36. Having Fun

1518 Words
Perasaan aneh dirasakan oleh Zaviest, seperti ada sesuatu yang lembab sedang menempel dikepalanya. Perlahan ia membuka matanya, belum dia mengetahui apa yang membuat kepalanya terasa seperti basah, mata emasnya telah menangkap sosok Vizena yang sedang pulas tertidur tak jauh di depannya, gadis itu berbaring miring menghadap ke arahnya. Seolah-olah dia telah mengawasinya sepanjang malam. Tunggu!  Zaviest menggerayangi kepalanya dan menyentuh sebuah kain yang sedikit basah. Ia mengambilnya, lalu menatapnya kain basah itu sekilas, kemudian memandangi Vizena.  "Dia benar-benar tak bisa memikirkan dirinya sendiri dulu." Gerutu Zaviest, ia kemudian memerhatikan Vizena yang tidur pulas itu, dan sebuah ide jahil muncul di kepala Zaviest.   "Yang Mulia Kaisar Tibaa!!!!" Zaviest membesarkan suaranya, tapi itu tidak berpengaruh pada Vizena. Gadis itu hanya menggeliat dan memindahkan posisinya.  "Nyenyak sekali." Gumam Zaviest.  "YANG MULIA TIBAA, YANG MULIA KAISAR TELAH TIBAAA!!" Zaviest berteriak sangat kencang, teriakannya berhasil. Kali ini Vizena terperanjat dan seketika langsung duduk di ranjangnya dengan wajah linglung menoleh ke kanan dan ke kiri. Sementara Zaviest tertawa dengan sangat keras sekali. Seketika itu wajah Vizena menjadi cemberut, alisnya bertaut dan keningnya berkerut. Mata lembayungnya menatap tajam pada Zaviest seolah sedang melemparkan ratusan pisau tajam pada Zaviest.  "Berani-beraninya kau mempermainkanku!!" Vizena berujar geram, kemudian ia melemparkan bantalnya ke arah Zaviest. Itu tidak menghentikan tawa Zaviest. Malah semakin keras sampai tubuhnya gemetar.  "kau benar-benar! Awas kau!" Vizena kembali melempar bantal yang tersisa. Kali ini Zaviest menghindarinya sehingga bantal itu terjatuh di lantai.  Vizena tidak ingin menyerah, ia mengejar Zaviest sembari memukul-mukulkan bantal yang dia ambil.  "Wah, ternyata Puteri sangat cepat pulih ya!" itu sebuah ledekkan dari Zaviest. Ia kemudian berlari melewati ranjang, dan Vizena masih berusaha untuk mengejarnya.  "Aku akan memukulmu! Awas kau Tuan Dranis!" Katanya lagi.  "Coba saja!" Zaviest menjulurkan lidahnya. Karena begitu geram, Vizena mengumpulkan segala kekuatannya lalu ia berlari dengan kencang. Tepat ketika Zaviest berada di depannya ia memukulkan bantal itu ke tubuh Zaviest hingga bulu-bulu angsa dari bantal itu berhamburan keluar.  "Ya-ya-yang Mulia." Suara Ariah tertahan melihat kekacauan yang ada di kamar Vizena, tubuhnya membeku dengan seketika di ambang pintu.  "Ariah, ini, ini bukan seperti yang kau pikirkan." Kata Vizena gugup. "Memangnya apa yang bisa dia pikirkan?" Timpal Zaviest sembari tersenyum lebar ke arah Ariah. Mengumpulkan segala kekuatannya lagi, Ariah berusaha untuk kembali membuka mulutnya dan memaksakan suaranya keluar, meski pada akhirnya hanya suara cicitan yang keluar dari bibirnya. "Yang Mulia Kaisar datang." Katanya dengan suara lirih. "Apa yang kau katakan? Aku tidak mendengarnya." Ujar Vizena, ia bergerak maju mendekati tempat Ariah berdiri dengan tegangnya. Setelah tubuh mereka cukup dekat, ia kemudian mendekatkan telinganya pada Ariah. "Katakan!" "Yang Mulia Kaisar datang kemari." Mata Vizena membulat lebar, ia seperti baru saja tersambar halilintar di siang hari yang cerah. Tapi ia dengan cepat bisa mengendalikan dirinya dan berbalik, menatap pria bertubuh tinggi tegap itu.  'Sungguh gawat. Jika Ayah melihat dia ada disini, masalahnya akan rumit' Batin Vizena. "Tuan Dranis, bisakah kau menghilang sekarang?" Tanya Vizena dengan tiba-tiba. "Apa?!" Zaviest merasa aneh dengan permintaan Vizena. Mengapa memintanya untuk menghilang? Lalu sebuah pemikiran terlintas, mungkin saja suami Vizena datang.  "Aku tidak punya banyak waktu! Cepat menghilanglah!" Ujar Vizena yang tampak panik dengan sesekali menoleh ke belakang untuk memeriksa apakah Ayahnya sudah dekat. "Tidak! Saya tidak mau!"  "Hah?!" Vizena tampak bingung dengan jawaban Zaviest, "kenapa? Kenapa tidak mau? Kau harus pergi!" Katanya sembari berjalan mendekat pada Zaviest dan mendorong tubuh besar Zaviest. "Tidak! Saya tidak akan pergi!" Vizena memutar matanya dengan sangat kesal, ia menggigit bibir bawahnya dan menatap Zaviest dengan tajam. "Kenapa kau harus menjadi keras kepala sekarang?" Vizena menggeram. Dengan kuat ia mendorong tubuh Zaviest. Tapi sia-sia belaka, karena tubuh besar itu tetap bergeming di tempatnya. Zaviest menekan bibirnya menjadi satu garis tipis, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. "Ah terserahlah!" Vizena tampak sangat putus asa. "Tuan Puteri, Yang Mulia Kaisar sudah dekat!" Akhirnya Ariah bisa mengeluarkan suaranya dengan lebih kencang dan berhasil menyadaekan Zaviest bahwa tindakannya bisa berakibat fatal.  "Kenapa tidak katakan jika Kaisar yang datang?" Gerutus Zaviest. "Astaga! Sudah tidak ada waktu! Jika bersikeras tidak ingin pergi, lebih baik kau sembunyi saja!" Vizena mendorong tubuh besae Zaviest, ia juga memanggik Ariah untuk membantunya mendorong meja riasnya. "Anda ingin saya bersembunyi disini?" Tanya Zaviest dengan mengangkat alisnya. Tak ada pilihan lain, hanya itu satu-satunya tempat yang bisa menyembunyikan tubuh Zaviest meski nyatanya masih sempit. Vizena memasang wajah melasnya pada Zaviest, dan pria itu tak bisa menolaknya. Dia hanya mengangguk-angguk kemudian masuk ke dalam pintu rahasia itu dengan menekuk lututnya. "Jangan bersuara, mengerti?" "Asal anda senang, Yang Mulia."  Bersama-sama Vizena dan Ariah mendorong meja rias untuk menutupi jalan rahasia itu. Meski dengan tenaga dua orang, meja itu masih terasa sangat berat.  "Apa yang terjadi disini?" Suara berat itu mengejutkan Vizena hingga dirinya terperanjat dan berbalik. Di ambang pintu Kaisar sudah berdiri dengan tatapan mata yang lebar keheranan melihat kekacauan yang terjadi di kamar puteri semata wayangnya. "Ay-ayahanda." Vizena sangat terkejut, apalagi ia melirik ke arah ranjangnya berada. Rasanya ia ingin berlari mencari penjual tofu lalu membenamkan seluruh wajahnya ke dalam tofu tersebut.  "Apa kau baru saja berperang?!" Tanya Kaisar sembari memandangi wajah Vizena yang memelas. Sesaat kemudian, ia tertawa cukup keras dengan satu tangannya berpegangan pada kusen pintu dan satu tangannya lagi memegangi perutnya. "Ayahanda, aku, aku sedang-" "Sedang berlatih di dalam kamar?" Sela Kaisar, ia lalu melambaikan tangannya mengisyaratkan pada Vizena untuk mendekat. Dengan perasaan malu Vizena mendekati Ayahnya. Sementara Kaisar berusaha mengendalikan tawanya.  "Bagaimana kakimu? Apa sudah membaik?" Tanya Kaisar, senyum samar masih terlihat di wajah Kaisar. Dia benar-benar berusaha untuk menahan tawanya. "Kakiku, ini." Vizena menunjukkan kakinya pada Kaisar. "Tentu saja sudah membaik, melihat bagaimana kau membuat kekacauan yang telah terjadi." Ujar Kaisar dengan mata yang menyisir seluruh ruangan.  "Ayahanda, bukan seperti itu."  "Baiklah, baiklah, bersiaplah sekarang lalu kita pergi." "Pergi? Pergi kemana?" Tanya Vizena dengan sangat antusias.  "Anak nakal!" Kaisar menyentil dahi Vizena dengan jarinya, gadis itu hanya memberengut sembari mengusap dahinya dan menggerutu dalam hatinya. 'Mengapa semua orang suka sekali memukul keningku.' "Kita akan pergi ke peringatan kematian ibumu." Lanjut Kaisar lagi.  Vizena tertegun, dia lupa bahwa hari ini adalah peringatan kematian ibunya. Entah mengapa dia bisa melupakannya begitu saja.  "Ariah, tolong bantu Tuan Puteri bersiap. Aku menunggunya di ruang depan." Kata Kaisar, sebelum pergi ia menepuk kepala Vizena dengan lembut lalu berjalan pergi.  "Mengapa kau tidak mengingatkanku, Ariah?" Tanya Vizena dengan raut muka yang sangat kesal.  "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya juga lupa pada hari ini." Ujar Ariah. "Ah sudahlah, bantu aku bersiap." Kata Vizena pada Ariah, ia hendak beranjak pergi namun sebuah suara menghentikan langkah Vizena dan Ariah. "Ummm, bolehkah aku keluar dari sini?"  Vizena menepuk dahinya, dia hampir saja lupa bahwa telah mengurung Zaviest di balik meja riasnya yang sangat besar itu.  "Apa kau tidak bisa memindahkan meja ini Tuan Dranis? Bagaimana pun kau kan laki-laki?" Suara Vizena cukup keras.  "Ruangan ini sangat sempit, gerakanku jadi sangat terbatas." Kata Zaviest dengan suara mirip rengekan. "Dasar lelaki macam apa dia ini." Gumam Vizena, kemudian ia berjalan menuju ke meja riasnya. "Saya mendengarnya, Puteri." Ujar Zaviest. Vizena hanya memutar matanya, kemudian dibantu oleh Ariah dia mendorong lagi meja rias tersebut. Setelaj meja rias tergeser dan pintu rahasia itu terbuka, segera Zaviest keluar darisana. Ia merasa sangat lega karena bisa keluar dari tempat sempit yang mengharuskan dirinya untuk menekuk lutut dan menunduk jika memasukinya. "Ruangan ini sangat sempit." "Tubuhmu saja yang terlalu besar." "Apakah semua orang hadir dalam peringatan hari ini?" Tanya Zaviest pada Vizena.  "Kenapa? Kau ingin menghadirinya?" Zaviest menatap Vizena sejenak. Tidak biasanya seorang puteri terlihat sedikit acuh tak acuh pada peringatan kematian ibunya. Bahkan Vizena melupakan hari peringatannya.  "Apakah boleh?"  "Tentu saja tidak! Kau adalah orang asing, ah maksudku orang-orang akan terkejut melihat kedatanganmu." Kata Vizena dengan cepat. Zaviest menghela nafasnya, bukan itu maksud dari pertanyaannya. Dia hanya ingin memastikan sesuatu saja. Dengan menatap mata lembayung Vizena dengan intens, Zaviest kemudian mengenyahkan keraguannya untuk menyakannya. "Apakah Jenderal Gard menghadirinya?" Mata Vizena melebar mendengarnya, seketika kedua alisnya saling menyambung dan keningnya berkerut. Dia tidak mengerti mengapa Zaviest menanyakan hal semacam itu. Memangnya apa hubungannya Gard dengan peringatan kematian Ibunya? "Aku tidak tahu pasti." Jawab Vizena dengan jujur, "Ini peringatan pertama baginya setelah kami menikah." Lanjutnya dengan muram.  Mendengar Vizena menyebutkan kata 'menikah' menbuat Zaviest mengepalkan tangannya. Kenyataan telah memukulnya lagi, seolah berbisik pada telinganya 'Dia bukan milikmu'.  "Kalau begitu saya akan ikut." "Hah!?" Vizena dan Ariah memekik secara bersamaan. Keduanya menatap Zaviest dengan keheranan.  "Tuan, apakah demammu belum pulih?" Tanya Vizena lalu ia berjalan maju dan menyentuh kening Zaviest dengan telapak tangannya.  Dengan lembut, Zaviest meraih pergelangan Vizena kemudian menurunkannya. Tatapan keduanya pun bertemu satu sama lainnya. Melalui tatapan itu, mereka bertukar emosi yang tak bernama.  "Saya bisa menyamar agar tidak ada yang mengenali, bagaimana?" "Mengapa kau ingin pergi?" Tentu saja Vizena ingin tahu alasan dibalik keinginan Zaviest itu. Mengapa harus repot-repot datang pada peringatan kematian orang lain yang tak dikenalnya.  "Karena di kamar ini saya bisa mati bosan." Balas Zaviest dengan nada datar. Vizena melepaskan pergelangan tangannya yang di genggam oleh Zaviest, lalu berbalik untuk beranjak. "Kalau begitu kau bisa bersenang-senang di pasar." Balas Vizena sembari berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Zaviest yanh tersenyum masam karena permintaannya ditolak. "Baiklah, aku akan keluar dan bersenang-senang." . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD