58. A Letter

1257 Words
Senyum terus mengembang di wajah Ariah, ketika ia berjalan dengan terburu-buru. Dalam dekapannya terdapat sebuah amplop berwarna merah mudah. Sesekali ia memandangi amplop tersebut dengan wajah berbinar. Ingin rasanya ia segera sampai pada istana utama untuk memberikan apa yang dia bawa kepada Vizena. Setelah beberapa lama Ariah berlari kecil dengan perasaan gembira, ia akhirnya sampai pada istana utama. Ia melihat Vizena sedang memeriksa dokumen seperti biasanya, di samping Vizena terdapat meja berisi makanan yang sama sekali tidak tersentuh. Ariah menghela nafasnya pelan, beberapa hari sudah Vizena makan secara tidak teratur. "Yang Mulia..." Panggil Ariah, ia kemudian duduk di samping Vizena. "Hmmm..." Balas Vizena sekenanya, dia tak bisa hanya membalas panggilan Ariah dan meninggalkan matanya dari tulisan yang ada di hadapannya. "Mengapa anda tidak menyentuh makanannya sama sekali?" Keluh Ariah. "Kau mau memakannya?" Tanya Vizena balik bertanya pada Ariah. "Tentu saja tidak, itu khusus untuk anda." Tak ada balasan dari Vizena, ia masih berkonsentrasi membaca dokumen-dokumen itu. Sesaat kemudian, Ariah menodongkan amplop berwarna merah muda itu tepat dihadapan wajah Vizena dan membuatnya tersentak. "Apa ini?" Tanya Vizena dengan kening yang berkerut. "Ini adalah sesuatu yang akan membuat anda kembali bernafsu makan." Ujar Ariah dengan gembira dan senyuman yang lebar terukir di wajahnya. "Apa hubungannya sebuah amplop dan makanan?" "Mungkin pengirimnya adalah Tuan Dranis." Balas Ariah lalu seketika ia menarik amplop tersebut. Mendengar nama itu disebutkan seketika saja Vizena meletakkan dokumen kerajaan yang dia pegang ke atas meja. Ia memandangi Ariah yang mendekap amplop tersebut. "Benarkah? Itu dari Tuan Dranis?" Mata Vizena berbinar, setelah beberapa bulan akhirnya untuk pertama kalinya mata lembayung itu memiliki cahayanya kembali. Rasanya tak sia-sia penantian Vizena selama ini, akhirnya ada hal yang bisa dia harapkan. Vizena menengadahkan tangannya pada Ariah meminta surat yang dibawa oleh Ariah itu. Tapi, Ariah semakin mendekapnya dengan erat seolah tak ingin memberikan amplop itu pada Vizena. "Ariah?" Vizena memintanya. Ariah menggelengkan kepalanya. "Ariah?!" "Anda harus makan dulu, baru akan saya berikan amplop ini." Vizena mendengus kesal, tapi ia sungguh penasaran dengan isi surat itu. Selama ini ia selalu menunggu datangnya si burung cantik, akan tetapi tak ada satu pun burung yang datang padanya dan membawa surat. Kali ini, Ariah membawa amplop dan harapan Vizena pun kembali terkumpul. "Baiklah." Vizena mengambil nampan berisi makanan itu. Dia pun mulai memakannya dengan sangat lahap. Di sampingnya Ariah tersenyum senang melihat Vizena melahap semua makanan yang tersedia di hadapannya. Setelah selesai memakan semua makanan itu, Vizena langsung menengadahkan lagi tangannya meminta surat tersebut dari Ariah. Senang hati Ariah memberikan aplop berwarna merah muda itu kepada Vizena. Jantung Vizena berdegup kencang ketika menerimanya, lebih terkejut lagi saat ia hendak membukanya. Sempat untuk sesaat Vizena merasa cukup aneh, tidak ada segel atau apapun di penutup amplopnya. Tapi Vizena tak mengambil pusing, toh 'Tuan Dranis'-nya hanya seorang pengawal Pangeran, bukan seorang Raja. Hati Vizena yang berbunga-bunga saat akan membaca surat itu perlahan menjadi hampa kembali. Dia tetap senang menerimanya, hanya saja saat melihat pengirim surat tersebut senyum yang tadinya mengembang di wajah cantiknya itu sirna dan tergantikan dengan segaris tipis bibirnya. "Yang Mulia?" Ariah merasa ada yang salah dengan raut wajah Vizena. Bukankah seharusnya Vizena merasa bahagia? Lalu mengapa wajahnya menjadi muram kembali. "Ini dari Kaisar Trugeris, dia memberikan selamat untukku. Guruku itu, dia selalu tahu waktu yang sangat tepat." Gumamnya, kemudian ia kembali meletakkan surat itu ke dalam amplopnya. Mendengarnya Ariah pun merasa hatinya sedikit kecewa. Ia sudah menantikan lama sekali binar di mata Vizena kembali benderang, kini cahaya itu mulai redup kembali. Ariah merasa bersalah, tentu saja karena dia begitu ceroboh dengan mengatakan bahwa mungkin saja surat itu dari Tuan Dranis dan membangkitkan kembali harapan di hati Vizena. "Yang Mulia, tidak perlu risau. Bukankah pertanda baik jika Kaisar Trugeris mengirimi anda pesan." Ujar Ariah. "Ya. Memang sangat baik, secata tidak langsung dia akan tetap mendukungku, apapun yang terjadi." Balasnya. Lalu Vizena kembali ke meja kerjanya. Dia kembali menenggelamkan dirinya pada tumpukan kertas yang menggunung itu. Tak lama kemudian, seorang pengawal meminta izin untuk melaporkan sesuatu pada Vizena. Ia mempersilahkan pengawal tersebut untuk masuk. "Ada apa?!" Tanya Vizena. "Lapor Yang Mulia, seseorang mengirimkan ini, ditujukan untuk Anda." Segera Ariah mengambilkan sesuatu yang dibawa oleh pengawal tersbeut dan langsung diserahkan pada Vizena. Sesaat Vizena meihat bingkisan yang ada di depannya, kemudian ia membukanya secara perlahan. Ada sebuah batu giok berwarna hijau dengan ukiran tulisan yang berwarna keemasan di tengahnya. "Ini...." Vizena kehabisan kata-katanya, perasaannya campur menjadi satu, terkejut dan gembira. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumannya. "Ada apa, Yang Mulia?" Tidak ada jawaban dari Vizena, karena ia segera pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Meninggalkan Ariah dan Pengawal dalam keadaan bingung. °°°°°° Pembicaraan di aula utama benar-benar riuh, sementara Sang Raja tampak begitu bosan dan tidak bersemangat untuk sekedae mendengarkan. Dia hanya menatap kosong pada semua pejabat yang saling menuding dan saling menyalahkan itu. Hingga tak lama kemudian, setelah merasa bahwa pertunjukkan dihadapannya cukup menghiburnya ia menggebrak mejanya dengan suara yang sangat keras. Semua orang terdiam dan langsung bersujud memohon ampun dan meminta Raja mereka untuk tetap tenang. "Begini cara kalian menyelesaikan masalah?" Suara Zaviest begitu malas. Dirinya kemudian berdiri, mulai berjalan dan turun dari singgasananya melewati semua pejabat dan para menteri. "Kita sudahi saja, aku sangat bosan melihat kalian." Katanya acuh tak acuh lalu melenggang pergi dari aula istana. Semua orang tercengang melihat sikap Zaviest. Begitu juga dengan Dranis, semakin hari tampaknya Zaviest tak lagi tertarik dengan urusan negaranya. Tetapi, dia selalu menyelesaikan semua masalah dengan sangat baik. Meski banyak pejabat yang protes, mereka tidak bisa mengusik Zaviest yang bekerja dengan baik. Langkah kaki Zaviest membawanya menuju kembali ke istananya. Dia segera berjalan melewati jalan rahasia menuju ke istana pribadinya yang tak di ketahui oleh siapapun. Tempat itu masih sama, begitu luas dengan beragam tanaman termasuk bunga yang sedang bermekaran. Zaviest terus melangkah hingga ia sampai pada pohon yang terletak di tengah-tengan temoat itu. Zaviest mendudukkan tubuhnya, sembari bersandar di bawah pohon itu. Cuacanya cukup bagus sekali hari ini, langit tampak begitu biru, awan hanya menggumpal di beberapa tempat. Zaviest menengadahkan kepalanya sembari menyipitkan tatapannya. Satu tangannya terangkat ke atas, dia menggerakkannya, membuka, menutup, seperti itu terus sampai beberapa saat. Perasaan sedih menggelayuti hati Zaviest, biasanya dengan hanya menjentikkan jari-jarinya dia bisa menciptakan makanan untuk Feiry, atau membuat percikan api kecil. Namun, kali ini, ini pertama kalinya Zaviest merasa kehidupannya begitu hampa. Meski ada perasaan rindu, namun ia tak bisa melakukan apapun dengan kerinduannya itu selain memandangi potret objek kerinduannya dalam sebuah lukisan. Sayup-sayup tiupan angin yang berhembus lirih itu membuat mata Zaviest semakin berat saja. Rasa kantuk menyerang Zaviest, meski saat ini bisa dikatakan masih pagi. Tapi, daripada ia tenggelam dalam masalah kenegaraan, hari ini Zaviest ingin membebaskan diri dari tugasnya menjadi seorang raja. Dia hanya ingin menjadi sosok pria yang merindukan kekasihnya. Sebuah gagasan tentang 'kekasih' itu tiba-tiba saja terlintas dalam benak Zaviest. Ada satu cara yang bisa dia gunakan untuk membuat kekasih hatinya itu selalu dekat dengannya. Memikirkannya, seketika itu Zaviest kembali membuka matanya dengan lebar, bergegas bangkit lalu berjalan dengan sedikit terburu-buru. Dalam perjalanannya, Zaviest terhadang oleh kedatangan Tetua Agung yang harus memberikan pengobatan kepada Zaviest. Melihat ada secercah harapan timbul di mata keemasan milik Sang Raja itu, Tetua Penyihir merasa ingin tahu sehingga menghentikan langkah pemilik seluruh Sholaire tersebut. "Yang Mulia, mengapa terburu-buru?" Tanya Tetua Penyihir. "Guru, tunggu disini sebentar saja. Aku harus menemui Ibu Suri." Katanya dengan sangat cepat. "Begitu rupanya, tidak biasanya anda sangat gelisah hanya untuk bertemu Ibu Suri, apakah terjadi sesuatu?" "Ibu Suri baik-baik saja." Jawab Zaviest, ia tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah, "Aku akan menjemput kekasihku!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD