32. Thank You

1546 Words
Tergesa-gesa dengan langkah kaki yang cepat Dranis berlari menuju paviliun istana Raja. Berkali-kali Dranis harus berhenti untuk mengatur nafasnya karena jarak yang cukup jauh. Selain itu ia selalu sangat hati-hati membawa sesuatu yang ada dalam dekapannya itu seolah menjaga nyawanya sendiri. Sebuah kotak tidak terlalu besar namun cukup kuat. Sampai di depan pintu kamar Raja Zaviest, Dranis meminta izin untuk masuk. Pengawal pun membuka pintu setelah mendengar Zaviest memberikan instruksi. Dengan segera Dranis pun memasuki kamar tersebut. Di tempatnya, Zaviest sedang melukis sesuatu. Matanya begitu terpaku pada lukisan yang ada di hadapannya. Tangannya begitu lihai memadukan warna-warna yang indah dan membuat lukisan itu sangat menawan. Tepat beberapa jengkal dihadapan Zaviest, langkah Dranis pun berhenti. Pikiran Dranis teralihkan pada lukisan yang digambar oleh Zaviest. Matanya melebar ketika melihat apa yang dilukis oleh Zaviest. Sesuatu yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya Sang Raja melukiskan potrait wajah gadis pujaan hatinya, hari ini ia melukis seorang gadis berpakaian serba putih yang berdiri dengan menarik panahnya. "Apa yang membuatmu tergesa-gesa kemari, Dranis?" Tanya Zaviest tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan yang ada di depannya. Dranis yang terpesona oleh lukisan itu tersentak, ia mengerjap beberapa kali dan mengulurkan sebuah kotak yang sedari tadi ia dekap. "Seseorang mengirimkan ini pada saya, Yang Mulia." Ujar Dranis. Zaviest mengambil warna dengan kuas yang ia pegang lalu menyapukan warna itu dan memadukannya pada lukisan. Dia bahkan tidak melirik kotak yang dipegang oleh Dranis. "Lantas mengapa malah menunjukkannya padaku?" "Karena saya tidak mengenal pengirimnya, Yang Mulia." Kata Dranis sembari melihat catatan yang tertera di atas kotak tersebut. "Kalau begitu buang saja." Jawab Zaviest dengan entengnya. "Haruskah? Padahal sayang sekali, mungkinkah orang bernama Vizena ini salah mengirimkan barang?" Gumam Dranis yang tak begitu lirih jadi Zaviest bisa mendengarnya dengan jelas. Tangan Zaviest berhenti bergerak, ia segera meletakkan kuasnya di atas meja, lalu bangkit dan menyambar kotak yang di dekap oleh Dranis. Mata Dranis melebar penuh rasa ingin tahu. Heran melihat tingkah Rajanya yang tadinya acuh tak acuh kini malah memegang kotak tersebut dengan tatapan penuh cinta. "Siapa itu Vizena, Yang Mulia?" Tanya Dranis pads Zaviest, "mungkinkah, dia adalah puteri yang selalu anda lukis? Puteri yang sudah bersuami itu?" Selidik Dranis. "Ssshhh!" Zaviest meletakkan jari telunjuknya diatas bibir Dranis untuk membuat pengikutnya itu menutup mulutnya. Sang Raja berjalan ke arah tempat duduknya, kemudian membuka kotak yang dia rebut dari Dranis itu. Melihat ada empat botol minuman, nata Zaviest melebar, sementara Dranis berusaha untuk mengintip isi kotak itu dari tempatnya. "Apa itu Yang Mulia?" Tanya Dranis. "Ucapan terimakasih." Gumam Zaviest sembari tersenyum samar. Dranis semakin tidak nengerti, bukankah Zaviest yang meminta pertolongan tapi mengapa Puteri itu yang berterima kasih? "Tapi Yang Mulia, mengapa Puteri itu mengirimkannya atas nama saya?" Dranis tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Sejak tahu bahwa paket itu untuk Zaviest ia mulai bertanya-tanya mengapa dikirimkan atas namanya? Dan bukan nama Raja Zaviest? "Itu." Zaviest menyeringai pada Dranis. Namun, Dranis cukup cepat tanggap dalam hal ini. "Apa Yang Mulia menyamar sebagai saya?!" "Begitulah." Jawab Zaviest sembari mengendikkan bahunya. "Bagaimana itu mungkin, anda memiliki rupa yang tidak biasa-" Dranis menghentikan ucapannya. Ia teringat ketika Zaviest keluar dari portal tempo hari, rambutnya berwarna hitam. Jika benar begitu maka sangat mungkin untuk Zaviest menyamar. "Mengapa anda harus menyamar, Yang Mulia?" Tanya Dranis. "Jangan tanyakan itu, lebih baik kau ambilkan cangkir aku ingin mencicipi arak buah prem ini." Kata Zaviest pada Dranis. Bukan tak ingin menjawab, dirinya tak memiliki jawaban untuk pertanyaan yang pernah dilontarkan juga oleh Moscha padanya. Sesaat kemudian, seorang penjaga masuk dan memberitahukan bahwa Kepala Dokter Istana datang meminta bertemu dengan Zaviest. Ia mengijinkannya sembari menikmati arak prem kiriman dari Vizena. "Apa yang kau ingin laporkan padaku, Kepala Dokter?" Tanya Zaviest. Si Kepala Dokter menjulurkan tangannya, di atas telapak tangannya terdapat sebuah kotak kecil berwarna merah. Kepala Dokter itu membukanya dan terlihat ada salep berwarna putih kekuningan disana. "Apa itu hasilnya?" Zaviest meletakkan cangkirnya. Kemudian ia mengambil salep dari kepala dokter. Ia menghirup salep tersebut dan tercium olehnya aroma yang harum dan menyegarkan. "Betul Yang Mulia, kami akan segera menguji coba kepada penderita wabah di Beghoria." "Baik, sangat baik sekali, aku suka kerjamu yang sangat cepat." Zaviest terlihat sangat puas. "Terimakasih, Yang Mulia. Semua ini berkat anda." Katanya lagi. "Kalau begitu segera pergi ke Begh- ah tidak!" Kata Zaviest yang tiba-tiba berubah pikiran, "aku akan ikut denganmu kesana untuk mengawasi sendiri pengobatan yang kalian lakukan." Kepala dokter itu sangat tersanjung. Dia tidak menyangka bahwa Rajanya akan bersedia ikut ke daerah wabah untuk mengawasi sendiri proses pengobatan yang akan diberikan kepada rakyatnya. Namun di sisi yang lainnya, Dranis yang mendengarnya malah merasa khawatir. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Zaviest, apalagi pergi ke daerah wabah. Itu adalah ide yang sangat buruk. Akan tetapi, melihat sifat Zaviest sangat tidak mungkin bagi Dranis untuk mencegahnya. Semakin dicegah, maka Zaviest akan semakin gigih untuk berusaha mencapai tujuannya. °°°°° "Bagaimana bisa paman begitu bodoh!" "Kau sebut aku apa? Bodoh?" Louth bangkit dari kursinya, amarahnya sudah memuncak hingga membuat kepalanya berdenyut. Sementara Eyster beringsut ketakutan. "Lalu apa lagi namanya? Kau biarkan Vizena memukul telak dirimu!" Ujar Eyster sembari waspada terhadap kemarahan Louth. Keduanya lalu menghela nafas secara bersamaan. "Aku tidak tahu keberuntungan macam apa yang dia miliki sebenarnya?" Decak Louth, berkali-kali ia berusaha menjatuhkan Vizena namun, gadis itu seolah tak bisa disentuh. Selalu saja serangannya berbalik pada dirinya sendiri. "Gard, katakan sesuatu!" Protes Eyster pada Gard yang sedari tadi hanya diam bersandar pada dinding dan mendengarkan. "Mengapa terus menerus menyerang Vizena?" Tanya Gard mulai membuka suaranya. Namun itu malah mengundang kecurigaan Eyster dan Louth. "Kau pasti sudah benar-benar jatuh cinta padanya!" Hardik Eyster yang kesal. "Jangan sampai tujuanmu teralihkan! Kita belum menghancurkan Kaisar!" Imbuh Louth. Gard menghela nafasnya, dia sendiri tidak mengerti mengaoa harus mengatakan hal yang mengundang kecurigaan semacam itu. Kalimat tersebut keluar begitu saja dari bibirnya. Seolah di dorong oleh sesuatu yang Gard tidak tahu namanya. Hanya saja ketika mendengar nama Vizena terus disebutkan dengan rencana buruk yang telah mereka perbuat membuat salah satu bagian tubuh Gard seperti terasa sakit. "Aku tahu, maksudku tujuan kita sejak awal adalah Kaisar! Lalu mengapa harus menyakiti gadis itu?" 'Hahahahaha' Tawa Eyster membahana, suaranya menggema di seluruh ruangan dan tubuhnya gemetar karena tawanya yang luar biasa keras itu. Bahkan air mata keluar dari sudut matanya. "Nona Eyster! Kendalikan dirimu!" Pinta Louth dengan nada tinggi. "Ini sangat lucu paman, sejak awal dia sudah menyakiti gadis itu, tapi sekarang dia menyesal." Gard mengepalkan kedua telapak tangan di samping tubuhnya. Ingatan masa lalunya yang sangat mengerikan kembali menghantui dirinya. Seandainya saja dia tahu akan memiliki perasaan seperti ini, ia tak akan memulai semua ini. "Hentikan! Bukan itu yang penting sekarang." Louth menyela. Sesaat ia menatap Gard yang berdiri tegang dengan tatapan memperingatkan. "Lalu apa rencana paman selanjutnya?" Tanya Eyster. "Menggagalkan rencananya untuk membantu keluarga prajurit." Alis Gard terangkat, ia begitu terusik karena membawa keluarga prajurit dalam rencana Louth. "Apa maksudnya? Mengapa kau melibatkan keluarga prajurit dalam hal ini?!" Tanya Gard. "Tenang, tenanglah Jenderal." Kata Louth mencoba menenangkan Gard yang mulai emosi. "Aku hanya menghalangi Puteri Vizena membantu mereka, saat rencana itu berhasil aku akan mengambil alih tanggung jawab itu dan nama Vizena akan buruk di mata rakyat." Ungkap Louth. "Memangnya rencana apa yang sudah paman buat?" Tanya Eyster. "Aku sudah menghalangi empat orang pengusaha dan abdi istana yang akan bekerja sama dengan Vizena, selebihnya aku akan menggunakan masalah tanaman akar merah itu untuk menghasut rakyat." Jelas Louth. "Itu rencana yang bagus, aku ingin melihatnya gagal!" "Bayangkan bagaimana reaksi rakyat saat mengetahui, ternyata Tuan Puteri yang mereka puja lebih memilih membantu negara lain daripada negaranya. Rakyat akan marah dan Vizena akan hancur karena itu." "Apakah harus sejauh itu?" Tanya Gard tiba-tiba. "Inilah politik Gard, menghancurkan atau dihancurkan." Kata Louth dengan senyuman licik di wajahnya. Gard tidak tahan mendengar semua itu. Segera ia keluar dari ruangan itu dengan amarah yang tertahan di dalam hatinya. Langkahnya cepat dan berat, ia berjalan tanpa tahu kemana tujuannya. Anehnya, tiba-tiba ia berhenti dan menyadari bahwa saat ini kakinya telah membawa dirinya pergi ke tempat tinggal Vizena. "Ada apa denganku sebenarnya." Gerutu Gard, ia hendak kembali sampai seseorang menahannya. "Untuk apa anda kemari?" Tanya Ariah dengan nada marah. "Aku, aku hanya lewat." Ucap Gard terbata. "Baguslah, orang seperti anda memang tidak pantas untuk tinggal di sisi Yang Mulia. Bahkan anda tidak mengetahui penderitaannya."Kata Ariah mengungkapkan isi hatinya yang sudah lama terpendam. "Apa maksudmu? Apa sesuatu terjadi padanya?" Tanya Gard dengan tatapan khawatir. "Untuk apa anda menanyakannya?" Ariah beranjak pergi dengan tergesa-gesa, namun rasa ingin tahu Gard membuatnya menghadang jalan Ariah. "Katakan padaku, apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya?!" "Anda seorang suami, tapi tidak tahu apa yang telah terjadi pada isterinya. Sungguh keterlaluan." "Ariah! Aku mohon padamu!" Desak Gard. Awalnya Ariah cukup ragu, tapi kali ini ia tidak memiliki banyak waktu. Dia harus meminta bantuan kepada seseorang sebelum Kaisar mengetahuinya. "Itu, Yang Mulia Puteri." Ariah menghela nafasnya. "Apa yang terjadi?" "Dia telah berlutut seharian di depan rumah Tuan Moryim, saya takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya." "Tunjukkan padaku jalannya!" Pinta Gard pada Ariah. Ariah mengangguk, ia memimpin jalan menunjukkan pada Gard letak rumah orang yang bernama Tuan Moryim itu. Sepanjang jalan Gard terlihat begitu cemas, bayangan wajah Vizena yang pucat kembali terlintas dalam benaknya dan mengetuk rasa bersalah Gard. "Ariah bisakah berjalan lebih cepat?" "Kakiku pendek, Tuan Gard." . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD