini."
"Anda cukup baik sekali dalam berasumsi, Tuan Menteri." Zaviest melangkah ke depan, ia kemudian memberikan hormat kepada Kaisar. "Jika diperkenankan, bolehkah saya bicara?" Tanya Zaviest.
"Silahkan, tunjukkan penilaianmu."
"Dia hanya seorang pengawal, Yang Mulia!"
"Aku tidak meminta pendapatmu tentang dia, Menteri!" Sergah Kaisar dengan suara tegas, "lanjutkan!" Perintahnya oada Zaviest.
"Sejak awal, masalah ini bukan hanya permasalahan satu orang saja. Pangeran Moscha juga menerima serangan, ini buktinya." Zaviest mengeluarkan sebuah panah. Tapi panah itu cukup berbeda, bulu diujung panahnya berwarna biru cerah, jika dilihat dari dekat terdapat ukiran di sepanjang tangkai anak panahnya.
"Itu, itu adalah..." Orang-orang mencoba menebak anak panah yang dipegang oleh Zaviest.
"Ya! Ini anak panah milik kerajaan Arkteir," Kata Zaviest. "Tidak hanya itu, Pangeran Kusala dan Tuan Antoine juga diserang oleh segerombolan orang yang tak dikenal, bukankah begitu, Pangeran Kusala? Tuan Antoine?"
Tepat setelah itu, dua nama yang telaj disebutkan itu melangkah maju ke depan, memberikan hormat pada Kaisar Mouszac kemudian secara bergantian pun menjelaskan detail perkaranya.
"Saya sudah diserang oleh beberapa orang tak dikenal, mereka menembakkan anak panah secara bertubi-tubi, untung saja saya bisa menghindar." Kata Antoine, "tapi kuda yang saya tunggangi harus tewas." Antoine kemudian maju ke adah singgasana Kaisar untuk memberikan anak panah, ia dihadang seorang pelayan yang kemudian mengambil anak panah tersebut darinya dan diserahkan pada Kaisar.
Anak panah itu berbeda dari dua anak panah sebelumnya. Mata anak panahnya terbuat dari perak terbaik dengan bercak berwarna hitam disana, dengan tangkainya berwarna kemerahan. Senjata ini sangat khas milik kerajaan Thymur.
"Pangeran Kusala, bagaimana para penjahat itu menyerangmu?" Tanya Kaisar, ada satu benang merah yang akan segera bisa disimpulkan oleh Kaisar.
"Para penjahat itu datang dari berbagai arah, mereka menembakkan anak panahnya, aku menghindar tapi sebuah anak panah mengenai lenganku." Kusala menceritakannya, "selain itu...."
"Selain itu apa?" Tanya Kaisar Mouszac.
"Panah-panah itu beracun."
Semua orang berdecak kaget, bahkan Louth Meridiam pun tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya.
"Yang Mulia bisa pastikan melalui tabib istana."
Kaisar Mouszac menghela nafasnya dengan pelan. Masalah ini ternyata jauh lebih lebar dari yang dia pikirkan. Awalnya mengarah pada Vizena, tapi kemudian jika dilihat dari semua bukti, masing-masing negara terlihat saling menyerang. Itu merupakan sebuah hal yang mustahil. Bagaimana mungkin mereka saling menyerang secara terbuka. Tentu saja ini merupakan sebuah konspirasi.
"Hakim agung!" Panggil Kaisar Mouszac. Seorang pria paruh baya melangkah maju. Ia berlutut dengan satu kaki dan siap menerima perintah. "Kasus ini kuserahkan padamu, selidiki sampai tuntas. Aku beri waktu sampai sebelum acara penutupan."
"Siap laksanakan perintah." Kata Hakim Agung dengan patuh.
Kaisar bangkit dari singgasananya, dia berdiri sembari menatap tajam kearah Louth Meridiam yang tampak bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Seolah-olah kejadian tadi tidak seperti apa yang dia inginkan.
"Sekali lagi ada yang menuduh Puteri Vizena tanpa bukti yang kuat, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya!" Kaisar Mouszac tak bisa menahannya lagi. Sebagai seorang kepala negara dan seorang ayah, harga dirinya terkoyak akibat tuduhan tidak berdasar itu. Dengan menghentakkan kakinya, ia kemudian berjalan pergi dari aula istana.
Saat berjalan, tepat dihadapan Vizena Langkah kaki Kaisar terhenti. Ia meraih tubuh rapuh puterinya itu dan menggantikan posisi Ariah dan pengawalnya. Lalu ia menggendong puterinya pergi dari Aula istana.
