31. A Little Conspiration

1325 Words
Debaran jantung Kaisar Mouszac tidak beraturan ketika Louth Meridiam menyebutkan telah menangkap seorang pencuri. Ia telah di minta menunggu, begitu juga dengan para menteri dan pejabat yang lainnya. Mereka sangat penasaran dengan apa yang di maksud oleh Louth karena dia tidak menjelaskan secara detail dan hanya meminta untuk menunggu. Pintu besar aula utama istana Luxorth tiba-tiba terbuka dengan sangat lebar. Beberapa pengawal berbaris dengan Vizena berada di antara mereka dengan tangan yang terikat. Mata Kaisar Mouszac melebar ketika melihat puterinya dipaksa berjalan di tengah-tengah aula seperti seorang kriminal. "Ada apa ini, Tuan Louth!?" Hardik Kaisar. Tangannya mengepal kuat pada singgasananya. "Pencuri yang saya sebutkan adalah Puteri Vizena, dia telah mencuri tanaman akar merah yang ditanam di hutan istana!" Semua menteri dan pejabat saling memandang dengan heran dan berdecak tak percaya jika seorang Tuan Puteri yang terhormat melakukan pencurian di rumahnya sendiri. "Jaga ucapanmu, Louth!" Bentak Theriaz, kakek Vizena. "Maafkan aku Perdana Menteri, akan tetapi cucu kesayangan anda ini telah mencuri akar merah! Tanaman langka yang hanya dimiliki oleh Luxorth dari Daratan Lima Negara." Jelas Louth dengan bangga. Wajahnya berbinar seolah menununjukkan bahwa dia sudah menang kali ini. "Apa kau punya bukti, jika Puterk Vizena melakukan pencurian?" Theriaz tidak bisa membiarkan cucunya dituduh. "Ini!" Louth mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah lencana dengan batu permata berwarna ungu dengan ukiran khusus di atasnya. Lencana itu merupakan satu-satunya yang ada di dunia ini dan hanya dimiliki oleh satu orang, yaitu Vizena. Seluruh ruangan menjadi riuh, beberapa menuding Vizena dan memohon Kaisar untuk menghukum seorang puteri yang mencuri. "Dia harus di hukum!" "Yang Mulia, tunjukkan keadilan anda!!" "Hukum Puteri Vizena!!" "DIAM! DIAM SEMUANYA!" Suara Kaisar menggema memecahkan keriuhan di dalam aula dan membuat semus mulut yang menggumamkan satu patah kata pun terdiam. "Lepaskan Puteri sekarang juga!" Bentak Kaisar pada pengawal yang mengikat tangan Vizena. "Yang Mulia!" Louth mencegahnya, "Anda tidak bisa melakukan ini!" Kata Louth. Kaisar yang emosinya memuncak akhirnya berdiri dengan tatapan tajam mata merahnya mengarah langsung pada Louth Meridiam. Seandainya mata itu adalah pisau, pastilah Louth sudah tertusuk dan bersimbah darah. "Mengapa?! Mengapa aku tidak bisa melakukannya?" Tanya Kaisar Mouszac. "Yang Mulia, anda adalah seorang kaisar yang bijak, anda adalah teladan bagi rakyat. Menghukum penjahat akan memberikan contoh, meskipun seorang anggota kerajaan juga mendapatkan hukuman jika dia melakukan kesalahan." Jelas Louth, dengan senyum tipisnya ia melirik ke arah Vizena yang tak berkutik. Kaisar Mouszac turun dari singgasananya lalu dengan menghentakkan setiap langkahnya ia berjalan kearah Louth. Mata Kaisar tak lepas dari sosok Louth dan itu membuat darah Kaisar mendidih. "Kalau begitu kau juga harus menghukumku!" Desis Kaisar tepat di depan wajah Louth. Seketika itu, Louth berlutut dan bersujud dihadapan Kaisar Mouszac. "Hamba tidak