500 tahun yang lalu terjadi pertempuran hebat antara negara yang saat ini menjadi bagian dari Lima Negara. Mereka berperang selama puluhan tahun, sehingga mengakibatkan timbulnya banyak korban, tak hanya dari pasukan tapi juga dari masyarakat sipil.
Pasokan pangan semakin lama semakin tipis. Ladang dan hutan habis karena dijadikan arena pertempuran. Seluruh daratan dan lautan telah tercemari oleh darah-darah masyarakat yang tak berdosa dan kekejaman para tirani yang haus kekuasaan.
Tidak ada yang menjadi pemenang perang, semua pihak mengalami kekalahan telak dalam perang itu karena dampak yang ditimbulkan sangat luar biasa.
Peperangan ini tak akan pernah berhenti jika para pemimpin negara ini tidak menahan nafsu mereka akan keserakahan dan kekuasaan. Mereka terus ingin merebut tanah lain, yang lainnya ingin menguasai lautan, ada yang ingin menguasai pertambangan, segala hal yang bisa menyempurnakan kekuasaan mereka akan segera diperebutkan.
Saat itulah terjadi krisis pada seluruh kerajaan dominan, Sholaire, Luxorth, Arkteir, Thymur dan Narth. Mereka adalah kerajaan terbesar di Daratan, yang mendominasi kerajaan-kerajaan lain disekitar mereka. Dampak peperangan telah membawa banyak kerugian hingga krisis kemanusiaan, politik, dan perekonomian masing-masing negara. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk berunding dengan mengumpulkan para raja terdahulu.
Setelah perundingan dilaksanakan, disepakati tentang beberapa hal: Tanah atau daratan berupa batas jelas perbatasan masing-masing negara dengan menggambar peta baru, membuka jalur sutera darat dan laut, menetapkan peraturan perdagangan, menetapkan hukum yang bisa digunakan secara masal di Lima Negara. Selain itu, membentuk sekelompok orang untuk menjadi pengawas atas Lima Negara. Sehingga terbentuklah Pengawas Lima Negara.
Pada awal terbentuk, Pengawas Lima Negara adalah perpanjangan dari perdana menteri dari tiap-tiap negara. Seiring berjalannya waktu, maka para pengawas ini merupakan penerus yang di didik secara khusus oleh pengawas sebelum mereka dengan mendirikan akademi khusus Pengawas.
"Tuan Puteri?" Suara Ariah mengusik pikiran Vizena yang sedang mempelajari sebuah buku sejarah di taman istana. Vizena menutup bukunya, ia kemudian bangkit dari tanah dan bangkit untuk membenarkan gaunnya yang kusut.
Hari ini ia begitu banyak waktu luang karena pertemuan yang berakhir dengan cukup memuaskan itu. Ia memutuskan untuk menikmati waktu luangnya selagi bisa, karena setelah pertemuan itu Kaisar telah memutuskan bahwa akan ada perburuan sebagai tanda persahabatan Lima Negara.
"Rupanya adik ada disini," Vizena terhenyak, ia seketika menoleh ke arah Ariah. Ternyata pelayannya itu tidak sendiri melainkan bersama dengan Eyster.
"Ah, Kakak, maaf tidak menyadari kehadiran kakak disini." Ucap Vizena dengan tersenyum setengah hati.
"Tidak masalah, aku hanya tidak sengaja lewat dan melihatmu, jadi ingin menyapa." Kata Eyster.
Vizena tahu dengan jelas bahwa Eyster berbohong. Entah mengapa ia berpikir demikian, akan tetapi kecurigaan Vizena begitu besar terhadap Eyster kini.
"Begitu, senang sekali bisa melihat kakak hari ini. Bagaimana kabar Nyonya Miriam?" Tanya Vizena berbasa-basi. Kemudian mereka berjalan melewati taman istana bersama diikuti oleh Ariah.
"Ibunda sangat baik sekali, dia merindukanmu. Sesekali mainlah ke kediaman kami." Ucap Eyster.
"Aku akan mengunjunginya setelah pertemuan Lima Negara ini selesai, Kakak bagaimana kalau kita minum teh?" Vizena menawari, tiba-tiba saja dia ingin minum teh di siang hari yang cerah ini.
"Teh? Tentu saja!"
Keduanya lalu berjalan bersama ke tempat tinggal Vizena.
"Aku mendengar bahwa ada seseorang pria keluar dari kediamanmu, jika benar kau harus berhati-" Tak sempat menyelesaikan ucapannya, Vizenna sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Dia mengantarkan dokumen tentang pertemuan tempo hari." Kata Vizena berbohong.
"Ah jadi begitu rupanya," Eyster manggut-manggut, "tapi bukankah tidak baik, jika seorang pria dari negara asing mengunjungi Puteri dari Luxorth yang sudah bersuami? Apa kata orang nanti, bagaimana dengan anggapan Tuan Gard?"
Vizena mengepalkan tangan dikedua sisinya karena merasa geram. Ia hampir tidak bisa menahan kekesalannya. Dia ingin sekali berteriak pada Eyster untuk menjauh darinya dan mengurusi urusannya sendiri saja. Tapi ia tak bisa melakukannya karena harus menjaga martabatnya sebagai seorang puteri.
"Kami hanya berbagi informasi saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan oleh kakak." Kata Vizena dengan senyum lebar khasnya.
Tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di kediaman tempat tinggal Puteri Vizena. Keduanya langsung pergi melewati jalan samping untuk pergi ke paviliun teras yang berada dibelakang rumah utama.
Setelah diminta oleh Vizena, Ariah segera menyiapkan teh untuk mereka berdua. Sementara keduanya berbincang-bincang di teras itu.
"Tempat tinggal ini masih terlihat bagus meski lama tak di tempati." Kata Eyster sembari melihat ke sekeliling.
"Tentu saja, ini merupakan peninggalan Kakakku yang berharga. Jadi saat aku pergi untuk tinggal di kediaman Gard, aku memastikan tempat ini selalu terjaga." Balas Vizena sambil mengenang Leoxard.
Kediaman Vizena merupakan istana yang dibangun dengan pengawasan Leoxard. Desain mulai dari bentuk luar hingga dekorasi di dalamnya adalah buatan Leoxard. Ia membuat istana ini ketika adik kesayangannya itu masih kecil. Warna-warna yang digunakan pun menyesuaikan dengan kesukaan Vizena. Merah hati.
"Jika kuperhatikan, sekarang adik menjadi lebih dewasa." Eyster mengganti topik pembicaraan dengan cepat yang mana malah membuat Vizena menjadi curiga.
"Semua manusia pasti berubah, kakak." Jawabnya.
Tak berselang lama, Ariah datang dengan membawa sebuah nampan berisi teko keramik berwarna putih polos dan cangkirnya. Ia meletakkan cangkir dan menatanya, sekaligus menuangkan teh dari dalam teko keramik itu.
"Ini adalah teh bunga dari negeri Thymur yang aku dapatkan dari pasar, kakak coba lah!" Pinta Vizena.
Dengan pelan, Eyster mengambil cangkirnya. Ia melihat teh itu berwarna kekuningan dengan sebuah bunga kecil terdapat di tengah-tengah cairan itu. Terhirup dari aromanya begitu wangi. Ia pun menyesapnya, rasanya manis dan sangay melegakkan ketika masuk menuruni tenggorokannya.
"Teh ini sangat nikmat sekali, rasa manisnya tidak membuat mual." Ucapnya dengan kagum.
"Kalau kakak mau, aku akan minta Ariah menyiapkannya."
"Ah tidak perlu, aku akan sering kemari untuk menikmati teh ini bersama adik." Ujarnya sembari menyesap lagi tehnya.
"Begitu juga baik," balas Vizena dengan pelan.
Ketika mereka sedang menikmati teh itu, seorang penjaga masuk dan mendekati tempat Vizena duduk. Ia memberi hormat pada Eyster dan Vizena.