"Ayahanda. Tidak perlu melakukan ini." Kata Vizena.
"Aku adalah raja sekaligus ayahmu, tapi begitu tidak bijaksana. Sekarang kau sedang terluka, apa aku tidak boleh menggendong anakku sendiri?"
"Bukan begitu, tapi...."
"Sudahlah, Vizena." Balas Kaisar dengan lelah.
Satu persatu orang mulai meninggalkan aula istana. Akan tetapi, Louth Meridiam masih terpaku ditempat dia bersujud sembari menatap kosong kearah singgasana.
"Ayah, sebaiknya kita pergi." Gard menghampiri ayahnya.
"Tidak berguna!" Hardik Louth, "apa gunanya kau punya mulut? Tidak bicara sepatah kata pun!"
Gard hanya diam saja tapi kedua tangannya terkepal pada sisi tubuhnya. Dirinya memang sudah banyak diam sejak perburuan, entah mengapa hanya saat melihat wajah pucat Vizena lidahnya menjadi kelu.
°°°°°
Feiry terlihat gembira dan manja ketika bulu-bulu halus berwarna peraknya sedang dielus dengan lembut oleh Zaviest. Burung magis itu sudah bekerja dengan baik sehingga rencana Zaviest mengacaukan dalang konspirasi yang akan menyeret nama Vizena itu. Sebagai hadiahnya, Zaviest memberikan biji-bijian dengan kualitas terbaik untuk Feiry. Burung cantik itu pun begitu senang.
"Apa? Kau ingin bertemu dengannya? Kau juga merindukannya ya?" Tanya Zaviest sembari menepuk pelan puncak kepala Feiry.
"Aku juga sangat merindukannya." Kata Zaviest lagi, matanya menatap lurus kearah luar jendela ruangannya tapi begitu kosong karena pikirannya sedang menerawang jauh entah kemana.
"Jika rindu, maka temui saja. Tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari kita." Kedatangan Moscha mengusik lamunan Zaviest. Ia mendengus kesal karena diganggu, padahal dia kan sedang menghayalkan wajah Vizena.
"Benar, sebaiknya aku menemui dia kan?" Zaviest sangat antusias. Penyesalan menghampiri batin Moscha, ia menyesal mengapa harus mendorong kakaknya untuk menemui tuan puteri itu.
"Aduh, jangan sekarang, Yang Mulia!" Moscha menghentikan Zaviest yang telah berbalik dan hendak pergi. Sementara Feiry tanpa berpamitan sudah terbang jauh ke angkasa.
"Kenapa?"
Moscha menepuk dahinya, orang yang ada dihadapannya ini adalah kakak panutannya selama ini, sekaligus seorang raja dari negara besar. Tapi urusan kecil saja dia tidak mengerti. Entah harus disebut apa Zaviest ini.
"Mungkin saja saat ini dia sedang bersama dengan Kaisar atau suaminya." Ujar Moscha. Ucapannya itu rupanya tanpa sengaja membangkitkan sedikit percikan api dihati Zaviest.
"Kau benar, sebaiknya aku tunggu waktu yang tepat untuk menemuinya." Gumam Zaviest. Ia juga tak ingin membuat keadaan semakin rumit jika pergi ke temoat tinggal Puteri dalam suasana yang sedang kacau begini. Apalagi mereka belum menemukan siapa dalang dari p*********n ini, salah melangkah akan bisa berakibat buruk.
"Ngomong-ngomong, bagaimana Tuan Menteri itu menuduh Tuan Puteri melakukan p*********n? Semua orang tahu bahwa tangan Puteri Cacat, meski sebenarnya sudah sembuh." Kata Moscha, ia sendiri sebelumnya melihat Vizena memegang pedang dengan tangan kirinya dengan sempurna. Tapi ia sendiri cukup terkejut, karena berita Vizena tak bisa menggunakan tangannya bukan menjadi rahasia lagi. Semua orang mengetahuinya.
"Mungkin ada mata-mata," balas Zaviest asal. Ia kemudian duduk di seberang tempat Moscha duduk, "seseorang telah menghianatinya atau memang ada mata-mata."
"Jika orang disekitarnya menghianati Puteri Vizena, bukankah itu buruk?"
"Sangat buruk."
"Tapi, bagaimana bisa Puteri Vizena memegang pedang dengan sangat baik hari itu?"
"Trugeris melatihnya." Jawab Zaviest.
"Apa?!" Pekik Moscha, "Trugeris yang Anda maksud, adalah Kaisar Kerajaan Thymur?"
"Pelankan suaramu!"
Moscha masih keheranan, pantas saja dia tidak asing dengan pedang yang digunakan oleh Vizena. Pedang dengan ukiran seperti itu, hanya bisa diukir oleh orang-orang Thymur. Moscha kemudian memandangi Zaviest yang tampaknya sangat kesal. Sebuah ide jahil tiba-tiba muncul di otaknya itu.
"Sepertinya Anda punya saingan baru." Kata Moscha tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
"Apa maksudnya itu?" Zaviest melirik dengan pandangan curiga kearah Moscha.
Senyuman tipis terukir di wajah tampan Moscha. Baginya sangat menyenangkan membuat kakaknya itu jengkel apalagi perkara Puteri Vizena. Sangat jarang Zaviest akan tersinggung, tapi jika berkaitan dengan Vizena, membelah bulan pun akan dia lakukan.
"Coba anda pikirkan, Kaisar Trugeris adalah seorang lajang. Ia belum memiliki selir atau pun seorang ratu, dan selama ini tak pernah mengajari siapapun! Bahkan anda sebagai sahabatnya tak pernah dia ajari. Lantas mengapa ia mengajari Puteri Vizena?"
Zaviest tampak berpikir dengan keraa. Keningnya berkerut semakin lama semakin dalam. Jika dipikirkan benar juga apa yang dikatakan oleh Moscha. Selain itu, ia tak pernah tahu proses perkenalan Trugeris dan Vizena meski mengirim Feiry itu tidak semua kegiatan Vizena ia pantau.
"Mungkinkah Trugeris menyukai Vizena?" Tanya Zaviest dengan wajah polosnya dan suaranya yang lemah.
"Bisa jadi seperti itu," jawab Moscha, "kakak, jika memang benar Kaisar Trugeris menyukainya, anda sudah kalah cepat dengannya, Dia telah mengenal Puteri Vizena cukup lama, bagaimana dengan Anda?"
"Hentikan omong kosongmu! Tidak mungkin aku dan Trugeris menyukai gadis yang sama!"
"Lihat wajah anda! Begitu takut kalah dari Kaisar Trugeris!"
"b*****h kecil ini! Kemari kau!"
Moscha berlari dengan sekuat tenaga sebelum sang kakak bisa menangkapnya. Dia sangat senang bisa mengerjai kakaknya.
°°°°°
"Apa yang kau lakukan! Sebagai suaminya kau tidak bisa menjaganya!!" Kaisar Mouszac marah besar, ia berteriak pada Gard yang berlutut dihadapannya. Sementara Vizena tak bisa mengatakan apapun karena ayahnya begitu marah.
"Maafkan kesalahan saya, Yang Mulia Kaisar."
"Kau adalah orang paling kompeten setelah Leoxard, aku menjadikan kau sebagai suaminya agar kau bisa melindunginya! Bukan membiarkannya terluka!"
"Ayahanda, sudahlah, tidak semua adalah kesalahan Gard." Kata Vizena yang tak tahan lagi saat Ayahnya begitu emosional.
"Aku tidak akan membiarkanmu, aku akan menarik semua pasukan yang kau pimpin! Renungkan kesalahanmu!" Ujar Kaisar, lalu ia beranjak akan pergi dari sana.
Sebelum kakinya melangkah keluar dari pintu keluar, Kaisar berhenti dan menoleh kembali. Ia melihat punggung Gard yang bersimpuh, lalu ia melihat kearah Puterinya yang duduk lemas di ranjangnya.
"Apabila keselamatan Puteriku terancam dibawah pengawasanmu, aku akan membuat surat perpisahan dan mengambil kembali Puteriku!" Katanya untuk terakhir kalinya kemudian Kaisar beranjak pergi dari ruangan Vizena.
Setelah Kaisar benar-benar pergi, Gard bangkit dari lantai. Ia berdiri lalu kemudian menoleh ke arah Vizena. Tampak dimatanya Vizena yang terlihat pucat tak seperti biasanya. Gard berjalan ke arah ranjang, lalu ia duduk di ranjang berhadapan dengan Vizena.
"Apa lukanya parah?" Tanya Gard dengan nada yang datar.
"Tidak terlalu dalam, hanya sedikit panjang." Balas Vizena sembari menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah."
"Ayahanda tidak bermaksud mengatakan semua itu, kemarahannya akan segera reda." Kata Vizena. Ia sungguh merasa tak enak hati pada Gard, "aku juga tidak mengadukan apapun pada Ayahanda." Imbuhnya lagi. Karena ia teringat saat Gard menyalahkan dirinya dan mengira ia mengadu pada Leoxard.
Gard mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap Vizena. Hatinya terasa seperti dicubit mendengar ujaran Vizena. Pasti sikapnya sudah terlalu buruk pada Vizena sehingga gadis yang ada dihadapannya ini berpikir seperti ini.
"Aku tahu." Hanya itu yang mampu diucapkan oleh Gard.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Vizena ragu-ragu, tapi dalam benaknya ia harus memastikan sesuatu. Dia tidak ingin terus bertanya tapi tak mendapatkan jawaban.
"Silahkan,"
Vizena menghela nafasnya, lalu ia menatap Gard yang tetap saja tidak bisa menatap matanya.
"Mengapa kau diam saja saat di perkemahan dan di Aula tadi? Maksudku, apa aku-"
"Maafkan aku," Gard menyela ucapan Vizena. "Maafkan aku." Katanya lagi kali ini dengan suara yang bergetar, lalu tanpa berpamitan Gard pergi begitu saja dengan langkah kaki yang sangat cepat.
Vizena hanya memandangi Gard yang pergi dengan heran. Pertanyaannya tidaklah sulit, mengapa harus meminta maaf dan berlari. Sikal Gard sungguh membuat Vizena semakin curiga saja.
"Rasheq!" Vizena memanggil seseorang. Kemudian sesosok pria berbalut pakaian serba hitam dengan penutup wajah muncul dari balik jendela kamar Vizena. Segera setelah ia keluar, pria bernama Rasheq yang begitu mencolok warna rambutnya itu berlutut dihadapan Vizena.
"Rasheq siap menerima perintah."
"Apa kau yakin, pria itu yang kau lihat berada dikamar Nona Eyster?" Tanya Vizena.
"Benar sekali, Yang Mulia." Jawab Rasheq tanpa keraguan sedikitpun.
"Jadi benar kalau dia memang memiliki hubungan dengan Eyster." Vizena bicara pada dirinya sendiri.
Sejak sebelum perburuan, ia meminta Rasheq untuk mencari informasi terkait dengan Eyster dan Gard. Ia mendapatkan informasi, bahwa Gard selalu saja pergi ke kamar Eyster setiap malam dan keluar di pagi hari. Informasi lainnya, terkait dengan rencana Gard dan Eyster yang masih dicari oleh Rasheq.
"Terus awasi mereka, dan saat ada kesempatan cari bukti kerja sama mereka dan tuan Louth."
"Baik Tuan Puteri, Rasheq akan melakukan yang terbaik." Setelah itu, Rasheq beranjak pergi. Namun, ketika ia akan melompat melalui jendela, Rasheq mengurungkan niatnya dan berbalik untuk menghadap Vizena.
"Yang Mulia," kali ini Rasheq tampak ragu.
"Katakan saja!"
"Hamba melihat Nona Eyster membawa anak panah anda dan diberikan kepada pria asing."
Mata Vizena terbelalak lebar, jika benar Eyster melakukannya mungkinkah dia dalang dari p*********n terhadap dirinya dan juga Puteri Kheiraz?
'Untuk apa? Apa dia berusaha untuk mengadu domba Luxorth dan Narth?" batinnya berbisik.
"Tolong Selidiki semuanya."
"Dan satu hal lagi, hanya Ariah yang bisa anda percaya di tempat ini, Yang Mulia." Kata Rasheq lagi, " Hamba undur diri, Yang Mulia." Kemudian ia melompat dan menghilang dari pandangan.
Sesaat Vizena memikirkan kata-kata Rasheq yang baru saja itu. Jika Rasheq yang mengatakannya berarti tempat tinggalnya tidak aman sama sekali. Ada orang yang berusaha untuk memata-matai dirinya. Itulah sebabnya, Tuan Louth Meridiam yakin bahwa dia adalah pelaku p*********n. Mereka tahu bahwa tangan Vizena sembuh, dan itu semua karena mata-mata yang ditaruh mereka pada tempat tinggalnya.
"Ariah!" Vizena memanggil Ariah dengan suara yang keras. Tak butuh waktu lama. Ariah langsung datang padanya.
"Saya disini, Yang Mulia."
"Katakan pada semua pelayan untuk pergi dari sini, aku tidak membutuhkan mereka!"
"Apa terjadi sesuatu, Yang Mulia?" Ariah tampak khawatir karena Vizena begitu serius dalam ucapannya.
"Lakukan saja perintahku." Ujarnya dengan nada tak terbantahkan. Ariah mengerti, kemudian ia segera pergi untuk melaksanakan perintah Vizena.
'Sepertinya waktu bermain-main telah habis.'
.
.
.
::To Be Continued::