Daratan Lima Negara [3]: Royal Bandits

2644 Words
Hutan kerajaan telah di penuhi oleh pengikut perburuan, semua bangsawan muda, baik pria atau pun perempuan diperbolehkan untuk mengikuti perburuan ini. Untuk menyemarakkannya, Kaisar Mouszac telah mengumumkan akan memberikan hadiah kepada siapapun yang berhasil mendapatkan poin terbanyak.  Perhitungan poin tergantung pada hewan yang didapatkan. Semakin besar dan tingkat kebuasannya tinggi, maka poinnya pun akan semakin banyak. Tapi ada satu pengecualian khusus untuk satu jenis hewan, untuk rusa berbulu emas yang hidup di hutan. Rusa itu jarang menampakkan diri, harga jualnya pun tinggi. Jadi bagi yang bisa menangkapnya akan langsung menjadi pemenang untuk perburuan ini. Telah berbaris semua peserta termasuk dari utusan negara lain yang berbaris pada bagian paling depan. Mereka siap untuk menerima instruksi dari Kaisar Mouszac yang akan membuka perburuan ini. Kaisar Mouszac begitu gagah terlihat dibalik balutan serba putih pakaian berburunya. Ia berdiri dihadapan semua peserta kemudian mengumunkan peraturan perburuan. Semua orang bebas memburu hewan apa saja, dan harus kembali sebelum jam enam sore setelah itu akan diumunkan siapa pemenangnya.  Ketika seorang petugas hendak memukul genderang pertanda perburuan telah dimulai. Seseorang tiba-tiba keluar barisan, itu adalah Puteri Kheiraz. Ia membungkuk memberikan hormat pada Kaisar, dan membuat semua orang bertanya-tanya.  "Yang Mulia, sebagai salah satu utusan dan peserta perburuan ini, Saya Puteri Kheiraz ingin menantang Tuan Puteri Vizena." Semua orang bergumam lirih, mereka menuding Kheiraz. Semua orang tahu bahwa Puteri Vizena terluka parah ketika masih remaja dan fungsi tangannya rusak. Bagaimana bisa diminta untuk berburu.  Kaisar terkejut, permintaan seperti ini sangat wajar. Tapi menantang puterinya? Seandainya tantangan ini diajukan empat tahun lalu, maka dengan bangga ia akan melepas puterinya menerima tantangan. Tapi saat ini? Kaisar melihat dengan kepalanya sendiri, bahwa Puterinya bahkan tidak bisa mengangkat cangkir terlalu lama.  "Apakah Yang Mulia Kaisar akan menolak permintaan saya?" Kheiraz mendesak. "Luxorth tidak pernah menolak permintaan, Puteri Kheiraz." Vizena berjalan menuju tempat barisan para peserta dengan anggun dari tenda kerajaan ditempat dimana tadi ia sedang duduk menonton.  "Vizena, apa kau yakin?" Tanya Kaisar Mouszac yang tampak gelisah. Ia menghampiri Puterinya, lalu menepuk pundaknya, "kau tidak perlu melakukannya," "Tidak ayahanda, tunggu saja apa yang akan kubawa nanti." Kata Vizena meyakinkan Ayahnya agar tenang. Kaisar mengusap puncak kepala Vizena dengan lembut. "Ayah menunggumu." Vizena kemudian masuk kedalam barisan. Ia tepat berada di antara Pangeran Kusala dan Zaviest. Kedua pria itu secara bersamaan memiringkan kepala mereka untuk bicara pada Vizena. "Saya sungguh beruntung." Kata Kusala "Ini sangat luar biasa, Puteri!" Ujar Zaviest. Dan keduanya mengatakan itu secara bersama-sama. Menyadari itu, kedua pria itu pun menelengkan kepala dan saling menatap dengan tatapan mata yang disipitkan dan alis yang terangkat.  Vizena memutar matanya kesal, dan menatap kedua pria itu bergantian. Ia seolah melihat ada permusuhan diantara kedua itu, ia hanya bisa menghela nafas secara kasar untuk membuat keduanya menarik dan menegakkan tubuh masing-masing. Genderang sudah dipukul, burung telah dilepaskan pertanda bahwa perburuan telah dimulai. Vizena segera berbalik, ia berjalan kearah kuda hitam legam miliknya. Tanpa disadarinya Zaviest berjalan dibelakanya. "Puteri!" Zaviest menepuk pundak Vizena dengan cepat. Seketika iti Vizena berbalik. Ia terperanjat dan mundur satu langkah karena tubuh Zaviest yang begitu dekat dengannya. Tubuh Vizena limbung hampir membuatnya terjatuh, akan tetapi Zaviest lebih cepat sehingga ia bisa meraih pinggang Vizena dan menahannya agar tidak terjatuh. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Anehnya, tiap kali Vizena menatap mata indah Zaviest yang berwarna keemasan, ia selalu merasa ada getaran aneh yang terjadi pada jantungnya. Selalu berdebar lebih kencang dari biasanya.  "Ehm," seseorang berdeham, membuyarkan pandangan kedua insan itu. Zaviest membantu Vizena untuk berdiri dan melihat Moscha sedang berdiri di samping mereka. "Orang-orang memperhatikan kalian." Bisik Moscha.  Zaviest dan Vizena pun menoleh ke sekelilingnya, apa yang dikatakan oleh Moscha ada benarnya hampir semua mata terarah pada mereka. Tapi kemudian berpaling ketika Vizena memandanginya. "Mengapa kau selalu muncul begitu saja." Vizena menggerutu. "Karena akan membosankan jika menggunakan cara yang biasa." Balas Zaviest dengan senyum jahil terpasang jelaa diwajahnya.  "Yang Mulia, aku akan menemani anda." sebuah suara menginterupsi Vizena yang hendak menjawab ucapan Zaviest. Ia menoleh ke samping, rupanya Gard sudah ada di sampingnya dengan membawa kuda besar berwarna cokelat. Lalu tak lama kemudian, Eyster berjalan kearah mereka dengan memegang tali kekang kudanya. Vizena tak mengerti mengapa Eyster menghampiri mereka. Semua yang dilakukan oleh Eyster hanya menambah daftar pertanyaannya yang belum terjawab.  "Aku juga akan ikut bersama dengan kalian." Ujar Eyster sembari menyunggingkan senyuman yang terlihat menawan. Mata Zaviest menyipit penuh curiga, ia memiliki firasat yang tidak baik krtika melihat dua orang itu datang.  "Baiklah." Jawab Vizena. "Puteri," Zaviest memanggil Vizena yang hendak naik ke kudanya.  "Ya?" "Ijinkan aku ikut rombongan kalian." Katanya dengan suara lirih. "Mengapa Tuan Pengawal ingin ikut dengan rombongan kami? Bukankah seharusnya anda mengawal Pangeran anda?" Eyster menyela dengan suara yang cukup keras sehingga menarik perhatian beberapa orang yang akan berangkat. Vizena melihat jika percakapan ini diteruskan maka waktu yang terbuang akan cukup banyak. Dengan sedikit hentakan ia melompat dan menaiki kudanya. Ia menunduk untuk menatap Zaviest yang ada disamping bawahnya. "Tuan Dranis, sampai jumpa lagi nanti." Vizena menghentakkan kakinya ke kuda dan melaju memasuki hutan disusul oleh Gard dan Eyster. Zaviest tersenyum kecut, permintaannya ditolak begitu saja oleh Vizena. Ia hanya bisa menghela nafasnya kemudian kembali ke tempat Moscha yang masih mengusap-usap surai kudanya.  "Kita susul dia?" Tanya Moscha lalu naik ke kudanya.  "Pikirkan nanti saja." Jawab Zaviest dengan pelan. Perasaannya mengatakan bahwa mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi. Sebagai seorang raja, ia memiliki insting yang kuat.  Hanya dengan melihat secara langsung Gard dan Eyster bersama Vizena seperti sesuatu yang sangat janggal. Entah mengapa ia merasakan hal seperti itu, tak banyak informasi yang dia dapatkan mengenai kedua orang itu.  'Semoga dia baik-baik saja.' Zaviest membatin. °°°°° Sebuah anak panah melesat ke udara dengan cepat, ujungnya lancip menancap kuat tepat di d**a elang yang sedang melintas, membuatnya berguling dan terjatuh menghantam tanah dengan sangat keras.  Dari atas kudanya Gard segera turun, ia kemudian berlari kecil untuk mengambil tubuh elang itu. Elang yang cukup besar itu kemudian ia bawa kembali. Eyster yang berada di atas kudanya begitu antusias melihat Gard membawa elang itu.  "Hebat sekali!" Katanya kemudian ia mengulurkan tangannya.  