"Kau! Kau disini?"
Seumur hidupnya Zaviest tak akan pernah melupakan bagaimana ekspresi wajah itu. Kebahagiaan, kelegaan, bercampur menjadi satu dalam satu wajah yang cantik dan menawan itu.
Entah bagaimana nanti dia akan melukiskannya. Rasanya ia hanya bisa menyimpan ekspresi wajah itu dalam hatinya yang paling dalam dan mengingatnya saja.
Tubuhnya sedikit terhuyung ketika Vizena menubruknya. Untung saja keseimbangannya masih sangat stabil, sehingga dengan cepat dia bisa menahan tubuhnya.
Alis Zaviest terangkat, ia merasakan sesuatu yang cukup aneh. Pelukan Vizena pada tubuhnya cukup erat dan cengkaraman tangannya pun begitu kuat. Dia tak perlu bertanya apa yang terjadi karena sudah mengetahui segalanya. Hanya saja reaksi Vizena ini tidak disangka olehnya.
"Begitu senangnya aku disini?" Tanya Zaviest sembari membalas pelukan Vizena. Ia ingin sekali menjauhkan gadis ini dari dadanya yang saat ini berdegup kencang, tapi apa daya jika cengkramannya saja begitu kuat, mungkin jika dia mendorongnya yang ada bajunya akan sobek.
Tubuh Zaviest terdorong kebelakang secara tiba-tiba. Bukan tanpa sebab, namun Vizena tiba-tiba saja mendorongnya karena ia menyadari bahwa dirinya terlalu bertindak secara gegabah.
"Maafkan aku Tuan Dranis, aku tidak bermaksud untuk memelukmu." Kata Vizena sembari memalingkan wajahnya yang merona merah karena menahan malunya.
Zaviest teringat, sudah seharian ini sang puteri berlutut di depan rumah seseorang, lututnya sedang terluka dan saat ini tiba-tiba berdiri pasti sangat menyakitkan. Lekas Zaviest melangkah mendekati Vizena, namun ketika kaki Zaviest selangkah mendekat maka selangkah pula kakinya mundur.
Tidak sabar, Zaviest kemudian meraih bahu kecil Sang Puteri lalu memaksanya untuk kembali duduk di ranjang. Jantung Vizena berdegup kencang dan pikirannya sudah berimajinasi sesuatu yang aneh. Hingga dirinya memejamkan matanya rapat-rapat, menanti apa yang akan dilakukan oleh Zaviest padanya.
Melihat reaksi Vizena itu, Zaviest terkekeh pelan. Lalu ia menyentil dahi Vizena menggunakan jari telunjuknya. Seketika mata lembayung itu terbuka lebar dan satu tangannya mengusap-usap kening yanh disentil oleh Zaviest.
"Apa yang anda pikirkan?" Tanya Zaviest sembari meletakkan bokongnya di dekat Vizena, ia meraih kaki Vizena dan meletakkannya di atas pahanya sendiri.
"Apa, apa yang kau lakukan!?" Vizena hendak menarik kakinya, tapi Zaviest menahannya dengan kuat.
"Hari ini sangat panjang kan?" Tanya Zaviest. Tangannya kemudian memijat betis Vizena dengan lembut.
Darah Vizena berdesir dengan cepat mengalir melalui urat nadinya ke seluruh tubuhnya, mengirimkan hawa panas dan bertitik pada wajahnya. Selain Ariah, tidak ada yang pernah menyentuh kakinya untuk dipijat seperti ini. Bahkan Gard.
Ya! Bahkan suaminya sendiri tak pernah menyentuhnya.
"Malam ini beristirahatlah, saya akan menemani anda disini, Puteri." Ujar Zaviest dengan lirih.
"Apakah Raja Zaviest mengirimmu kemari?" Tanya Vizena sembari menikmati pijatan di kakinya.
Gelengan lemah dari kepala Zaviest menjawab pertanyaan Vizena namun menimbulkan pertanyaan yang lainnya.
"Lalu?"
Zaviest menoleh pada Vizena, ia menatap langsung pada mata lembayung milik sang puteri itu dan membuat pemiliknya menjadi tegang ditempatnya. Senyum tersungging di wajah Zaviest, tapi terlihat di sudut matanya bahwa dirinya sendiri juga sangat lelah karena seharian ini telah membantu Kepala Dokter untuk mengobati rakyat Beghoria dan tanpa berpikir panjang menggunakan energi tubuhnya untuk menciptakan portal jarak jauh lagir.
"Saya hanya ingin melihat anda, Puteri." Jawabnya lirih.
Melihatnya sekilas, Vizena merasa ada yang tidak biasa dengan pria yang ada di depannya ini. Tanpa berpikir panjang ia menjulurkan telapak tangannya lalu menyentuh kening pria itu.
"Kau demam!"
"Ini bukan apa-apa, bukankan Puteri mengalami yang lebih buruk hari ini." Jawabnya dengan senyum samar.
"Badanmu panas sekali, aku harus memanggil dokter." Dengan gerakan cepat, Vizena menurunkan kembali kakinya kemudian beranjak untuk pergi. Langkahnya tertahan karena sepasang tangan yang besar memeluk pinggangnya yang ramping.
"Tetaplah disini, jangan pergi, aku tidak perlu dokter, cukup kau saja" Zaviest mengatakannya dengan bahasa tidak formal. Dia pun tidak repot-repot mengoreksinya karena terlalu lelah.
"Baiklah." Gumam Vizena, ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Jantungnya berdetak tak karuan, dan tubuhnya menjadi beku seketika saat tangan besar Zaviest memeluknya.
Perlahan Zaviest menurunkan kembali pelukannya dan melepaskan Vizena. Gadis itu berbalik, ia melihat Zaviest begitu pucat dan tak bertenaga.
"Berbaringlah disini, sepertinya kau mengalami hari yang panjang juga." Ucap Vizena sembari membantu pria itu berbaring di ranjangnya.
Setelah berbaring sembari menatap pemilik topeng emas itu, Zaviest menepuk-nepuk bagian di sisinya yang kosong.
"Apa? Apa maksudnya?" Tanya Vizena dengan gugup, tapi Zaviest tak menjawab dan kembali menepuk di tempat yang sama.
"Pasti otakmu sudah terbakar karena suhu tubuhmu yang sangat panas." Gerutu Vizena, kemudian ia duduk di depan meja riasnya. Hal itu mengundang reaksi dari Zaviest yang langsung bangkit dari ranjang.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" Tanya Vizena dengan nada yang keras ketika Zaviest begitu cepatnya sudah berada di depannya.
"Bukan hanya saya yang sakit, anda juga." Ujar Zaviest dengan nada tegas dan tatapan yang lurus.
Vizena mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah menyebutkan bahwa dirinya sedang sakit atau mengalami hal yang buruk. Tapi seolah-olah mengetahuinya, Zaviest terus bersikap bahwa Vizena sedang terluka sejak awal.
"Bagaimana caranya kau tahu bahwa aku mengalami hari yang buruk?" Tanya Vizena.
Mata Zaviest melebar, dia tidak menduga bahwa balasan Vizena adalah memberi pertanyaan yang tak pernah terpikirkan akan diajukan oleh Vizena, seharusnya dia bisa lebih berhati-hati. Zaviest berpikir, ia memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan dari Vizena.
"Insting, aku memiliki insting yang luar biasa. Apalagi sejak anda berharap bisa menemuiku dalam mimpi." Katanya dengan mengerlingkan matanya.
Pandangan Vizena teralih pada lampu yang tak menyala di sampingnya. Setiap malam ia selalu menyalakan lampu tersebut menggantikan lampu utama.
"Aku tidak pernah berharap demikian." Sergah Vizena dengan tegas.
"Benarkah??" Zaviest menggodanya sembari menyeringai, "sepertinya hati dan mulut anda berkata berbeda." Lanjutnya lagi. Kini wajah Vizena telah memerah seperti halnya tomat rebus, dirinya pun memalingkan wajahnya ke samping. Menghindari tatapan intens dari Zaviest yang bisa membuat siapapun terbuai.
"Benarkan, Puteri? Anda sangat ingin sekali melihatku meski hanya mimpi? Aahhh meskipun demikian aku selaly datang dalam wujud yang nyata." Ujar Zaviest dengan cepat.
"Tuan Dranis!!" Vizena beranjak dengan tiba-tiba dan hendak memukul d**a Zaviest. Namun, tangan Zaviest meraih tangannya lalu ia dengan cepat menggendong Vizena seperti seorang pengantin.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!!" Pekik Vizena sembari meronta. Tidak da jawaban dari Zaviest, ia langsung membawa Vizena kembali ke tempat tidur dan menurunkannya di atas ranjang.
"Tuan Puteri, istirahatlah. Jangan khawatirkan saya. Lihat saya masih baik-baik saja!" Ujar Zaviest dengan seringai yang lebar. Ia lalu mengambil kursi di depan meja rias duduk disamping Vizena.
Vizena tak lagi menjawab, rasanya akan sia-sia belaka ketika dia membantah Zaviest. Semuanya malah berbalik pada dirinya. Tapi, dalam hatinya Vizena tak tega melihat wajah lelah Zaviest yang semakin buruk.
"Baiklah, selamat malam." Ujar Vizena dengan berbalik memunggungi Zaviest sembari menarik selimut untuk menutup tubuhnya hingga ke bagian leher.
°°°°°°
Malam yang semakin larut, dan angin dingin menembus jendela kamar Vizena yang lupa tidak di tutup. Terganggu dengan hembusan angin yang membuag kamarnya begitu dingin, akhirnya Vizena bangkit dari tidurnya.
Ia melihat sosok pria yang sedang tertidur dengan kepala di sandarkan pada kepalan tangannya sementara sikunya bertumpu pada nakas yang berada tepat disisi ranjang. Senyum samar terukir di wajah Vizena, kemudian dirinya beranjak untuk menutup jendela.
Usai menutup jendela itu, Vizena lalu pergi ke luar dari kamarnya. Meski kakinya terasa nyeri tapi ia tetap memaksakannya berjalan sampai dia berads di depan pintu dapur. Dia memasuki dapur tersebut untuk mencari sesuatu, ia mengambil air satu wadah besar dan sebuah kain bersih lalu kembali ke kamarnya.
Posisi kepala Zaviest sudah berubah, sepenuhnya kini ia membuat tangannya menjadi bantal untuk kepalanya. Vizena berjalan mendekat, dengan perlahan ia letakkan ember berisi air itu disamping ranjangnya, berusaha tidak membuat suara sekecil mungkin. Ia memasukkan kain ke dalam ember dan membasahinya, memerasnya kemudian dia letakkan pada kening Zaviest.
"Kenapa pria selalu ingin tampak hebat?" Gumam Vizena bertanya pada dirinya sendiri. Untuk sejenak, Vizena memerhatikan wajah Zaviest dengan seksama.
"Dia bahkan memiliki wajah yang sangat cantik." Ujarnya dengan lirih sembari terus menatap wajah indah Zaviest.
"Aku senang berada disini." Terdengar Zaviest menggumam, terkejut mendengarnya Vizena langsung menegakkan duduknya. Tapi ia menyadari bahwa Zaviest sedang mengigau.
"Aku suka melihat wajahmu ada di depanku." Lagi Zaviest mengigau karena satu mili pun kelopaknya tak terbuka.
Vizena menghela nafasnya, ia berpikir mungkin itu adalah dampak dari suhu badan Zaviest yang sangat tinggi sampai membuatnya mengigau.
"Ijinkan aku tinggal disimu, Puteri."
Deg!
Seketika itu, detik itu juga dunia Vizena serasa terhenti. Apa yang ada di sekitarnya mengabur dan hanya terlihat dirinya dan Zaviest yang sedang tertidur pulas sembari mengigau itu. Vizena berharap bahwa dirinya mungkin salah dengar, tapi suara itu sangat jelas dan terus mengiang di telinganya.
"Ijinkan aku tinggal disisimu."
.
.
.
Bersambung.......