"Ada apa?" Tanya Vizena pada penjaga. Disisi lain, Eyster begitu memperhatikan si penjaga untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh penjaga itu.
"Pangeran Kusala dari negeri Thymur datang berkunjung." Lapor penjaga itu.
Mendapatkan laporan itu senyum diwajah Vizena mengembang. Ia memang sedang menunggu kedatangan Pangeran itu. Sementara itu, disampingnya Eyster sedang memperhatikan dengan seksama.
"Baiklah, minta Pangeran itu masuk aku akan menemuinya di ruang depan." Kata Vizena lagi dengan riang. Penjaga itu segera pergi untuk menemui lagi Pangeran Kusala.
"Rupanya adik berteman dengan pangeran negeri asing juga?"
Vizena tersenyum lebar kearah Eyster, "Tidak ada salahnya memiliki teman dari negara asing." Balas Vizena, "jika kakak tidam keberatan, aku akan menemuinya sebentar." Ujar Vizena lagi.
"Tentu saja! Aku akan menunggu disini."
Vizena bangkit dari tempat duduknya, ia meminta arian untuk membuatkan kudapan, sedang dirinya sendiri pergi ke ruang utama untuk menemui Pangeran dari Thymur itu.
Pangeran Kusala rupanya sudah berada di ruang utama. Ia sedang berdiri mengamati sebuah lukisan Vizena ketika masih kecil, lukisan yang diambil tepat sebelum ia mengalami kecelakaan. Terlihat jelas, ada tersirat kekaguman dimata sang pangeran ketika melihat keindahan lukisan itu. Terlalu fokus pada lukisan yang ada di hadapannya, Ia tak menyadari bahwa sosok yang ada di lukisan itu kini telah berdiri tepat di belakangnya.
"Bukankah lebih baik melihat yang asli?" Suara Vizena mengejutkan Kusala sehingga pria itu tersentak dan seketika menoleh kepadanya.
Kusala membungkuk dihadapan Vizena memberikan hormat. Begitu juga dengan Vizena memberikan hormat kembali pada Kusala. Saat memandangi Kusala dengan seksama, ia menyadari terdapat kemiripan antara Kusala dan Trugeris. Mulai dari mata mereka dan cara tersenyumnya cukup mirip.
"Senang akhirnya bisa bertemu secara pribadi dengan anda, Pangeran." Kata Vizena sembari mempersilahkan Kusala untuk duduk. Tak lama kemudian beberapa pelayan datang untuk menyediakan kudapan dan teh.
"Sebuah kehormatan bagi saya karena Tuan Puteri meminta untuk bertemu," katanya dengan sangat sopan.
'Bahkan cara bicaranya pun sangat mirip.' Gumam Vizena dalam hatinya.
"Silahkan anda cicipi teh dan kudapannya, ini dibuat sesuai dengan selera Thymur." Vizena mengambil cangkirnya sendiri kemudian menyesap tehnya. Begitu pula yang dilakukan oleh Kusala.
Sesaat Kusala tertegun ketika ia melihat isi dari teh tersebut, begitu saat ia mencicipi sebuah kue ia tersenyum samar.
"Ketika memakannya, seolah-olah saya sedang berada di Thymur."
"Guru, ah maksudku Kaisar Trugeris menyukai makanan seperti itu jadi aku sedikit mengerti." Jelas Vizena setelah meralat ucapannya. Mata Kusala sedikit melebar, ia tidak pernah tahu sebelumnya jika saudaranya memiliki sebuah hubungan dengan Puteri dari kerajaan Luxorth.
"Guru? Apa maksudnya, Yang Mulia?" Tanya Kusala.
"Kaisar Trugeris adalah guru saya untuk beberapa waktu, tapi saya harap Pangeran simpan saja untuk anda sendiri." Ujar Vizena lagi.