Tak jauh darinya Vizena hanya mengangkat alisnya. Dengan mudahnya Eyster meminta hasil buruan dari Gard. Di sisi lain, Gard yang di berdiri diantara kuda Vizena dan Eyster merasa canggung dan bingung. Kepada siapa ia harus memberikan elang yang dibawanya. Eyster sudah mengulurkan tangan dengan antusias, tapi isterinya sendiri, Vizena tampaknya tidak peduli. "Buatku saja Gard! Kau tahu aku tidak ahli berburu, kau bisa cari lagi nanti." Suara Eyster mengusik kebingungan Gard. Ia memandangi Eyster sejenak, jika Eyster tidak ahli berburu setidaknya ia tidak memiliki kekurangan. Tapi Vizena, mengangkat cangkir tanpa gemetar saja merupakan sebuah keajaiban baginya, terlebih lagi saat ini Vizena sedang menerima tantangan dari Puteri Kheiraz.  "Nona Eyster, biarkan Tuan Puteri memiliki yang ini." Kata Gard dengan sesopan mungkin. Eyster segera menarik tangannya lagi dengan wajah cemberut. Gard menyerahkan elang itu kepada Vizena. "Yang Mulia," Gard mengangkat elang itu agar bisa diambil oleh Vizena. Tapi, Vizena menatapnya dengan alis yang terangkat tanpa melepaskan tali kekangnya, ia mengamati elang itu dan wajah Gard. Ketika melihat rasa kasihan muncul di wajah Gard, ia kembali menatap lurus ke depan. "Biarkan kakak memilikinya," Katanya dengan datar, "elang itu tidak seberapa nilainya." Ucapnya lagi.  Bukan jawaban yang di inginkan oleh Gard. Selain itu ia juga merasa familiar dengan sikap Vizena ini. Begitu sinis, bukan seperti Vizena yang biasanya. Ini mengingatkan Gard pada hari pertama setelah pernikahannya. Ada aura gelap yang seolah sedang menyelubungi tubuh Vizena. "Terimakasih, adik! Aku tahu Gard pasti akan mendapatkan yang terbaik nanti untukmu." Ujar Eyster.  Gard kembali naik keatas kudanya. Tepat saat itu seekor babi hutan yang berlari lewat tak jauh dari mereka. Eyster tampak bersemangat sekali.  "Gard, ayo kejar itu!" Seru Eyster, tanpa berpikir panjang ia memacu kudanya untuk mengejar babi hutan itu. Gard masih terdiam di tempatnya. Ia menunggu Vizena yang sama sekali tidak bergerak hanya memansang lurus ke depan saja.  "Yang Mulia?"  "Kejar saja Nona Eyster, aku akan ke sisi lain." Jawab Vizena. "Tapi, bagaimana anda bisa mendapatkan buruan?" Tanya Gard lagi.  Vizena mengangkat tangan kirinya, ia menatapnya kemudian mengangkatnya ke udara dan menggerakkan jari-jarinya. Gard merasa bingung dengan sikap Vizena, ia sama sekali tak mengerti jalan pikiran Vizena. "Dengan tangan ini tentunya." Kata Vizena lagi. "Yang Mulia, anda tidak perlu memaksakan-" 'ARRRRGHHHHHH' Sebuah teriakan memekakan telinga terdengar sangat keras dari arah Eyster mengejar babi hutan tadi. Vizena menoleh pada Gard yang wajahnya terlihat panik dan bingung itu.  "Kenapa masih disini! Kejar Nona Eyster!" "Yang Mulia, ikutlah dengan saya." Ujar Gard yang tampaknya memiliki keraguan besar dan kekhawatiran.  "Aku harus menyelesaikan tantangan ini." Vizena kemudian mengarahkan kudanya ke arah lain. Ia berjalan pelan meninggalkan Gard. Ia tahu bahwa Gard merasa sangat khawatir karena Eyster.  "Yang Mulia anda harus iku-" Wusssssh Tak! Sebuah anak panah melesat dan mengenai sebuah pohon. Menancap kuat disana. Untung saja Vizena berhasil menghindarinya. Gard yang sangat terkejut pun segera menghampiri Vizena, wajahnya semakin pucat. "Yang Mulia, Apa Anda baik-baik saja?" Tanya Gard sembari memperhatikan sekeliling. "Pergi dan cari Nona Eyster!" Wussshh Greb! Kali ini panah itu tertangkap oleh tangan Gard yang cepat, ujungnya hampir mengenai permukaan topeng emas milik Vizena. "Tidak mungkin saya meninggalkan anda! Seseorang berusaha mencelakai anda, Yang Mulia." "Eyster tidak mahir menggunakan senjata, dia bisa terluka juga." Kata Vizena. Batin Gard bergejolak, ia kini berada pada dilema yang luar biasa. Vizena sangat keras kepala, sementara Eyster sudah pergi entah kemana. Ia merasa terjebak pada keadaan yang sulit.  "Aku akan segera kembali," Gard akhirnya memutuskan. Ia berbalik dan memacu kudanya dengan cepat.  Tepat setelah Gard pergi, orang yang tak di kenal menembakkan panahnya ke arah Vizena. Dengan cepat ia melaju, dan berusaha menghindari serbuan anak panah itu. Anehnya, panah-panah itu seolah tidak ada habisnya dan terus mengejar Vizena. Hhiiiihiiiikkkk hhiiiiihiiikkk Kuda hitam Vizena meringkik dan mengangkat kaki depannya, bergerak tak terkendali setelah kaki belakangnya terkena sebuah anak panah. Tubuh Vizena terpelanting dan jatuh ke tanah dengan sangat keras.  Sesaat kemudian beberapa orang sekitar enam dengan pakaian serba hitam mengepungnya dengan mengacungkan pedang ke arahnya. Vizena tidak bisa mengenali orang-orang itu karena mereka menggunakan penutup wajah. Tapi dari postur tubuh mereka yang tinggi besar dan kekar, jelas bahwa enam orang itu semuanya pria. 'Enam pria menyerang seorang gadis lemah?' Batinnya. Ke enam pria itu bersama-sama menyerang Vizena dengan menghunuskan pedang mereka. Dengan gesit, Vizena mengambil belati di saku pinggangnya yang kemudian berubah menjadi pedang panjang. Ia memutar tubuhnya sembari menangkis semua pedang yang terhunus kearahnya.  Vizena melawan pria-pria itu dan beradu pedang dengan menggunakan hasil latihannya bersama gurunya dulu. Ia berhasil mengalahkan dua di antara mereka. Tapi tetap saja, ia kalah jumlah dan mengalami beberapa luka sayatan. Setelah beberapa lama ia pun kehabisan tenaga. "Habislah kau!" Teriak salah seorang dari mereka kemudian mengangkat pedang dan berlari kearah Vizena hendak menebas kepala Vizena dari atas.  Kraaaakk Pedang itu patah jadi dua ketika menghantam sebuah pedang kristal yang berkilauan. Pria bertopeng itu gemetar memegang gagang pedangnya, ia melangkah mundur dan terjatuh ke tanah karena ketakutan. Entah apa yang dirasakannya, tapi tubuhnya begitu lemas tak berdaya. "Puteri, Apa kau terluka?" Tanya Zaviest dengan menyeringai seperti anak kecil. "Tuan Dranis?" °°°°° Di bagian tengah hutan terdapat sedikit ruang terbuka dimana tidak ada pohon yang tumbuh. Begitu terang karena matahari langsung mengenai area tersebut.  "Kali ini aku yang menang!" Pekik Moscha sembari tersenyum memandangi kartu yang dia bawa dan ia letakkan diatas meja.  Sejak dimulainya perburuan, mereka menemukan tempat untuk bersantai. Zaviest benar-benar tidak tertarik untuk berburu saat ini, apalagi setelah ditolak oleh Vizena untuk ikut dalam rombongan si Tuan Puteri itu.  "Jangan senang dulu!" Zaviest meletakkan kartunya dan menunjukkan bahwa miliknya jauh lebih bagus dari milik Moscha. Melihat kartu milik Zaviest dunia Moscha serasa hancur. Ia memegangi kepalanya yang pening.  "Lampu putar milikmu, akan segera menghiasi kolam ikanku!" Kata Zaviest dengan nada dimainkan. Wajah Moscha begitu murung, ini adalah kekalahan terbesarnya. Hhiiiihiiiikkkk hhiiiiihiiikkk Terdengar suara kuda yang meringkik sangat keras. Dahi Zaviest berkerut cukup dalam. Sementara Moscha memperhatikan sekitarnya. "Kuda siapa yang meringkik?" Tanya Moscha. "Aku harus pergi!" Insting Zaviest mengatakan bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Ia menggunakan sihirnya, dan membuat sebuah portal lingkaran berwarna jingga dan memasukinya.  "Lalu aku harus disini?" Mosha melihat ke sekeliling dengan bingung. Ia menghela nafasnya karena selalu saja ditinggal oleh Zaviest. Namun, sesaat kemudian secara tiba-tiba seseorang menarik kerah bajunya. Hanya dengan satu kedipan mata saat ini Zaviest dan Moscha sedang berada di atas sebuah ranting pohon yang besar. Di bawahnya terjadi sebuah pertempuran, empat orang melawan seorang gadis. Terlihat gadis itu sudah kehabisan tenaganya karena nafasnya yang tersengal-sengal "Bukankah itu, Pu-" kata-kata Moscha menggantung begitu saja di udara ketika kakaknya sudah menghilang dari sampingnya dan melompat turun untuk membantu gadis itu. "Lihatlah, dia tidak bisa melihat pujaan hatinya terluka. Bahkan sampai mengeluarkan pedang kristalnya." Gumam Moscha sembari mengawasi Zaviest dari atas. Bukan hal sulit bagi Zaviest untuk mengalahkan semua penyerang itu. Setelah beberapa kali serangan, semua pria itu tak berkutik dan memilih untuk melarikan diri.  Setelah memastikan semua penyerang itu pergi, Zaviest berbalik. Ia melihat Vizena berdiri dengan pedang sebagai penyangga tubuhnya. Zaviest segera mendekati Vizena dan meraih lengannya untuk membantunya berdiri dengan tegak. "Puteri, kau terluka." Zaviest melihat sebuah sayatan di bahu kiri Vizena.  "Ini bukan masalah besar," "Kakak, sebaiknya kita bawa Puteri Vizena kembali." Kata Moscha yang baru saja turun. Vizena terlihat akan menolak permintaan itu karena dia sendiri merasa bahwa dia tidak terluka. Tapi tubuhnya begitu lemah, bahkan berdiri saja goyah. Dirinya terhuyung ke depan saat akan berjalan pergi, untung saja Zaviest bergerak cepat dan menangkap tubuh kecil Vizena. Lalu, diangkatnya Vizena dan ia berjalan kembali ke perkemahan.  Dalam dekapan Zaviest, tak banyak yang bisa dilakukan oleh Vizena, ia hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu Zaviest. Bahunya juga semakin nyeri, tadinya ia tidak sadar jika orang-orang yang menyerangnya membuat dia terluka sampai Zaviest memberitahu dirinya.  "Itu pedang yang sangat bagus," bisik Zaviest sembari berjalan. Tentu saja tidak akan luput dari pengamatan tajam Zaviest, ia melihat semuanya.  "Guruku memberikannya untukku." Balas Vizena. Zaviest terdiam, ia tidak menduga jawaban itu yang akan keluar dari bibir Vizena. Sekali melihat saja dia tahu, bahwa jenis senjata seperti yang digunakan oleh Vizena hanya bisa dibuat oleh satu orang, Trugeris Khan, sahabat lamanya.  "Dia pasti orang yang hebat." Kata Zaviest setelah beberapa saat. "Sangat hebat, berkat dia aku bisa menggunakan tanganku, bahkan tangan kananku juga." Balas Vizena tanpa sadar ia telah mengungkapkan satu rahasia yang coba ia sembunyikan pada semua orang.  "Saya baru tahu, anda pengguna tangan kiri." Kata Zaviest lagi. Diam-diam ia merasakan ada gejolak aneh dalam hatinya, itu rasa sakit yang seperti ditusuk jarum, rasa sakit itu selalu saja muncul ketika sekelebat bayangan yang terjadi di masa lampau melintas dalam benaknya. "Itu dulu, saat ini semua orang hanya tahu bahwa kedua tanganku tak bisa digunakan." Katanya lagi. "Maaf." Suara Zaviest begitu lirih, sangat pelan bahkan itu hanya mirip seperti gerak bibir saja. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka telah keluar dari tengah hutan dan berada di perkemahan kerajaan. Vizena meminta Zaviest untuk menurunkan dirinya. Suasana terasa sangat aneh, karena semua orang tampaknya sudah kembali dari perburuan mereka, dan banyak mata tertuju pada Vizena yang berjalan ke tenda Kaisar.  Vizena merasa bahwa ada sesuatu yang salah karena pandangan semua orang padanya merupakan tatapan penuh tanda tanya dan tuduhan. Semua itu terasa janggal apalagi saat ia melihat beberapa orang berlutut dihadapan Kaisar yang berdiri memunggungi semua orang.  'Apa yang terjadi disini.' Gumamnya dalam hati. "Yang Mulia, hamba bersama dengan Tuan Gard saat kejadian ini berlangsung. Jadi tidak mungkin Gard melakukan semua itu." Vizena tahu dengan jelas pemilik suara itu adalah milik Eyster.  "Puteri Vizena ada disini, Yang Mulia. Mengapa anda tidak menanyakan itu padanya?" Kebingungan semakin melanda Vizena, ia baru saja diserang dan bahunya terluka. Saat kembali yang sepanjang jalan ia pikirkan adalah untuk beristirahat. Tapi malah di hadapkan pada keadaan tegang yang tak diketahui penyebabnya. "Ada apa ini, Ayahanda?" "Puteri Kheiraz diserang, penyerangnya menggunakan senjata khusus keluarga kerajaan." Jelas seorang kasim. "Apa?!" :: To Be Continued:
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD