Pemandangan dari atas pohon rupanya cukup lumayan. Dari sini, Zaviest yang tengah duduk pada ranting pohon yang kokoh itu bisa melihat pemandangan luas seluruh area pemakaman. Di sana hanya terletak satu makan yang sangat besar dan sangat mewah, di sana lah tubuh mendiang Ratu, ibu kandung Puteri Vizena dikuburkan.
Dari pengamatan. Zaviest, tidak banyak yang mendatangi peringatan kematian Ibunda Vizena itu. Selain Kaisar, dan Vizena. Hanya terdapat satu orang yang Zaviest ketahui, perdana menteri yang tak lain adalah ayah dari mendiang permaisuri. Dalam pandangannya ia tak melihat keberadaan jenderal besae Gard yang sering di elukan oleh rakyat itu, juga selir kaisar dan anak-anaknya.
"Mengapa peringatan untuk permaisuri sangat sunyi?" Tanya Zaviest lirih lebih ke pada dirinya sendiri.
"Penduduk Luxorth harusnya memperingati kematian permaisurinya. Paling tidak mereka harus mengucapkan terimakasih pada permaisuri yang melahirkan permata yanh secantik Vizena." Gumamnya dengan tatapan matanya lembut memandangi Vizena.
Peringatan itu tak berjalan lama, hanya ada beberapa ritual dan setelah itu semua orang kembali dan berpisah jalan.
Zaviest?
Dia sama sekali tak memiliki kegiatan lainnya dan tak terpikirkan untuk melakukan hal lain kecuali menguntit Vizena. Dia berniat akan tinggal di Luxorth untuk beberapa hari, hanya karena ingin memastikan sesuatu yang buruk tidak terjadi lagi pada Vizena.
"Kunjungilah rumahmu, bagaimana pun kau adalah seorang isteri." Kata Kaisar yang samar-samar terdengar oleh Zaviest dari atas pohon.
Lagi-lagi ada emosi aneh bergejolak di dalam batin Zaviest, seperti dirinya tidak rela jika Vizena disebutkan sebagai isteri seseorang. Jika dia memiliki kuasa semacam itu, maka dia akan menghapuskan status Vizena itu.
"Seharusnya aku memang membawamu ke Sholaire sejak awal." Gerutu Zaviest yang kesal pada dirinya sendiri. Terlalu sibuk dengan angan dimasa lalunya, Zaviest tidak sadar bahwa dia sudah kehilangan Vizena dalam pandangannya.
Dia mengedarkan pandangan ke seluruh area pemakaman, matanya menyipit untuk melihat dengan lebih tajam. Hingga ia melihat sosok bergaun biru tua berjalan di samping Sang Kaisar yang begitu gagah. Namun, sesaat kemudian mereka berpisah jalan dan itu membuat alis Zaviest terangkat.
"Apa dia benar-benar ingin pergi ke rumah Jenderal itu?" Tanya Zaviest pada dirinya sendiri.
Dengan diam-diam dia memutuskan untuk menguntit perginya Vizena. Tak melepaskan Vizena meski hanya satu kedipan mata.
Kereta yang di tumpangi oleh Vizena rupanya mengarah pada arah lain dari Istana. Pikir Zaviest menebak bahwa itu pasti tempat kediaman si Jenderal berada.
Vizena turun dibantu oleh pengikut setianya, Ariah. Sejenak di depan pintu gerbang rumah yang cukup tinggi itu Vizena berhenti, kepalanya mendongak ke atas kemudian ja menghela nafas. Bukan untuk meringankan beban di pundaknya, tapi terlihat beban itu semakin besar.
Tak tahan lagi karena ingin mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Vizena dengan memasang ekspresi seperti itu, semacam ada rasa kekecewaan di wajahnya ketika kembali ke rumah suaminya, Zaviest bergerak lebih mendekat sembari tetap waspada jika mungkin Vizena menyadari keberadaannya.
Vizena hendak berjalan masuk, namun seseorang membuka pintu gerbang. Anehnya, ia mendorong Vizena untuk mundur satu langkah. Terlihat dari pakaiannya, orang itu seperti seorang pelayan. Tapi, pelayan seperti apa yang berani mendorong tubuh Vizena.
"Berani-beraninya kau mendorong Tuan Puteri!" Teriak Ariah sehingga menarik perhatian bagi penjaga dan pelayan Puteri yang lainnya.
"Maaf, maaf, tapi Tuan Gard sedang tidak berada di rumah, Yang Mulia." Kata pelayan itu dengan suara gemetar. Zaviest menyadari ada sesuatu yang salah disini.
Vizena adalah isteri dari Gard, apakah dia akan pulang kembali ke rumahnya atau tidak itu bukanlah urusan pelayan. Bisa dikatakan Vizena adalah nyonya rumah, bukankah tidak pantas jika seorang pelayan menghalangi seorang nyonya rumah kembali ke rumahnya sendiri.
"Ini adalah rumahku, mengapa memghalangi jalanku?" Tanya Vizena dengan suara tegas namun tetap terlihat sangat anggun. Di persembunyiannya Zaviest tersenyum samar, cukup bangga dengan sikap Vizena yang berani.
Si pelayan gemetar ditempatnya, dia menyadari bahwa dia bisa saja kehilangan nyawa jika berhadapan dengan satu-satunya Puteri Kaisar. Dengan enggan ia pun melangkah ke samping memberikan jalan pada Vizena.
Menegakkan kepalanya, Vizena berjalan memasuki tempat tinggal Gard dan diikuti oleh Ariah. Zaviest masih mengikuti mereka secara diam-diam dengan berjalan di atas atap tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Zaviest terus mengawasi meski dia tidak mengetahui kemana Vizena berjalan. Gadis itu berjalan melewati sebuah taman, lalu menyebranh dan melewati koridor teras yang cukup panjang. Dari jarak yang cukup jauh itu Zaviest merasa kesal karena dirinya tak bisa mendengarkan jika Vizena mengatakan sesuatu. Ia hanya bisa membaca gerak bibir Ariah dan Vizena saja.
Sementara itu, Vizena berjalan menuju ke kamarnya. Baginya satu-satunya tempat yang begitu nyaman baginya di rumah Gard adalah kamarnya. Namun, ketika telah mencapai di depan pintu dan tangannya hendak mendorong pintu yang sedikit terbuka, terhenti seketika saat terdengar suara aneh dari dalam kamarnya.
"Yang Mulia, seperti ada seseorang?" Tanya Ariah.
Vizena terdiam, ia menajamkan indera pendengarannya. Ini bukan suara biasa, suaranya terdengar seperti lenguhan dan desahan.
"Ahhh, Gaarrdd, lanjuthhkhan! Ini begitu nikmathh!"
Jantung Vizena serasa berhenti seketika, tubuhnya membatu ditempatnya. Dia tahu pasti dengan jelas pemilik suara itu, tapi dia tidak pernah menyangka akan mendengarnya di saat yang seperti ini.
Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang di sekitar Vizena. Tubuhnya yang membatu itu pun tersentak, ketika ia telah sadar, setitik bening air matanya telah bergulir jatuh ke tanah melewati pipinya.
°°°°°°
"Pasti terjadi sesuatu." Gumam Zaviest ketika menyaksikan bagaimana Vizena mematung di tempatnya untuk waktu yang lama, serta bagaimana wajah terkejut Ariah yang tak bisa ditutupi lagi.
Tak butuh waktu lama ia segera melompat, kemudian dengan gerakan yang sangat cepat ia menarik lengan Vizena dan membawanya pergi dari rumah suaminya yang terkutuk itu. Ia membawa Vizena melewati portal teleportasi dan membawa gadis itu ke puncak gunung yang tertinggi di Luxorth.
Ketika satu bulir bening terjatuh dari dagu Vizena, satu jari Zaviest menangkapnya dan airmata itu pecah tak terbentuk dan jatuh ke lantai. Zaviest menatap wajah Vizena yang begitu tegang sampai tak berkedip sama sekali. Zaviest sendiri tak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Vizena saat ini.
"Mengapa?" Gumam Vizena dengan suara yang begitu lirih.
"Mengapa, apa Puteri?" Zaviest bertanya tanpa mengalihkan tatapannya iris mata emasnya pada cantiknya mata Vizena meski mata itu kini sedang berkaca-kaca.
"Mengapa mereka melakukannya di kamarku?"
Zaviest tak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena perasaannya saat ini lebih pada keinginannya untuk melenyapkan Gard sampai tak bersisa. Dia berpikir, Pria seperti Gard pantas untuk musnah tanpa meninggalkan jejak, meski abu sekalipun. Karena Sebagai seorang punggawa kerajaan, Gard terlalu berani melukai perasaan Vizena, dia tidak memiliki rasa berterimakasih pada Kaisar.
Jika Vizena adalah puterinya, dia tidak akan pernah menikahkannya dengan sembarang orang.
"Aku, aku tidak peduli jika dia tidak mencintaiku." Suara Vizena tercekat, ia menghela nafasnya kemudian mulai berucap lagi, "Atau bahkan jika dia memiliki hubungan khusus dengan Eyster, tapi mengapa harus melakukannya di kamarku?" Kali ini airmata yang sejak tadi mendesak untuk jatuh akhirnya pun tumpah ruah.
Tidak tega melihat Vizena menangis, Zaviest segera menarik tubuh gadis itu dan mendekapnya agar Vizena bisa menangis sepuasnya tanpa merasa khawatir seseorang akan melihatnya.
"Aku tahu, aku tahu dia tidak mencintaiku." Gumamnya di sela isak tangisnya.
"Luapkan semuanya, aku akan selalu ada disini untuk menjagamu."
"Dia tidak mencintaiku karena wajah cacatku, aku tahu itu dan aku tidak peduli. Tapi apakah dia benar-benar meremehkanku?"
Zaviest mengusap-usap punggung Vizena dengan lembut.
"Apa semua kata-katanya itu bohong? Mengapa? Mengapa dia membohongiku?"
"Pembohong hanya akan terus berbohong, Puteri. Tidak perlu alasan untuk itu."
°°°°°°
Teriknya siang itu telah berganti dengan dinginnya malam hari. Beralaskan dedaunan kering, ditemani oleh gemerlapnya bintang di atas langit, Vizena menatap ke atas, ia berbaring ditemani oleh Zaviest. Mata Vizena menjadj sembab karena sepanjang hari sampai malam ini ia terus menangis, sementara Zaviest begitu sabar menemani dirinya.
"Aku baru menyadari bahwa langit sangat indah jika dilihay dari ketinggian." Gumam Vizena.
"Apakah kita harus sering-sering datang ke tempat seperti ini?" Tanya Zaviest, dia cukup lega karena setidaknya saat ini Vizena terlihat tegar, seolah tidak asa masalah yang terjadi.
"Seperti kau akan terus di sisiku saja." Tukas Vizena dengan tegas dan cepat.
"Bisa di atur."
"Jangan bersikap konyol,"
"Bagaimana kalau Anda ikut dengan saya ke Sholaire?"
Vizena terkekeh pelan, ia teringat saat Zaviest mengigau semalam. Meminta ijin kepadanya untuk tinggal di sisi Vizena. Dia pun berpikir, mungkin otak pria satu ini memang sedang kacau.
"Akan aku pertimbangkan." Jawab Vizena dengan asal.
Zaviest tak menjawab, dia yang berbaring di samping Vizena juga begitu asyik tenggelam dalam gemerlapnya bintang-bintang itu.
"Puteri, kau pasti sangat mencintai Tuan Gard." Ujar Zaviest secara tiba-tiba dengan suara yang lirih, tapi Vizena mendengarnya dengan sangat jelas.
"Dia adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawaku empat tahun yang lalu, perasaan itu muncul begitu saja."
"Jika Tuan Gard bukan penyelamatmu, apakah kau akan mencintainya? Ah maksudku, apakah kau akan menikahinya?"
Hening begitu lama di antara kedua insan itu. Salah satunya ingin pertanyaannya dijawab, satunya lagi begitu serius memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Apa yang telah diajukan oleh Zaviest menggugah alam bawah sadar Vizena, seharusnya dia menanyakan itu pada dirinya sendiri lebih dulu sebelum menerima pernikahan. Meski nasi sudaj menjadi bubur, tapi pertanyaan tetaplah pertanyaan. Tidak hanya bibirnya, hati dan jiwanya akan ikut bertanya kepada sang raga.
'Apakah aku akan mencintainya?'
.
.
::Bersambung::