18. Daratan Lima Negara [4]: Against It

2175 Words
Dengan hati-hati Zaviest menapakkan kakinya di lantai teras kamar yang gelap itu. Ia mengendap-endap seperti seorang pencuri. Sering kali ia harus melihat pada sekelilingnya, memastikan bahwa tidak ada orang selain dirinya.  "Siapa kau?!" Sebilah pedang menghunus pada leher Zaviest. Mata pedang sangat dekat dengan kulitnya, sehingga sedikit gerakan saja akan berakibat fatal.  Zaviest mengangkat tangannya tanda menyerah. Dengan perlahan ia bergerak untuk membalikkan tubuhnya agar orang itu bisa melihat dirinya. "Kau? Untuk apa pengawal Pangeran Moscha datang ke tempatku?" Tanyanya tanpa menurunkan pedang karena ia tak mempercayai siapapun.  "Ini aku," kata Zaviest, "bisa kau hidupkan apinya? Agar kau bisa melihatku dengan jelas?" Imbuhnya lagi. "Mengapa aku harus melakukannya?" Zaviest memutar matanya dengan kesal, bagaimana bisa orang tidak berubah.  "Kusala, nyalakan apinya!" Pangeran Kusala tidak percaya begitu saja, meski dia sedikit terusik saat seorang yang hanya menjadi pengawal berani memanggil dirinya dengan hanya menggunakan namanya saja. Dia tetap berada ditempatnya dengan mata pedang terhunus pada leher Zaviest.  "Teratai emas! Angsa hitam! Layangan bergambar burung!" Zaviest mengatakan hal-hal yang dia pikir bisa mengingatkan Kusala.  "Siapa kau sebenarnya! Semua itu hanya diketahui olehku dan juga Rajamu!" Zaviest memutar matanya dengan kesal. Mengapa seorang pangeran yang tampan, gagah, dan memiliki ilmu beladiri yang tinggi ini begitu bodoh. Seandainya Zaviest bisa, ia akan membuka penyamarannya, tapi ia masih harus tinggal disini untuk beberapa saat lagi. Tidak seorang pun boleh melihatnya di Sholaire. "Karena ini aku." Dengus Zaviest. Entah apa lagi yang harus dia katakan pada Kusala agar percaya padanya.  "Aku tahu kau adalah pengawal Pangeran Moscha! Jangan berbelit-belit!" Hardik Kusala. "Setelah ini kau harus bertanggung jawab!" Ujar Zaviest yang sudah putus asa mengatasi kebodohan Kusala. Maka ia kemudian menjentikkan jarinya di udara, sebuah asap berwarna kehijauan muncul kemudian menyebar keseluruh ruangan dan membuat api menyala menerangi ruangan tersebut. Setelah itu, rambut hitam Zaviest kembali menjadi rambutnya yang berwarna perak.  "Yang Mulia Raja!" Seru Kusala seraya menarik pedangnya kembali dan berlutut dihadapan Zaviest. "Maafkan saya, tidak bisa mengenali anda, Yang Mulia." Kusala terlihat menyesal dan malu. . "Sudah, sudah, bangunlah." Kata Zaviest lalu ia membantu Kusala untuk berdiri, "aku tahu kau memang sangat lamban dalam berpikir." Kata Zaviest sembari menepuk pundak Kusala dengan pelan. Kusala segera bangkit, ia tersenyum menahan malu. Apalagi mengingat saat kejadian di perkemahan ketika perburuan akan berlangsung.  "Mengapa anda menyamar, Yang Mulia?" Tanya Kusala yang penasaran.   "Bisa kita bicara sambil minum sesuatu?" Zaviest menyunggingkan senyumnya. Kusala mengerti, pembicaraan ini mungkin sangat penting. Segera Kusala mempersilahkan Zaviest untuk masuk kedalam ruangannya. Setelah itu meminta salah satu pelayan yang ditugaskan untuk membantunya membuatkan minuman dan kudapan. "Mengapa datang kemari sendirian? Trugeris itu, dia terlalu keras padamu." Kata Zaviest membuka pembicaraan setelah ia duduk ditempat yang telah disediakan. "Kaisar hanya melakukan yang menurutnya benar, lagipula ini bukan tugas yang sulit." Jawab Kusala. "Kau selalu saja membelanya, meski dia sahabatku tapi kami sangat bertolak belakang."  "Setidaknya, saat ini keadaan Thymur cukup membaik. Kaisar sangat berusaha keras." Sesaat kemudian pelayan datang membawakan dua cangkir minuman dan kudapan untuk kedua orang itu. Zaviest mengambil cangkirnya dan menyesap minumannya, sementara Kusala masih memperhatikan Zaviest dengan seksama. Kusala masih tidak mengerti mengapa Zaviest harus menyamar, dan ini adalah pertama kali baginya melihat Zaviest dengan rambutnya yang pendek begitu. Apa sebenarnya misi dari Zaviest ke Luxorth dengan menyamar? Persahabatan Zaviest dan Trugeris sudah terjadi sejak kedua orang itu remaja. Saat itu Trugeris remaja yang suka bermain-main pergi ke Sholaire, tak sengaja bertemu dengan Zaviest yang sedang berburu. Zaviest begitu tertarik dengan permainan pedang Trugeris, ia meminta Trugeris mengajarinya tapi ditolak mentah-mentah. Meski Zaviest terus membujuknya, tetap saja ditolak.  Akhirnya, satu-satunya cara adalah Zaviest menjadikan Trugeris sahabatnya. Membiarkan pangeran negara asing tinggal dengannya, jadi ia bisa melihat bagaimana Trugeris berlatih. Meski tampaknya ia bersahabat karena memiliki tujuan, tapi keduanya memiliki kesamaan dalam membuat senjata. Keduanya selalu memiliki pemikiran yang serupa jika mengenai pembuatan senjata, pedang khususnya dan hal itu membuat mereka menjadi lebih dekat. Tapi selain itu, keduanya sangat bertolak belakang. Karena kedekatan inilah, beberapa kali Zaviest berkunjung ke Thymur. Sehingga ia juga mengenal Kusala sebagai sepupu Trugeris dan juga kepercayaan dari Trugeris. "Aku percaya jika Trugeris yang menjadi Kaisar maka Thymur akan menjadi negara yang sangat kuat, dan itu membuatku khawatir." Ujarnya sembari terkekeh sendiri dengan ucapannya. "Thymur tidak berarti jika dibandingkan Sholaire, Yang Mulia." Tawa Zaviest sedikit lebih kencang namun itu hanya sebentar. Ia kemudian memandang Kusala dengan hati-hati, ia mencoba menilai Kusala untuk seksama. "Kau pasti punya banyak pertanyaan."  Kusala pun mengangguk, ia tidak akan berbohong pada Zaviest.  "Simpan semua itu nanti, yang harus kau ketahui sekarang adalah aku kemari karena membutuhkan bantuanmu." Mata Kusala menyipit, sungguh apa yang dilakukan oleh Zaviest saat ini membuat dirinya terus bertanya-tanya. Tapi ia mungkin tidak akan pernah mendapatkan jawabannya.  "Bagaimana saya yang lemah ini bisa membantu, Yang Mulia." Zaviest meletakkan cangkir minumannya. Ia kemudian mengangkat telapak tangannya, memutar sedikit dan mengarahkan pada pintu yang sedikit terbuka. Setelah itu, ia membuka telapak tangannya di depan Kusala, ia menggerakkan jari-jarinya hingga terlihat percikan berwarna kekuningan dan muncul sebuah anak panah diatasnya.  "Apa ini, Yang Mulia?" Tanya Kusala. "Aku berharap kali ini kau bisa berpikir dengan cepat," kata Zaviest, "Investigasi mengenai pemanah misterius itu akan dimulai besok, aku telah menyelidikinya dan bukti mengarah pada Puteri Vizena."  "Puteri Vizena? Bagaimana itu mungkin? Bukankah Puteri Vizena kembali bersama Anda waktu itu?" "Kau benar, dia kembali bersamaku, tapi dia pergi bersama suami dan kakak tirinya. Aku berpikir bahwa Vizena telah dijebak." "Mengapa suami dan kakaknya ingin menjebak Puteri Vizena?" Tanya Kusala, "....dan mengapa Yang Mulia peduli terhadap Puteri Vizena?" Zaviest mengerutkan keningnya ketika pertanyaan terakhir itu terlontar dari bibir Kusala. Biasanya ia akan senang jika namanya disebutkan sebelum atau sesudah Vizena, tapi kali ini ia tak bisa memberitahu Kusala apa alasan sebenarnya dia ingin menyelamatkan Vizena. "Ini bukan tentang Vizena, tapi keutuhan Lima Negara," Zaviest mencoba bertaruh apakah dalihnya ini akan berhasil pada Kusala. Jika memang berhasil, pasti benar kalau Kusala cukup bodoh untuk menilai situasi. Astaga! Rasanya ia ingin menertawakan Kusala, tapi melihat wajah serius Kusala yang bisa dia lakukan hanya menahan tawanya, "jika tuduhan mengarah pada Vizena, maka akan pecah perang lagi antara Narth dan Luxorth, tapi kali ini keadaan dua negara ini sedang kurang baik, karena itu mereka akan menghimpun bantuan dari sisa negara lainnya, maka perang Lima Negara ini akan pecah." Jelas Zaviest panjang lebar  "Itu buruk sekali," Zaviest menganggukkan kepalanya menyepakati ucapan Kusala, "Benar, itu sangat buruk sekali," katanya. "Lalu apa yang bisa aku lakukan dengan anak panah itu?" "Dihadapan semua orang saat putusan Investigasi itu diumumkan, majulah dan tunjukkan anak panah ini, tapi sebelumnya...." Zaviest berdiri lalu berjalan mendekat pada Kusala, ia meraih bahu Kusala kemudian menggoreskan panah itu pada bahu itu hingga pakaiannya sobek dan darah mengalir dari sayatan tersebut.  "Argh! Yang Mulia!" "Ssshh, diamlah! panah ini mengandung racun," kata Zaviest dengan bibir yang tersungging sedikit. "Apa?! Yang Mulia, Anda?!" Wajah Kusala berubah menjadi pucat, bibirnya membiru. Tapi tepat setelah itu, Zaviest membuka sebuah botol berisi cairan berwarna hitam dan meminta Kusala untuk meminumnya.  "Katakan saja, kau terluka karena beberapa pria bertopeng menyerangmu dan berikan panah ini. Sisanya, akan diurus olehku dan Moscha." Kusala mengangguk dengan lemah, ia masih sangat terkejut dengan yang dilakukan oleh Zaviest padanya. Bagaimana bisa seseorang dengan mudahnya memberikan racun pada saudara sahabatnya. "Ngomong-ngomong, kau harus membantuku mengecat rambut ini menjadi hitam, Kusala." "Apa?!"  Zaviest terkekeh, ia sangat terhibur dengan ekspresi wajah Kusala. Hari ini dia benar-benar telah membodohi Pangeran dari negara lain secara habis-habisan.  °°°°° "Errgghhhh," Vizena mengerang kesakitan ketika luka sayatan yang ada di bahu kirinya itu jahit oleh dokter kerajaan. Keringat dingin membasahi keningnya, sepanjang pengobatan ia terus saja memejamkan matanya.  Entah mengapa rasa sakit dan perih yang dirasakannya akibat luka tebasan pedang di bahu kirinya ini terasa lebih menyakitkan daripada luka yang meninggalkan bekaa di sepanjang bahu kiri hingga ke perutnya dulu. Mungkin tekanan dalam pikirannya yang ia rasakan saat ini membuat tubuhnya merespon dengan menjadi lebih sensitif sehingga ada luka sedikit saja menjadi terasa begiti menyakitkan. Sepanjang matanya terpejam, Vizena teringat pada kejadian di perkemahan tadi. Eyster telah berbohong dihadapan semua orang disana dengan mengatakan bahwa dirinya hanya bersama dengan Gard, sementara mereka memasuki hutan bertiga. Vizena masih tak habis pikir, untuk apa berbohong jika semua orang mengetahui kebenarannya.  Sementara itu, Gard sebagai suaminya pun hanya dia membatu seolah ia tak memiliki mulut hanya untuk sekedae bicara dan mengatakan kebenarannya. Mengingatnya, membuat d**a Vizena terasa sesak seolah akan meledak.  "Argh!" Vizena memekik kesakitan ketika jahitan terakhir ditarik sedikit untuk dikaitkan dan mengikatnya agar menjadi lebih kuat.  "Saya sudah menjahit luka ini, dan menuliskan beberapa bahan obatnya." Kata Dokter Kerajaan. Ia kemudian memberikan secarik kertas pada Ariah yang berisi resep bahan-bahan obat untuk diminum oleh Vizena agar lukanya segera membaik. "Terimakasih dokter." Kata Vizena, sembari dibantu oleh Ariah ia bangkit dan menyampirkan pakaiannya sembarangan ke tubuhnya yang setengah telanjang itu. "Untung saja, Anda memikiki fisik yang kuat. Saya yakin anda akan segera pulih, Yang Mulia."  "Hmm, ngomong-ngomong bagaimana dengan luka Puteri Kheiraz?" Tanya Vizena dengan suaranya yang terdengar semakin bergetar karena lemah. "Yang Mulia, sebaiknya anda beristirahat." Ariah tampak begitu khawatir.  "Menjawab Yang Mulia, Luka Puteri Kheiraz tidaklah terlalu dalam, namun anak panah itu beracun, bukan racun yang mematikan, dan sudah diberikan penawarnya, dia akan segera sadar." Dokter itu menjelaskan.  "Baiklah, kau boleh pergi dokter." Ariah mengantarkan dokter tersebut pergi sekaligus membeli bahan obat yang harus diberikan pada Vizena.  Disisi lain, diatas ranjangnya Vizena bersandar pada kepala ranjangnya. Ia menghela nafasnya, karena semua pertanyaannya sama sekali belum terjawab. Karena sangat gelisah, Vizena menggerakkan kakinya untuk turun dari ranjang. Ia hendak pergi ke tepi jendela yang sedang terbuka dan memancarkan sinar rembulan itu. Tapi, belum sempat ia melangkah ketika ia hanya masih berdiri tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir membuatnya jatuh. Beruntungnya seseorang segera meraih lengan Vizena dan menariknya sehingga alih-alih Vizena terjatuh dilantai dan membuat kondisinya semakin buruk malah terjatuh dalam pelukannya.  Mata lembayung Vizena terpejam, meski begitu indra penciumannya yang tajam menangkap aroma familiar yang sangat harum. Aroma sandalwood yang kuat tapi begitu segar, untuk sesaat Vizena menikmatinya sampai ia pun tersadar.  Wajah Vizena mendongak dengan perlahan, ia melihat rahang kokoh milik Zaviest dari bawah, matanya terbelalak lebar kemudian dengan sisa tenaganya ia mendorong Zaviest. Pria itu melepaskan pelukannya lalu terhuyung ke belakang dengan menarik pakaian Vizena yang tadi tidak digunakan dengan benar. Sehingga bahu Vizena terbuka. Gerakan Zaviest sangat cepat saat ia melepaskan jubahnya bagian belakangnya lalu menggunakannya untuk menutupi bahu Vizena. Wajahnya memerah begitu juga dengan Vizena yang berdiri lemah menghadap ke sisi yang lain. "Tuan Dranis! Kau sangat lancang!"  "Saya terlalu khawatir dan ingin memastikan bahwa Puteri baik-baik saja." Balas Zaviest sembari melihat ke arah yang lainnya. "Tidak, tidak perlu mengkhawatirkanku." Balas Vizena dengan nada datar. "Harus bagaimana? Meski saya mencobanya, saya tidak bisa melakukannya, Puteri." Ujar Zaviest dengan suara yang lirih.  Vizena merapatkan lagi jubah yang diberikan Zaviest tadi ke tubuhnya. Lalu ia duduk diranjangnya karena telalu lemas untuk terus berdiri. Kehilangan darah membuatnya cukup tak mampu untuk berdiri lebih lama dari biasanya.  "Kau sudah melihatku, Tuan Dranis. Seperti yang kau lihat kan, aku baik-baik saja." Kata Vizena, "pergilah sebelum orang-orang bisa menyebarkan rumor tentang kita." "Aku suka gagasan itu," Gumam Zaviest dengan tersenyum samar tapi Vizena cukup jelas mendengarnya. Tapi Vizena hanya melirik Zaviest dan berdecak kesal. "Kumohon Tuan Dranis, jangan membuat keadaan semakin kacau." Kata Vizena dengan resah. Sudah cukup ia memikirkan tentang Eyster dan Gard. Dirinya tak punya waktu lebih untuk memikirkan rumor yang akan tersebar jika seseorang melihat Dranis berada dikamarnya dengan keadaannya yang setengah telanjang terbalut jubah milik Zaviest. "Itulah sebabnya saya kemari, Yang Mulia." Akhirnya Vizena menoleh pada Zaviest, menatap Zaviest dengan mata lembayungnya yang sendu.  "Apa maksudnya itu?" Tanya Vizena. "Besok Kaisar Mouszac akan mengadakan pertemuan penting terkait dengan pemanah misterius yang melukai Puteri Kheiraz." "Lalu?" Vizena semakin bingung, sudah sewajarnya jika Kaisar membuat pertemuan untuk hal ini. Apalagi yang harus dilakukan Kaisar, jika tidak bisa melindungi tamunya maka konsekuensinya akan besar. Apalagi tamu itu adalah orang penting. "Semua bukti mengarah pada Anda, Yang Mulia." Mata Vizena melebar, tiba-tiba saja ia bangkit, rasa sakit di bahunya menyengat lagi dan ia meringis kesakitan kemudian Zaviest membantunya untuk duduk kembali.  "Bagaimana itu mungkin? Aku bahkan tidak bertemu dengan Puteri Kheiraz di dalam hutan, dan semua orang tahu aku tidak membawa busur ." "Seseorang telah merencanakan ini, entah apa maksudnya, apakah dia ingin menyerang anda atau menarik pertikaian diantara dua kerajaan. Saya masih menyelidikinya."  Helaan nafas berat dihembuskan oleh Vizena, dadanya terasa sesak karena ia baru saja ditimpa dengan beban yang sangat berat. Kepalanya menunduk kebawah, pandangannya mengarah pada kaki telanjangnya yang menapak pada lantai marmer kamarnya. Pikirannya mengarah pada Eyster dan Gard. 'Apa dua orang itu merencanakan semua ini? Menjebakku? Untuk apa?' Batin Vizena berbisik lirih. "Puteri, lakukan saja yang saya katakan, besok kita akan membuat sedikit mengacaukan orang yang membuat konspirasi itu." Zaviest kemudian membisikkan semua rencananya pada Vizena. Sementara Vizena mendengarkan secara seksama. Tapi dalam benaknya ia sedikit ragu pada Zaviest, mengapa Zaviest, seorang pengawal dari negara asing ingin membantunya.  "Saya hanya tidak ingin anda terluka." Ujar Zaviest seolah menjawab pertanyaan Vizena yang tidak diucapkan itu. . . . ::To Be Continued::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD