Ketika sosok itu tepat berada di depan kedua matanya, tak ada yang bisa membuatnya teralihkan. Pandangannya hanya tertuju pada satu arah, sosok yang anggun, cantik, menawan dan sangat berkharisma. Keindahannya sudah seperti gabungan antara semua kecantikan yang ada di dunia ini, tak ada bandingannya.
Trugeris mengambil nafas diam-diam, sejak Vizena muncul dihadapannya dengan senyum merekah dan mata lembayung yang berbinar, Trugeris tanpa sadar telah menahan nafasnya. Seolah-olah jika ia mengambil nafas, itu akan menjadi akhir bagi dirinya.
"Guru?" suara Vizena begitu lembut, mengalun dan membelai daun telinga Trugeris.
"Guru?" tangan Vizena melambai-lambai di depan wajah Trugeris, sesaat kemudian pria gagah itu terkesiap. Tatapannya kembali pada wajah Vizena yang dihiasi oleh topeng sederhana berwarna tembaga.
Setelah sekian lama akhirnya Trugeris bisa kembali melihat wajah gadis yang dulu pernah menjadi muridnya. Gadis tangguh, dan begitu ceria. Kini, ketika ia benar-benar mencermati Vizena, gadia itu sudah tumbuh dewasa, keceriaannya yang kekanak-kanakkan telah lenyap, tergantikan dengan kharisma seorang wanita cantik yang luar biasa.
"Dengan siapa kau kemari?" bisik Trugeris sembari melihat ke sekeliling, tidak berpikir bahwa Vizena akan menyelinap seperti biasanya.
"Siapa yang akan membiarkanku keluar dari istana?" balas Vizena dengan berbisik pula. Vizena benar, Trugeris baru menyadarinya, bahwa saat ini Vizena bukan lagi seorang puteri yang selalu bertingkah kekanakkan. Saat ini Vizena adalah seorang Kaisar Wanita.
Melihat ke sekelilingnya, tempat itu bukanlah tempat yang cocok untuk menjadi tempat berbincang. Trugeris tiba-tiba saja meraih tangan Vizena, lalu berjalan menuju ke ruangan lain. Sebelumnya mereka berada di arena latihan rahasia yang pernah digunakan oleh Trugeris melatih Vizena.
Mereka berada di paviliun tempat tinggal sementara Trugeris di Luxorth. Ia mempersilahkan Vizena untuk duduk, lalu ia sendiri duduk di seberang Vizena. Untuk beberapa saat Trugeris kembali memperhatikan Vizena, ia tak ingin melewatkan satu detikpun untuk mengukir wajah dewasa Vizena dalam ingatannya.
"Guru, kenapa kau terus memandangiku?" Tanya Vizena tanpa ragu. Seketika itu juga Trugeris memalingkan wajahnya dan berdeham untuk mengalihkan perhatian Vizena.
"Lihat dirimu sekarang, kau sudah menjadi seorang Kaisar." Ujar Trugeris, "Kaisar yang suka nenyelinap." Lanjutnya dengan senyum jahil yang mengembang di wajahnya.
"Apa disini tidak ada makanan?" Tanya Vizena, kini giliran dirinya yang mengalihkan pembicaraan. Karena dia tak terlalu senang dengan penobatannya menjadi kaisar wanita, baginya tempat itu bukanlah miliknya, melainkan milik kakaknya, Leoxard.
"Apakah sangat berat menjadi seorang Kaisar?" Tanya Trugeris, melihat raut wajah Vizena yang murung ada perasaan ingin menghibur gadis itu. Vizena mengangguk pelan, memang sangat berat, sampai ia sendiri tak mengerti lagi batasan apa saja yang bisa dia tanggung atau tidak.
"Tapi kau sangat hebat, kau bisa mengatasi semua masalah dengan baik." ujar Trugeris lagi. Tentu saja dia sudah mendengar semua hal, masalah stabilitas politik di Luxorth, hingga tuntutan yang ditujukan oleh beberaoa menteri dan pejabat istana yang meminta Vizena untuk turun tahta.
"Aku berharap Leoxard ada di sini, seandainya dia masih hidup, Luxorth akan sangat damai dan kuat." ujar Vizena dengan suara yang lirih.
"Dia akan bangga melihat adiknya memimpin Luxorth dengan hebat, dan....." Trugeris menggantung kalimatnya. Ada sesuatu yang harus dia katakan, tapi ia ragu, tidak yakin apakah dia harus mengatakannya atau tidak.
"Dan?"
"Bagaimana jika hari ini kita coba seni beladirimu, sudah lebih baik atau kau sudah melupakan semuanya."
"Tentu saja tidak! Ingin membuktikan?"
Keduanya pun pergi kembali ke arena latihan. Vizena sudah melepaskan mantelnya, dan kemudian ia bersiap di tengah-tengah arena bersama dengan Trugeris.
Kuda-kuda telah terpasang, tatapan mata keduanya saling beradu, Vizena mengeluarkan belati yang diberikan oleh Trugeris padanya dan mengubahnya menjadi sebuah pedang panjang.
Vizena menyerang terlebih dahulu, ia menapakkan kaki kirinya ke tanah, lalu bergerak dengan meliukkan tubuhnya menghunuskan pedang ditangannya, mengarahkan ujung pedang yang lancip ke arag Trugeris.
Dengan sangat mudah Trugeris menghindar, hanya menggunakan jari telunjuknya ia berhasil menangkis pedang milik Vizena. Lalu, ia membalas serangan Vizena dengan menghunuskan pedang. Vizena menahannya, dan mereka terus beradu pedang hingga waktu berlalu cukup lama.
Nafas Vizena sudah terengah-engah meski begitu ia malah semakin agresif menyerang Trugeris. Menyadari bahwa serangan Vizena penuh dengan emosi, dan itu juga terpancar dari mata lembayungnya, Trugeris sengaja menjatuhkan pedangnya saat Vizena berusaha menghunuskan kembali pedang di tangannya. Kemudian ia meraih lengan Vizena, menariknya ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat.
"Tenanglah, tenanglah." bisik Trugeris sembari mengusap-usap rambut panjang Vizena. Dalam dekapannya terasa nafas Vizena yang tak teratur, dan semakin lama berubah menjadi isakan.
"Kau harus kuat, aku tahu kau adalah gadis yang hebat." Kata Trugeris, namun tangis Vizena itu tak bisa dihentikan begitu saja.
"Semuanya pergi.... Semuanya meninggalkanku." Isak Vizena.
"Tidak, aku tidak meninggalkanmu. Aku disini bersamamu."
°°°°°
Langkah kaki Zaviest yang hatinya sedang bergembira itu terhenti ketika seorang pengawal kerajaan menghadang jalannya. Sebuah amplop berwarna kecokelatan diserahkan kepada Zaviest. Di atas amplop tersebut terdapar sebuah simbol dari Dewan Pengawas Daratan Lima Negara. Simbol yang berhasil membuat kegembiraan Zaviest lenyap seketika.
Zaviest berbalik arah, ia mengurungkan niatnya untuk menemui Ibu Suri Agung dan kembali ke tempat tinggalnya . Ketika kembali, Tetua Penyihir menatap heran kepada Zaviest yang begitu cepat kembali setelah pergi dengan hati berbunga-bunga.
"Guru, bisa kita tunda pengobatan hari ini? Sepertinya ada hal mendesak yang harus aku periksa." Ujar Zaviest sembari berjalan ke arah meja kerjanya.
Amplop itu dibuka, terdapat sebuah dokumen. Setelah membacanya dengan sekilas, Zaviest cukup merasa sangat lega dengan keputusan Dewan Pengawas Lima Negara yang telah memutuskan bahwa, dalam hal Narth bersalah dalam p*********n terhadap Luxorth dengan mengatas namakan jalur sutera, selain itu masalah bandit pada jalur sutera laut, rupanya itu adalah bandit dari kerajaan di luar Daratan Lima Negara.
"Tapi, ini adalah hal yang buruk. Pemberitahuan ini bisa memicu pemberontakan dari pihak Narth. Sepertinya aku harus menghubungi mata-mataku yang berada disana." Gumam Zaviest. Dia meletakkan kembali dokumen tersebut ke atas meja, lalu bersandar pada kursinya. Matanya menatap kosong pada langit-langit, pikirannya menerawang jauh entah kemana.
"Bagaimana dia akan mengatasinya?" Lagi-lagi Zaviest bergumam pada dirinya sendiri. Rupanya pikiran Zaviest melayang ke Luxorth. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi, tentang Vizena yang menjadi Kaisar Wanita, bahkan semua yang terjadi disana dia mengetahuinya. Kabar tersebar begitu cepat jika berhubungan dengan politik negara tetangga.
"Aku tahu dia sangat hebat, wanitaku adalah yang terhebat." Gumam Zaviest lagi.
"Dranis...." Zaviest memanggil pengikutnya itu. Sesaat kemudian Dranis pun muncul.
"Dranis siap menerima perintah, Yang Mulia." ujar Dranis.
"Panggilkan Pangeran Vein segera."
"Baik, Yang Mulia." Dranis segera pergi untuk memanggil Pangeran Vein. Sementara Zaviest menunggu sembari membaca kembali isi putusan dari Dewan Pengawas itu. Tak berapa lama kemudian, Dranis kembali bersama dengan Vein di sampingnya.
"Yang Mulia memanggil saya?" Tanya Vein setelah ia memberikan salam.
"Bagaimana dengan mata-mata yang kita kirimkan ke Narth?"
"Apakah terjadi sesuatu, Yang Mulia? Mengapa anda tampak sangat gelisah."
Keputusan yang diberikan oleh Dewan Pengawas Daratan Lima Negara merupakan keputusan yang pastinya sudah melalui penyeledikan. Tapi jika mengingat bagaimana tempramen Karazam, ini bukanlah hal yang baik.
"Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk, selain itu persiapkan pasukan untuk perang dalam waktu dekat." Kata Zaviest. Pangeran Vein memandangi Zaviest dengan kebingungan. Tidak biasanya Zaviest memintanya untuk bersiap menghadapi perang. Karena Zaviest adalah rajanya, Vein hanya bisa menurut dan melakukan semua perintah Zaviest.
"Hanya untuk berjaga-jaga saja." Imbuh Zaviest.