Kusala masih penasaran, bagaimana dan mengapa saudaranya menjadi guru untuk Tuan Puteri kerajaan lain? Ia melihat sesama sosok Puteri Vizena, di matanya Vizena tampak rapuh dengan tubuh kurus dan postur yang tidak terlalu tinggi. Apakah yang diajarkan oleh Trugeris padanya? Setahu Kusala, Trugeris sangat ahli dalam beladiri, dan pelajaran kekaisaran, tapi tidak mungkin mengajarkan pelajaran terkait dengan kekaisaran pada Puteri kerajaan lain kan?
Tak sengaja mata Kusala menangkap getaran tangan kiri Vizena ketika memegang piring cangkirnya. tak hanya itu, ia juga melihat semburat luka disana. Ia menduga bahwa berita yang beredar bahwa Tuan Puteri kerajaan Luxorth mengalami kecelakaan benar adanya. Akhirnya ia pun sampai pada kesimpulannya.
"Jika anda memiliki waktu luang bagaimana kalau kita berduel, Yang Mulia?" Usul Kusala, kesimpulan yang telah ia pikirkan adalah, Trugeris mengajarkan gadis yang ada dihadapannya seni beladiri untuk melatih kembali fungsi bagian tubuhnya.
"Bagaimana bisa Pangeran yang kuat seperti anda ini, menantang Puteri yang rapuh?" Jawaban itu dilontarkan oleh Vizena karena ia merasa ada seseorang yang sedang mengintipnya dari celah pintu. Tidak tahu mengapa ada orang yang ingin menguping pembicaraannya dengan Kusala.
Kusala tersenyum mengerti, "Sungguh sangat disayangkan, padahal kita juga bisa bertanding dalam perburuan nanti."
"Anda lihat bagaimana tanganku gemetar hanya untuk mengangkat sebuah cangkir, bagaimana bisa mengikuti perburuan?"
"Ah, kalau begitu anda bisa memberiku dukungan nanti." Kata Kusala sedikit menggoda Vizena.
"Yang Mulia," Ariah meminta ijin untuk masuk kedalam ruang utama. Dalam tangannya terdapat sebuah bingkisan yang dibungkus dengan sangat rapi. Kemudian menyerahkan bingkisan itu kepada Pangeran Kusala.
"Apa ini, Yang Mulia?"
"Ini hanya sedikit hadiahku, untuk Kaisar. Mohon Pangeran bisa memberikannya pada Kaisar setelah nanti kembali ke Thymur." Jelas Vizena.
"Hanya untuk Kaisar?" Tanya Kusala sengaja menggoda Vizena. Ia mulai terbiasa melihat wajah Vizena yang merona dan menganggap Vizena menawan ketika wajahnya merona seperti itu, "Saya hanya bergurau saja. Pasti akan saya sampaikan. Saya tidak berani mengganggu milik Kaisar." Ucap Kusala sembari menerima bingkisan tersebut.
"Terimakasih Pangeran," Vizena tersenyum tulus, "akan saya lihat setelah perburuan, apakah ada yang bisa saya berikan kepada anda sebagai cinderamata."
Kusala tertawa kecil, ia tidak mengira bahwa Vizena sangat polos seperti anak kecil, tapi memang cocok sekali dengan penampilannya. Hanya saja, kesan pertama Kusala pada Vizena adalah sebaliknya. Ketika melihat Vizena untuk pertama kali di dalam ruang pertemuan, dan mendengarkan pendapat lugas Vizena tentang keadaan di Jalur Sutera, ia pikir Vizena begitu dewasa dan bijaksana. Tapi, setelah bertemu secara pribadi, Vizena memiliki sisi kekanakan yang polos.
"Baiklah, kalau begitu saya akan undur diri, Yang Mulia." Kusala bangkit dari tempat duduknya. Ia memberi hormat, begitu juga dengan Vizena.
Setelah mengantarkan Kusala pergi, Vizena kembali ke paviliun teras untuk menemui Eyster. Akan tetapi yang ingin ditemuinya sudah tidak berada ditempat.
"Kemana Nona Eyster?" Gumamnya.
"Setelah saya kembali untuk mengantarkan kudapan, Nona Eyster sudah pergi, Yang Mulia." Jelas Ariah.
Pikiran Vizena melayang pada saat ia merasa ada seseorang yang sedang mengupingnya. Tidak banyak orang yang ada di kediamannya, hanya Ariah, pelayan dapur dan kebersihan, sisanya adalah penjaga. Semua orang itu adalah kepercayaannya, jadi tidak mungkin akan mengupingnya.
'Mungkinkah itu Eyster? Mengapa? Untuk apa dia menguping?' Batin Vizena penuh dengan pertanyaan.
"Ariah." Panggil Vizena.
"Ya, Yang Mulia?"
"Panggilkan Rasheq segera!"
?????
Sebuah busur panah tampak begitu mengkilap setelah di bersihkan oleh Zaviest sepanjang hari. Lalu ia beralih pada tiap anak panahnya yang di bersihkan ujung-ujungnya dengan begitu sabar. Tak jauh dari sana, Moscha sedang menatap papan catur dengan wajah cemberut.
"Kakak, sejak tadi kau membersihkan semua itu. Sekarang adalah giliranmu!" Kata Moscha.
Zaviest meletakkan kain yang ia gunakan untuk membersihkan senjatanya. Ia kemudian memutar tubuhnya dan kembali menghadap Moscha dan menggerakkan bidak caturnya sembarangan.
"Lihat, sekarang kau tidak serius bermain!" Protes Moscha.
Karena setelah menggerakkan bidaknya, Zaviest kembali membalikkan badannya dan membersihkan lagi senjata-senjata itu.
"Jika aku tidak serius, bagaimana kau bisa kalah telak?"
Seketika Moscha melihat papan caturnya. Dia sudah kalah telak oleh bidak-bidak Zaviest dan tidak memiliki jalan keluar. Ia mendengus kesal sembari menatap busur dan anak panah yang diperlakukan oleh Zaviest penuh cinta itu.
"Kau akan ikut perburuan? Orang lain tidak akan mendapat kesempatan jika kau ikut."
"Hanya satu yang aku bidik, jadi jangan khawatir." Balas Zaviest penuh arti.
"Puteri Vizena?" Tanya Moscha penuh selidik. "Kakak, kau bisa terkena masalah."
"Aku tidak akan membawa masalah pada hidupku, Moscha."
"...." Moscha tak bisa mengerti jalan pikiran Zaviest. Jelas-jelas menyukai wanita bersuami adalah sebuah kesalahan yang akan menimbulkan masalah. Dia benar-benar ingin membongkar kepala Zaviesg agar dia bisa mengerti isi pikiran Zaviest.
Tiba-tiba Moscha teringat pada pertemuan tempo hari. Dalam benaknya ia masih bertanya-tanya mengapa Zaviest memberikan bukti berharga disaat-saat yang genting.
"Ngomong-ngomong," Moscha ragu untuk bertanya. Ia melihat Zaviest yang begitu perhatian pada senjatanya, lalu menghilangkan keraguannya dan bertanya, "kenapa kakak memberikan dokumen itu disaat-saat terakhir? Dan dokumen itu bisa memojokkan Narth, kau sungguh ingin memutuskan hubungan dengan Narth?"
"Sejak kapan kau jadi sangat cerewet? Lama-lama kau mirip dengan Ibu Suri." Gerutu Zaviest. Ia menyelesaikan anak panah terakhir kemudian meletakkannya dan berbalik untuk menoleh pada Moscha.
"Memang hanya aku yang paling mirip dengan Ibunda," jawab Moscha apa adanya, "lalu? Mengapa membantu Luxorth?"
"Apa kau pernah dengar sejarah terbentuknya Daratan Lima Negara?" Zaviest membalas pertanyaan Moscha dengan berbalik bertanya dan itu membuat Moscha mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa hubungannya membantu Sholaire dan sejarah terbentuknya Daratan Lima Negara?.
Moscha mengangguk pelan, "lalu?"
"Sebelum Daratan Lima Negara terbentuk, apa kau tahu siapa musuh terbesar Sholaire?" Tanya Zaviest lagi.
"Luxorth, yang aku tahu, kedua raja bahkan berduel hebat hanya untuk memperebutkan sebuah gunung." Jelas Moscha.
"Bagaimana jika sekarang ku buat duel itu menjadi sejarah baru." Ucap Zaviest dengan senyum di wajahnya.
"Aku tidak mengerti."
"Penyatuan, Sholaire dan Luxorth." Kata Zaviest dengan tatapan mata yang menerawang jauh membayangkan masa depannya bersama gadis yang ia cintai.
Dalam bayangannya, ia melihat perayaan yang sangat meriah. Seluruh ibukota Sholaire dihiasi dengan begitu indah, seluruh warganya bersorak dengan gembira. Dalam Istana akan di hias dengan sangat indah dan mewah, semua orang memakai pakaian baru, Ibu Suri Agung tersenyum bahagia, semua pejabat bersorak dan dirinya sendiri sedang menunggu di altar dengan jantung yang berdebar-debar. Mereka menyambut ratu baru mereka dengan sorak sorai bahagia. Tidak ada momen yang lebih indah selain menunggu dan melihat pengantinnya berjalan dengan anggun ke arahnya.
"Yang Mulia Raja, Anda sudah kehilangan akal!" Moscha merusak angan-angan Zaviest.
"Ya! Aku memang kehilangan akalku!" balas Zaviest, kemudian ia beranjak pergi.
"Kak! Mau kemana?"
Zaviest tidak menjawab dan hanya melambaikan tangannya sembari berjalan keluar dari tempat tinggalnya membawa senjata-senjata yang telah ia bersihkan. Moscha melihat kakaknya pergi hanya bisa mengusap dadanya. Ia tak memiliki cara lain untuk menghentikan kakaknya yang kepalanya lebih keras dari batu.
•••
Diatas atap Zaviest sedang mengawasi sekeliling tempat tingga tersebut. Sungguh sepi, tidak ada banyak pelayan yang berkeliaran. Bahkan penjaga pun hanya ditempatkan di pintu depan saja.
"Mengapa penjagaannya sangat longgar di saat banyak orang asing yang datang?" Gumamnya.
Lalu dengan pelan ia melompat ke sisi atap yang lainnya. Matanya menelusuri tiap sudut tempat itu, dan ia menemukan apa yang dirinya cari. Sesosok gadis berambut panjang dengan pakaian berlatih khas Luxorth sedang berjalan ke area belakang tempat itu. Zaviest juga mengikutinya dengan langkah pelan.
Sampai di area belakang yang tampak lebih mirip dengan arena latihan dan bukannya taman gadis itu berhenti, ia mengambil sesuatu dari sabuk pinggangnya. Zaviest dibuat takjub ketika gadis itu mengangkat tangan kirinya dan sesuatu yang dipegangnya itu berubah menjadi busur panah.
"Apa itu? Aku baru melihat senjata yang seperti itu." Gumamnya, ia masih terus memantau gadis yang saat ini mengambil anak panah di sampingnya.
"Malam-malam begini berlatih?"
Zaviest tidak menurunkan pengawasannya. Ia tetap memandangi gadis itu dengan takjub, apalagi setelah gadis itu memanah dengan sempurna mengenai sasaran dengan tepat.
"Tangannya sudah berfungsi sempurna." Ujar Zaviest dengan suara yang lirih.
Gadis itu mengambil lagi anak panah, ia meletakkan dibusurnya, menarik tali busurnya, beberapa saat ia membidik kemudian dilepaskannya anak panah itu. Tepat! Setelah melesat, anak panahnya mengenai sasaran dengan sempurna.
Tapi....
Sebuah anak panah lain melesat dari atas, kecepatannya luar biasa saat hampir mencapai sasaran anak panah itu malah mengenai anak panah yang sudah menancap sempurna dan membelahnya menjadi dua bagian.
"Siapa itu!?" Suara gadis itu menggema. Ia kemudian menyembunyikan busurnya kembali seperti semula.
Zaviest yang merasa terpanggil pun tersenyum, ia kemudian melompat turun ke arah gadis yang sedang memandanginya dengan tatapan setajam ujung tombak.
"Tuan Dranis?!" Vizena membulatkan matanya ketika melihat kedatangan Zaviest. Ada perasaan kesal dan was-was yang menjadi satu. Kesal karena latihannya terganggu, dan was-was karena ini pertama kalinya orang lain selain Ariah melihatnya berlatih. Apalagi orang tersebut berasal dari kerajaan lain.
"Saya memberi hormat pada Puteri," Zaviest berlutut dihadapan Vizena, ia meraih tangan kiri Vizena dan mencium punggung tangannya, "tangan yang lembut ini rupanya memiliki banyak kejutan." ujarnya dengan lembut kemudian ia berdiri.
Wajah Vizena memerah, tapi untunglah ini sudah malam jadi setidaknya tidak akan terlihat jelas jika dia sedang tersipu. Dengan pelan, Vizena menarik lagi tangannya dan menyembunyikan tangan itu dibalik punggungnya.
"Mengapa Tuan kemari?" Tanya Vizena tanpa basa-basi, "dan lewat atap?!" Vizena mengangkat alisnya.
"Tidak menyenangkan jika harus lewat pintu depan," balas Zaviest dengan senyum jahil di wajahnya, "dan mungkin tidak akan punya kesempatan untuk melihat secara langsung kemampuan Puteri." Imbuhnya lagi.
"Apa kau melihat semuanya?" Tanya Vizena yang tampam khawatir.
Zaviest mengerti kecemasan Vizena ini. Selama pengintaian yang dilakukan oleh Zaviest dulu, ia tahu bahwa Vizena kerap berlatih dengan sembunyi-sembunyi. Hanya saja ia tidak tahu, apa alasannya Vizena menyembunyikan hal itu.
"Ya, Anda sangat luar biasa, tidak banyak orang kidal di dunia ini, dan menggunakan senjata sebaik Puteri." Zaviest mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
"Lupakan apapun yang kau lihat." Kata Vizena dengan suara kaku.
"Bagaimana saya bisa melupakan Anda?" Tanya Zaviest dengan memasang wajah polosnya.
"Bu, bukan aku!" balas Vizena tergagap, "maksudku apa yang aku lakukan tadi." Lanjutnya.
"Mengapa? Anda sangat memukau saat memanah."
"Tuan Dranis!" Vizena mendengus dengan wajah memerah. Sebaliknya, Zaviest sangat menikmati sekali menggoda Vizena.
"Baiklah, baiklah, saya akan melakukan apapun yang Puteri katakan." Ujar Zaviest lagi.
"Terimakasih," sebuah helaan lolos dari pernafasan Vizena, "Tuan, apa kau kemari untuk menguntitku?!" Tanya Vizena yang teringat bahwa pria yang ada dihadapannya itu datang lewat atap dan bukan pintu depan.
Zaviest terbahak-bahak, pertanyaan Vizena itu sangat tepat sekali mengingat dirinya selama ini memang memata-matai Vizena melalui Feiry.
"Apakah itu lucu?" Tanya Vizena dengan melipat tangan di depan dadanya.
"Tidak, bukan seperti itu." Zaviest mengendalikan dirinya dan berhenti tertawa.
"Lalu?" Vizena tidak akan melepaskan Zaviest sampai pria itu memuaskan rasa ingin tahunya.
"Ini," Zaviest memberikan satu kotak berisi penuh anak panah yang tadi dia bersihkan.
"Anak panah? Untuk apa semua ini?" Tanya Vizena yang semakin bingung.
"Ini untuk anda, Puteri."
"Un, untukku?"
"Ya, hadiah." Zaviest tersenyum dengan lebar, "bukankah anda menyukainya?" Tanyanya dengan percaya diri.
Vizena menerima satu kotak anak panah pemberian Zaviest. Matanya berbinar dengan sangat cerah. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman dan ia menggumamkan sesuatu, "terimakasih." begitu pelan, hanya saja karena Zaviest begitu memerhatikan setiap gerak di wajah Vizena, ia bisa tahu arti gerak bibir itu.
"Di buat khusus, sangat ringan dan tajam, Anda juga sudah melihatnya tadi panah ini bisa melesat dengan sangat cepat."
"Luar biasa," puji Vizena.
"Mau mencobanya?" Tanya Zaviest.
Vizena mengangguk, lalu meletakkan kotak tersebut di atas tempat peralatan. Ia mengambil busur lain yang tempat peralatan.
"Tidak menggunakan busur yang unik tadi, Puteri?" Tanya Zaviest.
"Itu, itu, itu sangat istimewa jadi aku tidak bisa menggunakannya sembarangan." Vizena berdalih, tapi Zaviest tidak akan memaksanya.
"Tapi terlihat sangat unik sekali,"
"Bisakah kita mulai saja, aku ingin mencoba anak panah yang luar biasa ini."
Zaviest terkekeh melihat Vizena yang cukup gigih mengalihkan pembicaraan. Ia menuruti Vizena, lalu mengambil sebuah anak panah dan berjalan mendekati Sang Puteri.
"Mari!" Zaviest mengulurkan tangannya pada Vizena, tapi Vizena hanya menatapnya dengan mata yang disipitkan.
"Aku ingin mencobanya sendiri." Katanya.
Gerakan cepat Zaviest membuat Vizena bungkam saat tangan besar Zaviest meraih pinggang langsingnya dan mendekatkan tubuh mereka. Zaviest memposisikan diri di belakang Vizena, tangan kirinya menyentuh tangan kiri Vizena dan menggenggam busur bersama.
"Apa, apa yang kau lakukan, Tuan Dranis!?" Jantung Vizena berdebar dengan sangat kencang. Ia tidak tahu apakah bisa memanah dengan tepat jika seperti ini. Apalagi aroma sandalwood yang menguar dari tubuh Zaviest begitu harum dan merusak konsentrasinya.
"Mengajari anda menggunakan anak panah ini." Jawab Zaviest tepat di telinga Vizena.
"Aku, Ak, aku bisa sendiri!"
"Ini anak panah khusus, jadi harus ada teknik khusus untuk menggunakannya." Kali ini Zaviest berbisik, sehingga hembusan suaranya membelai telinga Vizena dan membuat Vizena harus merasakan gelenyar aneh yang merambat keseluruh tubuhnya. Alhasil ia benar-benar tak bisa konsentrasi. Ia hanya mengikuti gerakan Zaviest saja saat mengangkat busur, lalu menarik talinya dan melepaskan anak panah.
Anak panah itu melesat dengan sangat cepat, lalu ujung panahnya yang sangat tajam mengenai anak panah yang telah menancap sebelumnya, membelahnya menjadi dua bagian dan akhirnya menancap dengan sempurna pada papan.
"Anda hebat, Puteri."
Vizena maju satu langkah untuk memberikan jarak pada dirinya dan Zaviest. Ia menghembuskan nafas nafas yang semenjak tadi ia tahan lalu berbalik. Vizena tak berani mendongak untuk menatap Zaviest, karena jantungnya masih berdegup kencang.
"Te, terimakasih."
"Sebuah kehormatan bagi saya." balas Zaviest.
"Selamat malam, Tuan Dranis." Vizena buru-buru pergi, namun suara Zaviest menahannya.
"Aku akan menunggu penampilan Puteri, di perburuan." Katanya.
"Perburuan itu bukan tempatku," Kata Vizena tanpa berbalik lalu ia berlari kecil pergi menjauh dari arena berlatih.
Di tempatnya, Zaviest mematung sembari menatap punggung Vizena yang menjauh darinya. Ia tersenyum samar sembari menggigit bibir bawahnya, dan satu tangannya meremas dadanya seolah menjaga agar jantungnya tidak melompat keluar karena rasanya debaran jantungnya itu sudah seperti genderang perang yang berdegup dengan sangat kencang.
"Hampir saja aku tidak bisa mengendalikan diriku."