berani, Hamba tidak berani Yang Mulia." "Puteri Vizena tidak pernah mencuri tanaman akar merah, aku yang memintanya untuk mengambil tanaman itu agar di kirimkan ke Sholaire." "Sholaire?" Menteri dan pejabat lainnya mulai bertanya-tanya. "Mohon maaf Yang Mulia, mohon anda menjelaskan secara lengkap kepada kami." Pinta Theriaz. "Tepat setelah pertemuan Lima Negara, Raja Zaviest mengirimiku surat untuk memberikan bantuan berupa tanaman akar merah untuk mengatasi wabah di Kota Beghoria. Surat itu sudah di resmikan oleh sekertaris negara hari ini. Tapi aku tidak menyangka, bahwa Louth akan berpikir sepicik itu ketika menemukan lencana Vizena." Darah terkuras dari wajah Louth Meridiam, kulitnya memutih membuatnya tampak begitu pucat. Tubuhnya gemetar tiap kali mendengar deru nafas Kaisar Mouszac. Pikiran buruknya mengatakan bahwa ini adalah akhir dari hidupnya. Dia sangat yakin bahwa kali ini akan menang menjatuhkan Vizena, kenyataannya senjata yang dia hunuskan tepat di leher Vizena malah berbalik menyerangnya. "Mohon maafkan hamba, Yang Mulia! Maafkan hamba Yang Mulia." Teriaknya dalam isak yang tak tertahankan. Kaisar berdecak, ia kembali ke altar tempat singgasananya berada. Tidak kembali duduk, melainkan mengambil pedang yang tersampir di sisi tahtanya. Semua orang sangat terkejut, seketika pun langsung bersujud dan meminta Sang Kaisar untuk meredam amarahnya. Mata cokelat Kaisar begitu gelap, wajahnya begitu suram, dengan satu tangannya ia mengangkat pedang tersebut siap untuk menebas kepala Louth. "Yang Muliaaa! Mohon ampuni Tuan Louth!" Teriak salah seorang pejabat yang sedang berlutut. "Jangan banjiri aula suci ini dengan darah Tuan Louth, Yang Mulia." Menteri yang lain menyahut. "Yang Mulia! Yang Mulia tangan anda terlalu suci untuk dilumuri oleh darah Louth!" Jemari Kaisar menggenggam erat gagang pedang sampai urat nadinya menonjol dan buku jarinya memutih. Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan Kaisar. Tangan Kaisar bergerak turun membuat satu ayunan tebasan dengan sangat kencang. Semua orang memejamkan matanya tak ingin melihat sebuah kepala menggelinding dihadapan mereka. Lalu sesaat kemudian terdengar suara keras yang membuat semua orang membuka matanya. Rupanya Kaisar membebaskan Vizena dari ikatannya lalu menancapkan pedangnya ke lantai marmer tepat di samping tubuh Louth. Kaisar menekuk kakinya, berlutut satu kaki di samping Louth. Sementara Louth Meridiam tak bisa bernafas, tenggorokannya tercekat, keringat dingin membanjiri wajahnya yang pucat dan tubuhnya gemetar dengan kuat. Kaisar mendekatkan tubuhnya pada Louth, menempatkan kepalanya di samping telinganya. "Kau dengar mereka kan, tanganku terlalu suci untuk dilumuri oleh darahmu! Akan lebih baik jika kau menggoreskan lehermu dengan perlahan pada pedang ini, hingga secara perlahan kulitmu terkoyak dan nadimu terputus, itu akan lebih menyenangkan untuk dilihat." Bisik Kaisar Mouszac pada telinga Louth. "Antar Puteri kembali!" Kata Kaisar kemudian dirinya sendiri pergi meninggalkan aula istana dengan amarah dan tanpa mengatakan apapun. °°°°° Satu hari setelah penggalian tanaman akar merah. Usai mengenakan gaun formalnya, Vizena kembali ke kamarnya. Di ranjangnya, pria itu terlelap begitu nyenyak seolah-olah energinya telah diserap habis. Vizena kemudian menuliskan sebuah catatan dan diletakkannya pada meja. Sekali lagi ia memandangi pria itu yang terlihat begitu damai saat tertidur. "Terimakasih Tuan Dranis." Gumamnya lalu ia pergi meninggalkan kamar dan tempat tinggalnya. Vizena pergi ke kamar pribadi ayahnya. Saat itu, kebetulan sekali Kaisar Mouszac sedang bersantai dan membaca buku. Melihat puterinya datang, senyum kemudian merekah di wajah Kaisar. Buku yang ada di tangannya pun langsung ditutup dan diletakkan di atas meja. "Kemarilah! Lama sekali tidak melihatmu secara pribadi." Kata Kaisar sembari meregangkan tangannya. Vizena kemudian mendekati ayahnya, ia duduk tepat disamping Kaisar dan bergelayut manja. Entah kapan terakhir ia bersikap manja begitu pada ayahnya. "Bagaimana pelajaranmu?" Tanya Kaisar Mouszac sembari mengusap rambut lembut Vizena. "Jangan tanyakan." Wajah Vizena cemberut, sementara Kaisar terkekeh mendengarnya. Ia mengerti bahwa Vizena sangat bencu belajar, namun tetap melakukannya. "Aku yakin Tuan Daxtern mengajarimu dengan baik." Ujar Kaisar, dan Vizena mengangguk setuju. "Benar sekali, masih sama ketika aku berusia tujuh tahun dulu." Jelas Vizena sambil mengenang masa pelajarannya bersama Daxtern. Ia bergidik membayangkan harus menghafalkan satu buah buku tebal hanya dalam waktu satu minggu. "Pasti sangat menyiksa, tapi kau harus tetap bertahan." "Tentu saja!" Ujar Vizena dengan senyum cerahnya yang menawan, "karena Tuan Daktern aku mempelajari hal ini." Kata Vizena sembari mengulurkan tangannya yang terdapat gulungan kertas kepada Kaisar Mouszac. "Apa ini?" Alis Kaisar terangkat melihat gulungan tersebut, ia tetap mengambilnya lalu membuka untuk melihat isi gulungan itu. Mata Kaisar terbuka lebar membaca tiap baris katanya. Hatinya terenyuh membaca surat yang ditulis oleh raja penguasa negara tetangga itu. Seorang yang tidak lebih tua dari Leoxard namun memiliki hati seperti emas. "Tentu kita akan menolong mereka." Kata Kaisar, "tapi bagaimana kau mendapatkan surat ini?" "Seekor burung," "Kau mengenal Raja Zaviest secara pribadi?" Selidik Kaisar pada Vizena. "Tidak." Jawabnya sembari menggeleng. "Baiklah, Aku akan segera mengurus masalah ini." Ujar Kaisar Mouszac, namun Vizena meraih tangan Kaisar. "Aku sudah mengurusnya, ayah hanya perlu mengurus sisanya." Kata Vizena penuh dengan makna sementara Kaisar tidak memahami apa maksudnya. "Ayah akan mengetahuinya sebentar lagi." Kaisar menghela nafas, ia kemudian menepuk puncak kepala Vizena dengan lembut. "Baiklah, aku percaya padamu. Kau pasti bisa mengurus semuanya dengan baik." "Tentu saja, aku adalah adik Leoxard." Vizena berucap dengan bangga. "Vizena," panggil Kaisar ketika ia teringat akan sesuatu. Vizena menatap ayahnya menunggu kalimat yang akan dikatakan oleh Kaisar, "kau boleh sesekali kembali ke rumah Gard, bagaimana pun kalian masih suami dan isteri." Hampir saja Vizena meledak dalam tawa, tapi sebagai gantinya ia hanya tersenyum pada ayahnya dengan manis. "Aku akan mengurusnya, ayah tidak perlu cemas." . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD