Kabut tipis menyelubungi seluruh kota meski seharusnya matahari sudah bersinar dengan cerah dan menyingkap kabut. Orang-orang berkeliaran di depan rumah sembari menggaruki kulit mereka yang tampaknya hampir terkelupas dan mengeluarkan cairan berbau yang sangat tidak sedap.
Anak-anak merintih kesakitan karena kulit mereka melepuh dan menimbulkan rasa gatal dan perih secara bersamaan. Para ibu hanya bisa menangis melihat keluarganya menderita. Para ayah tak bisa bekerja karena kota sedang ditutup supaya wabah itu tidak merebak menjangkiti kota tetangganya.
Sebuah bulir bening meluncur bebas dari sudut mata Zaviest yang menyaksikan semua penderitaan yang tepat berada di depannya. Perasaan bersalah menyerang dirinya, ia merasa menjadi raja yang sangat kejam.
Di Istana dirinya hidup serba mewah, bahkan air untuknya mandi pun di siapkan. Akan tetapi, rakyatnya hidup menderita dan tak bisa membersihkan diri mereka dengan layak. Bagaimana ia bisa disebut seorang raja yang bijak dan baik jika rakyatnya saja terlantar. Zaviest memegangi dadanya dengan erat, menahan isakan yang mendesak keluar.
"Yang Mulia?" Suara Dranis mengejutkan Zaviest. Ia terkesiap lalu menatap Dranis.
"Ah, Jangan panggil aku seperti itu. Mereka tidak tahu siapa aku." Kata Zaviest lagi. Seperti biasanya dia menyamar agar identitasnya tidak diketahui. Dengan begini ia akan bebas untuk berinteraksi dengan rakyatnya.
"Lewat sini, Yang Mulia." Kepala Dokter memberi petunjuk pada Zaviest untuk memasuki sebuah gedung besar.
Sejenak ia menatap bangunan tersebut, beberapa bagian dari gedung tersebut rusak dan rompal. Zaviest mengira pastilah banjir yang datang sangat besar dan merusak segala macam hal yang terlihat termasuk bangunan besar yang seharusnya terlihat kokoh.
Ketika masuk, hidung Zaviest seketika ditusuk oleh aroma tidak sedap yang sangat memuakkan. Baunya seperti daging busuk atau nanah. Jelas saja, di hadapannya, di dalam bangunan tersebut orang-orang bergelimpangan. Beberapa orang yang tampak seperti perawat berlalu lalang untuk memeriksa setiap orang.
"Gunakan ini, Tuan Muda." Ujar Dranis sembari menyodorkan sebuah kain yang biasa digunakan untuk penutup hidung. Zaviest menolaknya, ia memilih untuk menghirup aroma busuk ini. Dengan begini ia akan terus ingat bahwa rakyatnya banyak yang menderita. Menjadi seorang raja bukan serta merta bisa menikmati kemewahan, menjadi seorang raja berarti menjadi seorang pelayan bagi rakyatnya.
"Apa hanya disini tempat untuk mengobati?" Tanya Zaviest pada Kepala Dokter.
"Benar sekali, anda lihat sendiri bahwa tempat ini telah sesak, sudah tidak bisa menampung lagi rakyat yang sedang sakit." Keluh sang dokter.
Zaviest memperhatikan ke sekelilingnya, memang benar tempat tersebut penuh sesak dengan rakyat yang sedang sakit. Sementara tenaga medisnya pun hanya segelintir saja. Zaviest memaksakan otaknya bekerja sampai tanpa sadar menggigit kuku jarinya dengan alis yang saling bertaut.
"Apakah semua rakyat terkena wabah?" Tanyanya tiba-tiba, ia menoleh pada Kepala Dokter, tampak jelas harapan di matanya.
"Semuanya." Jawab Dokter itu sembari mengangguk pelan. Harapan itu pun seketika lenyap dari mata Zaviest, dan membuat bahu Zaviest merosot ke titik terendahnya.
"Dranis, apa kau bawa kertas dan pena?" Tanya Zaviest pada Dranis.
"Tentu."
"Baiklah, Dokter, dimana aku bisa menulis dengan nyaman?" Tanya Zaviest.
Lalu Dokter tersebut menghantarkan Zaviest ke sebuah ruangan. Setelah itu Dranis mulai menyiapkan semua yang dibutuhkan oleh dokter tersebut.
"Dokter, untuk malam ini saja aku mohon padamu untuk bekerja lebih keras dan bantu mereka." Kata Zaviest pada dokter tersebut.
"Pasti, pasti Yang Mulia." Kata dokter itu, "Hamba akan melakukan yang terbaik."
°°°°°
Dranis berlari dengan kencang untuk mencari keberadaan Zaviest. Wajahnya berbinar begitu cerah seperti ia baru saja mendapatkan kabar baik yang sangat baik. Setelah mencari Zaviest, akhirnua dirinya menemukannya. Sang Raja tengah berada di sebuah gazebo usang bersama dengan beberapa anak-anak, ia bahkan memangku salah satu dari mereka tanpa takut tertular penyakitnya.
Langkah Dranis seolah-olah memberat hingga dirinya yang tadinya berlari kemudian berjalan dengan pelan. Dia tidak rela jika kehilangan saat-saat yang membuat hatinya menghangat ini. Kapan lagi dirinya bisa melihat Zaviest begitu perhatian dengan seorang anak. Itu sungguh diluar batas imajinasinya. Apalagi Zaviest tidak memiliki citra yang hangat.
"Ada apa Dranis? Apakah pesanku sudah tersampaikan?" Tanya Zaviest yang menyadari bahwa Dranis berjalan mendekat ke arahnya.
"Mereka, mereka yang mendapatkan pesan anda sudah tiba di balai kota." Ujar Dranis.
"Syukurlah jika mereka tidak mengabaikanku." Gumam Zaviest, namun telinga Dranis masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Dranis tersenyum samar, berpikir mana mungkin ada yang mengabaikan Zaviest? Dia seorang raja yang disegani oleh semua rakyatnya, dan seorang jenderal yang sangat di hormati oleh seluruh pasukannya.
Selain itu, Zaviest telah menuangkan seluruh isi hatinya dalam puluhan surat yang telah dia tulis semalaman. Tidak mungkin orang lain mampu mengabaikannya.
"Anak-anak, sekarang kalian ikut dengan paman ini yaa! Aku harus menemui orang yang akan membantu kita nanti." Kata Zaviest dengan sabar pada anak-anak itu.
"Tidak mau!" Pekik seorang anak sembari memeluk kaki Zaviest. Anak itu menatap Zaviest dengan mata berkaca-kaca.
Zaviest pun kembali berlutut mensejajarkan tingginya dengan si anak. Ia kemudian mengusap lembut rambut kumal anak itu lalu menyunggingkan senyumannya.
"Dengar, paman itu dia sangat baik. Daannn dia suka sekali bermain, dia sangat pintar bermain."
"Benarkah?" Tanya salah seorang anak yang lain, dan Zaviest mengangguk semangat sedangkan Dranis tersenyum kaku. Dia merasa bahwa apa yang dikatakab oleh Zaviest itu tidak akan berdampak baik padanya.
Setelah berhasil meyakinkan anak-anak tersebut, ia akhirnya pergi ke balai kota Beghoria dimana orang yang dia kirimi surat ada disana, termasuk Kapala Dokter Kerajaan.
"Hormat kepada Yang Mulia!"
Puluhan orang berlutut dengan sebelah lututnya pada Zaviest. Mereka adalah merupakan para pasukan yang pernah membantu Zaviest dalam berperang dan telah kembali ke kampung halaman mereka.
Dihadapan semua orang Zaviest meminta semuanya untuk berdiri. Dirinya memandang ke seluruh ruangan. Mengambil nafas sebelum mulai bicara dan mengatakan alasan mengapa ia memanggil semua orang ke kota ini.
"Aku sangat berterimakasih karena kalian telah bersedia menempuh perjalanan dengan tergesa-gesa untuk datang kemari." Katanya memulai pidatonya.
"Seperti yang kalian lihat, kota ini sedang sekarat. Rakyatnya menderita dan kedua tanganku tak mampu untuk membantu mereka sendirian." Sembari mengatakannya, Zaviest teringat pada orang-orang yang ia temui kemarin, mereka begitu menderita dengan keadaan mereka saat ini, kulit melepuh dsn bernanah, aroma yang tak sedap, kelaparan, dan penderitaan yang tidak berujung.
"Aku," nada suara Zaviest bergetar karena perasaan bersalahnya kembali menyerang dirinya, "aku memohon bantuan kepada kalian semuanya untuk membantuku." Ujar Zaviest kemudian ia membungkukkan badannya.
Semua orang tak terkecuali sangat terkejut, mereka seketika pun berlutut dihadapan Zaviest dan berseru dengan bersumpah bahwa mereka akan membantu Zaviest sampai akhir hayat mereka.
Usai pertemuan singkat itu, di bawah instruksi Zaviest mereka kemudian bekerja masing-masing, mereka tersebar di seluruh kota untuk membantu memberikan obat dan kebutuhan yang lain. Tidak berdiam diri, sang raja muda itu bersama dengan kepala dokter kerajaan mendatangi satu persatu rumah warga dan mengobati mereka.
Ketika malam telah tiba, Zaviest telah kembali ke tempat yang telah di persiapkan secara khusus untuknya. Hari begitu melelahkan, tapi semua itu terbayar saat Zaviest bisa melihat rakyatnya tersenyum cerah ketika menerima bantuan. Rasanya seperti ia baru saja mendapatkan harta karun langka yang selama ini telah dia impikan. Sangat berharga.
Menikmati indahnya malam di kota Beghoria ini, sebuah suara mengusik ketenangan Zaviest. Dirinya mendongak ke arah langit dan melihat bulu perak Feiry memantulkan cahaya bulan. Namun, tampaknya ada yang aneh dengan Feiry malam itu. Gerakan sayapnya terkesan terburu-buru seolah ia ingin segera sampai pada Zaviest.
Zaviest menjulurkan sikunya yang ditekuk ke arah langit untuk dijadikan tempat mendarat bagi Feiry. Lalu burung tersebut mendarat dengan selamat di atas lengan kokoh Zaviest.
"Ada apa Feiry, sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya Zaviest menebak-nebak karena ia pun tidak menemukan satu pun surat di kaki Feiry. Dia tidak berharap ada kabar buruk, apalagi yang berkaitan dengan Vizena.
Feiry menyundulkan kepalanya pada Zaviest. Tindakan Feiry semakin membuat tuannya penasaran. Segera Zaviest menyentuh kepala Feiry dan memejamkan matanya untuk mengorek informasi apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh Zaviest.
Mata Zaviest melebar dengan tatapan menyala merah. Amarahnya memuncak, seandainya kasat mata maka saat ini akan tampak kepulan asap di kepala Zaviest setelah menyaksikan adegan penangkapan Vizena dan keadaan dimana dia sedang berlutut memohon di rumah seseorang dan ditolong oleh Gard.
"Othèvoren Luxorth."
.
.
.
::Bersambung::