"Tuan, jika kau tidak mau menemuiku maka aku akan tetap berlutut disini." Suara Vizena mengusik ketenangan pemilik rumah. Dirinya bahkan tidak main-main saat mengatakan bahwa dia akan berlutut. Karena Vizena segera menekuk lututnya usai bicara.
Ariah melihatnya sangat khawatir, ia mencoba mencegah Vizena tapi bahkan batu pun tidak lebih keras dari kepala Vizena.
"Yang Mulia, anda tidak bisa berlutut seperti ini dan merendahkan martabat anda." Kata Ariah, ia berusaha untuk membantu Vizena. Namun seolah terpaku pada tanah, tubuh Vizena tak bergerak sedikit saja.
Waktu berlalu, pagi menjadi siang, panas matahari mulai bergulir diatas kepala setiap orang dan membuat bayangan tak terlihat. Kekhawatiran Ariah semakin kuat, apalagi melihat wajah Vizena memutih dan menjadi pucat.
"Tuan Puteri, ayo kita kembali saja." Bujuk Ariah. Tapi tak ada respon dari Vizena.
Ariah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan olehnya agar Vizena mendengarkannya. Selain itu, jika masalah ini sampai terdengar oleh raja maka situasinya akan semakin kacau dan Ariah tahu bukan itu yang diinginkan oleh Vizena.
"Mungkin pengawal bisa membantu." Gumam Ariah. Ia berpikir paling tidak jika Vizena menolak pergi maka para pengawalnya itu akan menggotongnya dengan paksa.
Tanpa berpikir ulang lagi, Ariah segera berlari kembali ke tempat tinggal Puteri. Setengah berlari ia menyusuri jalanan kota, kemudian masuk ke istana dan segera berlari kencang ke tempat tinggal Puteri.
Tidak menyangka bahwa setelah perjalanannya ia malah melihat Gard berdiri di depan pintu masuk tempat tinggal puteri Vizena. Tak ada rasa senang, melainkan kekesalannya yang menumpuk seolah mendesak untuk meledak keluar dari hatinya.
Ingin rasanya dirinya memukul Gard dengan kayu sampai tubuh Gard babak belur. Dia sangat kesal karena pria itu sama sekali tidak memiliki simpati pada Vizena. Padahal dia sudah mengambil sumpah setia untuk melindungi Vizena, nyatanya saat ini ketika Vizena membuat dirinya sendiri terluka Gard sama sekali tidak membantu. Tidak hanya itu, banyak sekali saat-saat dimana Vizena membutuhkan sosok Gard, pria itu entah kemana.
"Untuk apa anda kemari?" Tanya Ariah dengan nada marah.
"Aku, aku hanya lewat." Ucap Gard terbata.
"Baguslah, orang seperti anda memang tidak pantas untuk tinggal di sisi Yang Mulia. Bahkan anda tidak mengetahui penderitaannya."Kata Ariah mengungkapkan isi hatinya yang sudah lama terpendam.
"Apa maksudmu? Apa sesuatu terjadi padanya?" Tanya Gard dengan tatapan khawatir.
"Untuk apa anda menanyakannya?" Ariah beranjak pergi dengan tergesa-gesa, namun rasa ingin tahu Gard membuatnya menghadang jalan Ariah.
"Katakan padaku, apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya?!"
"Anda seorang suami, tapi tidak tahu apa yang telah terjadi pada isterinya. Sungguh keterlaluan."
"Ariah! Aku mohon padamu!" Desak Gard.
Awalnya Ariah cukup ragu, tapi kali ini ia tidak memiliki banyak waktu. Dia harus meminta bantuan kepada seseorang sebelum Kaisar mengetahuinya.
"Itu, Yang Mulia Puteri." Ariah menghela nafasnya.
"Apa yang terjadi?"
"Dia telah berlutut seharian di depan rumah Tuan Moryim, saya takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya."
"Tunjukkan padaku jalannya."
Ariah mengangguk, ia memimpin jalan menunjukkan pada Gard letak rumah orang yang bernama Tuan Moryim itu. Sepanjang jalan Gard terlihat begitu cemas, bayangan wajah Vizena yang pucat kembali terlintas dalam benaknya dan mengetuk rasa bersalah Gard.
"Ariah bisakah berjalan lebih cepat?"
"Kakiku pendek, Tuan Gard."
Setelah beberapa saat, mereka sampai di depan kediaman Tuan Moryim. Masih dengan posisi yang sama, Vizena berlutut di depan pintu menunggu pemiliknya untuk menampakkan batang hidungnya. Namun sama seperti sebelumnya, Tuan Moryim seolah tak tergerak hatinya dan tidak membukakan pintu untuk Vizena.
"Apa yang dia lakukan?!" Tanya Gard pada Ariah.
"Tuan Puteri sudah berlutut sepanjang hari, aku takut jika lututnya terluka." Ariah sangat cemas, berkali-kali ia menggigiti kuku jarinya.
Gard berjongkok disamping Vizena, ia menatap wajah gadis itu dengan seksama. Wajahnya sangat putih seperti mayat seolah semua darah yang mengalir disana telah terhisap habis. Pemandangan ini bukan kali pertama bagi Gard, namun tiap kali ia melihay wajah Vizena yang sangat pucat membuat hatinya serasa di pukul dengan palu besar.
"Puteri, berdirilah!" Pinta Gard pada Vizena. Tubuh Vizena bergeming, hanya terdengar suara helaan nafasnya yang pendek-pendek dan kedipan matanya yang terlihat lelah.
"Berlutut disini tidak akan menyelesaikan masalahnya." Desis Gard. Tidak ada respon daei Vizena, dan seketika itu Gard menyadari satu hal. Berbicara pada Vizena saat ini adalah hal yang sia-sia. Berada di sisinya beberapa tahun sebagai pengawalnya membuat Gard mengerti sifat Vizena yang keras kepala. Bahkan lebih keras dari batu.
"Baiklah." Desah Gard sembari menegakkan kembali lututnya, "baiklah, akan kubuat pria tua itu bicara padamu." gumamnya. Lalu dengan menghentakkan kakinya dirinya berjalan ke arah pintu depan rumah tersebut.
Gard mengepalkan tinjunya, lalu ia memukul pintu tersebut dengan kuat. Dirinya menggedor pintu berkali-kali hingga suara yang ditimbulkan begitu keras. Bahkan Vizena yang sedari tadi mematung mulai terusik.
"Tuan Moryim! Buka pintu ini atau aku akan mendobraknya dan menyeretmu keluar!!!" Teriak Gard sembari menggedor pintu tersebut.
Vizena mendongak dan menatap keheranan pada Gard. Ia lalu menoleh pada Ariah untuk meminta jawaban tapi tak mendapat apa-apa selain melihat Ariah mengendikkan bahunya.
"Jika kau tidak buka pintu ini maka-" Ucapan Gard tergantung di udara ketika pintu mulai terbuka. Terlihat seorang pria paruh baya dengan perut yanh buncit hingga kancing bajunya hampit terlepas itu berdiri gelisah menatap Gard dan Vizena secara bergantian.
"Tu-tuan Muda Gard, apa yang membawamu kemari?" Tanya pria itu.
"Siapa kau berani membuat isteriku berlutut." Ucapan Gard sangat mengejutkan, Vizena dan Ariah seketika menoleh ke arah Gard dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Itu, Tuan Gard aku hanya mengikuti Tuan Louth." Bisiknya pada Gard.
"Apa kau tidak tahu, jika status isteriku lebih tinggi daripada kau?" Hardik Gard sembari mundur satu langkah.
Tubuh Moryim gemetar hebat, sudah pasti dia sangat mengetahuinya. Akan tetapi tekanan yang dia dapatkan membuatnya terpaksa melakukan hal ini.
"Dengar aku," Suara Gard mendesis sembari menatap tajam Tuan Moryim. "Kau, turuti saja semua kata Puteri Vizena. Jika aku mendengar kau mengabaikannya lagi maka jangan harap kau bisa dikubur di kampung halamanmu." Ancam Gard.
Tuan Moryim yang ketakutan itu segera mengangguk patuh pada Gard. Setelah itu, Gard segera berjalan ke arah Vizena yanh mencoba berdiri dibantu oleh Ariah. Tanpa mengatakan apapun, Gard kemudian meraih tubuh Vizena dan mengangkatnya seperti seorang pengantin dan membawa gadis itu kembali ke istana.
°°°°°
Pelan-pelan jari Gard mengoleskan salep pada lutut Vizena yang memerah dan mulai membengkak itu. Sesekali dia juga meniup salep yang sudah teroles itu. Sementara Vizena hanya memandangi Gard dengan tatapan kosong.
Pikiran Vizena dipenuhi banyak spekulasi. Mengapa orang-orang yang dia pilih sebagai mitranya menolak datang padanya. Apakah dia tidak kompeten? Atau karena dia perempuan? Atau ada hal yang lainnya. Namun, melihat Gard yang datang secara tiba-tiba dan mampu mengubaj pemikiran Tuan Moryim sungguh di luar dugaan.
"Mengapa anda selalu saja begitu ceroboh dan melukai diri sendiri?" Tanya Gard sembari mengoleskan salep pada lutut yang satu lagi.
"Kenapa dia sangat patuh padamu?" Tanya Vizena. Kalimatnya menghentikan tangan Gard yang sedang bergerak memutar untuk meratakan salepnya.
"Tuan Moryim adalah seorang veteran, kebetulan mendiang ayah kandungku adalah jenderalnya, dan dia berhutang nyawa pada ayahku." Jelas Gard.
"Tapi kau mengancamnya," Ujar Vizena, saat itu Gard langsung mendongak, "sama seperti yang dilakukan oleh Ayahmu, maksudku Tuan Louth." Lanjut Vizena dengan suara yang sangat lirih. Mendengar hal itu, Gard menghela nafasnya. Apa yang dikatakan oleh Vizena itu tidak ada salahnya. Jika Louth bisa membujuk Tuan Moryim, dia pasti memiliki sesuatu yang bisa membuat Tuan Moryim menurutinya. Karena mustahil bagi Tuan Moryim bersikap kurang ajar pada seorang Puteri dari negaranya sendiri.
"Aku akan bicara padanya." gumam Gard.
"Maksudmu bersekongkol dengannya?"
"Yang Mulia, sekali ini saja saya mohon." Gard berbicara dengan bahasa formal.
"Sekali ini untuk kembali menjatuhkanku?"
"Puteri! Mengapa anda terus saja mendorongku?" Tersirat luka di mata Gard yang tak bisa terbaca oleh Vizena karena dirinya bahkan tak sudi untuk melihat Gard.
Vizena tidak menjawabnya, ia hanya memutar tubuhnya dan memunggungi Gard lalu menarik selimutnya.
"Aku ingin istirahat, keluarlah." Katanya.
Setelah mengemas kembali salep itu ke tempatnya, Gard berdiri lalu beranjak. Saat berada di ambang pintu ia kemudian berhenti dan berbalik. Dia melihat punggung Vizena yang tertutup oleh selimut kemudian menghela nafas perlahan setelah itu ia kemudian benar-benar pergi.
Sementara itu, air mata menetes melalui sudut mata Vizena. Tapi ia berusaha menahan isaknya, hari ini cukup panjang baginya dan terlalu melelahkan. Tapi melihat Gard sama sekali tidak membuat suasana hatinya membaik, tapi menjadi lebih buruk lagi.
"Bagaimana aku bisa menjagamu tetap di sisiku jika kau sendiri yang membuatku mendorongmu begitu kuat." Gumamnya.
"Tapi aku akan tetap disisimu, apapun yang terjadi." Sebuah suara yanh berbeda dari milik Gard mengejutkan Vizena, seketika itu ia menyibakkan selimut dan menoleh.
Seorang pria telah berdiri sembari menyandarkan satu lengannya pada tiang ranjang dan memandangi Vizena dengan senyum cerah di bibirnya.
"Kau! Kau disini?" Seru Vizena, tiba-tiba saja ia segera turun ranjang dan memeluk pria itu dengan eratnya.
Saat memeluknya, suasana hati Vizena menjadi jauh lebih baik. Bongkahan es yang membekukan emosinya perlahan mencair dan menghangat kembali.
"Begitu senangnya aku disini?"
.
.
.
::Bersambung::