57. The First Empress

1228 Words
Barisan burung melintasi langit Luxorth, membelah awan yang bergumpal-gumpal. Dibawah silaunya mentari dan terangnya langit siang itu Vizena mendongakkan kepalanya. Mata lembayungnya menatap ke arah burung-burung yang terbang bebas itu. "Apakah Feiry juga tidak akan datang?" Gumamnya. "Yang Mulia," suara Ariah mengusik penantian Vizena. Ia menundukkan kepalanya lalu menatap Ariah yang berdiri di sampingnya. "Sudah waktunya untuk penobatan." Kata Ariah. Vizena kemudian menunduk lebih dalam, ia memandangi pakaian yang dia kenakan hari ini. Pakaiannya berwarna merah menyala, dengan bordiran emas menghiasi pinggiran jubahnya yang menjuntai, dan mengukir pakaiannya dengan bordiran emas itu. Vizena menghela nafasnya, kini beban berat telah dilimpahkan ke pundaknya. Berkali-kali Vizena berusaha menguatkan hatinya dengan mengatakan bahwa ini adalah takdirnya. Tapi, rasanya masih seperti mimpi, dan seolah-olah dirinya terjebak dalam mimpinya itu. Awalnya Vizena tak menyangka bahwa dia benar-benar akan menduduki singgasana milik ayahnya. Dia berpikir keputusan ayahnya untuk menjadikannya puteri mahkota hanyalah untuk meredakan ketegangan politik semata. Hingga setelah kematian Kaisar beberapa waktu yang lalu, dan surat wasiat kaisar dibacakan oleh Hakim Agung membuat dirinya tak bisa menolak. Pengangkatannya sebagai pengganti mendiang Kaisar merupakan polemik besar yang terjadi di Luxorth. Hal ini dikarenakan, tidak adanya preseden tentang Kaisar Wanita di Luxorth, tapi secara hukum yang tertulis pun tidak ada larangan. Hanya saja, sejak Luxorth berdiri, belum sekali pun dipimpin oleh seorang wanita. Beberapa anggota pejabat dan menteri pun menolak Vizena sebagai Kaisar. Mereka bahkan melakukan mogok kerja dan mengirimkan petisi ke istana. Mereka juga melakukan aksi di depan gerbang utama Vizena, menolak penobatan yang akan segera dilaksanakan. "Bagaimana keadaan diluar, Ariah?" Tanya Vizena dengan suara yang lirih. "Masih sama, para menteri dan pejabat itu masih tetap bergeming, Yang Mulia." Balas Ariah apa adanya. Vizena menghela nafasnya lagi, entah sudah berapa kali pagi ini dia menghela nafasnya. Rasanya dia ingin sekali lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang Puteri yang kini berganti menjadi Kaisar Wanita. Dia hanya ingin hidup tenang, bukan dengan penolakan seperti ini. "Apakah permintaanku sudah dilakukan?" Tanya Vizena, ia mulai beranjak berjalan menuju pelataran aula utama istana tempat penobatannya berlangsung. "Sudah, Rasheq dan beberapa orang yang lain sudah mulai bergerak, Yang Mulia." Senyum samar terukir djwajah cantik Vizena yang hari ini kecantikannya menjadi berlipat ganda. Dengan anggun, ia berjalan pelan, kharismanya memancar dan siapapun yang melihatnya seketika akan menunduk penuh hormat. Berdiri dihadapan puluhan pejabat dan para menteri, jantung Vizena berpacu dengan sangat kencang sekali. Ia menarik nafas, menghembuskannya secara perlahan, kemudian mulai melangkah pada jalan yang sudah dibuat khusus untuknya. Setiap kali ia melangkah, maka setiap orang yang dia lewati akan bersujud memberikan penghormatan padanya. Mereka akan meneriakkan namanya dengan penuh keagungan. Seorang pendeta memberikan doa-doa, kemudian mengumunkan penobatan Vizena dan memberikan gelar padanya sebagai Kaisar Wanita Pertama di Luxorth. Usai pembacaan gelarnya, Vizena membalikkan tubuhnya. Pandangannya begitu luas mencakup keseluruhan pelataran istana yang dipenuhi oleh pejabat dan para menteri yang mendukungnya. "Jayalah Luxorth!" Vizena meneriakkan kalimat tersebut dengan tangan kanan Vizena mengangkat sebuah tongkat simbol kekuasaan Luxorth. Gemuruh suara semua orang menggema hingga ke langit. Mereka begitu gembira menyambut Kaisar baru mereka, Kaisar yang menorehkan sejarah di kerajaan Luxorth, Kaisar Wanita Pertama. Di sisi yang lainnya, puluhan pejabat dan menteri bersimpuh di depan gerbang utama istana Luxorth dengan pakaian lusuh. Mereka tampak mengerikan karena telah berhari-hari melakukan aksi tanpa makan dan minum. Keadaan mereka sangat mengenaskan karena berusaha menahan rasa lelah, lapar, dan haus. Mereka telah bertekad akan melakukan aksi tersebut sampai penobatan Vizena digagalkan. "Tuan, makanlah ini." Seorang pemuda berpakaian seperti rakyat biasa memberikan sebuah roti kepada seorang pejabat yang tampak kelelahan. Pejabat itu memandangi roti tersebut dengan ludah yang tumpah ruah dalam rongga mulutnya. "Makan ini lalu lanjutkan kembali menuntut Kaisar turun dari tahtanya." Bisik pemuda itu. Sungguh membuat pejabat itu terkejut. Lalu tak lama kemudian datang beberapa pemuda lagi, mereka membawa makanan dan minuman untuk para pendemo. "Makanan ini untuk kalian, kalian harus tetap sehat untuk menyeret Kaisar baru turun tahta!" Teriak pemuda tadi. Ketika seorang pejabat tak kuasa menahan rasa dahaganya ia beranjak dari tempatnya dan mengambil minuman. Dia menenggaknya sampai habis, lalu kembali pada tempat duduknya. "Ayo yang lainnya, makan dan minunlah! Kaliah harus sehat untuk bisa mengalahkan Kaisar baru itu!" "Jangan dengarkan mereka! Jika kita makan dan minum, ini menunjukkan bahwa kita lemah!!" Teriak salah seorang pejabat dari tengah barisan. "Jika kalian kelaparan dan mati di depan pintu ini, siapa yang akan menuntut Kaisar?" Ujar seorang pemuda pembawa makanan. "Raykat akan melihat bahwa wanita itu tidak pantas menjadi Kaisar!!" Balas sang pejabat. "Memangnya kenapa jika dia seorang wanita?!" Teriak seorang penduduk wanita yang melihat adegan saat itu. "Dia lebih peduli pada kami daripada kalian!!" Imbuh yang lainnya. "Kalian hanya bisa memakan uang rakyat! Tapi Kaisar yang baru membantu kami menjadi warga yang mandiri!" Kekacauan pun terjadi di depan gerbang utama istana Luxorth. Pejabat dan Menteri yang sangat kelelahan tersulut emosinya karena ucapan penduduk. Pada akhirnya mereka mulai beradu mulut dan saling melempari batu. Gggrreeeeeeeeeekkkk Gerbang utama istana Luxorth terbuka dengan perlahan. Semakin lebar, lalu menampilkan sosok Vizena dengan pakaian kekaisarannya yang membuatnya terlihat sangat berkharisma. Aura kewibawaan menguar dari tubuh Vizena, sehingga keributan yang terjadi itu seketika terhenti. Semua penduduk ketika melihat Vizena yang begitu agung berdiri dihadapan mereka, seketika langsung bersujud memberikan hormat. Berbeda dengan pejabat dan menteri yang menentang Vizena. Vizena menghela nafasnya, ia memandangi betapa menyedihkannya rupa para pejabat dan menteri yang menentangnya. Vizena melirik ke arah Rasheq yang berbaur di antara para pemuda yang membagikan makanan kemudiab memberi isyarat pada Rasheq untuk mendekat. Vizena meraih makanan yang dibawa oleh Rasheq. Ia beranjak, namun dihalangi oleh pengawal yang khawatir dengan keselamatan Vizena. "Yang Mulia, berbahaya jika Anda mendekat." "Tenang saja, aku bisa melindungi diriku." Kata Vizena, suaranya begitu lembut mengalun bagaikan melodi musik yang indah, "Mereka adalah rakyatku, mereka tidak mungkin mencelakaiku." Ujar Vizena. Pengawal itu pun terpaksa mundur dan membiarkan Vizena untuk mendekat. Vizena mendekat pada para pejabat, ia mengulurkan tangannya menawarkan makanan yang dia bawa. Tapi mereka terlalu sombong untuk menerima makanan dari Vizena itu. "Kalian masih ingin aku turun tahta?" Tanya Vizena dengan tenang. Para pejabat dan Menteri tersebut tampak keheranan mereka saling memandang satu dengan yang lainnya. Merekan tidak menyangka Vizena tidak emosi saat menyinggung penurunan tahta. "Mengapa kalian terdiam?" Tanya Vizena lagi. "Bu, bukan seperti itu-" Ucapan seorang pejabat terpotong oleh suara Vizena yang sangat halus namun begitu tajam seperti pisau. "Karena aku seorang wanita, dan tidak akan mampu?" "....." "Belum pernah ada Kaisar Wanita di Luxorth, itu menyalahi tradisi." Balas seorang menteri yang cukup senior, terlihat dari rambutnya yang memutih. "Tuan Benzera...." Ujar Vizena sebelum ia menarik nafas, sementara sang menteri bernama Benzera itu terkejut kaget karena Vizena mengetahui namanya, seolah telah mengenalnya begitu lama, "Aku sangat ingin membuktikan padamu, kepada semua penduduk Luxorth bahwa aku adalah Kaisar yang mampu. Tapi aku tak ingin melakukannya, seperti kalian, aku juga memiliki Luxorth, mengapa jika kita sudah memiliki harus membuktikan bahwa kita mampu memilikinya. Bukankah itu hanyalah hal yang sangat sia-sia?" Para pejabat dan Menteri mulai goyah keyakinannya bahwa seorang wanita tak mampu memimpin sebuah negara, tapi tak sedikit yang masih menentang Vizena. "Tetap saja! Seorang wanita tidak bisa memimpin sebuah negara!!!" Teriak salah seorang pejabat. "Aku juga tidak menginginkannya!" Vizena bersuara dengan lantang. "Tapi aku harus melakukannya untuk melindungi Luxorth dan semua orang." "Hidup Kaisar Vizena!! hidupppp!!" Suara penduduk bergemuruh begitu kencangnya. Lalu Vizena memandangi satu persatu para pejabat dan menteri. "Jika ingin menurunkanku dari tahta, jangan melawanku dalam keadaan lapar, atau aku akan memecat kalian semuanya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD