54. Open

1377 Words
Kegelisahan begitu tampak di wajah Zaviest, usai menghadiri persidangan paginya ia segera pergi dengan terburu-buru. Pikirannya sedang tidak berada di tempatnya. Di taman istana itu Zaviest berjalan dengan mondar-mandir, kadang dia berbicara sendiri lalu berhenti sejenak sebelum kembali berjalan. Kuku jarinya bahkan hampir terpotong habis karena terus dja gigiti.  Dranis tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Rajanya itu. Tapi, hal itu sudah terjadi sejak pagi. Seperti Zaviest memiliki beban pikiran yang sangat berat. Wajar sekali jika Zaviest memiliki banyak beban pikiran, dia adalah seorang pemimpin kerajaan, banyak hal yang harus diurus. Tapi, masalahnya Zaviest tidak pernah terusik dengan urusan negara, betapa beratnya itu dia tidak pernah mengambil pusing. Hanya ada beberapa hal yang bisa mengusik Zaviest, yakni Ibu Suri Agung dan juga Puteri dari Luxorth, Vizena.  "Setiap hari mereka sudah bertemu, apa yang bisa membuat Raja gelisah." Gumam Dranis yang terus menerka-nerka apa yang ada di dalam pikiran Zaviest. Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Dranis, hingga dirinya terperanjat karena terkejut. Ketika menoleh, ia sudah mendapati Pangeran Kedua dan Pangeran Kelima berdiri di sampingnya. Keduanya juga menatap heran kepada Zaviest yang dilanda gundah gulana sehingga terus saja mondar-mandir tanpa berhenti. "Apa yang sedang dipikirkan oleh Yang Mulia Raja?" Tanya Pangeran Vein dengan suara rendah. Lalu Pangeran Moscha menatap Zaviest, ia melakukan hal yang sama dengan Dranis, menerka-nerka. "Sesuatu pasti sedsng mengusik pikirannya." Gumam Moscha. Dia mengenal baik kakak pertamanya itu. Terlihat jelas dari gerakan tubuhnya, Zaviest sedang memikirkan sesuatu secara mendalam. "Sssshhh, tapi apa yang bisa mengusiknya." "Itulah Yang Mulia Pangeran, apa masalah yang bisa mengusik Yang Mulia Raja?" Timpal Dranis dengan nada sedih.  "Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk." Tiba-tiba saja Zaviest terbatuk-batuk dengan sangat keras. Hingga membuat ketiga orang itu berlari menghambur ke arah Zaviest. Batuk itu tak mereda, Zaviest harus memegangi dadanya yang terasa sesak dan menyakitkan itu. Percikan darah keluar bersamaan dengan batuk yang tak kunjung berhenti. "Yang Mulia!" Pekik ketiga orang itu. Sementara itu, Zaviest roboh ke tanah, ia terus terbatuk dengan darah yang terus mengalir dari bibirnya.  "Dranis, segera panggil dokter istana!!" Perintah Vein. Dengan sigap Vein mendekap tubuh Zaviest.  "Yang Mulia apa yang terjadi?!" "Kakak! Bertahanlah." Pandangan mata Zaviest mulai memburam, tapi rasa sakit di dadanya tak kunjung reda. Nafasnya pendek dan cepat, semakin lama kelopaknya menutup secara perlahan, hingga akhirnya dia tak sadarkan diri.  "Kakak, kita harus membawanya ke kamarnya segera!" Ujar Moscha. Vein menaikkan tubuh besar Zaviest ke punggungnya lalu segera berlari ke kamar raja. Sesampainya di kamar Zaviest, ia segera membaringkan tubuh Raja yang tak sadarkan diri itu dan meminta Moscha untuk mengambil air untuk membersihkan percikan darah yang mengotori wajah dan pakaian Zaviest. Tak berselang lama, Dranis membawa dokter kerajaan bersamanya. Dokter tersebut segera memeriksa denyut nadi Zaviest. Keningnya berkerut begitu dalam saat mencoba memahami apa yang terjadi. Helaan nafas lolis dari bibir sang dokter, bukaan helaan lega melainkan tampak seperti sebuah beban. "Ada apa dokter? Mengapa wajahmu begitu?" Tanya Moscha yang cemas dengan keadaan kakaknya.. "Mohon maaf Pangeran, hamba takut jika penyakit Yang Mulia Raja di karenakan energi sihirnya." "Sihir? Lalu apa yang harus kami lakukan?!" Tanya Vein. "Dranis, panggil Tetua Penyihir sekarang juga!"  Dranis pun kembali bergegas untuk memanggil Tetua Penyihir. Sementara ke dua pangeran yang lain berdiri di samping ranjang Zaviest, menatap sang Raja yang tergolek tak berdaya.  Ini pertama kalinya bagi mereka melihat Zaviest begitu lemah. Sang Raja tak pernah sakit sebelum ini, apa yang menimpanya kali ini sangat mengejutkan. "Kakak, apakah Raja akan baik-baik saja?" Kecemasan Moscha begitu nyata. Dia sangat gelisah memandangi Zaviest yang tak kunjung membuka matanya.  "Dia sangat kuat, aku yakin ini bukan masalah besar. Apa sebenarnya yang dia lakukan dengan energi sihirnya?" Balas Vein dengan bergumam.  Moscha mengetahuinya, itu karena Zaviest selalu pergi ke Luxorth dengan menggunakan portal sihir. Namun, Moscha tak pernah berpikir bahwa hal itu akan berdampak besar bagi kesehatan Zaviest. Sesaat kemudian Dranis tiba, di sampingnya berjalan Tetua Penyihir. Ke dua pangera memberikan jalannya agar Tetua Penyihir leluasa dalam memeriksa keadaan Zaviest.  Tetua Penyihir meraih lengan Zaviest, lalu memeriksa keadaan nadi Zaviest. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui penyebab Zaviest jatuh sakit seperti ini.  "Energi sihir Yang Mulia Raja dalam keadaan yang tidak stabil, bergerak terlalu cepat dan membuat tubuh Yang Mulia tidak kuat menahannya." Jelas Tetua Penyihir. "Mengapa hal semacam ini bisa terjadi, bukankah kau memberikan Yang Mulia eliksir penguat energi?" Tanya Moscha yang tak bisa menahan kesabarannya. Mendengar hal itu, Vein sangat terkejut sekali.  "Apa yang kau katakan? Mengapa Yang Mulia membutuhkan penguat energi?!" "Kakak, kakak, aku akan jelaskan padamu nanti. Sekarang biar Tetua Penyihir yang mengatasinya." "Dalam tubuh Yang Mulia Raja terdapat dua energi sihir, yang satunya adalah energi sihir gelap yang di segel oleh mendiang raja. Saat penguat energi di minum oleh Raja, rupanya hal itu juga memicu energi sihir gelapnya untuk kembali menguat dan merusak segelnya." Jelas Tetua Penyihir dengan berhati-hati.  "Lalu bagaimana solusinya? Bukankah sangat berbahaya jika segel itu rusak?" Tanya Vein. "Benar, hal ini sangat membahayakan kesehatan Yang Mulia Raja. Ada satu cara, yakni dengan kembali menyegel energi gelapnya." Jelas Tetua Penyihir. "Lalu mengapa bertele-tele, segera lakukan itu!" "Ritual itu tidak mudah di lakukan, Ayah kehilangan nyawanya untuk menyegel energi kakak." Timpal Vein. Dia mengetahui jelas hal ini, karena Vein berusia tujuh tahun saat itu. Dia juga menyaksikan bagaimana Kakaknya menghancurkan hampir seluruh ibukota Sholaire hanya dalam waktu satu malam.  "Lantas bagaimana? Tetua Penyihir carilah jalan keluarnya!" Moscha begitu khawatir. "Sementara ini saya akan membuatkan ramuan untuk menenangkan energi sihirnya, dan mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini." Balasnya. "Baiklah, terimakasih Tetua."  * Wajah Ariah tampak bingung ketika melihat piring makanannya. Sejak tadi ia ingin makan tapi tak bisa karena Vizena terus mengisi piringnya dengan berbagai makanan. Ketika Ariah terlihat bingung, Vizena tampak gembira bisa melakukannya. Wajahnya berbinar dan senyumnya terus merekah. "Makanlah, kau harus makan yang banyak supaya badanmu menjadi kuat dan sehat." Kata Vizena sembari mengambil satu potong irisan daging dan meletakkan irisan tersebut di atas piring Ariah yang telah penuh dengan makanan itu. "Yang Mulia, sepertinya anda yang lebih membutuhkan makanan ini daripada saya." Desah Ariah. Dirinya sendiri bingung, bagaimana menghabiskan semua makanan yang tersaji di piringnya ini.  "Eum, tidak tidak, ini untukmu. Kau harus habiskan semuanya." Ujar Vizena.  "Tapi, Yang Mulia....." Vizena menggelengkan kepalanya pertanda tidak akan mendengarkan apapun itu keluhan Ariah.  "Yang Mulia! Yang Mulia!" Sebuah suara menyeruak masuk ke dalam ruang makan. Seseorang menerobos ruang makan dengan nafas yang terengah-engah. "Rasheq! Ada apa? Eh kemarilah, apa kau sudah makan?" Tanya Vizena sembari melambai. "Ini bukan saatnya untuk makan, Yang Mulia!" Kata Rasheq dengan serius. "Ada masalah apa?" Kini Vizena menjadi lebih serius.  "Tuan Gard, dia...."  Hati Vizena serasa seperti diremas mendengar nama Gard disebutkan. Ariah memelototi Rasheq yang merusak suasana pagi itu. Mengapa dia harus membawa-bawa nama Gard di saat Vizena terlihat lebih baik daripada sebelumnya. "Tuan Gard melarikan diri dari penjara!" "Apa katamu!" Seketika Vizena bangkit dari meja makan. Dia menatap Rasheq dan menuntut penjelasan dari apa yang sebenarnya terjadi. "Saat pengawal akan membawa Tuan Gard untuk di eksekusi, Penjara itu kosong dan semua penjaganya tewas." Vizena berlari pergi dari ruang makan menuju ke penjara bawah tanah tempat dimana Gard di tahan. Di penjara bawah tanah ia melihat beberapa penjaga sedang mengangkat tandu berisikan mayat para penjaga yang seharusnya berjaga di penjara bawah tanah ini. Kemudian Vizena berjalan ke arah penjara itu berada, tidak ada siapapun, kosong tak berpenghuni, hanya tersisa rantai pengikat yang terbuka di lantai kotor penjara itu. Setelah memastikan bahwa berita itu benar, Vizena kemudian berjalam dengan cepat menuju ke kediaman pribadi Kaisar. Sesampainya di sana, ia melihat seorang pria paruh baya tengah duduk berhadapan dengan Kaisar.  "Kemarilah Vizena." Kata Kaisar saat melihat Vizena berada di ambang pintu dan langkahnya terhenti setelah melihat ada orang lain di ruangan itu. "Menteri Pertahanan, kau pasti sudah tahu, ini adalah Puteriku Vizena."  Vizena menoleh ke arah orang tersebut. Dia belum pernah bertemu orang itu sebelumnya. Sosoknya begitu asing, dia memiliki rambut putih pada sebagian rambut depannya, memiliki kumis tipis di atas bibir merahnya, namun ia masih terlihat tampan dan gagah.  "Vizena, ini adalah Tuan Harindar yang akan menggantikan posisi Louth Meridiam."  Vizena memberi salam kepada menteri pertahan yang baru tersebut. Namun, saat ini bukan waktunya untuk berkenalan. Dia segera menghadap ayahnya dan mengatakan apa yang terjadi. "Berita itu, Tuan Harindar sudah mengatasinya. Kau bisa tenang. Gard akan segera tertangkap." Ujar Kaisar. "Baiklah, Vizena mengerti, Ayahanda."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD