Tubuh lemah milik Zaviest roboh seketika setelah dirinya melewati portal yang menghubungkan tempat tinggalnya dan kediaman Puteri Vizena. Beruntung saat ia hendak roboh, tangan Vein dengan sigap segera menahan tubuh Zaviest sehingga sang kakakpun jatuh dalam dekapannya dan tak sadarkan diri.
Vein mengangkat tubuh Zaviest dan membaringkannya ke ranjang empuk milik Sang Raja. Di sampingnya, telah berkumpul Moscha, Dranis sekaligus Tetua Penyihir. Mereka tak bisa menyembunyikan raut wajah yang telaj dipenuhi oleh kecemasan tak terkira.
Beberapa saat lalu, ketika Zaviest tersadar, hanya ada satu nama yang terucap dari bibirnya, yaitu Vizena. Seperti orang yang linglung dan tersesat, ia melihat ke sekelilingnya memastikan keberadaannya. Saat menyadari bahwa dirinya berada di dalam ranjangnya, apalagi saat melihat ada adik-adiknya dan Tetua Penyihir, Zaviest terlihat menjadi panik. Hal pertama yang dia tanyakan adalah, "Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?"
Pertanyaan itu membuat semua orang bingung, tapi Moscha yang memahami perasaan Zaviest pun memberikan jawabannya, bahwa Zaviest telah tak sadarkan diri untuk beberapa hari.
Saat itu juga Zaviest memaksakan dirinya untuk bangkit dari ranjang. Dia mengambil mantelnya, sementara semua orang hanya memandang dengan keheranan. Dranis dan Moscha mengetahui apa yang ada dalam pikiran Zaviest, mereka hendak menghalangi Sang Raja.
Tentu saja Zaviest menolak di hentikan, hanya Tetua Penyihir yang berhasil memblokade sihir yang digunakan oleh Zaviest untuk membuka kembali portal teleportasinya. Zaviest hampir saja lepas kendali dan marah terhadap Tetua Penyihir. Hanya satu kalimat dilontarkan oleh Tetua Penyihir yang akhirnya membuat Zaviest melunak.
"Nyawa anda bukan hanya tanggung jawab anda, Yang Mulia. Ada pengorbanan dari seorang ayah yang membuat anda bisa seperti ini. Jika anda menyia-nyiakan hidup anda, bukankah anda tidak menghargai pengorbanan mendiang raja?"
Seketika mendengar hal tersebut, Zaviest kembali roboh dan menatap lantai dengan pandangan kosong. Hanya ada satu orang yang ada dalam pikirannya.
Melihat Raja yang terpekur diam dalam keheningan semakin membuat semua orang cemas. Pada akhirnya Tetua Penyihir memberikan sebuah saran. Dia akan membantu Zaviest membuka portal teleportasi. Akan tetapi melihat kesehatan Zaviest yang memburuk, pria itu harus segera kembali.
Kini Zaviest hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang bulu angsanya yang empuk dan nyaman itu. Matanya terpejam dengan erat dan wajahnya begitu pucat bagai tak dialiri oleh darah.
"Apa yang ada di Luxorth sebenarnya, mengapa Kakak terus menerus ingin pergi ke sana, sampai mengorbankan dirinya sendiri?" Tanya Vein. Dia sudah gerah menerka-nerka, Moscha pun tak memberikan informasi yang akurat sama sekali.
"Kakak kedua, apa kau sungguh tidak pernah jatuh cinta?" Tanya Moscha sembari memandangi Vein dengan prihatin.
"Jatuh cinta hanya akan membuat semuanya kacau."
Ketiga orang lainnya menatap Vein dengan tatapan prihatin sekaligus heran.
"Kenapa? Apa salahnya? Jatuh cinta memang hanya akan merusak segalanya. Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu."
Lalu mereka kembali memandang ke arah Zaviest. Ada perasaan lega karena saat ini Zaviest tidak sadarkan diri dan mendengar semua ucapan Vein.
"Tunggu, apa maksudnya Raja sedang-" Vein menggantung kalimatnya, tatapannya mengarah pada Moscha, lalu ke Zaviest, kemudian beralih pada Dranis, berpindah pada Tetua Penyihir dan akhirnya kembali pada Zaviest. Akhirnya dia bisa menyadari sesuatu.
"Tidak mungkin. Apa ini benar?" Tanya Vein yang tercengang setelah menyadarinya. Ketiga orang yang lain mengangguk dengan serempak.
"Apa Raja sudah kehilangan akalnya?" Tanya Vein dengan suara mirip dengan bisikan.
"Mengapa puteraku kehilangan akalnya?" Suara Ibu Suri Agung memecah ketegangan dalam kamar Zaviest. Semua orang terkejut karena mereka tak menyadari kedatangan Ibu Suri dan sibuk memperhatikan Raja.
Melihat Zaviest tergolek lemah di ranjang, tergesa-gesa Ibu Suri Agung berjalan ke arah ranjang lalu duduk bersimpuh disamping tubuh Zaviest. Dia mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Raja.
"Mengapa, Mengapa Puteraku sampai seperti ini?" Raung Ibu Suri, airmatanya begitu deras membasahi wajahnya.
"Kakian! Mengapa tidak memberitahuku?!"
"Ibunda mohon tenang, Yang Mulia baik-baik saja. Hanya membutuhkan sedikit istirahat." Balas Vein mencoba menenangkan Ibunya. Moscha menahan nafasnya, kata-kata Vein sama sekali tidak akan membantu. Dalam hitungan detik Ibu Suri akan meluapkan segala emosinya.
"Bukan berarti kau bisa menyembunyikan ini dariku!!" Bentak Ibu Suri, suaranya menggema sehingga yang ada disana langsung bersujud.
"Yang Mulia Ibu Suri mohon tenanglah."
Ibu Suri Agung menghela nafasnya yang terengah-engah menahan amarahnya. Lalu tatapannya tertuju pada Tetua Penyihir yang bersujud tak jauh darinya.
"Tetua Penyihir, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ibu Suri dengan suara yang lebih tenang dari sebelumnya.
Meski ragu-ragu untuk memberitahukan kondisi Raja yang sesungguhnya, Tetua Penyihir pun tak bisa menyembunyikan karena apapun yang berhubungan dengan Raja merupakan urusan penting.
"Lapor pada Yang Mulia Ibu Suri, saat ini Yang Mulia Raja mengalami gejolak energi. Segel energi sihir gelapnya terbuka, tubuhnya tidak mampu menerima sehingga Yang Mulia tidak sadarkan diri."
Ibu Suri Agung tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Matanya melebar, namun hal itu hanya sesaat saja. Dia langsung menatap putera sulungnya dengan iba, sembari mengusap-usap rambut Zaviest dengan lembut.
"Apakah ada cara untuk kembali menyegel energi itu?"
"Saya sudah membuat eliksir untuk membuat tubuh Yang Mulia kuat, namun untuk kembali menyegel saya rasa itu adalah tindakan yang sangat beresiko bagi Yang Mulia Raja dan Penyegel."
"Aku mohon padamu......." Ujar Ibu Suri dengan suara yang tercekat. Ibu Suri kemudian bangkit, ia berjalan ke arah Tetua Penyihir. Dihadapan Tetua Penyihir Ibu Suri berlutut.
"Ibunda!"
"Ibu Suri Agung!"
Mereka terkejut melihat Ibu Suri Agung merendahkan diri dengan berlutut dihadapan orang lain. Tapi tampaknya Ibu Suri Agung sudah tak lagi peduli, dia hanya ingin menyelamatkan putera sulungnya.
"Aku mohon padamu, Azer. Selamatkan Puteraku, Selamatkan dia."
*
Luxorth tampak begitu suram seolah seluruh kerajaan hingga sudut terpelosok pun di selimuti kabut duka yang mendalam. Semua penduduk dari anak-anak hingga lansia serempak menggunakan pakaian serba hitam. Seluruh rumah-rumah penduduk pun di hiasi dengan warna hitam menunjukkan bahwa mereka dalam suasana duka.
Langkah kaki Vizena gontai menyusuri lorong teras istana menuju ke tempat tinggalnya. Matanya sembab, wajahnya pun tanpa riasan. Sekali lagi, dunianya runtuh setelah ia dengan susah payah berusaha membangun lagi duninya yang sempat hancur dengan kepergian Leoxard. Kini, ia harus merasakan kehilangan yang lebih mendalam.
Satu-satunya tempat Vizena bergantung pada akhirnya pun hilang pula. Kaisar sebagai seorang ayah telah pergi meninggalkan Vizena dan dunia ini untuk selamanya.
Airmata yang biasa mengalir deras, kali ini tak merembes meski hanya satu tetes saja. Rasa sakit yang dirasakan oleh Vizena begitu merasuk hingga ke sarafnya yang terkecil. Jiwanya seolah remuk tak bersisa maka menangis bukan lagi caranya menunjukkan kesedihan, atau kali ini ia tak mampu menunjukkannya. Bagaimana ia bisa menampakkannya, dia kehilangan ayahnya, tempatnya bergantung. Ini sama saja dengannya jatuh ke dasar jurang yang begitu dalam, gelap, dan dingin.
Ketika sampai pada ambang pintu utama kediamannya, Vizena terhenti. Dirinya mendongak dan melihat tempat tinggalnya, ia teringat pada seseorang yang selalu saja muncul dengan cara tak terduga. Setitik cerah harapan muncul di hati Vizena, ia berpikir mungkin dihadapan orang ini ia akan mampu untuk meluapkan perasaannya.
Vizena pun berlari dengan kencang menuju ke dalam kamarnya. Terburu-buru ia segera membuka pintu kamarnya dan berharap pemilik aroma sandalwood itu berdiri di kamarnya, menyambut dirinya dengan tangan yang terbentang dan menawarkan pelukan hangat padanya.
Semua harapan itu sirna ketika yang dijumpai oleh Vizena hanya kamar kosongnya yang sedingin gua tak berpenghuni. Jangankan sosok yang menawarkan dekapan hangat padanya, bahkan aroma wanginya saja tak meninggalkan bekas.
Tubuh Vizena roboh di lantai marmer kamarnya. Berhari-hari dia telah berdiri di samping peti mati Kaisar, tubuhnya terlalu lemah dan tak bertenaga. Satu-satunya harapan bagi jiwanya pun sama sekali tak menampakkan dirinya.
"Yang Mulia?" Ariah berlari dengan kencang ketika ia melihat Vizena berlari ke kamarnya. Dia sangat khawatir dengan keadaan Vizena. Melihat Vizena terduduk di lantai dengan tatapan kosong, Ariah menyadari Vizena benar-benar kehilangan jiwanya.