Ruangan gelap nan gulita tanpa secercah cahaya adalah hal pertama kali yang didapati oleh matanya ketika ia mulai membuka mata. Kepalanya pening dan seluruh badannya terasa nyeri seolah baru saja dipukuli oleh banyak orang. Sengatan kecil terasa di ujung kakinya hingga membuatnya mendesis pelan.
Matanya menyipit mencoba melihat ke sekeliling, masih tanpa cahaya dan tidak ada satu pun petunjuk yang bisa dia dapatkan untuk mengetahui dimana dirinya sekarang ini.
"Apakah aku ada di neraka?" Tangannya terjulur menggerayangi lehernya.
"Leherku masih utuh, apakah aku masih hidup?" Gumamnya lagi.
"Dimana ini sebenarnya?"
Brak
Sebuah pintu terbuka dengan tiba-tiba hingga seberkas cahaya menyeruak masuk dan membuat matanya terpaksa harus di sipitkan karena ia merasa begitu silau tertimpa cahaya itu. Seseorang dengan tubuh yang cukup tinggi besar masuk ke dalam ruang gelap itu.
"Sudah sadar rupanya." Katanya dengan suara berat yang dalam.
"Paman, ka-ka-kau?"
"Ya, kau benar Gard, ini aku pamanmu, Louth Meridiam."
Mata Gard terbuka dengan lebar, dia kembali melihat ke sekelilingnya memastikan keberadaannya.
"Tenanglah, nak." Louth berjalan mendekati keponakannya tersebut, lalu dia menepuk-nepuk punggung Gard dengan lembut, "Kau belum meninggal. Aku membawamu sebelum lehermu sempat dipenggal."
"Kenapa?! Kenapa kau membawaku?!" Suara Gard meninggi.
Bukan rencananya untuk kabur dari hukuman itu. Dirinya bahkan merasa hukuman mati itu tidak sepadan dengan penderitaan yang telah dia sebabkan dan membuat kehidupan Vizena yang tak mengetahui apapun itu menderita.
Louth Meridiam merasa heran melihat tingkah Gard. Bukan reaksi yang dia inginkan, seolah Gard menolak untuk diselamatkan, dan menyesal masih bisa menghirup udara kebebasan. Hanya saja Louth tidak mengerti kenapa Gard menyesal masih diberikan kesempatan hidup.
"Aku harus menyelamatkanmu, kau tidak boleh mati begitu saja!" Terang Louth.
Gard meremas rambutnya, sehingga semakin terlihat kacau keadaan dirinya saat ini.
"Seharusnya kau tidak boleh membebaskanku." Gumam Gard.
"Ada apa? Kau harusnya berterimakasih padaku!"
"Untuk apa paman membebaskanku? Untuk membalas dendam kepada orang yang tidak berdosa?" Gard tak bisa menahan emosinya lagi. Tiba-tiba saja ia bangkit dari tempatnya berbaring, hendak berjalan terseok-seok untuk pergi. Akan tetapi seseorang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
Langkah Gard pun terhenti, ia melihat pada orang tersebut dengan seksama. Seorang wanita muda, berkulit kecokelatan dengan wajah yang cantik dan pakaian yang terbuka sedang berdiri di hadapan Gard.
"Jadi begini caramu berterima kasih?" Tanyanya dengan suara yang sangat lembut.
Gard yang kebingungan memandangi wanita itu dan pamannya secara bergantian. Apa hubungannya wanita itu dengan pembebasannya.
"Dia adalah Puteri Kheiraz dari Narth dan dengan bantuannya kau masih bisa hidup hingga saat ini." Sahut Louth.
"Narth?" Nama itu tidaklah asing bagi Gard. Selain Narth merupakan salah satu dari Daratan Lima Negara, juga merupakan kerajaan yang selalu saja mengibarkan bendera perang terhadap Luxorth. Akan tetapi untuk apa Puteri dari kerajaan Narth rela menolongnya.
"Ya, dia berasal dari Narth. Untuk saat ini dan seterusnya kita akan tinggal di Narth dan membantu kerajaan ini."
Mata Gard melebar, ia begitu terkejut seolah wajahnya baru saja dilempari menggunakan sebongkah batu. Dia tidak bisa percaya bahwa pamannya akan berbuat sejauh ini, apa sebenarnya tujuan pamannya yang sebenarnya.
"Kau akan membantuku menundukkan Luxorth, atau anakmu yang belum lahir itu tidak akan pernah bisa menikmati indahnya dunia yang kejam ini." Kata Puteri Kheiraz, nada suaranya sama sekali berbeda daripada yang sebelumnya. Kali ini penuh dengan penekanan dan ancaman yang nyata. Setelah mengatakan hal itu, Puteri Kheiraz berbalik. Sampai di ambang pintu ia berhenti, lalu melirik melalui bahu kirinya.
"Urus keponakannu dengan baik!" Puteri Kheiraz lalu pergi meninggalkan paman dan keponakannya yang masih tidak bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja dia alami ini.
"Jelaskan padaku paman, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kau bekerja sama dengan musuh kita?" Tuntut Gard yang emosional. Dengan kakinya yang pincang itu kemudian berjalan ke arah ranjangnya dan kembali duduk.
"Aku sudah bekerja sama dengan mereka lama sekali, lenyapnya Leoxard pun sangat berhubungan dengan meraka. Karena mereka memiliki tujuan yang sama dengan kita. Itu sebabnya! Aku ingin menghancurkan orang yang telah membunuh kakakku!" Ucap Louth dengan bersungut.
"Tetap saja, ini tidak benar. Membalas dendam tidak sama dengan menghianati negara." Kata Gard. Sebagai pria yang terlatih di kemiliteran, dia telah ditanamkan dalam hatinya untuk tetap setia kepada Negaranya.
"Gard, saat ini Eyster berada dibawah pengawasan Puteri Kheiraz. Kau tidak memiliki pilihan lain agar Eyster dan bayi yang di kandungnya selamat. Mengerti?"
Gard terdiam, dia merasa menyesal dan bersalah. Bahkan apa yang telah dilakukannya harus dirasakan akibatnya oleh anaknya yang belum lahir.
"Kau mengerti?!" Louth menekankan kembali.
"Ya, aku mengerti."
°°°°°
Aroma harum yang memanjakan penciuman Vizena membuatnya terbangun dan keluar dari mimpi indahnya. Mata lembayungnya itu berkedip beberapa kali, sampai matamya menangkap sosok pemilik aroma sandalwood itu tengah duduk di ranjangnya dengan tubuh dan kepalanya bersandar pada tiang ranjang dengan mata yang terpejam.
"Dia ada disini." Gumam Vizena. Ia kemudian bangkit, lalu bergerak pelan mendekati sosok Zaviest yang terlelap dihadapannya itu.
Sejenak Vizena memandangi wajah Zaviest yang terlihat begitu damai itu. Memperhatikannya dengan seksama, barulah ia benar-benar menyadari jika wajah Zaviest terpahat dengan sempurna. Tangan Vizena terjulur ke depan, pelan-pelan hendak menyentuh pemilik wajah sempurna itu.
Tiba-tiba saja mata Zaviest terbuka, tangan Vizena pun berhenti di udara dan si mpunya tangan tak berkutik ketika mata emas Zaviest menangkap basah dirinya akan menyentuh wajah yang kelewat sempurna itu.
"Kau ba-bangun." Ujar Vizena asal.
Zaviest tersenyum samar, lalu ia meraih tangan Vizena yang hendak menyentuhnya itu dan menggenggamnya dengan lembut.
"Bagaimana kabar anda, Yang Mulia?" Tanya Zaviest.
Saat itu, Vizena menyadari wajah Zaviest sangat pucat, seolah tidak ada jejak darah yang tertinggal disana. Secara reflek Vizena menggunakan tangannya yang lain untuk menyentuh kening Zaviest, lalu meletakkan tangannya pada keningnya sendiri untuk memastikan apakah suhunya sama atau tidak.
"Tidak panas, tapi mengapa kau tampak pucat sekali, Tuan Dranis?" Tanya Vizena.
Zaviest tersenyum samar, tubuhnya terasa lemas bahkan hanya sekedar untuk tersenyum pun harus dipaksakan. Ia menunduk lalu menepuk-nepuk punggung tangan Vizena dengan lembut.
"Sepertinya anda baik-baik saja, melihat anda begitu semangat semuanya terasa sangat baik." Gumam Zaviest.
"Kau yakin tidak apa-apa, akan aku panggilkan dokter." Vizena menjadi cemas karena tampaknya Zaviest begitu kesakitan namun terus dipaksakan. Zaviest hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya.
"Baiklah kalau kau tidak mau, jika kau merasa sakit katakan saja, akan kupanggilkan dokter" Ujar Vizena dengan sungguh.
"Puteri rupanya sangat perhatian sekali, sayangnya aku sangat sehat hari ini." Kata Zaviest menjadi lebih antusias, meski warna wajahnya tak bisa dia ubah.
"Mengapa kau baru muncul? Tidak biasanya kau tidak kemari."
Zaviest sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tak bisa menahannya dan tersenyum begitu lebar.
"Anda menungguku ya??" Goda Zaviest dengan nada suara yang dimainkan.
"Tidak! Mana mungkin, itu tidak akan pernah terjadi." Kata Vizena sembari memalingkan wajahnya yang memerah.
"Benarkah? Lalu kenapa wajah anda menjadi sangat merah?"
"Ini karena, di kamar ini sangat panas sekali." Kata Vizena untuk menutupo rasa malunya karena tertangkap basah telah menunggu kedatangan Zaviest.
"Baiklah, baiklah," Zaviest berusaha mengalah, waktunya kali ini tak banyak seperti biasanya. Dia tak ingin menyia-nyiakan waktunya hanya dengan berdebat, "Apa yang ingin anda lakukan hari ini?" Tanya Zaviest.
"hmmm, aku tidak ada jadwal khusus. Setelah persidangan mungkin aku akan disini seharian."
"Bagus! Bagus sekali! Aku akan menunggu di sini dan bisa menemani kegiatan anda seharian ini."
"Kau tidak perlu melakukannya." Balas Vizena, meski dalam hati ada perasaan yang membuncah begitu hebatnya.
"Sekarang, Puteri bersiaplah, dan segeralah kembali." Kata Zaviest dengan senyuman lebarim di wajahnya. Menuruti perkataan Zaviest, segera Vizena bergegas untuk bersiap-siap pergi ke persidangan pagi hari ini.
Kedatangam Zaviest rupanya mampu membuat suasana hati Vizena menjadi jauh lebih baik. Kabar mengenai kaburnya Gard dan Eyster sudah cukup menguras tenaganya. Munculnya aroma sandalwood secara tiba-tiba di dalam kamarnya ketika ia baru saja membuka mata telah membawa energi positif untuk Vizena.
Setelah persidangan pagi itu selesai, Vizena dengan terburu-buru pergi kembali ke kamarnya. Hatinya begitu gelisah, khawatir jika Zaviest mungkin akan pergi secara tiba-tiba seperti biasanya.
Namun, dugaannya kali ini salah besar. Pria dengan tubuh tinggi dan tegap itu masih berada di tempat tinggalnya dan bersama dengan Ariah bermain catur di paviliun yang terletak di pinggir kolam kecil.
"Oo, jadi kalian main sendiri tanpa aku, huh?" Tanya Vizena setelah ia lebih dekat dengan mereka. Keduanya kemudian mendongak, melihat Vizena sesaat lalu kembali fokus pada permainan yang sudah berjalan lebih dari setengah jalan.
"Mati kau!" Pekik Ariah ketika bentengnya bisa memblokir jalannya sang Ratu dan membuat Si Raja tak berkutik dan kalah telak.
"Hebat, kau hebat sekali! Decak Zaviest memuji kehebatan permainan Ariah.
"Aku juga hebat." Timpal Vizena.
"Ya, ya kau memang sangaaat hebat dalam mengulur waktu. Permainanmu sangat lamaaa!"
Wajah Vizena menjadi cemberut mendengarnya. Nyatanya Vizena tidak sehebat itu untuk memainkan permainan catur. Dia selalu saja bermain tanpa mengerti dasar-dasar permainan itu sendiri, sehingga dia selalu kalah saat bermain.
"Tapi Yang Mulia sangat baik dalam bertarung sungguhan, daripada bermain seperti ini." Timpal Ariah untuk menenangkan Vizena.
"Aaaa, begitukah. Kalau begitu bertatung denganku?"
"Ti-" Tak sempat mengakhiri ucapannya, seseorang berlari dengan kencang ke arahnya.
Seorang pemuda dengan pakaian pelayan istana. Ketika ia lebih dekat dengan Vizena, ia terkejut melihat Ariah yang baik-baik saja bahkan tersenyum ke arahnya. Namun bukan itu tujuannya menemui Vizena, ada hal lain yang lebib mendesak.
"Yang Mulia Puteri, ini gawat!" Katanya dengan nafas yang terengah-engah.
"Ada apa Tormen?" Tanya Vizena yang mulai khawatir. Melihat Vizena tampak cemas, Zaviest mengulurkan tangannya untuk menyusup ke sela-sela jari Vizena lalu menggenggamnya dengan lembut untuk menenangkan perasaan Vizena.
"Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Kaisar...." Airmata Tormen jatuh dengan derasnya. Hal itu membuat Vizena semakin gelisah.
"Tormen! Katakan dengan jelas! Apa yang terjadi dengan Kaisar? Apa yang terjadi pada ayahku?" Desak Vizena pada Tormen.
"Seseorang telah meracuni makanan Kaisar, saat ini Kaisar tidak sadarkan diri." Tormen berusaha menjawab dengan airmata yang terus menerus berurai tanpa henti.
Mendengar kabar tersebut, jantung Vizena serasa berhenti berdetak. Seolah dia sendiri yang akan mengalami kematian. Melihat bahwa Vizena begitu terkejut, Zaviest segera bangkit lalu memeluk tubuh mungil Vizena dihadapan ke dua pelayan itu.
"Puteri tenanglah, kau harus percaya bahwa Kaisar akan segera di sembuhkan." Bisik Zaviest pada telinga Vizena.
Beberapa saat kemudian Vizena melonggarkan dekapan Zaviest kepadanya. Ia memandangi Zaviest dengan seksama.
"Aku harus pergi." Kata Vizena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tentu saja, pergilah."
"Aku akan segera kembali."